Life Style
Trending

Pesona Batik Pewarna Alami, Nyaman di Badan Ramah di Kali

Kali Item.! Kali Item..!

Baunya nggak ketulungan..

Warnanya duh, belepotan..

Warna soft dan tahan lama (Milesia.id/BUDI SULISTYO)

Bayangkan yang menembangkan lirik lagu di atas adalah seniman Betawi kawakan almarhum Benyamin Sueb. Inspirasinya? Apa lagi jika bukan Kali Sentiong atau lebih dikenal dengan sebutan Kali Item, di kawasan Jakarta Utara. Lucu sekaligus miris.

Kacau memang. Kali nan jembar itu  berwarna hitam pekat dan menguarkan aroma tak sedap. Paniklah gubernurnya. Padahal daerahnya harus bersiap menghelat ajang olahraga terbesar se Asia, Asian Games, Agustus mendatang Rupa-rupa cara ditempuh untuk mengatasinya. Mulai dari ditutupi jaring hingga ditabur larutan kimia.

Kali Item bukan satu-satunya. Di Kota Solo, anak Sungai Bengawan Solo juga memprihatinkan. Salah satu penyebabnya adalah limbah industri batik yang menjamur di kota itu.

Dua sungai yang tercemar berat limbah batik adalah Sungai Premulung dan Sungai Jenes. Mengkhawatirkan,  kandungan unsur logam berat melebihi ambang batas. Seperti diketahui, parameter penilaian kondisi air meliputi kadar BOD (biological oxygen demand), COD (chemical oxygen demand), kandungan logam berat, warna, bau, rasa, dan seng.

Industri batik mencemari sungai?  Tentu tidak semua. Syukurlah, satu dekade terakhir marak produksi eco-batik. Batik yang lebih ramah lingkungan. Warisan kreasi seni asli budaya Indonesia ini, memang sayang jika berkurang produksi dan peminatnya hanya karena berpotensi mencemari sungai.

Solusinya? Pewarna alami. Sejumlah negara di Eropa seperti Belanda dan Jerman, yang jadi salah satu pasar batik kita, bahkan sudah lama melarang penggunaan zat warna kimia untuk  industri clothing (pakaian), footwear (alas kakii), dan bedlinen (sprei dan sarung bantal). Regulasi itu tertuang dalam CBI (Centre for the promotion of Imports from Developing Countries) Ref. CBI/NB-3032 tertanggal 13 Juni 1996.

Pewarna alami yang dimanfaatkan untuk pewarna batik bersifat Renewable Resources atau dapat diperbarui. Penggunaannya yang kian meluas akan berdampak positif secara ekonomi bagi masyarakat yang membudidayakan tanaman sumber pewarna alami batik.

Batik berpewarna alami, selain memiliki warna yang lebih lembut dan nyaman dikenakan, juga bernilai jual tinggi. Pasar Eropa dan Amerika yang sadar dengan eco-fashion, membuka lebar-lebar pasar batik pewarna alami.

Pertengahan Juli lalu, Milesia menemui Bu Dalmini, praktisi batik berpewarna alami dan ketua kelompok koperasi perajin batik desa Kebon Bayat, Klaten, Jawa – Tengah. Produk batik pewarna alami besutan Dalimi dan kawan-kawan sudah melanglang buana hingga Amerika dan Eropa. Bagaimana proses produksinya? Berikut ini tahapannya.

 Alur Batik, dari Mordating hingga Nglorod

Mbabar, pembersihan dari lilin (Milesia.id/BUDI SULISTYO)

Pertama, Memilih bahan (mori) sesuai dengan selera atau pesanan. Bahan mori memiliki beragam tingkatan kualitas dan harga. Bahan yang telah dipilih selanjutnya dipotong sesuai ukuran atau pesanan. Kain yang sudah dipotong lantas perlu di-mordating.

Mordating intinya pengondisian kain meliputi pencucian untuk membersihkan kain dari bahan-bahan yang dapat mengganggu dalam proses pewarnaan, seperti lilin maupun kotoran. Selain itu juga agar porses pewarnaan berlangsung  maksimal. Merekat dan rata serta awet dan cerah. Prosesnya, kain direbus dengan air larutan tawas selama 1- 2 jam dan didinginkan. Ada juga yang melakukannya dengan kombinasi tawas dan soda abu

 

Kedua, mendesain pola atau gambar di permukaan kain sesuai denga motif yang dikehendaki. Pembuatan pola menggunakan pensil. Istilahnya adalah nyorek. Dilakukan oleh orang yang memang memiliki kemampuan atau spesifikasi gambar pola yang mumpuni.

