ANALISA
Trending

Pemilu 2019, Hindari Mulut Manis dan Sesat Pikir

Menjadi cerdaskah kita setelah melalui sekian kali Pemilu?

Milesia.id – Aroma Pilpres 2019 semakin menyengat. Riak-riak pertarungan dua kubu capres-cawapres mulai menyembul di permukaan.

Beberapa hari lalu, tepatnya hari Jum’at (10/8/2018) masing-masing pasangan capres-cawapres yang hendak berlaga telah mendaftarkan diri ke KPU.

Pasangan capres-cawapres Jokowi-Ma’ruf melakukan pendaftaran bersama koalisi pendukungnya pukul 09.00 WIB sebelum salat Jumat.

Sementara pasangan Prabowo-Sandiaga Uno bersama koalisinya mendaftar ke KPU usai salat Jumat.

Berita capres dan cawapres 2019 serta perdebatan tentang siapa yang lebih pantas menjadi RI 1 dan RI 2 menjadi headline di beberapa media elektronik dan koran. Jauh menenggelamkan persiapan Asian Games bahkan Gempa Lombok.

Sebagian masyarakat awam yang bukan partisan petahana maupun oposan, setengah hati bersiap menerima gelontoran janji-janji para kandidat yang hendak berlaga.

Janji-janji yang terdengar manis saat kampanye namun acap kali tidak tertunaikan. Lalu apa yang harus kita lakukan?

“Kandidat sudah tersedia. Ujilah mereka. Ujilah sekeras-kerasnya dengan argumen. Bukan dengan sentimen.” Ujar Rocky Gerung di laman twitternya.

Menjadi cerdaskah kita setelah melalui sekian kali pemilu? Entah dengan memilih jalan sebagai partisan ataupun golput yang apatis?

Agitasi Manis Berujung Pahit

“Jangan tanyakan apa yang negara sudah berikan kepadamu, tetapi tanyakan apa yang telah kau berikan untuk negaramu,” begitu jargon klise para orator, politisi di ruang-ruang kampanye serta mereka yang merasa dirinya paling patriot.

Sekilas, pernyataan itu terkesan benar, heroik, mendalam, dan mencerahkan. Padahal nyatanya keliru.

Mengutip laman tirto.id, negara adalah alat yang diciptakan suatu bangsa untuk melindungi, melaksanakan kepentingan, serta mencapai cita-cita bersama para anggotanya.

Artinya negaralah yang bertugas dan berkewajiban melindungi segenap hajat hidup orang banyak (anggotanya) yaitu rakyat.

Buat apa, misalnya, habis-habisan merawat sepeda motor yang bahkan tak dapat mengantarkanmu membeli bubur ayam di gang sebelah?

“Patriot,” kata Mark Twain, “adalah orang yang berteriak paling kencang tanpa tahu apa yang ia teriakkan.”

Dan Lord Byron, penyair Inggris awal abad ke-19, pernah bertanya dengan masygul: “Untuk apa, sih, para patriot itu dilahirkan? Berburu, ikut pemilu, dan menaikkan harga jagung?”

Tetapi cukuplah tentang negara dan para pembelanya yang terlampau bergairah. Orang meyakini pandangan-pandangan yang keliru atau tidak jelas itu sebab terpukau oleh “kata-kata bijaksana/inspiratif/mendalam”.

Bukan hanya dalam perkara politik dan patriot kita tersesat atau “disesatkan”, melainkan juga urusan-urusan lain, mulai dari relijiusitas, cinta, hingga bisnis.

Bagaimana kita seringkali terjebak oleh janji-janji manis kampanye para politisi atau motivator-motivator ulung bahkan ustadz yang dibanderol dengan tarif selangit?

Pada akhirnya, kita hanya dilenakan oleh rangkaian kata-kata manis yang disusun sedemikian rupa untuk mengangkangi kedaulatan berpikir kita.

Sebuah agitasi maupun doktrin tak akan memberikan pendidikan mengenai “nilai” atau pemahaman. Yang terjadi adalah sebuah pembodohan massal.

Sesat Pikir Yang Disengaja (Fallacy)

Istilah ‘Sesat Pikir’ biasa disebut dengan fallacy dalam bahasa Yunani dan Latin.

Fallacy didefinisikan secara akademis sebagai kerancuan pikir yang diakibatkan oleh ketidakdisiplinan pelaku nalar dalam menyusun data dan konsep, secara sengaja maupun tidak sengaja.

Hal ini juga bisa diterjemahkan dalam bahasa sederhana dengan berpikir ‘ngawur’.

Ada dua pelaku fallacy yang terkenal dalam sejarah filsafat, yaitu mereka yang menganut Sofisme dan Paralogisme.

