Milesosbud
Trending

Tak Lagi Muda dan Mereka Rela ‘Nangis’ di Depan Banyak Orang

Teriakan panjang dan tangisan menyayat hati terdengar. Kepedihan atas kehilangan seseorang yang disayangi, sebuah tragedi! Dan lampu padam, pentas itu pun usai. Tepukan, teriakan membahana lalu penontonpun melakukan standing ovation.

MILESIA.ID – Bagaimana perasaanmu?

“Senang sekali, ” jawab Sumirah semringah.

Sumirah adalah ibu dua anak ia baru saja selesai bermain peran di panggung.

Terlihat jelas kerlingan mata dan senyum yang lega setelah sekian lama.

Ya setelah sekian lama akhirnya Sumirah menuntaskan rasa hausnya berakting di panggung teater.

Sumirah merupakan satu dari belasan emak-emak cantik dan bapak-bapak ganteng yang baru saja merampungkan sebuah pementasan.

MILESIA.ID/RIMAWAN PRASETIYO – Adegan di akhir-akhir pementasan.

Malam itu, Jumat (10/8/2018) mulai pukul 19.00 WIB beberapa pementasan digelar di Arena Teater Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Yogyakarta sekarang namanya Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 (SMKN 1) Bantul, Yogyakarta.

Dari pembacaan puisi, pantomime hingga pentas teater.

Tak hanya Sumirah seorang karyawan di bidang marketing yang relakan waktunya untuk berlatih sebulan penuh.

Ada Ike Lestari Kusumawati yang miliki usaha bakery ada juga Anik Sri Surantini seorang guru Bahasa Jawa di sebuah sekolah, menyempatkan waktu sepulang mengajar untuk berlatih teater.

“Mereka masih pakai seragam kerja, muka kucel, jam enam sore baru sampai ke tempat latihan sepulang kerja, tampak lelah tapi mereka mau kena marah saya saat berlatih teater, ” jelas Wiwik Wini Seputro sang sutradara pementasan ini.

Mbak Wiwik sebutan akrabnya, ia juga ketua organisasi yang baru dibentuk untuk ‘nglumpukke balung pisah’ alias para alumnus SMKI Jurusan Teater yang sudah memiliki berbagai kesibukan baik kerja maupun urus rumah tangga.

Organisasi tersebut adalah Ikatan Alumni Teater SMKI Yogyakarta (Ikat).

Wiwik tak hanya seorang ibu rumah tangga tapi ia juga urus sebuah usaha butik.

Namun sebulan penuh atau kurun waktu tiga bulan ia berjibaku untuk mempersiapkan pementasan.

“Kalau tadi ditanya kenapa mau-maunya? Gak ada untungnya secara materi, bahkan keluar uang, rugi waktu, tenaga. Kata kuncinya adalah kerinduan, ” jelasnya.

Berawal dari kegelisahan dan kerinduan di masa sekolah, sesekali nengok sekolah sudah tak ada orang-orang yang dikenal lalu pelan-pelan menghubungi rekan-rekannya.

Beberapa kali ketemu masak hanya ketemu saja, cuma seperti ini tak ada hal lain.

“Kita bikin sesuatu, ayo-ayo pencet knopnya langsung jadi sudah mudah. Akhirnya bikin sesuatu nunut Triwulan SMKI,” imbuhnya.

Triwulan SMKI merupakan event rutin yang diadakan di SMKI Yogyakarta baik pementasan maupun acara lainnya.

MILESIA.ID/RIMAWAN PRASETIYO – Sebuah adegan di Pentas Teater oleh Alumni Jurusan Teater SMKI Yogyakarta.

Nah event malam itu adalah kiprah para alumnus teater dan ini untuk pertama kalinya bagi alumni.

“Karena desakan proposal harus terorganisir ketua siapa sekretaris saya memberanikan diri sementara Ikat iki aku wae (aja) ketuanya tak ada keinginan menjadi ketua tapi karena desakan waktu sementara yang lain tak bisa, mepet kapan kita majune,” ujarnya.

Mereka kemudian berkomitmen dan berupata untuk mengangkat karya-karya guru, tapi menemukan naskahnya sulit.

Wiwik acungkan jempol dengan anggota Ikat yang mau bersusah-susah cari naskah hingga latihan dan bisa terselenggara pementasan dengan sukses.

Wiwik tercatat sebagai alimnus senior Teater SMKI, ia merupakan generasi ketiga.

Ia tak berjuang sendiri ada Heru ‘Piel’ Subagyo yang juga alumnus senior tepatnya adik angkatan Wiwik yang turut serta untuk merekatkan para alumni berkumpul dan berkarya.

Awalnya dibikin grup-grup (medsos maupun WA) berbagai alumni, dicari kontak person, lumayan dapet. Dulu namanya Benang Merah itu nama pertama kali yang dibuat kumpulan alumni.

“Nekat sing (yang) ditekati,” kata Piel menjelaskan keberhasilan pementasan kali ini.

