Milebisnis
Trending

Di Bawah Lindungan Padi Merah

Panen tiba petani desa

Memetik harapan

Bocah-bocah berlari lincah

Di pematang sawah

(Potret panen mimpi wereng – Iwan Fals)

MILESIA.ID – Panen padi musim ini baru saja surut. Rumpun-rumpun padi telah bermetamorfosis menjadi gabah. Gabah kering sawah kemudian disulap menjadi gabah kering giling nan bersih. Gabah gabuk disingkirkan, sisa kawulnya dibersihkan.

Beruntung, mentari tak pernah redup. Panasnya menyengat. Gabah digelar dilantai jemur. Bak permadani. Dua hari kemudian, gabah sudah kering, minim kadar air. Mrisih, begitu istilah orang jawa. Padi bersih, padat berisi, montok dan kuning cerah.

Hmmm… Sungguh, sebuah ritual yang cukup menguras energi.

Haaah… Sedikit lega rasanya nafas petani. Ritual menyulap rumpun padi menjadi gabah mrisih telah paripurna.

Gabah dalam kemasan karung (IST/Dok.Aji Prasetyo)

Tapi, leganya nafas itu sebentar saja. Ya, sebentar saja.

Petani harus menerima kenyataan pahit. Musim panen kali ini linier dengan turunnya harga gabah. Ajur mumur. Terlebih, MT (Musim Tanam) kedua 2018 ini, di daerah Klaten dan sekitarnya, bersamaan dengan awal tahun ajaran baru. Petani berbondong-bondong nempurke, menjual gabahnya untuk biaya sekolah anak cucu.

Dan, hukum ekonomi berlaku mutlak, berkuasa penuh. Menghunus pedang, memenggal harga gabah. Harga pun berangsur turun, kemudian nyungsep. Relasi klasik  musim panen dan penurunan harga adalah fenomena yang harus dihadapi oleh petani negeri ini. Utamanya petani padi lahan sawah. Kondisi ini terus berulang. Seolah sudah menjadi “zona mapan” bagi para petani. Mapan adalah istilah Jawa yang berarti nyaman dan enggan untuk beranjak.

Keluar dari zona mapan

Tak semua petani nyaman dalam zona mapan. Salah satunya Aji Prasetyo (40), petani muda asal Kauman, Cawas, Klaten, Jawa Tengah . Aji berhitung, jika menanam padi seperti lazimnya petani lain, nasibnya pasti sama, tragis dihantam turunnya harga. Maka, Aji memutuskan untuk menanam varietas padi merah.

Langkah ini terbilang nekat. Betapa tidak, awalnya Aji tidak tahu sama sekali mengenai varietas padi merah. Petani yang menanam jenis ini juga nihil. Saat ditawarkan ke lembaga kelompok tani di desa, petani Cawas tak ada yang melirik. Tidak mau menanam varietas padi merah. Pun dengan pengurus kelompok tani, tak ada yang memberi respon positif.

Pertemuan kelompok tani Wiji Thukul (IST/Dok.Aji Prasetyo)

Perihal perkenalannya dengan padi merah, Aji Prasetyo menuturkan bahwa, sekitar 4 tahun yang lalu, salah satu produsen bubur bayi menawarkan kerja sama penanaman padi merah. “Saya melihat ini adalah peluang, meskipun masih spekulasi,” terang Aji.

Waktu itu, umumnya petani di Cawas dan sekitarnya balik badan terhadap tawaran tersebut. Aji dan beberapa gelintir petani muda justru mengiyakan. “Jika padi merah ini hasilnya kurang baik, setidaknya kami pernah mencoba, dan ini pengalaman yang berharga,” imbuh aktifis kelompok tani Wiji Tukul ini.

Perihal padi merah

Padi merah yang ditanam Aji dan beberapa petani Cawas adalah varietas Inpari 24 dan Menthik Merah. Memang, padi merah bukanlah padi ajaib yang hasilnya berlipat ganda bila dibanding yang jenis putih. Produktivitas padi merah dan putih hampir sama. Rata rata 8-9 ton per ha. Pun juga masa tanamnya, relatif sama, berkisar 100-110 hari.

Jenis Padi Merah (IST/Dok.Aji Prasetyo)

Demikian juga dengan perawatan, pemupukan dan pasca panen, nyaris serupa dengan padi putih. Bedanya, padi merah lebih hemat pupuk kimia.  Bila rata-rata petani padi putih dalam satu musim tanam menghabiskan pupuk kimia sebanyak 1-1,5 kwintal per petak luasan 1500-1800 meter persegi, untuk padi merah pupuknya hanya berkisar 50-70 kg perpetak.

