MilesosbudUncategorized
Trending

“Ajak Anak Muda Main Ketoprak Kami Berhasil tapi …”

Awalnya hanya angan tentang bagaimana masyarakat di luar lingkup kerajaan merasakan sensasi menjadi seorang raja. Mereka lalu berlagak gestur penuh wibawa, tegapkan badan, duduk di singgasana dengan pelit senyuman agar disegani dan dihormati. Siapa sangka ulah iseng tersebut  kini menjadi sebuah hiburan rakyat yang dikenal dengan nama ketoprak.

MILESIA.ID – Catatan sejarah tak pernah ingkar semula ketoprak merupakan hiburan rakyat yang diciptakan dan hadir di kalangan rakyat jelata, di perkembangan selanjutnya hiburan ketoprak malah diminati oleh anggota kerajaan asli.

Apalagi di setiap penampilannya selalu saja ada pelawak yang membuat ketoprak terasa semakin hidup.

Masyarakat pun menyukai dengan lelucon segar di zamannya dan bikin banyak orang melupakan sejenak beban hidup.

Poer Adhie Prawata, dalam Wawasan Sastra Jawa Modern menyebutkan, ketoprak berasal dari Surakarta.

Ketoprak semula diciptakan oleh Raden Kanjeng Tumenggung Wreksodiningrat, Bupati Gedong Kiwo, Kesunanan Surakarta pada tahun 1898.

Dikatakan wilayah Surakarta saat itu terjangkit penyakit pes, Raden Kanjeng Tumenggung Wreksodiningrat sedih dan terharu melihat warganya meninggal di jalan-jalan, terkapar di barak darurat sambil merintih.

Ia kemudian menyuruh para abdinya untuk menghibur warganya yang tertimpa kemalangan tersebut.

Warga sejenak melupakan persoalan, beban bahkan sedihnya hati ditinggal saudara yang meninggal akibat wabah tersebut.

Ketoprak pun makin populer dan bermunculan ketoprak tobong.

Ketoprak tobong merupakan perkumpulan penyaji pentas ketoprak, mereka berpindah dari satu tempat ke pentas yang lain, bukan hanya pemain tapi semuanya.

Ya pemain, kostum, perlengkapan panggung, sound system hingga tobong atau bangunan sementara sebagai tempat tinggal para pemain dan kru yang bisa dipindah-pindah.

Namun itu dulu, seiring waktu ketoprak seolah tergerus zaman, banyak ketoprak-ketoprak tobong yang akhirnya gulung tikar.

Di zamannya ketoprak tobong bahkan melahirkan banyak seniman mumpuni mereka populer lantaran berpentas dan berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain.

Saat itu belum banyak hiburan seperti sekarang sehingga ketoprak, wayang kulit serta berbagai kesenian tradisional masih banyak peminatnya.

Jumlah orang yang menonton selalu membludak, tiket ludes terjual, pemasukan tiket bisa membayar pemain, kru panggung dan berbagai hal yang terkait.

Dari segi bisnis ketoprak tobong tak lagi bisa menghidupi para pelaku seninya, era selanjutnya setelah ketoprak tobong adalah ketoprak yang muncul dari beberapa daerah.

Para seniman ingin menghidupkan kembali kesenian tersebut bukan lagi untuk sumber pendapatan tapi hanya selingan sekaligus melestarikan kesenian tradisional yang mulai tergerus hiburan digital.

ISTIMEWA – Sanggar Ketoprak Mudhabudaya menjadi pertahanan terakhir eksistensi kesenian ketoprak.

DESA TROTOK ‘PERTAHANAN TERAKHIR’ SENI KETOPRAK

Seperti halnya roda pedati roda yang berputar selalu merasakan kehidupan di atas lalu di bawah.

Ketoprak sempat jaya, layaknya selebriti atau pemain film di masa kini banyak seniman yang benar-benar berkarier dan menggantungkan hidup dari kesenian ini.

Namun masa itu telah lewat, hanya sedikit kelompok yang bisa bertahan.

Uniknya di zaman ini masih ada sebuah kampung yang mempertahankan kesenian ini

Desa tersebut adalah Trotok, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten.

Di kampung ini, kesenian ketoprak masih dilestarikan, proses regenerasi seniman ketoprak berlangsung secara baik.

Mereka berlatih rutin untuk tampil di desanya yang secara rutin menyelenggarakan pentas Ketoprak, dan puncak pentasnya diselenggarakan pada peringatan HUT Proklamasi.

Di bawah naungan Sanggar Ketoprak Mudhabudaya, para pemuda kampung Trotok diasah menjadi seniman yang andal.

Raihan, remaja yang masih duduk di bangku SLTA mengaku senang dan bangga dapat mendalami seni peran ketoprak.

“Jarang-jarang lho anak remaja mau mendalami seni peran ketoprak “, ujarnya bangga kepada Milesia.id.

Ketoprak Mudhabudaya adalah sisa-sisa dari kejayaan ketoprak di era 80an, yang masih memiliki seniman, pemain dan penonton yang setia.

Menurut Joko Mulyani, salah satu sesepuh Ketoprak Mudhabudaya Trotok, ketoprak mulai dikembangkan di desa Trotok Kecamatan Wedi sejak tahun 1970an dan berkembang hingga hari ini.

“Kendati ketoprak tidak lagi sepopuler dahulu, di Desa Trotok, ketoprak masih menjadi pertunjukan yang diminati warga, selain faktor keseniannya, ketoprak juga menjadi sarana menyampaikan pesan moral dan pesan pendidikan kepada masyarakat Desa Trotok khususnya,” jelas Joko.

Joko menilai, bila ingin ketoprak bisa bertahan di zaman digital seperti saat ini, langkah utama adalah dengan berubah.

“Ketoprak butuh sentuhan teknologi dan kreativitas kekinian, agar ketoprak juga dapat menjadi tontonan alternatif yang dapat bersaing dengan kesenian-kesenian modern, namun sejauh ini kami belum memiliki sumber daya manusia yang cakap,” ujarnya.

Ia kemudian mengajak anak-anak muda dalam kesenian ketoprak, menjadi ketoprak yang diharapkan lebih baik, tapi tak semua sesuai harapan.

“Langkah yang baru dapat kami kerjakan adalah dengan mengajak anak-anak muda dalam kesenian ketoprak, dan kami berhasil, tapi dalam perkembangan menuju ketoprak yang kreatif dan modern, kami belum berhasil” imbuhnya. (Milesia.id/ Penulis: Aris Budi Prasetyo/Editor: Rimawan Prasetiyo)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close