Milestravel
Trending

Magetan Green Garden : Awalnya Kebun Tebu, Kini Agrowisata ‘Ngehits’

Sobat Milenial, 20 Desember 2017 lalu, telah lahir sebuah destinasi agrowisata baru bernama Magetan Green Garden. Agrowisata milik H. Soeparlan ini berada di Desa Truneng, Sukomoro, Magetan, Jawa Timur. Pioner agroedukasi di Kabupaten Magetan ini mengusung konsep pertanian terpadu dengan tanaman buah sebagai andalannya. Disini, pengunjung bisa melepas penat sekaligus meraup ilmu.

Saat Milesia.id berkunjung ke MGG, Sabtu, 04/08/2018, tampak kerumunan anak berseragam TK berbaris rapi memasuki gerbang. Disisi lain, beberapa pengunjung asyik memetik nanas sembari cekrak-cekrik memotret diri.

Pengunjung cukup merogoh kocek 5 ribu rupiah per orang untuk menikmati wisata MGG.

Begitu masuk, sejauh mata memandang, nampak hamparan dedaunan hijau menyejukkan mata. Berbagai macam koleksi tanaman buah tropis ada di sini. Alpukat, pisang, kelengkeng, jambu air, jambu kristal, durian, jeruk, buah naga serta nanas.

Bagi yang belum pernah melihat pohon kurma, datanglah ke MGG. Di sini, pohon kurma tumbuh subur. Usianya 1,5 tahun. Belum berbuah memang. Tapi, setidaknya bisa membuat pengunjung tahu prejengane pohon kurma.

(Milesia.id/ANNY WIDI ASTUTI)

Pengelola MGG serius merawat koleksi tanaman buahnya. Jambu kristal, 2 bulan tanam sudah berbuah. Alpukat umur 16 bulan lebat buahnya. Pisang raja, ambon, cavendis dan pisang mas, juga sudah berbuah. Nanas tak mau ketinggalan, berbuah dan siap petik. Nah, di MGG, pengunjung bebas memetik buah. Tentu, ada harga yang harus dibayar untuk menikmatinya.

(Milesia.id/ANNY WIDI ASTUTI)

Selain kebun buah, ada juga kolam ikan pancing. Siap membuat adrenalin pengunjung bergolak saat umpan pancing disambar gurameh. Strike. Hokya pokokmen.

(Milesia.id/ANNY WIDI ASTUTI)

Sebagai wisata berbasis agroedukasi, MGG menawarkan paket belajar perbanyakan bibit dengan stek dan cangkok. Praktek menangkap ikan serta memanen buah.

Anak-anak usia dini bisa berkunjung ke MGG untuk melakukan outbond sekaligus mengenal aneka macam tanaman buah. Sehingga, sedari dini, mereka sudah mengetahui berbagai macam buah tropis yang tumbuh di negara kita, Indonesia.

(Milesia.id/ANNY WIDI ASTUTI)

Bermula dari tamasya

Adalah H Soeparlan, kelahiran 12 Juli 1951, putra daerah Magetan, yang membidani lahirnya MGG. Pensiunan kepala tanaman PTPN XI Pabrik Gula Pagottan Madiun ini bercerita kepada Milesia.id saat telewicara beberapa waktu yang lalu.

(H. Soeparlan dan istri/Milesia.id/ANNY WIDI ASTUTI)

Saat ini, areal yang dikelola MGG adalah 1,25 Ha dari total 2,25 ha lahan milik Soeparlan. Sebelumnya, selama 25 th ditanami tebu. Terakhir ditanami singkong gajah 2 periode. Kalaupun disewakan paling banter hanya laku 25 juta/ha/th. Pernah ditanami padi. Hasilnya tak tentu. Lebih sering ‘kerjabakti,’ tiada hasil.

Akhirnya, Soeparlan banting stir. Tanam buah-buahan. Menurutnya, harga buah relatif stabil, dan hasilnya bisa lebih banyak. Bapak 3 anak, 8 cucu ini kemudian survei pasar. Mencari jenis buah yang laku keras di pasaran. Diputuskanlah untuk menanam kurma. Juga beberapa jenis tanaman buah. Seiring berjalannya waktu, koleksi tanaman buahnya dilengkapi.

Suatu hari, saat perjalanan tamasya ke Pantai Baru Yogyakarta, Soeparlan dikagetkan oleh kerumunan kendaraan bermotor yang berhenti di pinggir jalan. “Saya kira ada kecelakaan. Rupanya para pengendara motor itu sibuk selfi. Di tengah kebun cabai yang dikelilingi bunga matahari yang sedang mekar,” tutur Soeparlan. “Ternyata tanaman cabaipun berhasil menarik orang untuk datang. Pemiliknya memperoleh hasil yang lumayan banyak. Akhirnya saya mempunyai ide untuk membuat kebun buah saya menjadi tempat wisata,” tambah Soeparlan.

Setelah berembug dengan seluruh anggota keluarga, pada Oktober 2017, ide kreatif Soeparlan dieksekusi. Pengerjaan beberapa spot selfi dikebut. Sarana pendukung dilengkapi. 30 pekerja dikerahkan.  Tanaman kurma dan bunga matahari dijadikan ikon. Biji matahari didatangkan dari Gunung Kelud. Diperoleh dengan cara online.

Akhirnya, tanggal 20 Desember 2017 Soeparlan membuka MGG untuk umum. Animo masyarakat cukup tinggi. “Bahkan, beberapa pengunjung sampai datang berkali-kali. Bisa 4 sampai 5 kali. Artinya, mereka mendapat manfaat di MGG,” cerita Soeparlan.

(Milesia.id/ANNY WIDI ASTUTI)

Perlahan, pembangunan sarana pendukung terus berjalan. Saat ini, tersedia tempat khusus untuk pertemuan. Pengunjung bisa memanfaatkan tempat pertemuan ini untuk menggelar acara semisal rapat maupun reuni.

Soeparlan berharap, kedepan Agrowisata MGG bisa maju dan berkembang serta diminati banyak orang. “Mampu memberdayakan masyarakat sekitar untuk sukses bersama. Dengan ridhlo Allah,” tutur lulusan SPbMA-MM 52 Yogyakarta ini mengakhiri pembicaraan. (Milesia.id/Penulis : Anny Widi Astuti/Editor : Fauzi Ismail)

 

 

 

 

 

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close