Milestyle
Trending

Kenduri Motor Klaten 2018 : Kekancan sak Lawase Paseduluran sak Modare..!

"Bahagianya Motor Terbutut pun Bisa Juara"

 

Milesia.id/BUDI SULISTYO

Ada yang tidak biasa di sepanjang jalan utama dari terminal Klaten, Jawa Tengah, menuju obyek wisata Rowo Jombor, minggu (5/8) pagi lalu. Bahkan sejak sore sehari sebelumnya, di tiap persimpangan jalan terlihat sekumpulan anak muda berseragam kaos warna hitam. Tak jauh dari mereka, terparkir beberapa  sepeda motor bebek tua

Anak-anak muda itu adalah petugas penunjuk arah bagi teman-teman se-komunitas yang banyak diantaranya datang dari luar kota. Motor-motor tua yang terparkir juga menjadi semacam petunjuk, menyemangati para biker luar kota bahwa mereka sudah berada di area penjemputan.

Ajang “Kenduri Motor  Klaten 2018”, menjadikan kawasan wisata Bukit Patrum,  di Desa Krakitan, Bayat, Klaten, sesak dipenuhi pengunjung. Ribuan sepeda motor yang didominasi jenis bebek tempo dulu, tumpah ruah sampai ke jalan dan pekarangan warga.

Latar belakang Bukit Patrum (Milesia.id/BUDI SULISTYO)

Acara digagas oleh komunitas Klaten Team Plethoek (KTP) dan komunitas motor C-50, C-70, C-90 Plat AD. Acara puncak dilaksanakan di obyek wisata Bukit Partum, Dukuh Mojopereng, Desa Krakitan. Untuk yang butuh bermalam, peserta dan biker dari luar kota diinapkan di kawasan Bukit Sidoguro atau Bukit Turis, Dukuh Tobong,  Desa Krakitan.

Bambang Bendot, salah seorang panitia yang ditemui Milesia di sekretariat acara mengatakan, ajang ini bertujuan sebagai forum silaturahmi dan menguatkan kebersamaan antar bikers secara umum dan khususnya pemilik motor Honda bebek C-50, C-70  dan C-90. “Kebetulan ini juga dalam rangka Ulang tahun Klaten Team Plethoek yang ke 20 dan Plat AD yang ke 4. Komunitas Plat AD ini lebih luas, bukan hanya Klaten saja tetapi se Solo Raya,” papar Bambang.

Bambang Bendot (Milesia.id/BUDI SULISTYO)

Melalui ajang Kenduri Motor, anggota bisa berkumpul bersama untuk kebaikan dan mendapatkan kemanfaatan. “Kita juga ada iuran untuk kegiatan sosial dan bencana alam. Dalam momen kali ini juga ada penggalian dana bersama Yayasan Peduli Yatim Klaten. Kenduri, kan identik dengan kumpul guyub rukun bersama dan makan-makan bersama. Kumpul bareng, makan bareng, dan berbagi bareng. Slogan kami, kekancan saklawase paseduluran sak modare (berteman selamanya, persaudaraan sampai akhir),” imbuh Bambang.

Pria gondrong ini juga menyampaikan, bahwa kegiatan mereka bekerja sama dan sangat didukung  Pemkab Klaten, yang kebetulan  juga tengah merayakan hari jadi  ke 214 Kabupaten yang punya slogan “Klaten Bersinar” itu.

Rencananya, acara ini akan digelar rutin setiap tahun sekaligus dalam rangka mempromosikan obyek wisata di Kabupaten Klaten dan akan berkoordinasi dengan dinas terkait di Pemda Klaten. Rencananya, Bupati Klaten juga akan menghadiri dan memberikan arahan.

Sapto Nugroho (Milesia.id/BUDI SULISTYO)

Sapto Nugroho, Ketua Paguyuban Plat AD menambahkan, acara ini juga dalam rangka sosialisasi kepada masyarakat, bahwa kami adalah komunitas yang tertib dan tidak ugal-ugalan seperti anggapan sebagian masyarakat terkait maraknya pemberitaan gank motor belakangan ini. “Kita sosialisasikan tentang ketertiban dan keamanan berlalu lintas, juga kerjasama yang baik dengan semua lapisan masyarakat. Karenanya, dalam setiap event pasti kami mengundang dan melibatkan pihak kepolisian setempat,” papar Sapto.

