ANALISA

Harga Telur dan Daging Ayam Meroket : Siapa Untung, Siapa Buntung?

MILESIA.ID – Sobat milenial yang dirahmati Allah, daging ayam dan telur adalah lauk andalan banyak orang. Dalam kondisi kepepet, sumber protein hewani ini mudah didapat dan gampang diolah. Tak butuh waktu lama untuk memasak telur. Cukup lima menit, telur rebus maupun goreng siap untuk disantap. Cocok bagi generasi milenial yang sering diburu waktu.

Akhir-akhir ini, telur dan daging ayam ramai diperbincangkan, menjadi trending topic, ngehits. Persoalannya karena harga telur betah nangkring diangka Rp 23.000,- sd 26.000. Bahkan sempat tembus Rp 30.000,-. Padahal, harga telur ditingkat konsumen sebelum hari raya Idul Fitri kemarin di wilayah Jawatengah, Jogja dan sekitarnya berada dikisaran Rp 18.000,- sd 20.000,- Winarsih, penjual sembako di Jotangan, Bayat, membenarkan bahwa pada bulan Juli 2018 ini harga telur ditingkat konsumen masih di kisaran Rp 23.000,- “Saya biasa dianteri telur oleh produsen dari Krakitan. Meski harga sedang bergejolak, tapi saya tidak banyak mengambil untung,” ungkap Winarsih.

Ayam petelur dalam kandang batere/Milesia.id/BUDI SULISTYO

Memang, menjelang hari raya, harga telur dan daging ayam biasanya naik. Dan, harga turun saat  hari raya usai. Wajar, karena permintaan naik, pasokan kurang. Tetapi, tahun ini beda, seolah ada anomali. Sebulan usai lebaran, harga telur tak jua turun. Betah berlama-lama di harga tinggi. Membuat resah para penghobi telur dan daging ayam. Resah karena bakal membuat isi dompet makin babak belur.

Pun dengan harga daging ayam potong, setali tiga uang, melejit dan lama nangkring di harga tinggi. Normalnya Rp 30.000,- perkilo, menjadi Rp 40.000,- bahkan lebih. Pernah tembus diatas Rp 50.000,-. Saat Milesia.id bertanya kepada seorang ibu yang baru saja membeli daging ayam potong di pasar Klaten, didapatkan harga Rp 42.000,- perkilo.

Tentu, hal ini harus disiasati, agar keuangan keluarga bisa stabil dan kebutuhan lauk pauk tetap tercukupi.

Soal siasat, Fitri, ibu rumahtangga asal Cawas, menyampaikan bahwa frekuensi masak telurnya dikurangi. Beralih ke tahu ataupun tempe. “Saya masak telur kalau anak minta digorengkan telur.  Atau kalau waktu masaknya sudah mepet,” tutur ibu dengan tiga orang anak ini. “Saya jarang masak daging ayam. Kalau pengin makan daging ayam ya beli matengnya, komplit sak lalapannya. Ndak repot,” imbuh Fitri.

Lain halnya dengan Nurhayati, ibu rumah tangga asal Klaten, alokasi belanja daging ayam ia alihkan untuk membeli daging ikan yang lebih murah, seperti lele. Sekali tempo masak telur, saat anaknya merengek minta makan dengan lauk telur goreng.

Terkait mahalnya harga telur dan daging ayam potong tersebut, Milesia.id menelusuri informasi ke sentral peternak unggas, Krakitan, Bayat, Klaten.  Daerah ini adalah pemasok  daging ayam dan telur untuk area Jawa Tengah dan Jogja. Bahkan sampai ke Jawa Barat dan Jakarta.

Ayam potong di dalam kandang/Milesia.id/BUDI SULISTYO

Ery, peternak ayam petelur (layer) muda sekaligus perangkat desa Krakitan ini menuturkan jika tingginya harga telur di pasaran ternyata tidak membuat petani untung besar. “Dalam empat bulan terakhir ini, kondisi ayamnya mengalami penurunan kesehatan dan produksi. Musababnya adalah pakan ternak yang biasa diberi antibiotik kini tidak boleh diberi antibiotik lagi. “Harga pakan juga naik, seiring menguatnya dollar terhadap rupiah. DOC/bibit ayam juga melambung tinggi,” tambah Ery.

Senada dengan Ery, naiknya harga ditanggapi dingin oleh Pak Biman. Peternak ayam petelur yang sudah puluhan tahun bergelut dengan usaha ternak ayam petelur. Ia tidak merasa untung besar dari naiknya harga telur. Produktifitas ayam petelurnya menurun. Selain itu, usahanya tidak diadministrasikan secara tertulis dan runtut.

Untuk jenis ayam ras pedaging,  beberapa peternak menyampaikan jika belakangan ini bibitnya terbatas. Kalaupun ada, harganya mahal.

Yuhana peternak ayam dari Cawas, harus menunggu beberapa hari untuk mendapatkan bibit ayam. Sudah begitu, harganya  naik dari Rp 5000,- ribu per ekor menjadi Rp 7500,-.  Pun juga dengan Nurhasan, peternak yang kandangnya tersebar di beberapa tempat ini mengatakan jika banyak kandang boiler (ayam potong) yang kosong karena susah mencari DOC.

Namun, keduanya sepakat jika peternak juga beroleh keuntungan yang lumayan dari kenaikan harga saat ini.

Ketut, asisten lapangan perusahaan kemitraan peternakan menyampaikan bahwa apabila kesehatan ternak terjamin, tingkat kematian rendah, pasti peternak bisa menikmati momentum kenaikan harga telur dan daging ayam ini. “Manajemen obat atau suplemen seperti probiotik dan kebersihan harus baik. Kalau harga pakan dan bibit, itu sudah dikunci oleh produsen,” ungkap Ketut.

Seorang peternak menimbang telur ayamnya/Milesia.id/BUDI SULISTYO

Menurut drh. Basuki Rahmat, Balai Besar Veteriner, Wates, Jogjakarta, pemakaian antibiotik dalam pakan sebagai growth promotor/pemacu pertumbuhan memang dilarang.  Hal ini bertujuan untuk melindungi konsumen dari kemungkinan efek negatif antibiotik tersebut. Dampak pelarangan penggunaan antibiotik itu membuat ayam mudah sakit. Tingkat kematian ayam tinggi. Dan produksi menurun.

Drh. Basuki Rahmat menyampaikan bahwa sebenarnya ada solusi alternatif pengganti antibiotik yang dilarang pemerintah tersebut. Peternak bisa menggunakan antibiotik herbal seperti empon-empon, umbi-umbian seperti temulawak, kunyit, temu ireng, lengkuas, kencur  dan lain-lain. (Milesia.id/Penulis : Budi Sulistyo/Editor : Fauzi Ismail)

 

 

 

 

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close