Milestories
Trending

Mengintip Kesibukan Medical Center Asian Games 2018

Bertugas dari Jam 8 Pagi hingga Tengah Malam

Kedudukan dalam posisi sama kuat 20-20 ketika cukilan pelan kok dari Yuqi Shi menyeberangi net, lalu mendarat ke bidang kiri lawan.  Anthony Ginting reflek memburunya dengan mengayunkan raket. Ah.., belum sampai ujung raket menyentuh kok pengembalian Yuqi, Ginting tiba-tiba meringis diikuti langkah kaki yang terlihat pincang. Ia tertatih menuju wasit utama untuk meminta break. Wasit menolak. Tak menyerah, sekali lagi Ginting memohon. Namun wasit keukeuh.

Kesibukan awak medis dan kru (Milesia.id/PRIO PENANGSANG)

Istora yang biasa penuh sorakan jika atlet nasional bertanding, sejenak hening. Anthony Sinisuka Ginting, pebulu tangkis muda yang gigih itu pun lantas terduduk di pinggir lapangan tak jauh dari kursi wasit, lalu berbaring.

Dibekap kram kronis, Ia menyerah setelah melalui pertarungan alot melawan Yuqi Shi, tunggal Putra China peringkat dua dunia di final beregu bulutangkis putra Asian Games 2018, Rabu (22/8) malam.

Akhirnya, dibawah tepukan tangan penonton yang mengagumi permainannya yang gigih dan ulet, Ginting dibawa ke luar lapangan dengan brankar oleh tim medis.

Cidera atlet nyaris selalu ada dalam event olahraga. Baik yang berskala tarkam hingga level dunia. Anthony Ginting adalah salah satu atlet yang mengalaminya kemarin. Alhasil, di samping kesiapan atlet dan official, kehadiran tim medis mutlak dibutuhkan. Apa jadinya atlet cidera sementara tim medis tidak berada di area pertandingan?

“Kami bekerja untuk memastikan pelayanan kesehatan dan penanganan cidera atlet terjamin,” papar DR. dr. Tri Maharani, M,Si, Sp.EM, satu dari 30 dokter spesialis emergensi yang ditugaskan Kementerian Kesehatan di event olahraga terbesar Asia itu.

“Sekarang tinggal 24 dokter spesialis sebab 6 rekan kami ditugaskan ke Lombok untuk menangani masalah medis terkait gempa bumi di sana,” papar Tri Maharani yang ditemui Milesia.id di Posko Kesehatan Gelora Bung Karno (GBK), Senin (20/8) lalu. “Ini tugas negara, Saya nggak boleh mengelak. Ada surat tugas khusus dari Menteri Kesehatan untuk 30 orang dokter terpilih se Indonesia”.

Dokter-dokter spesialis emergensi yang rata-rata bergelar Doktor itu, berasal Jawa, Bali, Kalimantan, Sumatera, hingga Papua. Mereka sudah hadir di Jakarta sejak 10 Agustus dan akan bertugas hingga 2 September mendatang.

Di pos kesehatan GBK, dokter spesialis kegawatdaruratan (emergency specialist) yang bertugas terbagi dalam sejumlah sub.  Ada sub toksinologi, sport emergency, sub disaster (bencana), hingga pre hospital. Didukung oleh kru ambulans, dokter umum, perawat dan tenaga ahli. “Semua venues punya potensi resiko cidera atlet, saya kebagian venue hockey dan aquatic,” terang Tri.

DR. dr. Tri Maharani, Sp.EM (Milesia.id/PRIO PENANGSANG)

Tri Maharani, perempuan ceria kelahiran Kediri, Jawa Timur itu, merupakan dokter spesialis emergensi yang juga dikenal sebagai toksinolog handal. Ia merupakan dokter emergensi spesialis gigitan ular berbisa (snakebites) pertama di Indonesia  yang juga  advisor temporary WHO untuk kasus snakebites.

Tri Maharani merupakan salah satu tim penyusun buku “Guideline for the Management of Snakebites” terbaru yang diterbitkan WHO (2016), yang menjadi panduan bagi penatalaksanaan korban gigitan ular berbisa bagi kalangan medis di seluruh dunia.

Dari Jam 8 Pagi hingga 12 Malam

Senin siang (20/8), Milesia.id yang masuk melalui Gate 3 GBK, mendapati gerbang besi setinggi empat meter lebih itu digembok rapat dengan penjagaan sejumlah polisi bersenjata. Ya, tak sembarang orang bisa memasuki kawasan itu. “Tunggu ya, nanti masuk bareng aku. Ini barusan keliling beberapa venue di GBK,” papar Tri melalui pesan singkat.

Bukan pekerjaan ringan, para dokter dengan keahlian khusus itu bersama tim harus bertanggung jawab menangani persoalan medis sebanyak 11.478 atlet dari 45 negara yang bertanding di Asian Games Jakarta-Palembang. “Itu termasuk official, juga penonton yang mengalami masalah kesehatan di lokasi juga kami tangani,” imbuh Tri. “Saya di sini dari jam 8 pagi sampai 12 malam”.

Di sela wawancara, Milesia.id mengamati betapa sibuk para petugas medis dan crew di tenda putih memanjang dengan dua unit ambulans yang selalu stand by di lokasi. Sebentar-sebentar Tri harus menerima panggilan dari handy talkie di meja front line. Berkoordinasi dengan tenaga medis dan crew di Pos Kesehatan GBK. Tim medis dan kru terlihat hilir mudik dengan tugas masing-masing.

Tenda putih memanjang beralas karpet warna abu-abu, terbagi dalam beberapa partisi, termasuk ruang periksa. Tenda paling depan yang difungsikan sebagai kantor administrasi, terlihat sederhana dengan satu set meja dan kursi. Termasuk kursi panjang, berbahan kombinasi stainles dan logam. Sebuah pendingin ruangan lumayan mampu mengusir gerah udara Jakarta siang itu.

Lalu, apa asyiknya beraktifitas di medical center dengan tanggung jawab besar plus durasi waktu yang panjang? “Asyiknya, melihat perjuangan atlet dan juga kita semua dalam mencapai sesuatu”. Lalu, apa resepnya agar tetap bugar? “Resepnya bahagia saja, dan makan buah-buahan yang banyak, hahaha..!”.

Selamat bertugas, Dok!

(Prio Penangsang/Milesia.id)     

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close