Sampai menjelang dhuhur, peserta yang hadir sudah seribuan. Terdeteksi melalui jumlah daftar kupon undian dan jumlah kaos yang sudah dibagikan Mereka datang dari berbagai kota dan bahkan dari luar Jawa, seperti Bali dan Sumatera. Itu belum termasuk pengunjung non peserta yang jumlahnya juga banyak.

Endo, Salah satu peserta dari Sragen menceritakan, dia sudah datang sejak Sabtu malam jam dan menginap di lokasi. Dia berangkat tidak berombongan sebab ada acara pribadi. “Rombongan dari Sragen berangkat dalam beberapa gelombang. Kami sering mengikuti acara serupa, tapi juga mempertimbangkan kondisi keuangan dan kesibukan. Manfaaatnya banyak, bisa saling silaturahmi dan tambah pengalaman serta tahu banyak wilayah di luar Sragen,” ujar Endo.

Tumpah ruah (Milesia.id/BUDI SULISTYO)

Warga setempat juga menanggapi positif event ini.  Menurut Ny Hadi Suwito salah satu warga Mojopereng, Krakitan , dengan adanya kegiatan ini warga bisa berjualan makanan dan minuman serta mendapatkan hiburan. “Kalau tidak ada acara seperti ini ya pada ke tegalan mencari pakan ternak atau gadang (olah tanah),” terangnya kepada Milesia.id.

Sazli Rais, dari BUMdes Desa Krakitan yang menaungi obyek wisata Bukit Patrum menyampaikan, pihaknya terbuka dan mendukung setiap kegiatan yang diadakan di Bukit Patrum selama itu kegiatan yang bersifat positif dan memberi manfaat bagi semua. “Soal biaya kompensasi tempat, BUMdes tidak kaku dan semua bisa dibicarakan secara terbuka. Intinya,  walaupun kami juga masih perlu banyak biaya untuk pengembangan tapi kami tidak akan menarik tarif yang tidak wajar, kami lebih mengutamakan sikap kekeluargaan dan saling terbuka dengan pihak pihak yang ingin menggelar acara disini,” ungkap mantan aktivis teater  ini.

Kontes Motor Jadul, Jelek Juga Juara

Milesia.id/BUDI SULISTYO

Acara kenduri motor ini juga dimeriahkan dengan panggung hiburan, undian dengan  hadiah sepeda motor dan dilengkapi dengan semacam kontes dan pameran motor tua modifikasi.  Motor butut yang biasa dijuluki dengan Si Pitung atau plethoek itu, disulap menjadi sepeda motor yang jreng dan istimewa.  Berkat sentuhan tangan  terampil, motor tua dipermak menjadi  layaknya motor  baru baik dari segi mesin maupun sekedar variasi plus asesoris.

Ada juga yang unik!  Lazimnya kontes atau pameran, yang ditonjolkan adalah hal-hal serba bagus dan menarik. Kali ini, ada juga sepeda motor yang dipajang dan dipamerkan karena kejelekannya. Sepeda motor yang dimaksud adalah sepeda motor yang dikonteskan untuk kategori Kelas Terjelek. Semakin buluk dan jelek semakin besar peluangnya jadi juara.  Dari pengamatan Milesia.id,  kondisi sepeda motor untuk kategori kontes terjelak ini, umumnya sangat tidak terawat dan terkesan kumuh. Biar begitu, pemiliknya tetap bangga.

Berapa kisaran harga sepeda motor lawasan yang ikut kontes itu? Penelusuran Milesia.id, untuk Honda C70 yang terawat baik dengan onderdil orisinal  setidaknya dibanderol Rp 15 juta – Rp 25 juta. Semakin orisinil semakin mahal. Jenis 50 cc dengan tangki bahan bakar terpisah merupakan jenis paling dicari saking klasiknya.

Jelek-jelak juara (Milesia.id/BUDI SULISTYO)

Lebih dari soal harga, ajang Kenduri Motor Klaten 2018 yang diikuti setidaknya 3.000 pecinta motor lawas itu, adalah mereka yang bersykur dengan apa yang dimilikinya.  Dipertautkannya tali paseduluran. Tanpa perlu mengenakan sesuatu yang mahal atau sok jual mahal. Mayoritas motor yang digeber para peserta memang dari jenis jadul. Sebagian sepeda motor bahkan bertampang berantakan. Namun, dalam acara rolling thunder atau pawai keliling Klaten serta bakti sosial kepada anak yatim, wajah-wajah mereka tampak bungah. Bahagia memang tak identik dengan serba mewah dan berlimpah.

(Milesia.id/BUDI SULISTYO)

 

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close