Mileseducation
Trending

Ia yang Mengajak Jatuh Hati pada “Montessori”

Betapa ‘cerdiknya’ Vidya Dwina Paramita membawa anak-anak pun orangtua untuk jatuh hati, kemudian menjadi Montessorian.

“Hi… My I know your name?”

Saya terkesiap, menatap anak 4,5 tahun berkucir dua yang menyapa saya.

“Hello. Sure… My name is Vidya.”

“Hi Miss. What are you doing here?” ujarnya menyambut uluran tangan saya.

“Hmmm… I’m observing you.”

“Observing? What is observing?” tanyanya mengerutkan dahi.

“It means I need to learn from you and your friends.”

“Oh really? Come to my mat, please. I’ll show you something.”

Lalu, saya mengikuti ia yang berjalan ke alas kerjanya.

Miss, this is one unit. Do you want to feel it? This is one ten.” Ia menyorongkan sebutir manik-manik sebelum kemudian menyodorkan kumpulan sepuluh manik-manik.

“This is one hundred square. Do you think it’s bigger? How about this one. This is one thousand cube.”

Saya termangu. Bagaimana bisa anak sekecil itu bicara dengan gestur dan kosakata yang demikian sopan? Bagaimana bisa ia menjelaskan dengan detail dan gamblang konsep satuan, puluhan, bahkan ribuan?

IST/@filosofimontessori – Vidya Dwina Paramita, S. Hum, -Practitioners of Early Childhood, Enlightening- dalam sebuah acara Parent Workshop.

Hei, tunggu …! Bukankah itu pelajaran kelas 2 dan 3 SD? Saat ini saya sedang berada di sebuah preschool, kan? Saya masih termangu… dan sejak saat itulah saya mulai jatuh cinta pada metode Montessori.

Apa atau Siapakah Montessori?

Narasi apik di atas adalah pembuka buku berjudul “Jatuh Hati pada Montessori, Seni Mengasuh Anak Usia Dini” karya Vidya Dwina Paramita.

Buku ini berkisah tentang pengalaman Vidya sebagai guru pendidikan anak usia dini yang merasa sangat terbantu oleh filosofi Montessori.

Ia yang dahulu kesulitan mengendalikan emosi dan mudah melabeli anak, kini dapat berusaha untuk selalu merespons beragam perilaku anak dengan positif.

Lalu apa atau siapakah Montessori?

Bagi para orangtua yang kerap mengikuti grup parenting di sekolah putra-putrinya, istilah metode Montessori tentu bukanlah hal yang asing. Metode ini sedang ngetrend, ramai diperbincangkan di grup-grup parenting kiwari.

Montessori adalah nama dari Maria Montessori, seorang perempuan Italia yang lahir pada 31 Agustus 1870.

Maria Montessori sempat mendalami ilmu matematika dan teknik mesin sebelum akhirnya memutuskan menggeluti bidang kedokteran. Ia menjadi dokter perempuan pertama di Italia.

IST – Dr. Maria Montessori mengajak kita mengobservasi kebutuhan anak melalui perilaku yang mereka tunjukkan kepada kita.

Montessori kemudian bekerja di sebuah rumah sakit untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Setiap hari sesudah sarapan, anak-anak dibawa ke aula besar yang kosong. Ia memperhatikan anak-anak tersebut berjalan berkeliling aula sambil merogoh kantong celana, seperti sedang meremas-remas sesuatu.

Setelah diselidiki, ternyata mereka menyimpan remah-remah roti sisa sarapan. Montessori kemudian menyimpulkan bahwa hal itu dilakukan dalam upaya alami anak-anak untuk menstimulus indra peraba.

Hasil observasi itu kemudian menjadi salah satu fondasi utama metode Montessori, yakni tentang menstimulus seluruh indra anak. Seluruh indra, tak hanya audio dan visual seperti yang selama ini fokus diajarkan di sekolah-sekolah konvensional.

