Business
Trending

Memuliakan Anggur di Tengah Impor yang Mengguyur

Ikhtiar Swasembada Anggur Indonesia

Dikepung rerimbun pohon yang menjulang di Taman Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, lebih dua lusin orang tampak asyik meriung. Duduk di atas hampar rumput beralas karpet, jemari meraka asyik memilah ranting-ranting muda, menyayat menggunakan silet, mengikat, lantas memberi tanda. Sesekali terdengar gumaman dan suara tawa.

Stand Anggur Indonesia (Milesia.id/Prio Penangsang)

Ya, belajar di lapangan seringkali memang lebih menyenangkan. Sabtu (1/9) sore lalu, misalnya, Milesia.id nimbrung dalam pelatihan Mini Grafting yang dihelat komunitas Anggur Indonesia (AI). Komunitas yang hingga awal September ini beranggotakan 6.412 orang itu, berasal dari kalangan praktisi, penggemar, produsen bibit, hingga kalangan awam yang berhasrat belajar tentang anggur.

Teknik sambung pucuk (grafting) memang bukan tergolong cara baru dalam perbanyakan atau produksi bibit tanaman. Prinsipnya adalah, menyambungkan dua varietas tanaman yang memiliki sejumlah sifat unggul. Tujuannya, untuk mendapatkan indukan atau bibit baru dengan kualitas yang dikehendaki. Lazimnya, kedua varietas harus berasal dari spesies yang sama. Anggur harus di-grafting dengan sesama anggur.

Antusias pelatihan grafting (Milesia.id/PRIO PENANGSANG)

Dalam pelatihan yang mengambil tempat di belakang stand Anggur Indonesia itu, disediakan puluhan batang bawah anggur varietas Isabella. Anggur Isabella memiliki karakter unggul sebagai batang bawah. Selain dikenal sebagai varietas lokal yang bandel, Si Bella memiliki perakaran dan daya serap unsur hara tanah yang kuat.

Aji Joyo Kawijayan (Milesia.id/Prio Penangsang)

Adapun batang atas (entres), umumnya berupa ranting aktif dari sejumlah tanaman anggur berkualitas bagus. Sore itu, para peserta pelatihan dibagikan entres anggur  Transfiguration, Wink, dan Anuta. Gratis!

“Kami berharap, pelatihan mini grafting ini bisa bermanfaat, yang pada gilirannya menjadikan dunia “pengangguran” kita jadi lebih baik. Syukur-syukur kita bisa swasembada,” papar Aji Joyo Kawijayan, eksponen AI dalam pengantarnya.

 

 

Prinsip-Prinsip Grafting

“Kenapa grafting? Kenapa tidak cangkok? Dari pengalaman Saya mengembangkan bibit anggur, teknik grafting memberi hasil relatif paling tinggi dibandingkan teknik lain,” papar Firmansyah Alam, inisiator AI.

Firmasnyah Alam : Grafting, peluang berhasil besar (Milesia.id/Prio Penangasang)

Pada prinsipnya, grafting atau sambung pucuk, merupakan teknik perbaikan mutu bibit anggur melalui teknik sambung.  Menyambung bibit batang bawah dengan entres  yang berkualitas. Teknik lainnya adalah stek, cangkok, okulasi, teknik susuan hingga kultur jaringan.

Ada sejumlah kriteria agar teknik grafting sukses. Pertama, terkait pemilihan sumber bahan grafting. Baik batang bawah (rootstock) maupun batang atas (entres). Batang bawah, lazimnya berupa bibit anggur yang menunjukkan tanda-tanda sehat dan subur. Memiliki daya tumbuh yang tangguh serta kemampuan menyerap unsur hara tanah yang oke. Tak soal batang bawah memiliki kualitas buah yang biasa-biasa saja. Sebab, dari batang atas lah hasil akhir pertumbuhan tanaman dan produksi buah diandalkan.

Persiapan rootstock (Milesia.id/Prio Penangsang)

Batang atas (entres), diambil  dari tanaman anggur yang sudah terbukti kualitasnya secara vegetatif (pertumbuhan daun, batang, dst) maupun produksi buahnya. Alhasil,  entres lazimnya diambil dari varietas  anggur dengan mutu terbaik.

Kedua, teknik grafting. Banyak referensi ihwal teknik grafting untuk beragam jenis tanaman.  Meskipun begitu, tidak semua tanaman bisa dilakukan perbanyakan menggunakan teknik ini.

Penyayatan entres, perlu latihan rutin (Milesia.id/Prio Penangsang)

Lazimnya, diameter batang atas dan batang bawah (rootstock) yang hendak disambungkan berukuran mendekati sama. Jika terlalu besar ataupun terlalu kecil, maka bidang pertautan sambungan antara entres dan batang bawah menjadi  tidak presisi. Transfer nutrisi melalui jaringan angkut pada rootstock menuju entres, bisa terhambat. Grafting bisa terancam gagal yang ditandai dengan entres mengering.

Terakhir, perlakuan bibit pasca grafting juga bukan perkara sepele. Bibit hasil grafting harus dijaga agar tidak mengalami gangguan untuk menjaga proses pertautan jaringan antara batang bawah dan entres stabil. ”Sebisa mungkin bibit hasil sambungan posisinya dijaga agar stabil. Tidak bergeser atau mengalami guncangan yang menyebabkan proses penyatuan batang bawah dan batang atas terganggu,” imbuh Firmansyah.

