Mileshistory
Trending

Tradisi Mataram Kuno: Tuak Tersaji saat Prosesi Sumpah dan Kutukan

Seri Historia

Alkohol di masa kini tak hanya tentang minuman yang memabukkan tapi juga manfaatnya akan pengobatan. Namun di masa lalu ada tradisi unik di kalangan masyarakat Mataram Kuno, minuman keras identik dengan upacara, prosesi sumpah hingga kutukan!

MILESIA.ID – Siapa yang tak kenal air berjuluk minuman setan ini, dulu menenggak twak (tuak) merupakan tradisi masyarakat Mataram Kuno.

Minuman yang mengandung alkohol ini sangat lazim disajikan dalam acara-acara publik dan tersurat dalam prasasti.

Mengutip buku karya Titi Surti Nastiti dalam ‘Minuman pada Masa Jawa Kuno,’ Proceedings Pertemuan Ilmiah Arkeologi V, Yogyakarta, 4-7 Juli 1989, tradisi minum tuak termaktub pada Prasasti Taji.

Prasasti Taji dikeluarkan pada tahun 823 Caka atau 901 M.

Selain Prasasti Taji, tuak juga tercatat dalam prasasti-prasasti lain, yang dikeluarkan dari masa Dyah Balitung hingga Pu Sindok.

Pada catatan kuno tersebut twak atau tuak biasa disajikan saat prosesi penetapan sima atau tanah perdikan.

Tanah perdikan atau tanah merdeka, diistimewakan dan bebas dari pajak, biasanya diberikan raja atau penguasa untuk seseorang yang dinilai telah berjasa.

Diceritakan, ketika itu Raja Mataram Kuno, Rake Watukura Dyah Balitung (898-911), mengutus Rakryan Watu Tihang Pu Sanggramadhurandhara meresmikan tanah, bangunan suci dan sawah di wilayah Desa Taji menjadi daerah perdikan.

Para pejabat di tingkat pusat, tingkat desa, saksi dari desa tetangga, dan penduduk Desa Taji, turut hadir mengikuti upacara penetapan sima itu.

Setelah upacara selesai, tersuguh hidangan berupa nasi dengan lauk -pauk daging kerbau, ayam, ikan asin, dan telur.

Tak lupa pula minuman tuak.

Arkeolog Titi Surti Nastiti menjelaskan pada bukunya, selain penetapan sima, tuak dan minuman keras lainnya disajikan pada prosesi sumpah dan kutukan.

Minuman ini juga ditenggak selagi menikmati pertunjukan topeng, lawak, dan wayang.

Wanita yang juga dikenal sebagai arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional tersebut menambahkan minuman yang mengandung alkohol atau minuman keras biasanya disebut madya yang dibuat dari pohon palem bernama sajeng.

Dan semua yang disebut sajeng adalah twak, waragang, badyag, twak tal, budur.

Perbedaan antara tuak dan tuak tal terdapat dalam teks Nagarakretagama.

Dalam naskah gubahan Mpu Prapanca bertarikh 1365 M ini, terdapat dua jenis tuak: twak nyu (kelapa) dan twak siwalan.

Bahan yang digunakan untuk membuat tuak kelapa ialah air kelapa (cocos nucifera linn), sedangkan tuak siwalan atau terkadang disebut tuak tal berbahan air siwalan atau tal (borassus flabelliber linn).

Sementara itu menurut W P Groeneveldt pada buku Nusantara dalam Catatan Tionghoa menunjukkan bagaimana proses pemuatan tuak.

Menurut Groeneveldt, berita Tiongkokdi  masa Dinasti T’ang (618-907) itu memuat proses pembuatan tuak kelapa di Ka-ling (merujuk wilayah Jawa).

“Mereka membuat arak (tuak, red) dari bunga pohon kelapa yang menggantung. Jika mereka meminumnya, mereka cepat mabuk. Rasanya manis dan memabukan,” tulis W P Groeneveldt di buku tersebut.

Adapun wadah yang digunakan untuk meminum tuak beragam jenisnya, dalam teks Decawarnana (Nagarakretagama, red), tersua bahwa tuak kelapa, tuak siwalan, arak, hano, kilang brem, juga tampo disajikan wadah berbahan emas. (Milesia.id/Aris Budi Prasetyo/ Editor: Rimawan Prasetiyo)

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close