Belakangan, Montessori dipindah ke area pabrik dan menyaksikan betapa anak-anak buruh pabrik yang ditinggal bekerja, cenderung tumbuh menjadi anak-anak yang liar.

Melihat realita ini, Montessori memutuskan membangun pusat pendidikan anak bernama Cassa de Bambini yang berarti ‘Rumah Anak-Anak’.

Hal pertama yang dilakukan Montessori adalah mengarahkan anak-anak yang berusia lebih besar untuk terlibat dalam kegiatan sehari-hari. Mereka diarahkan untuk membersihkan lantai, merawat tanaman, menyiapkan makanan, memakai pakaian sendiri dan kegiatan keseharian lainnya.

Dari situlah lahir cikal bakal pemahaman tentang pentingnya “area praktik” kehidupan sehari-hari yang melibatkan anak secara aktif dengan “material konkret” yang dapat mereka eksplorasi dengan seluruh indra.

Menurut Montessori, anak-anak pada dasarnya membutuhkan kegiatan yang bermakna, yang tidak hanya untuk menyalurkan energi mereka yang meruah, tetapi juga agar mereka merasa bermanfaat dan berharga.

Pentingnya 6 Tahun Pertama Kehidupan

Pada bagian-bagian awal buku ini, penulis menjelaskan pentingnya 6 tahun pertama pertumbuhan anak. Tahun-tahun awal tumbuh kembangnya, anak adalah peniru ulung yang bakal menyerap semua pengetahuan yang ada di sekitarnya (absorbent mind).

Montessori membagi periode absorbent mind ini menjadi dua, yaitu un-conscious mind dan conscious mind.

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Masa 6 tahun pertama sangatlah penting, karena masa ini adalah masa kepekaan anak terhadap kelima indra.

Bagi anak usia 0-3 tahun, ia berada pada fase absorbent un-conscious mind. Pikirannya ibarat spons yang menyerap semua informasi melalui interaksinya dengan lingkungan menggunakan seluruh indranya. Pengalaman ini menjadi tabungan baginya untuh tahapan tumbuh kembang berikutnya.

Kemudian pada usia 3-6 tahun, anak sudah memiliki absorbent conscious mind. Mereka telah memahami tentang benar-salah, serta baik dan buruk. Mereka juga lebih sadar untuk memilih.

Masa 6 tahun pertama sangatlah penting, karena masa ini adalah masa kepekaan anak terhadap keteraturan, lingkungan, benda-benda kecil, pergerakan, bahasa, serta kepekaan terhadap kelima indra.

Sebagai contoh, seringkali kita kesal saat melihat anak memasukkan suatu benda ke mulut, mengetuk-ngetuk, bahkan melempar atau menciumi benda itu berkali-kali. Padahal “keisengan” itu adalah upayanya untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang, yaitu menstimulasi indranya.

Alih-alih dimarahi, lebih baik kita respon dengan aktivitas yang lebih baik, seperti menstimulasi indra penglihatan, peraba, penciuman, dan pengecapnya dengan mengajaknya mewarnai gambar jeruk.

Dalam buku ini, penulis juga melihat kasus anak yang mengalami keterlambatan bicara, sering kali setelah dirunut, penyebabnya adalah karena anak terlalu banyak terpapar gadget.

Pada zaman ketika informasi dan pengetahuan bisa didapat dari mana pun, ternyata masih banyak orang tua yang membiarkan putra-putrinya terpapar gadget sejak dini tanpa batas dan pengaturan waktu.

Padahal gadget mengurangi waktu gerak anak secara fisik, membuat anak tak acuh pada lingkungan serta kemungkinan besar menjadi kecanduan.

IST/@vidyadparamita – Montessori mengedepankan kemandirian, mengajarkan anak mengekspresikan emosinya dan mampu beradaptasi dengan lingkungan.