Grafting (Milesia.id/Prio Penangsang)

Selebihnya, butuh latihan kontinyu agar grafting berhasil. “Alhamdulillah, dapat tambahan banyak ilmu terkait perangguran. Di rumah, Saya memiliki varietas Isabella sebagai rootstock, mau saya grafting dengan entres yang saya bawa dari pelatihan, “ papar Mulyadi, warga Bekasi peserta pelatihan mini grafting.

Bisnis Bibit dan Prospek Swasembada

Harus diakui, pasar anggur meja maupun wine di Indonesia masih sangat tergantung pada anggur impor. Diakui Firmansyah, sangat berat jika para pelaku budidaya anggur head to head mengembangkan jenis anggur yang dibudidayakan dengan jenis anggur (impor) yang saat ini beredar di pasaran.

Alasannya, antara lain jaringan importir dan distributor hingga pemasaran sudah sangat besar dan mengakar. Bermain dengan kapital besar. “Dengan membudidayakan jenis anggur yang ada di pasaran, kita akan sulit bersaing, baik secara kualitas maupun kuantitas”.

Minat publik masih tinggi (Milesia.id/Prio Penangsang)

Maka salah satu solusinya, demikian menurut Firmansyah,  adalah  dengan mengembangkan anggur-anggur berkualitas yang tidak ada di pasaran. Lantas membangun pasar sendiri. “Dengan begitu, kita tidak secara frontal bersaing  dengan importir buah, sebab kita punya komoditas dengan varian yang berbeda dengan yang ada di pasaran,” imbuh Firmansyah.

Lantas, bagaimana dengan peta bisnis bibit anggur di tanah air? Diakui Firmansyah, belum ada asosiasi yang menaungi para pelaku bisnis bibit anggur. Alhasil, kualitas antara satu bibit-dengan bibit yang lain relatif beragam.

“Harus diakui, usaha pembibitan memang belum seperti yang kita harapkan.  Masih ada fenomena persaingan tidak sehat. Tapi itu biasanya (dipicu) oleh para pemain baru. Baru bisa produksi bibit lantas lempar ke pasar karena didasari orientasi keuntungan. Padahal, mutu bibit belum benar-benar teruji,” terang Firmasnyah.

Adanya asosiasi yang kredibel dalam niaga komoditas pertanian, termasuk bibit anggur, niscaya memang diperlukan. Dengan demikian ada “grading” secara alamiah ihwal produksi bibit dari setiap pembudidaya, yang bisa dimonitor untuk saling meningkatkan mutu secara kolektif.

Pengalaman penulis dalam kunjungan ke sejumlah sentra agrikultur di Korea Selatan, Juli lalu, menarik dicermati. (Baca : Milesia.id “Laporan dari Korea”). Ribuan petani, distributor, hingga pemasaran bergabung dalam asosiasi kooperatif  (Nong Hyup) untuk setiap komoditas agrikultur. Semua problem lahan dan teknik budidaya (on farm) hingga pasca panen dan pemasaran (off farm) selalu dibuka secara transparan dan kolektif untuk mendapatkan solusi bersama.

Alhasil, sangat jarang ditemui saling sikut dan menjatuhkan harga sesama petani dan pedagang. Kompetisi yang merusak bisa dihindari. Tak heran, dengan sumberdaya alam yang terbatas sekalipun, sejumlah komoditas pertanian negeri ginseng itu, tetap unggul secara kualitas dan mampu swasembada. Tentu, gambaran ideal demikian tidak serta merta bisa di-grafting di Indonesia.

“Sejauh ini kami terus mencoba meningkatkan mutu. Termasuk dengan menyebarkan ilmu melalui komunitas Anggur Indonesia. Itu salah satu tantangan kita,” pungkas Firmansyah.

Firmansyah Alam memang dikenal sebagai praktisi budidaya anggur yang mumpuni. Di kediamannya di Bekasi, Ia mengembangkan puluhan vairetas anggur yang diimpor dari luar negeri, diantaranya dari Ukraina.

Dok. Firmansyah Alam . Kunjunga Bu Wapres. (Milesia.id)

Ketekunanya mengembangkan anggur dipantau banyak kalangan. Pada 12 Agustus lalu, misalnya, stand Anggur Indonesia mendapat kunjungan dari Ny. Mufidah Jusuf Kalla. Istri Wakil Presiden itu memesan langsung tanaman anggur untuk di tanam di kediamannya. Belakangan, seperti dituturkan Firmansyah, sejumlah investor mulai tertarik untuk mengembangkan anggur varietas baru yang tengah dia kembangkan, dalam skala produksi di beberapa daerah.

Bibit anggur impor itu, setelah melalui serangkaian introduksi dengan menyesuaikan kondisi tanah dan klimat lokal, tak sedikit yang menunjukkan trend pertumbuhan dan produksi buah yang menerbitkan optimisme. Ia lantas memperbanyak bibitnya dan kini tersebar di sejumlah daerah di Tanah Air.  Semoga kelak misi mewujudkan swasembada anggur jadi nyata. Semangat, Om!

(Milesia.id/PRIO PENANGSANG)

Tags

Related Articles

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close