Milestravel
Trending

Waktu Sejenak Membeku di Watu Sepur

"Destinasi Wisata Geoekologi Berbalut Keteduhan Hutan"

Kehidupan era modern yang berjalan serba cepat, acapkali menuntut respon kita dengan bekerja dan bereaksi dengan ritme yang sama cepatnya.  Beraktivitas  dan bekerja dalam  kesibukan dan tekanan terus menerus  niscaya membuat tubuh penat dan pikiran jengah. Produktivitas terancam turun. Lalu bagaimana solusinya? Sejenak bekukan waktu yang bersicepat, dengan piknik!

IST- Tracking pad ramah anak dan keluarga (Milesia.id)

Piknik tidak selalu harus  ke tempat wisata yang mahal dan terkenal. Kali ini, Milesia akan mengajak sobat semua mengenal salah satu  tempat piknik rintisan yang diberdayakan atas inisiatif  masyarakat lokal. Watu Sepur namanya.

Watu Sepur? Nama yang sangat mungkin masih asing. Secara resmi obyek wisata ini memang baru akan launching September 2018, bersamaan dengan pertunjukan wayang kulit dalam acara budaya bersih dusun.

Obyek wisata anyar ini terletak  di pojok Desa Jotangan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.  Tepatnya di Dukuh Jentrek, yang merupakan dukuh paling utara dari desa Jotangan yang berbatasan langsung dengan desa Wiro.

IST-Gapura masuk area Watu Sepur (Milesia.id)

Walaupun di desa, tidaklah sulit menemukan lokasinya. Dari Bayat tepatnya dari terminal obyek wisata religi Sunan Pandanaran, sobat sekalian ambil jalur utama jalan ke arah Kecamatan Trucuk, tidak lebih dari empat kilometer di pojok tikungan utara Desa Jotangan sobat sekalian sudah bertemu dengan jalan masuk ke Watu Sepur.

Dinamakan watu sepur (watu = batu, sepur = kereta api) karena di sana terdapat rangkaian batu yang memanjang seperti gerbong kereta api di sepanjang sabuk gunung.  Rangkaian batu panjang itu menjadi batas antara zona gunung yang merupakan lahan pemerintah yang dikelola perhutani dan tanah warga masyarakat yang dikelola warga masyarakat.  Penelusuran milesia mendapati, nama watu sepur ini sudah ada secara turun temurun, walaupun tidak ditemukan referensi valid sejak kapan siapa yang menyebut pertama kali.

Apa Ada Apa di Watu sepur?

Hanya untuk melihat batu saja? Tentu saja tidak.  Watu Sepur bisa dikatakan contoh miniatur wisata geoekologi sederhana. Disini pengunjung bisa menikmati pesona kesejukan  hutan, keindahan pemandangan alam dan bebatuan sekaligus belajar tentang alam semesta. Sobat sekalian juga bisa berolah raga jogging ringan dan memanah disini.

Gotong royong percantik area Watu Sepur (Milesia.id/BUDI SULISTYO)

Hamparan lahan pertanian palawija di sisi kanan jalan dan rerimbunan pohon besar serta bambu menjadi suguhan pertama begitu masuk ke jalan arah parkir kendaraan. Sesampai ditempat parkir kendaraan, sudah terlihat gapura pintu masuk Watu Sepur. Sederhana, tapi eksotik, natural  dan anggun.

Di loket tiket masuk senyum tulus dan ramah muda mudi akan menyambut sobat semua. Berapakah harga tiket masuk watu sepur? Dijamin tidak akan membuat kocek merengek, cukup duaribu rupiah sepuasnya. Untuk tarif parkir juga sangat murah, duaribu untuk motor dan limaribu untuk mobil.

Memasuki gapura, sobat sekalian akan langsung melihat jalan setapak, lurus  dan berundak-undak dengan potongan kayu utuh yang disusun melintang sekaligus sebagai anak tangga. Jadilah mirip rel kereta api. Di kanan kiri jalan tersebut kerimbunan aneka pohon menghadirkan keteduhan dan kesejukan alami yang menyegarkan.

Aneka spot untuk selfie (Milesia.id/BUDI SULISTIYO)

Spot selfie pertama yang akan sobat temui adalah jembatan Rindu Alam.  Jembatan anggun dari bambu ini menghubungkan “rel utama” watu perahu dengan keteduhan hutan mahoni disisi kiri. Di area hutan mahoni yang sangat rimbun dan teduh ini dipasang sejumlah ayunan. Berupa ayunan duduk berbahan bambu dan kayu serta ayunan tidur dengan bahan kain (hammock). Hati hati bermain ayunan disini, karena sangat rawan tertidur saking nyaman dibelai angin sejuk yang menyusup dari rindang pepohonan.

Di sisi kanan, sobat sekalian akan mendapati sejumlah gazebo dengan model atap rumah suku-suku di Papua. Beratap alang alang dan tempat duduk dari kayu.

Perut lapar dan butuh seteguk dua kesegaran? Jangan kuatir. Ada warung di area ini. Sobat sekalian bisa memesan makanan atau menyesap harum wangi kopi. Atau sekedar menikmati kesegaran air kemasan pereda haus sebelum melanjutkan perjalanan. Terdapat juga mushola dan toilet di area bawah.

Melanjutkan perjalanan ke atas sobat akan melintasi  gapura cinta, di kiri jalan ada beberapa tempat duduk santai dan tanah lapang yang dinaungi pepohonan yang biasa dipakai tempat kegiatan outdoor.