Praktisi Montessori ini juga heran dengan pilihan para orangtua terhadap tontonan bagi anak-anaknya. Sering kali pilihannya adalah film-film kartun yang tokoh-tokohnya tidak saling berkomunikasi verbal.

Semua hanya menganggukkan kepala serta menggunakan beragam ekspresi dan bahasa tubuh dalam berkomunikasi.

Sejatinya, kosakata perlu “ditabung” agar pada waktunya anak dapat mengeluarkan tabungan kosakatanya dalam bentuk ujaran verbal.

Tak hanya itu, anak juga perlu mendapat stimulasi terkait cara berkomunikasi yang melibatkan mimik dan ekspresi wajah, intonasi, ataupun bahasa tubuh.

Anak membutuhkan model yang dapat ia tiru untuk dapat berkomunikasi dengan positif. Siapkah kita, orang dewasa ini menjadi teladan bagi mereka?

Sebelas Bab yang Menarik

Secara utuh, buku ini memuat sebelas bab dan 211 halaman yang mengisahkan pengalaman penulis dalam mendampingi anak-anak usia dini di sekolah asuhannya yang berbasis Montessori.

Vidya Dwina Paramita yang berkecimpung di dunia pendidikan anak usia dini sebagai pengajar sejak 2007 adalah sarjana humaniora dari fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya di Universitas Indonesia (UI). Ia mendalami metode Montessori melalui program Diploma Internasional.

Mimpinya adalah berbagi ilmu dan pengalaman sebanyak mungkin dengan guru dan calon guru pendidikan anak usia dini serta orang tua yang membutuhkan.

IST/@vidyadparamita – Vidya Dwina Paramita, penulis buku “Jatuh Hati pada Montessori”.

Banyak kisah inspiratifnya dituturkan dalam buku ini, salah satunya saat ia ditantang untuk mengajari seorang anak membaca. Anak itu menjelang SD, namun belum juga bisa membaca.

Susah payah Vidya mengajari anak itu, tapi sekadar menghafal huruf “a” dan “b” saja tak kunjung bisa. Akhirnya, ia memutuskan untuk menghentikan semua usahanya, dan memilih mengobservasi.

Setelah melakukan observasi, Vidya menyadari bahwa anak itu sedang tertarik dengan apa pun yang berhubungan dengan sains. Kepalanya dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan mengapa langit gelap pada malam hari? Mengapa ada air yang tumpah dari langit saat hujan?

Vidya terkesiap. Menyadari selama ini ia hanya mengedepankan egonya. Memaksakan caranya untuk mencapai tujuan tanpa mempertimbangkan apakah si anak tertarik atau tidak.

Ia kemudian merancang sesi eksperimen membuat gunung berapi untuk memuaskan keingintahuan sang anak tentang mengapa binatang-binatang hutan lari ketika gunung meletus. Setelah itu, diajaknya si anak untuk mencari huruf awal kata gunung dan lahar.

Dan hasilnya luar biasa! si anak mampu memenuhi rasa ingin tahunya sekaligus belajar berkat konsep “follow the child”. Ia merasa dipahami dan tidak ditekan, serta dapat mengasosiasikan “belajar” dengan sesuatu yang menyenangkan.

Dus, bagian inti dari buku ini dan paling banyak pembahasannya adalah mengenai konsep dan filosofi Montessori. Pada bab-bab ini, para orangtua akan diajak berpikir kembali: sudah tepatkah pola asuh kita terhadap anak-anak selama ini?

Pertanyaan-pertanyaan yang jamak para orangtua pikirkan seperti: Apakah benar anak bukan kertas kosong? Benarkah penolakan anak untuk makan sesungguhnya memberikan informasi bahwa anak punya kendali atas dirinya sendiri?