Sofisme adalah mereka melakukan sesat pikir dengan cara sengaja menyesatkan orang lain, padahal si pengemuka pendapat dan yang diserang tidak sesat pikir.

Disebut sofisme karena yang pertama-tama mempraktekkannya adalah kaum sofis, nama suatu kelompok cendekiawan yang mahir berpidato pada zaman Yunani kuno.

Mereka selalu berusaha memengaruhi khalayak ramai dengan argumentasi-argumentasi yang menyesatkan yang disampaikan melalui pidato-pidato mereka agar terkesan kehebatan mereka sebagai orator-orator ulung.

Umumnya yang sengaja ber-fallacy adalah orang-orang yang menyimpan tendensi pribadi dan lainnya.

Sedangkan sebutan Paralogisme atawa berpikir ngawur tanpa menyadarinya adalah orang yang tidak menyadari kekurangan dirinya atau kurang bertanggungjawab terhadap setiap pendapat yang dikemukakannya.

Fallacy sangat efektif dan manjur untuk melakukan sejumlah aksi tak bermoral, seperti mengubah opini publik, memutar balik fakta, pembodohan publik, provokasi sektarian, pembunuhan karakter, memecah belah, menghindari jerat hukum, dan meraih kekuasaan dengan janji palsu.

Begitu banyak manusia yang terjebak dalam lumpur “fallacy”, sehingga diperlukan sebuah aturan baku yang dapat memandunya agar tidak terperosok dalam sesat pikir yang berakibat buruk terhadap pandangan dunianya.

Seseorang yang berpikir tapi tidak mengikuti aturannya, terlihat seperti berpikir benar dan bahkan bisa memengaruhi orang lain yang juga tidak mengikuti aturan berpikir yang benar.

Dalam sejarah perkembangan logika terdapat berbagai macam tipe kesesatan dalam penalaran. Secara sederhana kesesatan berpikir dapat dibedakan dalam dua kategori, yaitu kesesatan formal dan kesesatan material.

  1. Kesesatan formal adalah kesesatan yang dilakukan karena bentuk (forma) penalaran yang tidak tepat atau tidak sahih. Kesesatan ini terjadi karena pelanggaran terhadap prinsip-prinsip logika mengenai term dan proposisi dalam suatu argumen (hukum-hukum silogisme).
  2. Kesesatan material adalah kesesatan yang terutama menyangkut isi (materi) penalaran. Kesesatan ini dapat terjadi karena faktor bahasa (kesesatan bahasa) yang menyebabkan kekeliruan dalam menarik kesimpulan, dan juga dapat teriadi karena memang tidak adanya hubungan logis atau relevansi antara premis dan kesimpulannya (kesesatan relevansi).

Salah satu contoh fallacy kategori ‘kesesatan relevansi’ atau intellectual cul-de-sac (kesalahan-kesalahan berpikir) menurut Jalaluddin Rakhmat, adalah post hoc ergo propter hoc.

Istilah ini berasal dari bahasa latin: post artinya sesudah; hoc artinya demikian; ergo artinya karena itu; propter artinya disebabkan; dan hoc artinya demikian. Singkatnya: sesudah itu – karena itu – oleh sebab itu.

Disebut juga non causa pro causa. Ini adalah jenis sesat pikir yang terjadi ketika terjadi kekeliruan penarikan kesimpulan berdasarkan sebab-akibat.

Orang yang mengalami sesat pikir jenis ini biasanya keliru menganggap satu sebab sebagai penyebab sesungguhnya suatu kejadian berdasarkan dua peristiwa yang terjadi secara berurutan.

Sebagai contoh, seorang pejabat berkata begini: “Keberhasilan pembangunan pemerintahan kali ini terbukti dengan bertambahnya jumlah kendaraan bermotor yang dimiliki masyarakat.”

Menurutnya, dulu jumlah kendaraan yang dimiliki masyarakat masih langka. Sebagian masyarakat masih menggunakan sepeda kayuh. Tapi setelah pemerintahan yang baru, jumlah pemilik kendaraan bermotor meningkat drastis. Ini menunjukkan keberhasilan pemerintahan saat ini.

Pejabat ini sebetulnya terjebak dalam post hoc ergo propter hoc. Dengan mudah kita bisa buktikan kesalahan berpikirnya dengan sebuah jawaban: “Betul itu. Tapi dulu dari tahun sekian sampai tahun sekian, sebelum Anda memerintah, jumlah penduduk hanya 10 juta.

Sekarang, setelah Anda memerintah, jumlah penduduk bertambah menjadi 20 juta. Berarti Anda bertanggung jawab terhadap pertambahan jumlah penduduk.”

Artinya, penambahan jumlah pemilik kendaraan bermotor seiring dengan penambahan jumlah penduduk. Bukan karena kesuksesan pemerintah.