Memanah (Milesia.id/BUDI SULISTIYO)

Ada juga wahana memanah di area ini. Sobat bisa berlatih memanah dengan sensasi ala Arjuna berburu rusa di alam terbuka. Syuutt..!

Di sisi kanan, yang masih dalam tahap pengerjaan gazebo baru, di kerindangan bawah rumpun bambu ori, acapkali terdengar irama orkestra alam yang menenangkan jiwa manakala angin berembus.

Milesia.id/BUDI SULISTYO

Lanjut naik ke atas,  sobat akan menemui Tanjakan Mantan. Tanjakan yang relatif  tajam dan terjal. Jangan kuatir, tapakan berundak tidak licin dan jaraknya tidak panjang, kok. Aman.

Sesampai di atas akan kita jumpai tubuh Watu Sepur. Jika kita ke arah kiri akan kita temui gardu pandang dengan konsep rumah pohon. Dari sana kita bisa melihat pemandangan alam dan area persawahan. Ke arah kanan, mata disuguhi lansekap watu sepur yang memanjang hingga ratusan meter. Di area ini, ada sejumlah gazebo untuk santai atau istirahat.

Untuk jalan turun, sobat sekalian bisa memilih jalur utama seperti jalur ketika naik tadi atau bisa melalui  jalur memutar melalui samping kiri yang jalannya lebih landai.

Watu sepur memang  bisa dikatakan masih dalam tahap berbenah, beberapa fasilitas memang belum tersedia.

Supriyanto,SP selaku ketua pokdarwis Watu Sepur menyampaikan, bahwa pihaknya belum mempunyai semacam balai atau tempat pertemuan indoor dan baru dalam tahap penggalian dana. “Saat musim kemarau seperti ini, pengunjung dan pengguna event yang sifatnya massal memang suka dengan agenda outdoor, karena sudah sangat teduh. Lain hal jika musim hujan tiba, tentu akan jadi kendala,” papar penggiat Asosiasi Petani Hutan Rakyat Lestari ini. Semoga saja Pemda setempat bisa membantu menawarkan solusi.

Endro, salah satu pengunjung yang merupakan santri salah satu pondok pesantren di Klaten menyampaikan, dia dan keluarga serta santri-santri pondoknya sudah berulangkali ke Watu Sepur dan tidak pernah bosan. “Selain karena sejuk, bahkan di saat siang terik, juga murah meriah,” ujarnya.  Alasan serupa juga Milesia temui dari serombongan abege asal kota Klaten yang dimintai komentarnya tentang Watu Sepur. “Sejuk seger, dan dan bisa sekalian olah raga,” ujarnya sembari antri sholat dhuhur di mushola alam.

Lain lagi dengan Yoga, pengajar di salah satu Taman Pendidikan Alqur’an. Ia senang mengajak anak-anak ke Watu Sepur karena bisa sambil belajar langsung tentang alam raya.  “Bisa belajar tentang ayat-ayat kauniyah atau ayat yang tersirat di alam raya. Kitab suci juga banyak sekali mengabarkan tentang ilmu pengetahuan dan alam raya,” terang anak muda yang bercita cita mondok di pesantren ini.

Area Kajian Geologi

Dari kacamata ilmu geologi, Watu sepur dan sekitarnya merupakan sumber kajian penelitian dan wahana praktikum dan kuliah lapang dari berbagai kampus, terutama yang mempunyai fakultas  atau jurusan geologi dan geografi.

Seperti diketahui, kawasan Kecamatan Bayat merupakan salah satu dari dua tempat di Indonesia ini yang mempunyai jenis batuan yang paling komplit untuk penelitian geologi. Jenis batuan Beku, batuan Sedimen dan batuan Metamorf ada di sini. Satu tempat lain adalah Karang Sambung di kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. “Sampai saat ini, hanya dua tempat inilah yang menjadi rujukan sekolah lapang bagi mahasiswa geologi se Indonesia,” terang Ir. Sukartono MT, dosen Teknik Geologi STTNAS Yogyakarta yang ditemui Milesia saat mendampingi mahasiswanya kuliah lapang.

Ir. Sukartono, MT (Milesia.id/BUDI SULISTYO)

Dosen senior asal Jogja ini mengimbuhkan, bahwa seputaran bukit Tugu Rejo,  Desa Wiro, yang berjejer dengan kawasan Watu Sepur Jotangan serta bukit Sidoguro dan bukit Patrum  di Desa Krakitan yang didominasi batuan kapur, menunjukkan dulunya tanah ini adalah lautan. Muasal pembentukan batu kapur adalah dari karang dan fosil cangkang binatang laut yang telah mengalami beberapa proses geologis selama jutaan tahun yang lalu. Kemungkinan terbesarnya adalah, tanah Bayat dan sekitarnya merupakan tonjolan tanah dari  lautan (Jawa ; cototan) karena adanya tumbukan antar sesar lempeng bumi.

Benar semata apa yang disampaikan Yoga, salah satu pengunjung di atas. Di Watu Sepur, kita tidak hanya mendapatkan kesejukan dan keindahan, tap juga  pengetahuan alam. Wisata alam, wisata akal dan ilmu pengetahuan dan jika direnungi menjadi wisata ruhani. Bahwa, ada sesuatu yang maha besar di alam semesta ini dan manusia hanyalah sebutir debu..

 

(Milesia.id/ BUDI SULISTIYO)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close