Milesiana
Trending

Bagaimana “Tukang Sapu Jalanan” itu Menjadikan Surabaya Kota Berkelas Dunia?

Oleh : Prof. Dr. Henny Warsilah *)

Henny Warsilah (Dok.Pribadi/Milesia.id)

Siapa yang tidak kenal Ibu Risma, dengan segala sepak terjangnya dalam tata kelola ruang kota Surabaya? Sering mengidentifikasi dirinya sebagai ”tukang sapu jalanan”, “tukang sampah” , dan sesekali menjadi “Polisi Jalan Raya”.  Padahal, sejatinya ‘maqomnya’ lebih tinggi, sebagai komandan yang mengelola ruang kota Surabaya dengan tegas dan bijak.

Cermati bagaimana dia mengelola ruang kota pesisir Kenjeran dan Bulak Banteng yang kumuh, miskin dan sangat berbau sampah limbah kerang. Permukiman nelayan yang ada di dua kota Kecamatan itu dibangun secara mandiri oleh nelayan secara turun-temurun dengan cara melakukan reklamasi bibir pantai. Secara illegal!

Bagaimana tidak illegal. Jejeran perumahan nelayan tersebut dibangun dengan cara menutup view pantai Kenjeran, yang sebetulnya indah. Dari kohesi sosial yang terbangun di antara para nelayan, buruh nelayan, pedagang ikan dan pengolah hasil laut serta pedagang ikan tumbuh suatu budaya urban baru, yakni budaya “Arek”.

Budaya lain yang terbangun adalah budaya “Cangkrukan”, yakni budaya ngumpul bareng untuk memecahkan permasalahan kampung dan mencarikan solusinya. Budaya Cangkrukan ini dianggap dapat mengoneksikan antara penduduk kampung dan para pemimpin kota, sehingga diangkat menjadi program Televisi Daerah.

Permukiman nelayan tersebut juga menjadi tujuan wisata remang-remang bagi kebutuhan penduduk kota lainnya, yang di dipenuhi oleh suara alunan musik dhangdut. Terkesan meriah, namun sering di cap sebagai “wisata merah” atau “wisata remang-remang”.

Tidak semudah membalikkan telapak tangan ketika Risma berupaya mentransformasikan kawasan miskin dan kumuh itu menjadi kota wisata yang mendunia. Namun, satu janji yang sering diungkapkan Risma, sebagai Wali Kota yang paling hebat ini, “Jangankan seribu nelayan, satu nelayanpun tidak akan saya pindahkan, mereka adalah penduduk pesisir yang berhak hidup layak dan sehat”.

Memberdayakan tanpa menyingkirkan (Dok.Henny W/Milesia.id)

Janji itu terus menjadi spirit Risma untuk melakukan pembangunan Kota Pesisir secara Inklusif dan partisipatif. Perumahan nelayan hanya digeser sejauh 3 Km dari bibir pantai, dibangun secara permanen dan sehat, memiliki saluran pembuangan dan pengelolaan limbah, berlistrik, dan di cat warna-warni meniru perumahan nelayan yang terispirasi dengan entitas serupa di Mexico.

Pada posisi ini, para nelayan diikutsertakan dalam merancang, membangun dan mewarnai rumah mereka. Hasilnya, sebuah permukiman permanen yang indah dan sehat, menjadi sebuah kota wisata modern. Bersamaan dengan itu, dibangun pula insfrstruktur pendukung, jalan yang sangat luas, jembatan wisata yang menghubungkan kedua Kecamatan, air mancur menari, taman-taman indah, pusat kuliner dan pusat dagang, icon patung Suroboyo setinggi 30 meter sebagai penanda pantai serta sentra kerajinan dan UKM.

Konsep yang dibangun oleh Ibu Risma adalah, tidak menghilangkan kampung di tengah kota metropolitan atau memarjinalisasi kampung seperti umumnya dilakukan negara-negara maju atau negara industri lainnya

Lee Kwan Yew Award : Buah yang Jatuh tak Jauh dari Prestasinya

Lansekap taman (Dok.Henny W/Milesia.id)

Penghargaan Lee Kwan Yew Award untuk kategori Special Mention akhirnya diraih Kota Surabaya pada tanggal 9 Juli 2018 lalu. Sebenarnya, sejak 2014 dan 2016 kota Surabaya juga  mengikuti dan masuk nominee ajang bergengsi ini.

Terkait dengan penganugerahan itu, Ibu Risma didapuk sebagai salah satu pembicara di ajang World Cities Summit (WCS) 2018. WCS adalah ajang paling bergengsi yang memberi penghargaan untuk kota-kota terbaik dan walikota terbaik yang diselenggarakan oleh Pemerintah Singapore, sebagai ajang pertemuan para walikota dan pemimpin kota sedunia.

