Mileseducation
Trending

Mengapa Ada “Bullying” Di Sekitar Kita?

Perisakan atau bullying terus menggurita karena pola asuh orang tua yang salah serta sikap masyarakat yang abai.

Milesia.id – Finna (32) bersungut-sungut, air muka ibu dua anak itu nampak kesal. Bastian, anak sulungnya yang berusia 5 tahun baru saja ditegur gurunya.

Menurut sang guru, Bastian dilaporkan salah satu wali murid karena perisakan. Bocah kelas B di salah satu PAUD di kota Jogja itu menjambak teman sekelasnya hingga menangis.

“Anak-anak biasa bertingkah nakal begitu, apalagi laki-laki,” gerutunya. Finna merasa tindakan Bastian merundung temannya sebagai perilaku yang wajar.

Alih-alih menasehati anaknya, ibu rumah tangga itu malah menganggap reaksi orangtua korban perisakan sebagai sikap yang berlebihan.

Lain lagi dengan Endang (48), sebagai ibu yang juga pekerja, ia cukup shock ketika mengetahui putrinya menjadi korban perisakan. Kejadian tidak mengenakkan itu dialami putri sulungnya Aster (23) saat masih SMP.

“Aster dibully temannya saat berusia 14 tahun,” ujarnya.

Perisakan yang dialami Aster itu nyaris luput dari perhatian Endang. Anak sulungnya itu memang bukan pribadi yang terbuka, pembawaannya tenang, tak pernah menunjukkan ekspresi gelisah atawa cemas.

Satu-satunya yang membuat Endang heran adalah kebiasaan baru putrinya membeli sebatang coklat. Kebiasaan itu nyaris dilakukannya setiap hari, padahal Endang tahu benar putrinya itu tak menggemari coklat.

Berawal dari keheranan itu, Endang mulai telaten mengamati gerak-gerik putri sulungnya. Tak mudah untuk mendengar pengakuan langsung dari mulut putrinya, Endang harus pelan-pelan menyelami perasaan Aster.

Ia sempat kalut ketika menemukan beberapa lembar kertas yang dilipat rapih dan disimpan tersembunyi di bawah tempat tidur Aster.

Betapa terkejutnya Endang saat mengetahui bahwa lembaran-lembaran kertas itu adalah surat ancaman yang ditujukan untuk putrinya.

“Aster diancam tiga teman perempuannya, setiap hari harus setor sebatang coklat silver queen. Kalau tidak mau, ia akan dipukul bahkan dibunuh,” ujarnya geram, mata perempuan itu berkaca-kaca.

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Perisakan terjadi terutama di tempat dan waktu ketika pengawasan orang dewasa minim.

Dirundung panik, Endang berusaha sekuat tenaga membuat putrinya itu jujur. Setelah obrolan intensif dari hati ke hati serta meyakinkan bahwa putrinya itu akan baik-baik saja dengan bersikap terbuka, barulah Aster mengaku.

“Saya sempat shock, hati kecil saya terluka. Betapa sebagai seorang ibu saya merasa abai, ” sesal Endang.

Pengakuan langsung dari putrinya itu membawa Endang segera bertindak. Ia mendatangi sekolah, menemui wali kelas Aster untuk membincangkan kasus perundungan itu.

Tapi alangkah terkejutnya Endang saat guru-guru Aster dengan enteng mengatakan: “Anak remaja biasa bersikap begitu, apalagi mereka tengah mencari jati diri. Ancaman itu tidak sungguh-sungguh, mungkin saja hanya ikut-ikutan acara sinetron,” ujar Endang menirukan ucapan wali kelas Aster.

Endang merasa pemakluman yang diberikan kepada pelaku perisakan sangat keterlaluan, itu sama saja membenarkan tindakan ‘salah’ yang mereka lakukan.

Pada akhirnya Endang menemui orangtua masing-masing pelaku perisakan putrinya itu. Walau ditanggapi dingin, ia bersikeras akan melaporkan kejadian itu ke polisi jika masih saja terulang.