Ketiga, nyanting atau dikenal umum dengan membatik itu sendiri. Menutup bagian dari kain yang tidak dikehendaki untuk diwarnai pada tahapan pewarnaan pertama. Menggunakan malam (lilin) yang dicairkan dengan pemanasan dalam wajan dan tungku kecil. Membatik ibarat menamengi atau melindungi kain agar tidak tembus terwarnai dengan pewarna dalam proses selanjutnya

Keempat, pewarnaan. Kain yang sudah dicanting lantas diwarnai dengan pewarna alam dengan cara direndam dalam larutan pewarna alam yang sudah disiapkan. Setelah kain terendam, lantas diangkat dan dijemur dengan cara dikeringanginkan. Selesai? Belum. Proses pengeringanginan dan pencelupan bisa diulang 7-10 kali sesuai dengan ketebalan atau kepekatan warna yang diinginkan. Juga tergantung dari kepekatan dan kualitas pewarna alam yang digunakan.

Pencucian (Milesia.id/BUDI SULISTYO)

Kelima, ngeblok, Merupakan tahapan mbatik/nyanting jilid dua. Melapisi lilin/malam pada bagian-bagian kain  yang sudah diwarnai pada tahap pertama  agar terlindungi dari warna lain pada tahap pewarnaan berikutnya. Membuat blok atau pelindung warna pada bagian-bagian tertentu desain batik dari warna yang tidak dikehendaki pada pewarnaan tahap kedua.  Proses pewarnaan-nyanting-blok ini bisa dilakukan berulang sesuai dengan jumlah jenis warna pada kain yang diinginkan.

Keenam, Penguncian warna. Agar warna pada kain awet dan tidak luntur, kain perlu dikunci dengan menggunakan air tawas. Direndam dalam larutan air tawas selama 24 jam

Ketujuh,  Ngelorod. Proses ini pada dasarnya adalah menghilangkan malam/lilin yang dicantingkan pada kain sehingga pola atau desain batik nampak warna aslinya sesuai dengan rencana awal. Dalam proses ini kain direbus dalam air mendidih yang sudah dicampur dengan larutan air tepung tapioka dalam tong besar. Penambahan larutan tapioka dimaksudkan agar pelepasan lilin lebih mudah. Dalam proses perebusan, kain dibolak-balik untuk memastikan proses pembersihan permukaan kain berlangsung merata. Serta tidak ada bagian kain yang terlipat dan lengket.

Bak pewarnaan (Milesia.id/BUDI SULISTYO)

Setelah dipastikan bersih dari lilin, kain dikeringanginkan dan dibilas dengan air sampai bersih. Setelah bersih kain dijemur dan siap dipacking. Dalam penjemuran, sangat disarankan agar kain dijemur tidak secara langsung terpapar terik matahari. Gunanya agar warna kain lebih awet dan tidak cepat pudar.

Bahan Pewarna Alam

Aneka bahan pewarna alami (Milesia.id/BUDI SULISTYO)

Pembuatam larutan pewarna alam umumnya dilakukan dengan mengekstrak atau merebus bahan-bahan pewarna.  Dapat berupa potongan kayu,kulit kayu kulit buah, daun, akar dll. Air rebusan bahan-bahan itulah yang dipakai untuk mencelup kain.

Menurut Dalimi, yang masih jadi masalah bagi kelompok batiknya, tidak semua bahan pewarna alam tersedia di lokasi sekitar Kebon, Bayat. Sebagian masih harus dibeli dari suplayer  atau pengusaha batik di Solo.

Di Solo, harga jambal Rp 25 ribu per kg, Tinggi Rp 30 ribu/kg, Teger Rp  35 ribu/kg, Jolawe Rp 45 ribu/kg, dan Indigo Rp 70 ribu – 100 ribu/kg. “Untuk warna coklat krem bisa langsung dengan menggunakan perlakuan getah pohon pisang, tanpa perebusan,” tutup Dalmini.

(Milesia.id/BUDI SULISTYO)

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close