DINAMIKA
Trending

Asyumardi Azra : “Saya Menolak Pandangan Pesimis Masa Depan Indonesia!”

Pengelolaan SDA Wajib Berkesinambungan dan Libatkan Publik

“Sampai saat ini, Saya selalu menolak pandangan pesimis tentang masa depan Indonesia. Benar, Indonesia mengalami sejumlah tantangan serius, yang menjadikan masa depan Republik ini gloomy. Tapi jangan melupakan sisi-sisi lain Indonesia yang memberikan harapan dan optimisme. Pandangan saya merupakan sebuah guarded optimism yang terjaga dan berhati-hati”.

Kupas buku Komarudin Watubun (tengah). Milesia.id/PRIO PENANGSANG

Gloomy (suram)? Pernyataan di atas mengemuka dari cendekiawan muslim Profesor Azyumardi Azra, CBE, dalam Panel Ahli dan Seminar yang diselenggarakan Yayasan Lima Sila Pancasila, di Gedung Djoang 45, Menteng, Jakarta, Rabu (8/8) kemarin, yang dihadiri Milesia.id.

Diakui, situasi disintegrasi sosial yang ditengarai meletup pasca Pilpres 2014 silam, dinilai belum benar-benar pulih.

Selain Azyumardi Azra, hadir dalam panel ahli Profesor Henny Warsilah (PMB-LIPI), Dr. Willy Aarafah, MA, DBA (Universitas Trisakti), Profesor Purwo Santoso, MA, PhD (Universitas Gadjah Mada), dan Profesor Robertus Wahyudi Triweko, PhD (Universitas Katholik Parahyangan, Bandung).

Biar begitu, Azyumardi Azra mengaku optimis dengan demokratisasi di Indonesia. Salah satu acuan teranyar adalah fenomena pilkada serentak 2018 yang terbilang lancar. “Gejolak politik di tahun 2018 ini memang meningkat. Masih akan ada Pileg dan Pilpres 2019 mudah -mudahan juga berlangsung lancar dan damai,” papar alumnus Columbia University ini.

Waspadai Tatakelola SDA

Henny Warsilah (tengah), Triweko Wahyudi (kanan) : tatakelola SDM perlu berkelanjutan. (Milesia.id/PRIO PENANGSANG)

Juga menjadi perhatian panel ahli adalah tata kelola Sumber Daya Alam (SDA) yang potensial memicu konflik, baik vertikal maupun horisontal. Pakar Sosiologi dari PMB LIPI Prof Henny Warsilah mengemukakan, pemanfaatan SDA memang harus didukung prinsip pembangunan berkelanjutan.

“Dalam beberapa dekade ke belakang, eksploitasi kekayaan SDA di Indonesia memang memberikan keuntungan yang sangat besar bagi perekonomian negara. Namun, eksploitasi yang berlebihan telah menimbulkan kerusakan lingkungan dan kerusakan sosial, terutama di daerah yang kaya SDA, Papua misalnya”.

Menurut Henny, perusahaan sering tidak mempedulikan kondisi masyarakat lokal dan lingkungan. Hal ini terjadi karena pemberian hak untuk mengelola SDA tidak didasari pertimbangan SDA berkelanjutan atau keuntungan buat masyarakat. “Penguasaan SDA secara sepihak tanpa pelibatan masyarakat lokal dipelbagai daerah telah menciptakan konflik, baik konflik terbuka dan konflik laten yang dapat meledak setiap saat,” papar Henny Warsilah.

Doktor Sosiologi Pantheon-Sorbonne University, Perancis yang pernah intens meneliti konflik sosial di sejumlah daerah itu lantas mencontohkan sejumlah kasus. “Misalnya, konflik di area taambang Freeport di Mimika Papua telah berlangsung lama, sudah banyak korban jatuh, begitupun konflik SDA di area hutan di Kalimantan Tengah terjadi pada tahun 2001, dimana  terjadi bentrokan antara Masyarakat Dayak dan Madura. Banyak korban jiwa dan pengusiran etnis tertentu,” imbuh Henny.

Profesor Robertus Wahyudi Triweko, dalam paparannya mengupas potensi dan persoalan perairan di Indonesia. Sumber daya air diakui belum optimal tata kelolanya. “Keberlanjutan ekoistem di wilayah sungai sangat penting untuk tata kelola lingkungan dan sumber daya air yang benar,” papar Wahyudi. “Pengelolaan SDA harus menjaga keselarasan fungsi lingkungan, ekonomi, dan sosial”.

Wiweko lantas mencontohkan sejumlah permasalahan sumber daya perairan di sejumlah daerah. Mulai dari Citarum di Jawa Barat, hingga Kapuas di Kalimantan. “Permasalahan tata kelola sumber daya air di Kapuas cukup kompleks, diantaranya terkait alih fingsi lahan yang oleh perkebunan kelapa sawit, penambangan emas tanpa izin, hingga pencemaran sungai,” papar Triweko.

Staging Point

Dalam ajang yang sama, Anggota Komisi II DPR-RI Komarudin Watubun menyoroti potensi besar di sejumlah daerah yang selayaknya membuat Indonesia optimis. Komarudin menuangkan gagasannya soal potensi besar Indonesia dalam sebuah buku “Maluku: Staging Point RI Abad 21″.

“Letak geografis serta kekayaan sumber daya alam, menjadi modal Indonesia untuk menjadi negara besar. Potensi besar ini harus didorong untuk bangkit dan maju. Sekarang ini kesempatannya,” papar Watubun.

Dalam bukunya, Komarudin menyebut Maluku sebagai titik awal kebesaran Indonesia. “Awal sejarah peradaban yang besar dengan kekayaan rempah- rempahnya bermula dari Maluku. Potensi besar ini sudah ada sejak 800 tahun lalu, menjadi perhatian dunia berkat kualitas produksi rempah-rempahnya,” terang Watubun.

Buku “Maluku : Staging Point RI Abad 21” yang ditulis Watubun, mengacu riset 800 tahun kebelakang. Sejak Portugal membangun benteng yang menjadi pusat peradaban dunia, dengan Maluku sebagai salah satu lokusnya.

“Negara-negara di dunia mencari jalan ke Indonesia demi rempah-rempah dan kekayaan alam lainnya. Lalu dunia barat membangun jalan transpasifik. Dunia timur membangun jalan sutera. Kita terhimpit di antara dua kekuatan dunia,” urai Watubun.

(Milesia.id/PRIO PENANGSANG)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close