Harga tinggi dan semi organik

Faktor  utama ketertarikan Aji dan beberapa petani Cawas yang tergabung dalam kelompok tani mandiri Wiji Tukul untuk menanam padi merah tentu tak bisa lepas dari masalah harga. Jika dibandingkan dengan beras putih, harga jual beras merah relatif lebih tinggi.

Suripto (40) sejawat Aji di Wiji Tukul menyampaikan bahwa harga beras merah lebih tinggi Rp 1.000,- sampai Rp 2.000,- per kg. “Fluktuasi harga beras merah tidak setinggi beras putih,” imbuh Suripto.

Produk organik kelompok tani Wiji Thukul (IST/Dok.Aji Prasetyo)

Selain itu, pihak produsen bubur bayi mensyaratkan pemakaian bahan-bahan organik dalam budidaya padi merah. Diantaranya adalah pemakaian pupuk organik cair, penambahan hormon pertumbuhan tanaman, formula bakteri organik dan pestisida organik.

Aji Prasetyo meracik bahan organik sumber Kalsium untuk memperkuat batang padi (IST/Dok.Aji Prasetyo)

Dua hal inilah yang menjadi alasan bagi Suripto untuk selalu menanam padi merah. Bahkan, beberapa musim terakhir, Suripto menambah kapasitas produksinya. Awalnya, warga Gabus, Cawas ini hanya menanam satu petak sawah saja.  “Musim lalu saya menanam padi merah dua petak, musim ini tiga petak,” tambahnya penuh semangat.

Sehat berkat beras merah

Saat ini, kampanye konsumsi beras merah sebagai alternatif pengganti beras putih semakin marak. Berbagai ulasan mengenai kandungan nutrisi dan manfaat beras merah bertebaran di dunia maya. Bahkan, iklan komersil di media elektronik maupun cetak mengenai produk berbahan dasar beras merah semakin gencar.

Beras merah banyak mengandung senyawa antioksidan yang baik untuk kesehatan tubuh, kaya vitamin, magnesium, dan zat besi. Kandungan seratnya tinggi, indeks glikemiknya rendah serta karbohidratnya berjenis karbohidrat kompleks.

Beras Merah (IST/Dok.Aji Prasetyo)

 

Manfaat konsumsi beras merah sangatlah banyak, diantaranya bisa mengendalikan berat badan, menurunkan resiko diabetes, mengurangi resiko penyakit jantung dan juga sumber energi.

Beberapa manfaat diatas membuat beras merah semakin diburu, terutama para pelaku diet, badan sehat berbonus langsing.

Hal ini membuat Aji dan teman-temannya semakin bersemangat untuk menanam padi merah.

Setia di jalur merah

Selama bercocok tanam padi merah, Aji dan kawan-kawan banyak memperoleh kendala. Kebanjiran, terserang hama, dan produksi merosot adalah jalan terjal yang harus mereka lewati selama berproses di “Jalur merah.”

Tak semua petani yang  menanam padi merah dikelompok tani Wiji Tukul mampu bertahan menghadapi kendala tersebut. Beberapa memilih kembali ke “Jalur putih”. Sebagian lagi, lebih baik move on aja. Pasang hati sekuat baja. Laiknya lirik lagu Move On Nella Kharisma.

Pertemuan anggota kelompok tani Wiji Thukul (IST/Dok.Aji Prasetyo)

Kendala terpenting saat ini adalah penjualan beras merah. Petani belum mempunyai jaringan pasar selain dengan produsen bubur bayi. Sesuai kontrak kerja sama dengan produsen bubur bayi, minimal 80 % produksi harus dijual ke produsen bubur bayi tersebut.  Masih ada sisa kuota 20 %. Sisa kuota inilah potensi yang bisa dimanfaatkan untuk mencari pasar lain. Tentu saja selain yang dikonsumsi sendiri. Tak mengapa, seandainya harus jual eceran sekilo dua kilo. Setidaknya ada harapan untuk meningkatkan harga jual beras merah.

Yah, warna merah ibarat simbol. Pilih berhenti laiknya saat lampu trafic light menyala merah. Atau menolak tunduk, gagah berani dan menyala-nyala menghadapi dinamika hidup. Seperti Aji Prasetyo, api jiwanya selalu berkobar. Setia di “Jalur merah.” Demi hidup yang lebih baik. (Penulis : Rustamadji/Editor : Fauzi Ismail)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close