Milebisnis
Trending

GPA Soropadan 2018: Ketika Burung Hantu ‘Sakti’ Jadi Primadona

MILESIA.ID – Mata Wagini seolah tak bisa lepas dari beberapa orang yang menunjukkan keahlian menghias buah di sebuah stand.

Wanita paruh baya asal Temanggung ini sangat tertarik dengan demonstrasi menghias buah ia pikir mungkin saja suatu ketika trik dan teknik yang diperagakan bisa bermanfaat untuk menang di lomba semacam ini.

Wagini merupakan seorang pengunjung acara akbar Soropadan Agro Expo 2018.

Saat ditemui Milesia.id, Sabtu (28/7/2018) lalu, ia mengaku bersama rombongan dan keluarganya memang secara khusus datang ke pameran ini, bahkan tiap tahun ia menyempatkan diri untuk melihat-lihat stand pameran.

Soropadan Agro Expo 2018 digelar di Pusat Pelayanan Agribisnis Petani (PPAP) Agro Center Soropadan, Jl Raya Magelang – Semarang km 13 Pringsewu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meresmikan pembukaan Soropadan Agro Expo tahun 2018 pada Jumat (27/7/2018).

Acara ini dihadiri pula beberapa pejabat penting di antaranya jajaran Kementerian Kominfo, Dirjen Sarana Prasarana Pertanian, serta Instansi terkait.

ISTIMEWA – Bupati Demak HM Natsir (berpeci) bersama Kadistan Pangan Demak Ir Wibowo MM sedang menikmati ‘jamu cara’ minuman khas Demak (jamu dengan rempah-rempah di dalamnya).

Soropadan Agro Expo merupakan Gelar Promosi Agribisnis (GPA) yang ke 8 dan dilaksanakan selama 5 hari yakni mulai tanggal 26 sampai tanggal 30 Juli 2018.

Di lokasi tersebut tak hanya demonstrasi teknik dan trik menghias buah, ada sebuah aikon yang mendadak jadi primadona.

Patung replika burung hantu raksasa mencuri perhatian banyak orang, matanya yang lebar, kuku-kukunya yang kuat sukses menghipnotis ratusan pengunjung hingga menyemut di stand-nya.

Replika burung hantu raksasa tersebut bukan hanya sekedar hiasan belaka tapi ternyata sebuah program unggulan yang unik.

ISTIMEWA – Tiap stand di pameran menampilkan hal-hal unik yang menarik pengunjung.

Stand itu milik Pemkab Demak yang menunjukkan bagaimana burung hantu ini ‘sakti’ alias menjadi senjata ampuh membasmi hama tikus di areal persawahan.

Harimul si penjaga stand menjelaskan pada Milesia.id kalau di Demak bahkan sudah ada perdes yang mengatur pemeliharaan burung hantu ini.

“Di Demak dibudidayakan dan di sawah-sawah dibuatkan pagupon untuk burung hantu, tingginya 4 meteran. Anggarannya bahkan dibantu dari APBD Kabupaten Demak,” jelas Harimul.

Ia menambahkan kalau program ini sangat efektif menekan serangan hama tikus, apalagi hewan nokturnal ini dikenal piawai untuk berburu tikus.

Program burung hantu memiliki daya tarik tersendiri mengingat hal ini jarang-jarang dilakukan di wilayah lain.

Dan hal ini bisa menjadi alternatif unik di tengah modernisasi pertanian yang identik semuanya selalu menggunakan mesin-mesin canggih.

Sementara itu di area stand terlihat hamparan luas beberapa tanaman yang dibudidayakan.

Green house anggrek dan tanaman hias lainnya tampak dipadati pengunjung.

Pergola-pergola di tempatkan di beberapa lokasi yang berisi tanaman tampak sudah berbuah lebat, macam labu-labuan beraneka warna dan bentuk ada labu panjang ada bulat.

MILESIA.ID/ANNY WIDI ASTUTI – Tak sedikit pengunjung yang berfoto di area tanaman dengan buah yang lebat dan besar.

Sayur pare berukuran maksimal, juga nampak indah di janjangnya.

Stand perikanan peternakan juga banyak diminati pengunjung.

Secara umum, lokasi pameran tampak rindang, nyaman, bersih, dan tertata apik.

Fasilitas umum disediakan di beberapa titik seperti kamar mandi dan mushola.

Lalu ada panggung dengan ukuran besar di sisi timur pintu masuk, untuk ajang pentas seni.

Nampak saat itu sedang berlangsung lomba merangkai biofarmaka dan cerdas cermat.

Satu bangunan khusus juga disediakan untuk display alat-alat pertanian.

Banyak produk alat pertanian diusung kesini.

Teknologi baru diharapkan dapat diakses masyarakat untuk diaplikasikan di lapangan guna meningkatkan hasil panennya.

Salah satunya alat pembersih gulma, dirancang khusus untuk memudahkan membersihkan gulma sampai ke akarnya.

MILESIA.ID/ANNY WIDI ASTUTI – Alat pembersih gulma sampai ke akar-akarnya.

MODERNISASI PERTANIAN

Soropadan Agro Expo 2018 memang mengusung tema ‘Modernisasi Pertanian Jateng Menuju Kedaulatan Pangan’.

Tujuannya untuk sosialisasi penerapan teknologi pertanian dalam arti luas.

Pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, dan kehutanan, percontohan benih unggul, sosialisasikan penerapan SOP, GAP GHP dan GMP pada produk pertanian berbasis kualitas, kuantitas, dan kontinuitas agar memiliki nilai tambah dan daya saing.

ISTIMEWA – Widodo Gunawan Purwadi, konsultan pelaksana GPAS.

Selain itu juga mempromosikan potensi dan komoditas unggulan pertanian, menjalin kerjasama pemasaran dan pengembangan pertanian secara umum, serta memfasilitasi temu usaha dan kontak bisnis serta pertemuan dengan buyer/pembeli dan pedagang retail.

Soropadan Agro Expo atau GPA Soropadan (GPAS) tahun ini, menyajikan beragam profil kegiatan paket komplit, selain pameran teknologi pertanian nasional, pameran dan bursa komoditas pertanian unggulan, seminar sarasehan dan lokakarya, pameran sarana produksi pertanian, temu dagang komoditas agro Jawa Tengah, perbankan dan lembaga keuangan, temu dan kontak bisnis, dan terakhir adalah lomba dan pentas seni.

MILESIA.ID/ANNY WIDI ASTUTI – Stand aglaonema.

Beragam lomba yang digelar maraton di antaranya, menghias biofarmaka (tanaman obat), cerdas-cermat antar SMK Pertanian se Jateng, foto dan vlog challenge serta mancing ikan.

“Event tahunan ini digelar sejak tahun 2003, dengan menempati lahan seluas enam hektar terbagi dua bagian sama luas, untuk stand pameran pasif dan pameran aktif/demo. Untuk pameran aktif disiapkan jauh hari sebelum pembukaan GPAS, jadi pada saat pembukaan hasil demo sudah bisa dinikmati pengunjung, misalnya tanaman yang ditanam sudah mengeluarkan buah atau bunga, serta produk lainnya perkebunan, perikanan, kehutanan, dan peternakan. Pengunjung dapat belajar dari pameran aktif ini,” papar Widodo Gunawan Purwadi, konsultan pelaksana GPAS saat ditemui Milesia.id di ruang sekretariat.

Lebih jauh Widodo menyampaikan, GPAS ini adalah program kerja dari Dinas Pertanian Dan Perkebunan Provinsi Jateng, yang untuk pelaksanaanya tahun ini dipercayakan ke PT Kadangdewe Sawiji Sejahtera (KaDeSiji Production) yang bermarkas di Semarang.

MILESIA.ID/ANNY WIDI ASTUTI – Stand Dinas Pertanian dan Perkebunan Pemprov Jateng dengan (insert kiri) gunungan dari berbagai buah yang menarik perhatian.

TAHUN INI 84 STAND

Sebanyak 84 stand ikut meramaikan agenda tahunan ini.

Sejumlah instansi pemerintah dinas pertanian se-Provinsi Jateng ikut ambil bagian.

Di luar itu ada dari dinas pertanian NTT dan DIY yang turut bergabung dalam Mitra Praja Utama (MPU), dan 18 perusahaan swasta, juga perbankan.

Stand yang berpartisipasi dikenakan biaya berbeda-beda tergantung ukurannya.

Stand eksekutif (5×5 m) 16 juta, stand bisnis plus (4×4 m) 12,5 juta, stand bisnis (3×3 m) 11,5 jt, dan stand sponsor (5×5 m) biaya nego langsung.

Harga stand include pajak 10% dengan biaya sewa sebesar itu, peserta pameran mendapat fasilitas dari panitia berupa stand partisi, tenda, flooring karpet, meja kursi, listrik 450-900 watt (untuk stand tertentu sampai 2200 Watt), engineering service, kebersihan 24 jam, satpam, polisi, tentara, satpol pp juga disiapkan khusus biro keamanan 24 jam.

Di samping itu stand per hari mendapat jatah snack 2 box.

PRODUK BARU

Inilah salah satu alasan mengapa GPAS selalu sukses dan didatangi ribuan pengunjung setiap harinya.

Masyarakat berbondong dengan penuh antusiasme mengunjungi gelaran ini.

Bukan hanya lokasi yang strategis di pinggir jalan utama Magelang – Semarang tapi masing-masing stand menampilkan produk unggulan daerahnya.

Dari hasil pengamatan Milesia.id, area 6 hektar itu penuh dengan kunjungan hilir mudik berpindah dari satu stand ke stand lainnya.

Animo masyarakat tampaknya begitu besar untuk mengetahui perkembangan teranyar di bidang agro.

“Harapan utama dari penyelenggaraan suatu acara adalah segi kemanfaatan bagi masyarakat. Semoga kerja keras ini bermanfaat, dapat mengedukasi, masyarakat dapat memanfaatkan semaksimal mungkin meski hanya berlangsung 5 hari, dan berhasil mendekatkan informasi ke masyarakat. Dan pihak pengusaha bisa melihat peluang pasar,” ujar Widodo.

Sebagian besar pengunjung yang keluar dari pameran, tangannya menenteng buah tangan, entah itu berwujud bibit tanaman maupun produk lainnya untuk dibawa pulang.

Ini menjadi bukti kalau GPAS bukan hanya menunjukkan kelebihan masing-masing daerah tapi juga membawa manfaat, memberi inspirasi dan meningkatkan antusiasme untuk bertani mengingat lini pertanian seolah ditinggalkan generasi milenial. Semoga saja tidak. (Milesia.id/Penulis: Anny Widi Astuti/Editor: Rimawan Prasetiyo)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close