DINAMIKAMileshistory
Trending

Gaya Berpakaian dan Citra Diri “Si Bung Besar”

MILESIA.ID – Edward Luffwak  dalam bukunya  “Coup d’etat: A Practical Handbook” pernah mengkritik gaya berpakaian atau seragam Pegawai Negeri Sipil (PNS) Indonesia yang menurutnya mirip NAZI.

“Gaya berpakaian yang mirip pemerintahan NAZI yang mengharuskan semua pamong praja berpakaian ala militer,” ujarnya sinis.

Nyatanya, Indonesia bahkan lebih parah dari pada Jerman pun NAZI, uniform ala militer bukan hanya dipakai oleh para pegawai saja, tapi juga “dipaksakan” untuk pelajarnya.

Soekarno dan Militerisasi Terselubung

“Selain penyeragaman gaya berpakaian, tata upacara yang diterapkan pada siswa adalah bentuk militerisasi. Suatu hal yang sesungguhnya diinisiasi oleh Soekarno,” terang Edward Luffwak.

Menurut Luffwak, dengan memakai baju kebesaran lengkap dengan simbol-simbol militer, Soekarno ingin tampil gagah layaknya Hitler atau Mussolini.

Jendral TB Simatupang juga pernah mengomentari baju kebesaran Bung Karno yang kental nuansa militeristik itu. Mendengar komentar itu, Bung Karno sempat marah. Ia menganggap Simatupang telah melarangnya mengenakan baju kebesaran.

Padahal sejatinya tidak. Simatupang hanya memberi masukan dan himbauan. Ia kemudian memberi klarifikasi: “Bung Karno, Saya sebagai Kepala Staf Angkatan Perang yang mengenakan uniform, memberi hormat pada Bung Karno yang tidak memakai uniform.

Sehingga dengan demikian masyarakat melihat bukan yang memakai uniform itu yang tinggi, tetapi yang tidak memakai uniform,” tutur Simatupang dalam buku “Percakapan dengan Dr TB Simatupang “.

Pada Oktober 1961, Cindy Adams, jurnalis cantik asal Amerika itu pernah mewawancarai Soekarno untuk proses penyusunan buku otobiografinya. Dalam pertemuan pertama mereka, Cindy melontarkan sebuah pertanyaan menggelitik dan berani.

IST – Cindy Adams, jurnalis asal Amerika penakluk Soekarno.

“Tuan, mengapa Anda selalu mengenakan seragam?” tanya Cindy dalam “My Friend the Dictator”.

“Aku memakai seragam oleh karena aku Panglima Tertinggi. Rakyatku sudah begitu lama dijajah Belanda. Mereka telah dijadikan koloni selama ratusan tahun, mereka sudah lama diperbudak,” jawab Sukarno.

“Setelah kemerdekaan Indonesia aku proklamirkan, aku harus bisa memberikan kepada mereka sebuah citra, suatu kebanggaan. Maka aku selalu memakai seragam.”

Namun Cindy Adams meragukan jawaban Soekarno itu, dengan tatapan mata lekat ia kemudian berujar sedikit menggoda: “Saya tidak percaya terhadap semua penjelasanmu. Saya yakin, kau selalu memakai pakaian seragam karena kau sendiri sadar, dirimu terlihat tampan jika memakainya.”

Soekarno terdiam. Sesaat kemudian ia berujar, “Kamu benar, tapi tolong jangan ceritakan masalah ini keluar!” pintanya.

Gaya Berpakaian Ikonik Para Pemimpin

Tak hanya Soekarno, beberapa pemimpin Asia Tenggara juga terkenal mempunyai gaya ikonik dalam berbusana. Politik berpakaian memang kerap ditampilkan oleh pemimpin negara di Asia Tenggara, terutama setelah negerinya merdeka dari kungkungan kolonialisme.

Jose Rizal pemimpin gerakan nasionalis Filipina dalam berbagai potret acap kali mengenakan jas mantel membaluti tubuhnya. Padahal, suhu musim panas dan musim dingin di negeri itu sesungguhnya tak jauh berbeda. Jas mantel Rizal itu ternyata dibuat di Hongkong.

Menurut jurnalis kawakan asal Malaysia, Karim Raslan, jas mantel Jose Rizal mencerminkan simbol perlawanan. Filipina dijajah Spanyol selama empat ratus tahun. Dalam cengkeraman Spanyol, orang-orang Indio –penduduk Filipina asli seperti Rizal– begitu terdesak dan terasing.

“Baginya (Rizal), menulis dalam bahasa Spanyol dan memperagakan segala perlengkapan lelaki budiman penghujung era Victoria mengampuhkan rasa kebanggaan nasional,” tulis Karim.

IST – Gaya elegan Soekarno saat bersama Fidel Castro di Havana, Kuba.

Ada lagi Lee Kuan Yew, Perdana Menteri Singapura periode 1959-1990. Yew terlihat khas dengan kemeja putihnya. Hal ini bisa jadi melambangkan egalitarianisme Lee yang memimpin Singapura dengan berbagai etnis dan kelas sosial di dalamnya. “Kesederhanaan jelas kemeja putih itu akan membantu merapatkan sedikit jurang perbedaan etnik,” tulis Karim.

Di negeri Malaysia, pemimpin seperti Tunku Abdul Rahman malah menampilkan gaya berpakaian yang jauh dari kesan sederhana. Tak heran, dia memang putra seorang sultan. Dengan balutan kain sutera dilengkapi selempang dan aneka hiasan, pakaian resminya menyolok mata. Potretnya kini masih terpampang dalam mata uang ringgit.

Pentingnya Citra Diri

“Pakaian resmi gilang gemilang dan mahal di zaman itu (medioa 1950-1990) mencerminkan ciri feodal yang terus didaulatkan oleh masyarakat Melayu,” tulis Karim.

Sementara itu, Soekarno, menurut Karim, dengan penampilannya juga melambangkan citra diri penuh kebanggaan. Soekarno kerap terlihat mengenakan seragam militer rancangannya sebagai panglima tertinggi lengkap dengan lencana-lencana –kendati dirinya bukan berlatar belakang militer.

Dalam otobiografinya, “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat”, Soekarno mengakui citra dirinya bertujuan untuk meninggikan martabat bangsanya selepas penjajahan.

“Indonesia harus menguasai kesadaran diri dan memahami rasa rendah diri. Kita ini membutuhkan rasa percaya diri! Itulah yang harus kuberikan kepada rakyatku sebelum aku meninggalkan mereka.

Saat ini, Soekarnolah yang menjadi faktor pemersatu Indonesia.” Tegas Soekarno.

(Milesia.id/ Penulis: Aris Budi Prasetyo, Editor: Kelik N)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close