Mileseducation
Trending

“Praktik Jual Beli Tugas Kuliah, Pengkhianatan pada Dunia Pendidikan”

Tempat Foto Copy dan Warnet Jadi Lokasi Transaksi

Oleh : Dilla Januistanti *)

Dok.Pribadi

Suatu siang di sebuah toko handphone di Bandar Lampung. Ita, mahasiswi perguruan tinggi swasta di Bandar Lampung, terlihat masygul. “Praktik jual beli tugas kuliah, dari yang ringan sampai pada pembuatan skripsi banyak terjadi.  Udah nggak asing hal kayak gitu. Sudah biasa memang seperti itu,” paparnya prihatin. “Teman-teman yang lulus tahun kemaren ada yang pada bayar untuk ‘beli’ tugas akhir. Ada yang Rp 5 juta, Rp 8 juta, ada yang Rp 10 juta,” imbuh Ita.

Ita mengaku mengetahui hal itu sejak masih kuliah D3. “Dari sejak saya kuliah D3. (lokasinya) itu di tempat print-an. Ada orang dari luar yang nggak kita kenal. Dia menjelaskan ke temen Saya, nanti pokoknya kalau kamu ditanya pembimbingmu, jawabnya gini-gini..,katanya seperti itu. Ternyata, ada juga (praktek-praktek culas) kayak gitu,” imbuhnya.

Data yang dihasilkan dari observasi dengan salah satu penjaga warrnet di Bandar Lampung, juga menemukan gejala nyaris serupa, namun dengan nominal yang berbeda. “Untuk harga pembuatan makalah ilmu –ilmu sosial, tarifnya berkisar Rp 25 ribu – Rp 45 ribu. Ilmu sains, kesehatan, harganya lebih tinggi lagi,” papar penjaga warnet tersebut.

Jual beli tugas merupakan potret buruk yang kerap terjadi di dunia pendidikan. Dunia pendidikan yang seharusnya menjadi tempat untuk tumbuhnya nilai-nilai kebaikan justru kerap dinodai dengan pelanggaran yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Jual beli tugas adalah pelanggaran nyata yang marak terjadi dan merupakan dosa besar sebagai bentuk pengkhianatan dalam dunia pendidikan. Esensi dari pendidikan untuk mencerdaskan dilanggar oleh oknum mahasiswa yang malas mengerjakan tugas, hingga mengambil jalan pintas dengan membeli tugas.

Praktik semacam ini kerap terjadi dengan alasan kesibukan di luar perkuliahan sehingga tidak memiliki waktu untuk mengerjakan tugas. Praktik ini biasanya dilakukan dengan meminta seorang teman untuk mengerjakan tugas dan akan diberikan rupiah sebagi kompensasi. Mahasiswa yang cerdas secara akademis tetapi tidak cerdas secara moral terkadang mudah tergiur untuk melanggengkan praktik semacam ini. Tugas temannya akan ia kerjakan  selama ada kompensasi berupa rupiah.

Hasil observasi yang dilakukan oleh penulis menghasilkan gambaran, bahwa praktik pelanggaran jual beli tugas ini juga banyak dilakukan di tempat-tempat seperti kios fotocopy, warnet, dll. Tempat tersebut kerap kali berfungsi ganda. Tempat tersebut tidak hanya menjalankan usahanya sebagai tempat fotocopy atau warnet, tetapi juga melayani jasa pembuatan tugas.

Parahnya, praktik semcam ini berlajut tidak hanya pada tugas-tugas harian atau tugas-tugas ujian saja, tetapi seringkali hingga pada tugas akhir kuliah.

Potret buruk yang membuat miris kerap terjadi dalam dunia pendidikan ini, potensial menyebabkan banyak Perguruan Tinggi meluluskan mahasiswa yang tidak kompeten pada bidangnya. Lulus bukan karena kemampuan pada bidang ilmu tersebut, tetapi lulus karena jasa orang lain yang berperan membantu dengan cara-cara yang tidak jujur dan illegal.  

Faktor Tekanan Lingkungan Sosial

Permasalahan ini jika dianalisa dengan menggunakan Strain Theory yang dikemukakan oleh Robert K. Merton, bahwa pelanggaran kerap terjadi karena adanya tekanan kondisi lingkungan sosial masyarakat setempat.