Gambaran Apatisme Masyarakat Kita

Apa yang dialami Endang dan putrinya, sebenarnya jamak terjadi di sekitar kita, masyarakat terkondisi untuk apatis terhadap kasus-kasus bullying yang ada.

Mungkin masih tersimpan dalam ingatan kasus tidak mengenakkan yang dialami Via Vallen. Penyanyi yang tengah naik daun ini, pundung karena ‘digoda’ seorang pemain bola nasional lewat direct message (DM) Instagram. Via diminta pria itu datang ke kamarnya dengan pakaian seksi.

Dirundung kesal, Via mengunggah perlakuan tidak mengenakkan itu di instastory. Ia sengaja tak mengungkapkan nama sang pemain bola, hanya memotong cuplikan-cuplikan percakapan ditambah komentar pribadinya yang merasa tersinggung.

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Masyarakat cenderung abai pada kasus perisakan anak, menganggapnya kenakalan anak-anak biasa.

Kasus yang dialami Via Vallen itu mendadak viral, banyak yang mendukung, tapi lebih banyak yang membully: mencela bahkan menganggapnya cari sensasi belaka.

Posisi Via yang harusnya adalah korban, malah bergeser menjadi macam-macam, termasuk: pencari sensasi, tukang marah, perempuan lebay, dan puluhan julukan negatif lainnya yang memang umum terjadi pada para korban pelecehan, terutama perempuan.

Tabiat media yang lebih fokus pada drama pelecehan daripada efek terhadap korban adalah salah satu bukti teori “budaya perkosaan” (rape culture), menurut Zerlina Maxwell, seorang kolomnis, feminis, dan analis politik (seperti mengutip tirto.id).

Dalam tulisannya yang bertajuk “Rape Culture is Real” di Time, Maxwell mencontohkan CNN -yang memilih berduka pada nasib terdakwa pelecehan seksual dalam kasus Steubenville ketimbang menyorot nasib gadis korban perkosaannya- sebagai contoh masyarakat yang melanggengkan budaya perkosaan (penindasan) dan tidak empatik.

Memahami Bullying

Jika boleh sedikit ber-huznudhon, mungkin sebagian masyarakat kita bersikap apatis karena tidak begitu memahami istilah bullying.

Menurut Riauskina, dkk (2005: 1-13), bullying atau perisakan adalah perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh sekelompok individu yang memiliki kekuasaan, terhadap individu lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut.

Kemudian menurut Tattum dan Tattum dalam Rigby (2002: 27), bullying adalah perilaku yang disengaja, sadar keinginan untuk menyakiti orang lain dan menempatkannya di bawah tekanan.

Sementara jika merujuk Wikipedia.com, istilah bullying dapat diartikan sebagai penindasan. Bullying atau biasa disebut perisakan atau juga perundungan adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain.

Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik.

Penindasan dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar ras, agama, gender, seksualitas, atau kemampuan.

Tindakan penindasan terdiri atas empat (4) jenis, yaitu secara emosional, fisik, verbal, dan cyber. Budaya penindasan dapat berkembang di mana saja selagi terjadi interaksi antar manusia, dari mulai di sekolah, tempat kerja, rumah tangga, dan lingkungan.

Bullying yang berwujud fisik antara lain memukul, mencubit, meninju, mendorong, menendang, dan aksi kekerasan lainnya.

Bullying secara verbal antara lain menuduh atau menyalahkan, mengeritik dengan tajam dan menyakitkan, memberi julukan buruk alias mengata-ngatai, melecehkan, memfitnah, membentak, menghina, dan sejenisnya yang menyakitkan hati.

Komentar di media sosial atau di blog juga sering berupa bullying, yaitu mencaci-maki atau merendahkan admin. Kata-kata kasar sering muncul dalam komentar di media sosial atau blog, terutama komentar yang menggunakan “anonymous”.

Peran Pola Asuh Orangtua

Menurut Umar Dani (50), Kepala Sekolah Dasar Tahfizhul Qur’an (SDTQ) Telaga Ilmu Yogyakarta yang milesia.id wawancarai melalui sambungan telepon, menjamurnya kasus bullying tak terpisahkan dari penerapan pola asuh orang tua.

