Mileslitera
Trending

Musikalisasi Sastra 2018, Perkawinan Sakral di Malam Pertama

Review Pergelaran Musikalisasi Sastra 2018, "Cakrawala Yogyakarta": 01-02 September 2018 di Taman Budaya Yogyakarta.

Bang-bang wis rahina, bang-bang wis rahina,

Srengengene muncul, muncul sunar sumamburat…

( “Bang-bang Wis Rahina”, Hadi Sukatno )

MILESIA.ID, JOGJA – Lagu dolanan anak itu mengalun rancak. Liriknya menyusup-nyusup lembut di sela bunyi gamelan serta merdu vokal biduannya.

Di tangan Anon Soneko dan Omah Gamelannya, “Bang-bang Wis Rahina” karya Hadi Sukatno menjelma menjadi sebuah magnum opus malam itu.

Panggung societet militair ukuran 10 x 8 meter itu sekejap dipenuhi laras slendro dan pelok grup karawitan asal Bambanglipuro, Bantul ini.

Impresi yang dipendarkannya mampu mengetuk-ketuk ‘rasa’ 300-an penikmat yang takjub menyaksikan suguhan apik mereka.

Menjadi penampil perdana dalam gelaran Musikalisasi Sastra 2018, Sabtu malam (01/09), Anon Soneko dan Omah Gamelan sukses mengawinkan karya sastra dengan konsep musikalisasi karawitan yang adiluhung.

Sebentuk Apresiasi

Dimulai pukul setengah delapan malam lebih, acara Musikalisasi Sastra 2018 hari pertama ini dipadati cukup banyak pengunjung.

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Penampilan Anon Suneko bersama Omah Gamelannya di Taman Budaya Yogyakarta.

Ada sekitar 300-an penikmat seni dan sastra yang kebanyakan di dominasi oleh anak-anak muda. Mereka berduyun-duyun menyesaki lobi gedung societet militair di sisi Utara, Taman Budaya Yogyakarta.

Memasuki lobi utama, meja resepsionis telah menyambut di muka. Tiga pasang wanita muda berseragam merah-merah mempersilakan pengunjung untuk mengisi lembaran daftar hadir. Jika beruntung, kita bisa mendapat sebuah buklet berisi panduan acara Musikalisasi Sastra 2018 ini.

Di sebelah kanan dan kiri meja resepsionis nampak hamparan kain hitam menutupi sisi kanan kiri ruangan. Di tiap-tiap hamparan kain hitam itu, terpasang ilustrasi para sastrawan yang karyanya hendak diapresiasi dalam acara kali ini.

Gambar-gambar itu menyatu dengan sebuah layar 21 inchi di sebelah kiri meja resepsionis serta lapak buku di sebelah kanannya.

Tak kurang dari 14 sastrawan yang gambarnya terpajang lengkap dengan biografi singkatnya. Mulai dari Ki Tjakrawasita, Hadi Sukatno, dan Djaimin K yang mewakili sastra Jawa.

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Lobi gedung “Societet Militair” Taman Budaya Yogyakarta dengan latar belakang deretan ilustrasi para sastrawan.

Kemudian Kirjomulyo, Danarto, Kuntowijoyo, Hari Leo AER, Omi Intan Naomi, Prof. Rachmat Djoko Pradopo, Seno Gumira Ajidarma, Joko Pinurbo, Dorothea Rosa Herliany, Hamdy Salad, serta Hasta Indriyana yang mewakili sastra Indonesia.

Para penikmat sastra dan seni, khususnya anak-anak muda, sepertinya enggan melewatkan acara tahunan yang digelar rutin semenjak 2013 ini.

Negara (19) Mahasiswa Filsafat, UGM asal Bekasi yang sempat mengobrol dengan Milesia.id, menyebut acara seperti  Musikalisasi Sastra ini sebagai oase di tengah kerontangnya tontonan-tontonan bermutu di layar kaca.

“Jarang sekali ada acara seperti ini di televisi nasional, kalaupun ada biasanya berbau-bau komersial. Bahkan di daerah-daerah lainnya di luar Jogja, acara seperti ini tidak selalu ada. Rasanya sangat beruntung bisa ikut serta mengapresiasi,” ujarnya antusias.

Anak muda yang datang sendirian dari tempat kosnya di daerah Klebengan, Sleman itu mengaku mendapat informasi acara ini melalui media instagram.

Saat ditanya kenapa datang sendirian, dengan santai ia menjawab: “Iya datang sendiri, kebetulan teman-teman tidak tertarik. Mereka lebih suka dengan hal-hal praktis. Seperti cara cepat menjadi kaya, cara sukses menjadi pengusaha,” ujarnya terkekeh.

“Bukan hal yang salah sih ketika memilih hal-hal instan seperti itu, semua kembali kepada selera. Saya pribadi menyukai acara seperti ini karena dapat memperluas cakrawala pengetahuan saya,” imbuhnya.

“Perkawinan” yang berkelanjutan

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Mengalun Kayu mendapat jatah menafsirkan 3 puisi karya Prof. Rachmat Djoko Pradopo.

Usai penampilan Anon Soneko, pembawa acara mengambil alih panggung. Jeda 10 menit untuk masing-masing penampil mempersiapkan diri, diisi pembawa acara, Fitri Merawati, untuk memberikan ilustrasi penampil selanjutnya.

Sesuai dengan agenda, Pergelaran Musikalisasi Sastra pada hari pertama, Sabtu, 1 September 2018 menyajikan tiga penampil.

