Milestravel
Trending

Mereguk Sari Kenyamanan di Hutan Pinus Sari Mangunan

Bersiap Dikunjungi Presiden September Nanti

Sepulang wisata ke suatu tempat, lantas mendapati sensasi rasa tenang, sejuk, dan nyaman? Bisa jadi itu setelah mengunjungi wisata hutan “Pinus Sari Mangunan”.

Gerbang Masuk (Milesia.id/ANNY WIDI ASTUTI)

Dengan luas 10 hektare dari total luas 570 hektare, lahan milik Dinas Kehutanan Provinsi DI Yogyakarta, Pinus Sari Mangunan (PSM) merupakan salah satu dari 9 kawasan wisata andalan di wilayah tersebut.

Melengkapi kawasan itu ada Bukit Panguk, Bukit Mojo, Rumah Hobbit, Pinus Asri, Lintang Sewu, Pintu Langit, Bukit Becici, dan Pinus Pangger. Kesembilan lokasi tersebut tergabung dalam kelompok tani hutan Mangunan Resort Pengelola Hutan (RPH).

Berawal di tahun 2011  PSM semula dinamai hutan cinta. Sering dipakai pasangan muda-mudi juga rombongan berdatangan untuk sekedar refreshing. Mereka meninggalkan kendaraan, diparkir di pinggir jalan tanpa keamanan.

Semakin lama pengunjung bertambah banyak. Oleh beberapa masyarakat sekitar yang tergabung kelompok tani, diputuskan untuk mengelola hutan menjadi tempat wisata. Awal tahun 2014, mulailah menjadi Pinus Sari Mangunan. Sehari-hari, wisatawan yang berkunjung menembus angka 1000 orang. Di hari libur melonjak menjadi 9500 orang.

Anggota kelompok tani awalnya bergerak di penanaman kayu putih, budidaya lebah, penyadapan getah pinus, serta mengelola palawija. Lalu mereka bergabung dalam Koperasi Notowono.

Camping ground nyaman (Milesia.id/ANNY W.A.)

Dengan semakin eksisnya PSM, pengelolaan pun semakin profesional. Tidak kurang 70 warga berhsail dirangkul menjadi tenaga kerja dengan gaji standart UMR Jogja. Dari hulu hingga hilir masyarakat sekitar yang mengelola secara swadaya dan swakelola membesarkan PSM hingga seperti sekarang.

Baru beberapa waktu terakhir, diberlakukan tarif Rp 2.500 per orang sekali masuk kawasan hutan lindung. Tarif yang murah dibandingkan dengan fasilitas yang diperoleh. Suasana sejuk dan nyaman adalah kesan utama yang tertangkap ketika masuk ke areal hutan pinus.

Berderet-deret pohon pinus yang sudah dewasa mengeluarkan aroma khas pinus yang menyegarkan. Ditambah sepoi angin menyapa kulit, cocok sebagai tempat melepas penat dari kesibukan sehari-hari.

Di gerbang masuk utama PSM, pengunjung disambut sapa ramah petugas tiket. Melanjutkan jalan masuk beralas batu makadam, memanjang masuk hutan. Sisi kanan jalan utama didapati spot selfie bertuliskan hutan Pinus Mangunan. Pengunjung rela antri untuk dapat berfoto disini.

amphiteater hutan (milesia.id/ANNY W.A.)

Lurus saja, pengunjung akan menemukan panggung yang tengah dibenahi sebagai sarana pertemuan yang cukup nyaman.

Sebelah kiri, diumpai panggung kecil untuk berswafoto juga. Tentunya dengan menaiki anak tangga untuk menuju ke atasnya. Dari sini pengunjung bisa mendapatkan view  pemandangan yang nampak berbeda dan indah. Nampak di kanan kiri, ayunan ditalikan diantara dua pohon siap untuk memanjakan tubuh kita rebahan diatasnya.

(Milesia.id/ANNY W.A.)

Beberapa fasum standar tersedia disini, diantaranya musholla, 17 toilet, 2 aula, dan 10 gazebo.  Selain itu terdapat rumah makan dan tempat pertemuan. Tempat parkir berada seberang jalan tampak luas menyatu dengan beberapa fasilitas tersebut diatas. Sepanjang jalan dari parkir kendaraan menuju kawasan pinus, nampak berjejer pedagang makanan dan minuman. Ada juga beberapa makanan tradisional khas Mangunan dijajakan disini. Dan kesemuanya yang berjualan adalah penduduk warga sekitar.