Omong Kosong dan Lemahnya Akal

Sebuah penelitian membuktikan bahwa kebanyakan orang yang mudah terpedaya oleh agitasi alias ”omong kosong” adalah orang-orang yang “kurang reflektif” dan lemah akal.

Seperti mengutip laman tirto.id, pada November 2015, kandidat Ph.D. Gordon Pennycook dan sebuah tim peneliti dari University of Waterloo menerbitkan sebuah laporan berjudul “On the Reception and Detection of Pseudo-profound Bullshit.”

Kepada Huffington Post, Pennycook berkata: “Saya berpikir apakah orang-orang sungguh menganggap omong kosong yang mencolok [sebagaimana dalam situs parodi New Age Bullshit Generator] sebagai nasihat yang bijak dan mendalam. Penelitian ini bermula dari titik itu.”

Definisi omong kosong menurut penelitian Pennycook ialah ungkapan-ungkapan yang tidak bermakna apa-apa tapi terkesan dahsyat. Misalnya: “Makna tersembunyi menciptakan keindahan niskala yang tiada banding” dan “kita berada di simpang antara hasrat dan perubahan.”

Tim peneliti menulis: “Meskipun pernyataan-pernyataan itu terkesan menyingkapkan makna yang boleh jadi mendalam, ia sebetulnya cuma himpunan kata-kata yang ditaruh secara acak sesuai struktur kalimat.”

Sekitar 800 subjek diminta menilai kedalaman kalimat-kalimat omong kosong tersebut dalam skala satu sampai lima. Selain itu, para peneliti juga memeriksa sejumlah hal terkait kepribadian para responden, mencari tahu bagaimana responden memandang diri dan dunia di sekitarnya.

Salah satu hasil utama penelitian itu: orang-orang yang cenderung menerima dan menilai tinggi pernyataan-pernyataan omong kosong itu terbukti adalah orang-orang yang “kurang reflektif” dan lemah dalam kemampuan kognitif.

Mereka juga rentan terhadap wabah ide-ide konspirasi.

Refleksi Prof Magnis: Pentingnya Orientasi

Dr. Franz Magnis Suseno mengilustrasikan pentingnya orientasi (arah) agar kita tidak menjadi bingung dan takut dalam bersikap atau menentukan sebuah pilihan.

Apabila kita untuk pertama datang ke Jakarta dengan naik bus dari arah Timur, kita akan turun di terminal Pulogadung. Syukur kalau ada yang menjemput. Karena kalau tidak, kita betul-betul akan kebingungan.

Barangkali kita memegang secarik kertas di mana alamat yang kita tuju tercatat. Tetapi bagaimana cara untuk ke alamat itu? Kebingungan kita tidak luput dari perhatian sepasukan calo yang segera akan menyerbu kita dan menawarkan “jasa baik” mereka.

Diserbu demikian itu, kita pasti bingung sekaligus takut. Harus mengikuti calo yang mana? Dapatkah si calo dipercayai? Jangan-jangan mau dirampok?

Ilustrasi itu memperlihatkan bahwa salah satu kebutuhan manusia yang paling fundamental adalah orientasi (arah). Sebelum kita dapat melakukan sesuatu apa pun kita harus mencari orientasi dulu.

Kita harus tahu di mana kita berada, dan ke arah mana kita harus bergerak untuk mencapai tujuan kita.

Dalam konteks sebagai partisan, oposan atau masyarakat awam, kita perlu memiliki arah yang tepat untuk menentukan pilihan.

Harus menjadi lebih cerdas dari pemilu-pemilu sebelumnya. Seperti kata Rocky Gerung: gunakan argumentasi, bukan mengandalkan sentimen semata.

Iya, karena tahun-tahun ke depan jelas bukan masa yang mudah bagi presiden yang terpilih. Tekanan ekonomi akibat perkembangan global – termasuk akibat perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok – perlu ditanggapi dengan cepat dan lihai.

Soal kurs rupiah yang mencapai titik terendah sepanjang sejarah juga perlu dijawab dengan kebijakan tepat.

Kondisi ini bisa mengakibatkan mekanisme politik demokratis yang tertuang dalam pemilihan umum dijalankan bukan untuk membangun kebaikan bersama (common good).

Melainkan sekedar arena baru perebutan kekuasaan dan akumulasi kekayaan untuk kepentingan para elite politik.

Dus, walau dari perilaku politik (political behavioral) kita bisa melihat bahwa sejauh ini para kandidat hanya menarik konstituen untuk kepentingan elektoralnya saja.

Iya, kita memang tak bisa berharap akan ada sebuah diskursus yang progresif. Tapi setidaknya bisa berdo’a pemilihan umum tahun depan berjalan lancar tanpa gesekan di akar rumput. Semoga.

(Milesia.id/ Kelik Novidwyanto)

 

 

Tags

Related Articles

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close