Omah Gamelan Anon Suneko telah membuka gelaran ini dengan menampilkan gending-gending “Kuwi Apa Kuwi”, “Cakrawala” karya Ki Tjakrawasita dan “Bang-Bang Wis Rahina” karya Ki Hadi Sukatno serta tembang gurit dari “Loro Blonyo” karya Djaimin K dalam balutan musik karawitan.

Kini giliran Mengayun Kayu untuk tampil dengan nyanyian puisi karya Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo, yaitu puisi “Nina Bobok”, “Masihkah Pagi Itu”, dan “Persahabatan”.

Mengayun Kayu adalah Ayu Saraswati, wanita belia dengan pianonya. Ditemani gitaris dari ruang gulma, Ayu Saraswati menyenandungkan satu-persatu puisi Rachmat Djoko Pradopo dengan ritmis. Kesan kelam sekaligus sendu seolah menyayat-nyayat dalam bait-bait puisi yang dilagukannya.

“Acara ini sengaja mengawinkan karya sastra dengan berbagai instrumen pertunjukan,” terang Sukandar S.Hut, Tim Kreatif acara Musikalisasi Sastra 2018 ini, saat milesia.id temui di sisi panggung.

Dok.SPS – Sukandar, tim kreatif Studio Pertunjukan Sastra (SPS), pengampu acara Musikalisasi Sastra 2018.

Proses perkawinan yang diawali dengun temu srawung (perkenalan) atau menurut istilah lainnya tempuran (pertemuan beberapa arus) yaitu antara karya sastra dengan instrumen klasik maupun kiwari, entah dalam wujud musikal maupun tari.

Menurut jebolan fakultas Kehutanan UGM itu, event Musikalisasi Sastra yang diselenggarakan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) semenjak 2013 ini mempunyai konsep yang berbeda setiap tahunnya. Tergantung siapa event organizer yang ditunjuk. Kebetulan untuk tahun ini SPS yang ditunjuk.

Berangkat dari tanggung jawab itu, SPS mempersiapkan acara ini selama kurang lebih satu bulan. Bukan waktu yang cukup untuk menampilkan sebuah acara yang perfect.

“Salah satu kendalanya keterbatasan waktu. Kita juga harus menyesuaikan jadwal masing-masing penampil,” ujar Sukandar. “Selain itu, kita harus benar-benar selektif memilih para penampil. Masing-masing penampil harus mempunyai spesifikasi dan ruh yang sama dengan materi yang akan ditampilkan.”

“Akan nampak absurd ketika Mengayun Kayu yang muda dan berciri kekinian tiba-tiba harus melagukan karya-karya Pak Djaimin yang njawani. Karya-karya Djaimin lebih tepat dibawakan oleh Anon Suneko dan grup karawitannya ’Omah Gamelan’,” imbuhnya.

Kepada milesia.id, pegiat sastra dari komunitas Studio Pertunjukan Sastra (SPS) asuhan Mustofa W. Hasyim itu menuturkan harapan ke depan setelah usainya acara ini.

“Kita menginisiasi, menjembatani sebuah pasrawungan (perkenalan) atau tempuran antara karya sastra dengan instrumen pertunjukan. Kita memberikan umpan. Selanjutnya teman-teman yang diwakili oleh enam penampil inilah yang akan melanjutkannya sesuai ‘keluasan cakrawala’ penafsiran masing-masing,” pungkasnya.

Bukan Malam Terakhir

Malam kian larut, menjelang pukul sepuluh malam, giliran grup musik Rupagangga yang naik ke atas panggung.

Kelompok musik ambience noise experimental yang merespon emosi pemain sebagai komposisi musik ini dinahkodai Bodhi IA bersama Adha M Lauhil dan Dicky Permana.

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Penampilan “Rupagangga” menjadi penutup acara Musikalisasi Satra 2018, Sabtu malam (01/09).

Sebagai kelompok musik yang terbuka, Rupagangga selalu menyuguhkan eksperimen baru dalam setiap penampilannya, tak terkecuali untuk penampilan malam ini. Membawakan komposisi berjudul “Ayat-ayat Suci”, Rupagangga, melibatkan 15 musisi untuk mengolah emosinya sesuai karya sastra yang dibawakannya.

Sebagai penutup sajian pada malam pertama Musikalisasi Sastra 2018 ini, kelompok musik Rupagangga berhasil ‘menyihir’ penonton dengan menghadirkan bentuk pertunjukan orkestra eksperimental musik.

Berkolaborasi dengan Ni Putu Pradnya Krishna Sari dan Hamdy Salad, Rupagangga berhasil menyuguhkan atmosfir magis ketika membawakan puisi “Angin Pagi” karya Kirjomulyo, “Meditasi Debu” karya Hamdy Salad, “Kenduri Minta Hujan” karya Hari Leo AER, dan puisi “Berburu Ayat-Ayat Suci” karya Danarto.

Usai penampilan kolosal Rupagangga pukul setengah sebelas malam, Fitri Merawati menyudahi acara malam ini. Ia mengingatkan bahwa ini bukan malam terakhir, masih akan ada tiga penampil lagi pada malam selanjutnya, Minggu (02/09).

Tentu akan sangat menarik jika bisa menyaksikan kembali kreatifitas para penampil dalam menafsirkan karya-karya sastrawan tanah air ini.

(Milesia.id/ Kelik Novidwyanto)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close