“Penyebab anak melakukan bullying adalah karena kurangnya perhatian serta seringnya anak melihat pertengkaran orangtuanya,” jelasnya.

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – SDTQ ‘Telaga Ilmu’ Yogyakarta konsisten meminimalisir perisakan di sekolah dengan selalu menjalin komunikasi intensif antara pihak sekolah dengan orang tua siswa.

Umar Dani menganggap, baik korban maupun pelaku bullying sebenarnya sama-sama tidak memiliki konsep diri yang kuat.

Orangtua semestinya memberikan pemahaman serta menumbuhkan rasa percaya diri pada anak korban perisakan. “Yakinkan pada anak bahwa kita selalu ada untuk mereka,” ujarnya.

Kepala Sekolah yang konsisten ‘menggeluti’ dunia tumbuh kembang anak itu juga mengkritisi pemakluman yang kerap dilakukan orang dewasa terhadap anak pelaku perisakan.

“Jangan menganggap tindakan bullying seperti memberi label si gendut, si kurus sebagai perilaku normal anak-anak, sehingga seolah-olah tanpa sadar kita memberi toleransi pada sikap-sikap itu,” tegasnya.

“Kita harus menjelaskan bahwa ada konsekuensi dari setiap tindakan (perbuatan) mereka. Anak-anak harus diajarkan untuk bertanggung jawab atas tindakannya,” imbuhnya.

Setali dengan Umar Dani, sebuah penelitian yang dilakukan Mutiara Pertiwi dan Juneman pada 2012 (mengutip tirto.id) dalam jurnal Kementerian Sosial menjelaskan korelasi antara bullying dan penerapan pola asuh orangtua. Penelitian ini dilakukan terhadap 189 siswa-siswi SMA di Jakarta.

Hasilnya, ada lima (5) kesimpulan yang dapat ditarik. Pertama (1), pola asuh otoriter atau sewenang-wenang menunjukkan kecenderungan anak menjadi pelaku bullying sebagai kecenderungan perilaku tertinggi. Pada pola asuh ini, kecenderungan perilaku terendah yang terjadi pada anak adalah menjadi korban bullying.

Temuan kedua (2), menyasar pola asuh otoritatif yang memberikan kebebasan kepada anak untuk berkreasi dan eksploratif. Anak-anak yang tumbuh dengan pola asuh orang tua jenis ini, cenderung tidak terlibat dalam tindakan bullying, sebagai pelaku maupun korban.

Sebab, dalam pola asuh yang otoritatif, kebutuhan anak terakomodasi dengan baik. Pola asuh ini juga menghargai dan menghormati perbedaan sehingga orang dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Penelitian ini juga menemukan bahwa semakin otoritatif pola asuh yang diterapkan oleh orang tua, maka kecenderungan anak untuk menjadi pelaku bullying terbuka akan semakin rendah.

Temuan ketiga (3), pola asuh permisif-mengabaikan yang menunjukkan kecenderungan anak tidak terlibat dalam tindakan pembulian sama sekali, baik sebagai pelaku maupun korban.

Pola asuh permisif, biasanya tidak menerapkan batasan-batasan aturan yang jelas pada anak. Meski begitu, ada baiknya pola asuh ini tidak diterapkan pada anak.

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Baik korban maupun pelaku bullying sebenarnya sama-sama tidak memiliki konsep diri yang kuat.

Sebab, penerapan pola asuh ini membawa dampak tingkah laku lain anak yang tidak kalah mengkhawatirkan. Anak yang diasuh dengan pola asuh permisif memiliki masalah perilaku berupa internalizing symptoms/problems. Simtom internalisasi yang dimaksud adalah depresi, kecemasan, penarikan diri.

Temuan keempat (4) adalah pada pola asuh permisif-memanjakan, yang juga turut menghasilkan kecenderungan remaja menjadi pelaku bullying.