Apakah benar konsep Montessori follow the child dan freedom yang benar-benar bebas tanpa batasan? Mengapa alas kerja sangat penting? Mengapa anak membutuhkan cara belajar konkret menggunakan materi? Kemudian bagaimana pula cara terbaik orangtua untuk mengoreksi anaknya? Semua pertanyaan yang menggelisahkan itu berhasil dijawab oleh buku ini.


IST/@vidyadparamita – Dengan melatih dan menstimulasi lima indra anak secara maksimal akan memudahkannya menghadapi tantangan di masa depan.

Narasi berupa contoh-contoh kasuistik yang menarik membuat pembaca seolah terhanyut dan ikut merasakan kisah-kisah di dalamnya. Seperti ketika penulis membawa kita menginshafi betapa berbedanya cara berpikir anak-anak dan orang dewasa:

Anak bolak-balik mencuci tangan, tak kunjung lelah naik turun tangga, atau ribuan kali minta dibacakan buku yang sama.

Hal-hal itulah yang bakal memunculkan “prahara”, kejengkelan para orangtua. Bagi orang dewasa,”hasil” adalah yang utama, sedangkan untuk anak-anak, “proses”-lah yang penting.

Bagi orang dewasa, tujuan mencuci tangan adalah supaya bersih. Sementara bagi anak, yang penting adalah rasa air yang mengalir di tangannya, cipratan air saat ia menepuk, serta licinnya tangan karena sabun yang kemudian berubah menjadi busa berbuih.

Menempuh Jalan Pengasuhan

Kombinasi antara teori, pemahaman, dan pengalaman penulis membuat buku yang diterbitkan PT Bentang Pustaka ini menarik dan terasa ringan untuk dibaca.

Yang lebih menyenangkan, buku yang didistribusikan oleh Mizan Media Utama ini jauh dari kesan “teoritis”. Alih-alih menggurui, buku ini memicu kita untuk lebih mendalami serta bertekad menerapkan metode Montessori dalam kehidupan sehari-hari.

Dari buku ini kita dapat memahami bahwa fondasi utama metode Montessori yaitu ‘how to stimulate all kids senses’.

Pada dasarnya, dengan melatih dan menstimulasi lima indra utama anak secara maksimal akan memudahkannya dalam menghadapi tantangan yang lebih berat pada fase kehidupannya yang akan datang.

IST/@vidyadparamita – Buku “Jatuh Hati pada Montessori” ini bakal benar-benar membuat kita jatuh hati pada metode Montessori yang mencerahkan.

Namun sejatinya, metode Montessori bukanlah sekedar tentang kegiatan merangkai, menyusun, meronce, menyendok, dan sensory play lainnya.

Montessori juga mengedepankan sifat kemandirian, mengajarkan anak mengekspresikan emosinya dengan jelas, dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya.

Bukan hanya anak -anak yang pintar secara akademis dalam membaca, menulis, dan berhitung.

Dus, seperti semua jenis metode yang lain, Montessori dapat dianalogikan sebagai kendaraan yang kita gunakan dalam mencapai tujuan besar pengasuhan kita. Sebagai pengendara, tentu kita harus memahami cara kerjanya.

Bagi Vidya, yang dapat dihubungi melalui media sosial Instagram @vidyadparamita atau @filosofimontessori, memahami Montessori berarti memahami filosofinya, memahami kebijakan yang tersirat dari setiap detail kegiatan di dalamnya.

Pada halaman akhir bukunya, Vidya mengutip kata-kata indah Maria Montessori: “Mari melihat lebih dalam, jauh ke binar mata kecil mereka: sudahkah mereka bahagia?”

(Milesia.id/ Kelik Novidwyanto)

Tags

Related Articles

2 Comments

  1. Semoga kedepannya bisa tercipta generasi penerus bangsa yg produktif, intelektual, kreatif, memiliki adab n akhlaq mulia, karena mendidik anak bukan hanya tentang kita dan mereka (anak2), tapi juga melibatkan Allah SWT sebab kelak akan kita pertanggungjawabkan kepadaNya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close