DINAMIKA
Trending

Meretas Era Baru Koperasi Milenial

Hadirkan Camilla Carabini, Direktur Coopermondo (Italia)

Ini ketika digitalisasi meruyak ke banyak segi dan nyaris ke semua orang, semua bidang, dan tak lagi menyisakan celah untuk bersembunyi. Dunia bisnis adalah yang paling riuh menyambut. Meskipun ada juga  yang kukut.

Kalangan koperasi dari berbagai penjuru dunia, yang lebih satu abad bertahan dan sukses dengan pola bisnis dan ekonomi demokratis, sejatinya termasuk yang diuntungkan dengan lesatan teknologi kiwari.

Camilla Carabini (Twitter/Milesia.id)

Model-model koperasi seperti apa yang bersesuaian dengan kemajuan itu? Sudah adakah rintisannya di Indonesia? Siapa dan bagaimana mereka bekerja? Sebuah lokakarya bertajuk “Meretas Era Baru Koperasi” yang akan digelar  27-28 Agustus 2018 mendatang di Purwokerto, mencoba menjawabnya.

Sudah kaprah di dengar, model koperasi di Indonesia kesannya itu-itu saja. Sebagian besar bergerak di sektor simpan pinjam, lalu konsumsi dan sisanya terbagi ke jasa, produksi dan distribusi.

Dalam lokakarya, beberapa model yang akan dikupas adalah model-model koperasi baru di Indonesia. Harapannya, agar pengembangan koperasi di Indonesia bergerak maju.

Fenomena model bisnis yang adaptif dengan teknologi kekinian sejatinya riuh dan gempita di luar sana, namun adem-ayem di gerakan koperasi. Seolah-olah, hal-hal itu terjadi “di luar sana” dan bukannya “di dalam sini”. Inikah gejala manakala ekosistem kreatif dan inovatif di gerakan koperasi  belum terbentuk? Sehingga para genial-genial itu selalu lahir “di luar sana”?

Di luar sana, model-model baru terus muncul dan berkembang. Sebutlah di satu ekosistem tertentu, sharing economy dan collaborative economy sedang diminati banyak generasi milenial. Ribuan Start up baru lahir bak cendawan di musim penghujan.

Benar, beberapa rujukan menyebut, kegagalan start up menyundul angka  90 persen. Itu akan menjadi lesson learn berharga bagi pengembangan kewirausahaan. Apakah itu akan menjadikan para petarung start up gemetar lalu mewek? Bagaimana analisis masalah dan solusinya? Lokakarya ini mencoba menjawabnya.

Lokakarya ini merupakan ikhtiar untuk lahirkan para genial “di dalam sini”. Mempertemukan berbagai pihak: praktisi, inkubator, akademisi, peneliti dan lainnya. Lokakarya ini bertujuan untuk membangun daya dukung bersama.

Dok. Tempo – Firdaus Putra (Milesia.id)

“Harapannya, kita tidak berhenti hanya sebatas event lokakarya. Kami dorong agar bisa diinisiasi sebuah konsorsium bersama. Sebuah wadah yang dibangun dari pilar kolaborasi. Modalitas masing-masing lembaga bisa menjadi daya ungkitnya”, terang Firdaus Putra, HC., Direktur Kopkun Institute, selaku tuan rumah.

Dalam era baru dimana ekonomi digital tumbuh dan disrupsi terjadi dimana-mana, koperasi harus beradaptasi. Tentu saja beradaptasi dengan cara, sikap dan mindset yang juga baru. Salah satunya dengan jalan membangun pathway serta ekosistem baru yang lebih ramah terhadap generasi milenial.

“Rendahnya partisipasi generasi milenial ini sudah menjadi kegelisahan bersama. Tentu harus disikapi. Caranya, membawa masa depan ke hari ini, bukan menarik masa lalu ke hari ini. Sehingga kita harus inisiasi model-model baru yang akrab bagi mereka”, tambahnya.

Lokakarya akan mengupas model-model baru seperti koperasi pekerja (worker coop), platform koperasi (coop platform), koperasi start up (coop start up) dan lainnya. Direncanakan, lokakarya akan melibatkan 10 inkubasi coop start up dari beberapa kota serta 10 start up teknologi dari mahasiswa STMIK AMIKOM Purwokerto.

Beberapa narasumber ahli yang akan membagi pengalaman serta pengetahuannya adalah Suroto, HC., Ketua AKSES Indonesia. Lalu ada Dr. Hizkia Yosie dari Koperasi Riset Purusha.id. Ada juga Firdaus Putra, HC., Direktur Kopkun Institute, CEO Kopkun Group Herliana, HC.,. Dan yang menjadi bintang tamu pada lokakarya itu adalah  Direktur Coopermondo Camilla Carabini, dari Italia. Coopermondo merupakan sebuah lembaga studi pengembangan perkoperasian yang disegani di Italia.

IST-Kopkun

Tiga panel session akan digelar. Mendedah  praktika plus inkubasinya hingga sekarang. “Kesempatan itu akan menjadi ruang belajar bersama antar sejawat. Tentang kunci sukses serta jatuh-bangunnya berpraktik selama ini”, imbuh Anis Saadah, HC., penanggung jawab kegiatan. []

(Milesia.id/PRIO PENANGSANG)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close