Contoh yang bisa diambil, seperti keinginan keluarga yang mengharuskan anaknya lulus dalam jangka waktu yang cepat. Jika anaknya yang sedang kuliah tak kunjung selesai maka keluarga akan malu pada masyarakat setempat, alhasil anak dipaksa untuk dapat lulus tepat waktu.

Setiap anak memiliki kemapuan yang berbeda-beda, jika standar kelulusan disamakan dan diharuskan dalam sebuah keluarga antara satu anak dengan anak yang lain maka ini adalah salah satu celah terjadinya praktik-praktik illegal.

Seorang anak akan melakukan banyak cara untuk dapat mencapai tujuannya lulus dalam waktu cepat. Ketidakmampuan dalam proses belajar kerap diterjang. Alih-alih belajar memahami dan berusaha mengulang pelajaran yang masih kurang, tetapi justru mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan pendidikannya tepat waktu walau dengan cara-cara yang tidak baik.

Strain Theory menegaskan, pada dasarnya manusia sebagai individu adalah baik, tetapi tekanan sosial yang memaksanya untuk melakukan kejahatan. Dalam hal ini tekanan keluarga pada anak untuk dapat menyelesaikan pendidikannya tepat waktu menjadikan anak tersebut mungkin dengan terpaksa mengambil jalan pintas untuk dapat memenuhi kenginan orang tuanya.

             Kondisi seperti ini adalah potret buruk yang harus dihentikan. Perguruan Tinggi harus sangat jeli melihat permasalahan ini. Dosen sebagai tenaga pendidik harus menjalankan fungsi kontrolnya kepada mahasiswa. Tugas yang dikumpulkan oleh mahasiwa harus dikoreksi dengan teliti, jika ditemui kejanggalan harus segera diberikan peringatan dan perbaikan. Hal ini jika dibiarkan maka sistem pendidikan kita hanya menghasilkan wisudawan yang tidak kompeten.

Pihak Universitas harus memberikan sanksi yang tegas jika diketahui ada perilaku curang. Pelanggar aturan harus diberi peringatan dan tindakan tegas tanpa pandang bulu. Metode-metode pembelajaran di Perguruan Tinggi juga perlu dikaji ulang sehingga mahasiswa benar-benar dapat memahami materi dengan baik sehingga dapat mandiri dalam mengerjakan tugas, terlebih tugas akhir.

Pemerintah juga harus aktif menjalankan peranannya menegakan hukum seperti yang dikemukan oleh Donald Back “law is governmantal  social control”. Pemerintah dapat menegakkan aturan yang tegas melalui fungsinya sebagai pemegang kekuasaan.

Sanksi yang tegas harus diberikan bagi mereka yang melakukan praktik jual beli tugas. Pelanggaran ini bukan pelanggaran biasa, tetapi pelanggaran yang dapat menghancurkan kehidupan Bangsa. Pengkhianatan pada dunia pendidikan dapat menghancurkan kehidupan Bangsa kerena pendidikan adalah investasi terbesar untuk membangun sebuah peradaban yang lebih baik.

Dunia pendidikan seharusnya menjadi tempat dimana individu dapat menimba ilmu pengetahuan dan memperoleh pendidikan moral sehingga idealisme dan integritas yang baik dapat tumbuh. Dunia pendidikan bukan  hanya sebatas  tempat untuk menimba ilmu pengetahuan saja. Pendidikan lebih dari itu seharusnya menjadi tempat yang berfungsi untuk membentuk kepribadian individu menjadi individu yang berkarater baik. Individu yang bermoral dan berintegritas tinggi.

Tujuan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan Bangsa seperti yang diamanatkan konstitusi akan lebih mudah dicapai jika moralitas dan integritas para individunya berkarakter baik. Pendidikan merupakan tongkat pencerdasan kehidupan Bangsa. Pendidikan idealnya mampu mencetak dan mengkaderisasi para intlektualnya untuk membawa pada sebuah peradaban yang lebih baik.

*) Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Tengah menyelesaikan S2 llmu Hukum, Universitas Bandar Lampung (UBL), Lampung. (dillajanu01@gmail.com)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close