Pola asuh semacam ini memberikan kebebasan pada anak untuk melakukan tindakan agresi pada orang lain. Orangtua tanpa disadari membenarkan perilaku agresif dengan tidak menghukum anak mereka ketika melakukan tindakan agresif pada orang lain.

Temuan kelima (5) adalah bahwa pola asuh tak terbedakan (undifferentiated), menunjukkan kecenderungan remaja bukan sebagai pelaku maupun korban bullying.

Namun, peneliti menggarisbawahi, mereka belum mengetahui jenis pola asuh tak terbedakan yang menghasilkan prediksi kecenderungan tersebut.

Butuh Kerjasama Semua Pihak

Nyaris semua tindakan bullying dilakukan secara berulang oleh pihak yang kuat, menyasar fisik maupun psikis pihak yang lebih lemah.

Menurut Umar Dani (50), pelaku bullying di sekolah biasanya dilakukan oleh kakak kelas kepada adik kelasnya.

“Mereka merasa paling berkuasa, paling besar, paling pintar, sehingga rasa ego mendorong mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak wajar, seperti meminta uang jajan, meminta makanan, memanggil dengan memberikan julukan-julukan tidak pantas, sampai berujung pada kekerasan fisik, walau tidak sampai terjadi luka parah,” terangnya.

Secara umum pelaku bullying memiliki prilaku yang agresif, tangguh, kuat, percaya diri, dan impulsif. Sementara korban merupakan individu yang tidak populer, kesepian, ditolak, cemas, depresi, enggan membalas, dan kurang percaya diri.

Bullying terjadi terutama di tempat dan waktu ketika pengawasan orang dewasa minim, termasuk di sekolah. Umar Dani menyebut pentingnya komunikasi yang baik antara sekolah, orangtua siswa dan siswa itu sendiri agar kasus bullying tidak terjadi.

Di sekolah yang 5 tahun dipimpinnya itu, Umar Dani berusaha mengintensifkan forum komunikasi antara pihak sekolah dan orangtua siswa.

Komunikasi itu bertujuan untuk memahami tumbuh kembang anak. Sekolah mengadakan pertemuan-pertemuan bertema parenting agar orangtua siswa mampu menerapkan pola asuh yang tepat kepada putra-putrinya.

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Dengan komunikasi yang efektif, orangtua dapat mengenali potensi timbulnya bullying.

“Peran orangtua siswa untuk selalu menjalin komunikasi intens dengan anak sangatlah penting. Dengan menciptakan waktu untuk komunikasi, orangtua dapat mengenali potensi timbulnya masalah dan membantu anak dalam menghadapi permasalahan yang dihadapi,” terangnya.

Mengutip tirto.id, perilaku bullying nyatanya sulit untuk diputus mata rantainya. Sebab, sejatinya perilaku ini merupakan manifestasi pola asuh orangtua yang kemungkinan akan diteruskan secara turun temurun. Hal ini terlihat pada hasil penelitian sebelumnya oleh David P. Farrington dalam jurnal University of Chicago.

Ia mengungkapkan bahwa pola asuh orang tua (artinya tidak melulu ayah-ibu si anak) yang otoriter mempunyai kemungkinan besar membuat anak menjadi pelaku bullying.

Dalam penelitian, Farrington menemukan bahwa remaja yang menjadi pelaku bullying tidak hanya cenderung tumbuh menjadi orang tua yang melakukan penganiayaan. Selain itu juga memiliki anak yang memiliki kecenderungan untuk menjadi pelaku bullying.

Sejatinya, mata rantai ini bisa diputus dari keluarga masing-masing, kuncinya ada di tangan orang tua. Menerapkan pola asuh yang tepat akan memperkecil kemungkinan anak menjadi pelaku bullying. Memberikan hukuman yang wajar kepada anak yang terlanjur melakukan bullying patut dipertimbangkan.

“Jika seorang anak tidak di ajarkan bertanggung jawab untuk kesalahan kecil, di kemudian hari ia harus menanggung konsekuensi yang lebih besar,” terang Umar Dani. (Milesia.id/ Kelik Novidwyanto)

 

Tags

Related Articles

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close