Disisi utara jalan kita jumpai panggung sekolah hutan. Seolah kita berada di sekolah, di tengah hutan. Dengan panggung besar sebagai tempat perhelatan, dan di depan panggung berjejer rapi kayu-kayu jati yang didatangkan dari Gunung Kidul, disulap menjadi tempat duduk melingkar. Rapi dan artistik. Sentuhan alami terkesan kuat saat melihat suasana di sini. Kayu-kayu dibiarkan dalam wujud aslinya dengan sedikit dipertajam tekstur seratnya dengan menggunakan vernis.

Bersiap Dikunjungi Presiden

Beberapa tukang bercerita ihwal  pengerjaan  panggung dan kursi kayu yang konon bisa menampung 2000 orang. Dengan ruang pertemuan di tengah hutan pinus, membuat kesan yang mendalam dengan tema alam terbuka, cocok  untuk resepsi pernikahan dan event-event besar outdoor lainnya.

September mendatang, panggung sekolah hutan akan mengadakan perhelatan  besar dengan didatangi orang nomor satu di Indonesia, Presiden Joko Widodo disertai Menteri Kehutanan, dalam acara percontohan pengelolaan hutan lindung yang berbasis masyarakat. Dengan jargon “Hutan Lestari Masyarakat  Sejahtera”.

Fahruddin (Milesia.id/ANNY W.A.)

Menurut salah satu petugas pengelola PSM yang ditemui Milesia.id, Fahrudin, PSM juga banyak menerima permintaan untuk lokasi pemotretan. “Untuk event tertentu, ada tarif yang diberlakukan, misalnya prewedding. Kami menbanderol tarif Rp 200 ribu”, papar Fahrudin. Adapun untuk acara gathering, senam dan sejenisnya, bertarif Rp 200 ribu plus biaya masuk. Sewa panggung untuk pertemuan bertarif Rp 1 juta. “Kami meraih juara 2 pada acara Anugerah Pesona Indonesia, Surga yang Tersembunyi, ” imbuh Fahrudin.

Pengelola PSM juga memerhatikan konservasi vegetasi setempat. Selain dikelola menjadi hutan wisata, juga dilakukan pembibitan pinus untuk reboisasi. Tahun ini disiapkan 1.500 bibit pinus yang siap untuk ditanam.

Wana Wisata Budaya Mataram

PSM tidak dapat dipisahkan dengan Kerajaan  Mataram. Dipaparkan Suratman, pembina pengelola PSM, Kerajaan Mataram lekat dengan kawasan ini. “Konon, raja pertama Mataram Sultan Agung Hanyokrokusumo, sampai di wilayah  ini dalam rangka mencari tanah siti wangi, tanah yang disucikan,” papar Suratman.

Suratman (Milesia.id/ANNY W.A)

Sultan Agung sering melakukan ritual di area PSM, tepatnya di mata air pengkung (burung merak). Sumber air berasal dari tongkat yang ditancapkan Sultan. Sumber mata air sampai sekarang masih mengalirkan air. Bahkan airnya sampai ke makam raja-raja Imogiri.

Jejak Sultan Agung diikuti oleh Raja Majapahit ke 7, Raja Pajajaran, Raja Brawijaya ke 5, juga Wali songo  ( Sunan Kalijaga, Sunan Gesing /Cokrojoyo), konon pernah menginap di sini. Dan terdapat gunung kendil yang dipercaya sebagai tempat menyimpan benda-benda pusaka.

Dengan dijadikannya tempat persinggahan para tokoh-tokoh penting jaman dahulu itulah, menjadikan tempat ini dipercaya memiliki aura positif. Di samping menyegarkan fisik, pengunjung yang datang akan merasakan ketenangan, kesejukan, kenyamanan yang merasuk sampai hati.

Keluarga Anton dari Balikpapan (Milesia.id/ANNY.W.A)

“Bagus tempatnya, kebersihan terjaga, makanan tersedia dengan mudah. Kalau bisa, ditambah lagi papan-papan petunjuk arah serta view-view untuk spot selfie,” ujar Anton, pengunjung asal Balikpapan yang datang bersama keluarga, kepada Milesia.id. Yuk, berburu kesejukan ke hutan Mangunan!

(Milesia.id/ANNY WIDI ASTUTI)

 

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close