Light dancing (Dok.Henny W/Milesia.id)

Para pemimpin kota itu berbicara tentang berbagai pengalaman mereka menata kota dan tantangannya dalam menata kota. Kategori Special Mention diberikan kepada kota Surabaya karena walikotanya dianggap berhasil melestarikan kebudayaan dan menerapkan strategi yang berani dalam menjaga dan membangun area perkampungan.

Seperti diketahui, WCS merupakan perhelatan berskala internasional yang diselenggarakan oleh Urban Redevelopment Authority (URA) dan Centre for Leveable Cities (CLC) yang berkedudukan di Singapore. Selain menyabet gelar Lee Kwan Yew Award untuk program World Cities, Kota Surabaya juga memperoleh penghargaan dari ASEAN Tourism Forum (ATF) di Thailand dan Open Government tingkat  ASIA tentang Recognition of Excellence yang dihelat di Jakarta.

Hebat bukan? Jika pemimpin kota bekerja bersama masyarakat menggunakan konsep tata kelola ruang kota yang partisipatif dan inklusif inilah hasilnya, sangat membanggakan.

Pada posisi ini warga kampung kota tidak hanya jadi penonton atas pembangunan kampungnya, tetapi mereka terlibat ikut membangun kampung dan kotanya. Ini yang dilakukan warga yang tinggal di perkampungan Kenjeran dan Bulak Banteng. Hasilnya, konsep pembangunan inklusif yang partisipatif ini mampu menciptakan kampung kota yang “leavable”, sekaligus menjaga kampung tetap eksis di tengah deru pembangunan, serta meningkatkan perekonomian kalangan UMKM.

Sentra UMKM basis bahari (Dok.Henny W/Milesia.id)

Mengacu hasil riset (Warsilah: 2018, Pembangunan Inklusif di Kota Pesisir-PMB-LIPI-Press, on progress), Kota Surabaya dapat dikategorikn sebagai kota yang unik krena perkampungan kota Surabaya memeiliki struktur tematik yang beragam (etnik dan budaya). Perkampungan di Surabaya, ruas-ruas jalan kampungnya sudah di-paving block.

Tersedia taman bacaan berikut akses terhadap layanannya (program melek literasi). Memiliki taman-taman di tengah kampung dan pusat kegiatan olahraga. Lebih istimewa, perkampungan di tengah kota itu memiliki pusat layanan kesehatan masyarakat (Puskesmas).

Saat ini Risma juga sedang menggagas transportasi massal “Suroboyo Bus” yang memiliki kaca lebar untuk memudahkan penumpang menikmati pemandangan. Hebatnya, layanan transportasi massal berbasis bus ini diciptakan untuk mendukung program transportasi ramah lingkungan. Pengguna bus cukup membayar dengan sampah plastik.

Sampah-sampah ini disetor di drop box halte dan terminal. Keberhasilan operasional bus ini juga berkat kerjasama dengan Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau Surabaya. Ciamik! Sementara pemimpin di sejumlah kota di tanah air sibuk berpolitik, walikota Surabaya ini bekerja, bekerja, dan bekerja!

Sejajar dengan Kota-Kota di Dunia

Berbagai penghargaan yang diterima oleh kota Surabaya itu berhasil mendudukkan kota Surabaya sejajar dengan kota-kota lain di dunia. Bersamaan dengan kota Surabaya yang menerima Lee Kwan Yew Award 2018, adala kota Kazan (Rusia), Tokyo (Jepang) dan kota Hamburg (Jerman). Mereka adalah kota yang dikelola secara kreatif, inovatif dan berkelanjutan. Pendek kata, Smart Cities!

Kota-kota yang juga pernah menyabet penghargaan serupa adalah Medelin di Kolombia (2016), Suzho di China (2014) ,  New York (2012) serta kota Bilbao di Spanyol (2010).

Keberhasilan meraih award dalam ajang paling bergengsi ini menujukkan, bahwa wali kota Surabaya beserta jajarannya memeiliki konsep baku dalam mempertahankan kampung melalui pembangunan inklusif yang partisipatif. Ikhtiar ini juga didukung oleh para akedemisi.

Hal penting lain yang tidak bisa dikesampingkan adalah, selain menata ruang kota, juga dilakukan pemberdayaan ekonomi melalui Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), termasuk produksi handycraft, dengan cara memberi modal dan skill. Ini menjadi cikal bakal penumbuhan ekonomi kreatif di kampung. Kapan ya, kota-kota lain mengejar ketertinggalannya dari Surabaya untuk kemudian mendunia? Mari, jangan malu meniru “Tukang Sapu Jalanan” berprestasi global ini.

*) Profesor Riset di Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PMB-LIPI). Doktor  Sosiologi Pantheon-Sorbonne University, Perancis.

hennywarsilah@gmail.com

 

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close