Menurutnya eksistensi Ikat ke depannya bisa saling beri manfaat.

“Jangkauan ke depannya gimana caranya alumni jadi ajang belajar siswa-siswa yang ada di sini.

Semacam buka pintu supaya berkelanjutan. Harus jalan terus berdampingan, bisa kolaborasi dan belajar bareng kita juga bisa belajar dg adik-adik, ” ujar pria yang masih aktif berkesenian ini.

Kesuksesan dalam merekatkan para alumni menurutnya juga tak lepas dari peranan para guru-guru di SMKI, karena sebelumnya seolah lepas tak ada hubungan apa-apa, tak ada ikatan kuat untuk silaturahmi.

“Ini bukaan pintu pertama, sebuah tantangan,” tegas Piel sekali lagi.

GENERASI PERTAMA SEBUAH PETUAH

Acara pementasan Ikat yang termaktub dalam acara Teater Kopimoka Triwulan SMKI Yogyakarta ini menjadi hal yang makin istimewa karena kehadiran satu sosok yang teramat istimewa.

Orang tersebut adalah Agung Wibowo.

Agung merupakan generasi pertama Teater SMKI Yogyakarta.

Berbeda dengan sekolah menengah kebanyakan SMKI Teater sampai kelas 4 alias harus belajar selama 4 tahun.

Hingga pada tahun 1998 untuk pertama kalinya generasi lulus hanya 3 tahun belajar.

Agung merupakan angkatan pertama, ia masuk tahun 1986 dan itu pertama kalinya Jurusan Teater lahir di SMKi, dan pertama kalinya di Indonesia saat itu.

“Umur Jurusan Teater sudah 32 tahun dan perlu banyak hal yang diubah, ” jelasnya.

Seusai pentas ia diberi kesempatan untuk berbicara.

Pria yang tinggal di Mojosongo, Solo, Jawa Tengah ini cerita tentang seorang teman yang mengaku dendam dengan Jurusan Teater SMKI.

“Ada yang dendam karena menganggap setelah lulus dari Jurusan Teater SMKI terus mau ngapain? Ia merasa keputusan masuk jurusan ini salah karena akhirnya sengsara,” ujarnya.

Menurut pria yang kini merambah di dunia desain ini apa yang disampaikan temannya itu menjadi gambaran nyata.

MILESIA.ID/RIMAWAN PRASETIYO – Agung Wibowo generasi pertama Jurusan Teater SMKI Yogyakarta (memegang michrophone) saat berbicara seusai pementasan.

Dalam wawancara khusus Milesia.id, Agung menjelaskan kalau apa yang dikatakan temannya merupakan hal yang keliru.

Selama ini banyak juga lulusan Teater SMKI yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi juga sukses dan berhasil.

“Ada yang jadi dosen bahkan dekan, ada yang jadi pekerja film dan masih banyak lagi, ” jelasnya.
Lulusan Teater menurutnya banyak yang sukses dengan bidang yang digeluti lantaran minimal memiliki kepercayaan diri yang tinggi, itu merupakan modal utama.

Meski demikian ia menyarankan Jurusan Teater SMKI saat ini harus menyesuaikan dengan kebutuhan pasar.
Banyak profesi-profesi baru yang menjanjikan yang bisa menjadi fokus dan lulusan SMKI memiliki keahlian khusus yang dibutuhkan dalam industri hiburan tanah air.

Agung berharap event-event yang menyatukan para alumni ini terus dilestarikan, tak hanya sekedar jalin tali silaturahmi tapi juga haus akan karya.

Kehadiran Agung merupakan sebuah keistimewaan tak berbeda dengan akhir pertunjukan yang mengundang gemuruh tepuk serta standing ovation.

Sebuah tubuh lunglai digotong beberapa orang, suasana gaduh dan penuh tangisan, sebuah teriakan panjang menyayat hati terdengar seirama dengan surutnya lampu dan panggung itupun gelap gulita.

Gemuruh tepuk dan teriakan terdengar, pentas telah usai, tapi ini bara api yang baru saja dinyalakan, masih panjang perjalanan dan karya-karya lainnya.

Ikat, jalinlah kuat dan tuntaskan rasa hausmu! (Milesia.id/Rimawan Prasetiyo)

*Penulis juga seorang alumnus Teater SMKI angkatan 1998 generasi pertama lulus dengan 3 tahun studi. Sempat jadi pekerja seni, Extension worker di lembaga nirlaba, penyiar radio di Radio Satunama dan Retjo Buntung. Usai lulus berkarier di dunia jurnalistik, jadi wartawan lapangan dan terakhir jabat Editor di Tribunnews.com, 9 tahun berkarya di dunia tulis menulis Grup Kompas Gramedia. Kini mengelola portal lokal KabareSolo.com, Redaktur Eksekutif di Milesia.id dan membangun usaha produk tas kulit Koentji Indonesia.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close