Mileseducation
Trending

Kisah Topan Kecil Nyaru Menteng yang Berani

”Dunia cukup besar untuk memenuhi kebutuhan setiap orang, namun dunia terlalu kecil untuk bisa memenuhi kerakusan manusia.” ~~ Mahatma Gandhi

MILESIA.ID – Jangan berharap tulisan ini tentang Ali Topan Anak Jalanan film terkenal era 80-an yang booming saat itu.

Mungkinkah ini kisah Topan saat kecil dan dikupas kembali, siapa tahu akan jadi film yang kembali menghentak.

Bukan!

Ini bukan kisah fiksi Ali Topan pria yang besar di jalanan karena kurang kasih sayang kedua orangtuanya hingga kisah romantis dan lika liku percintaan di dalamnya.

Ini adalah kisah nyata Topan, bayi betina orangutan yang ditemukan dalam kondisi memprihatinkan.

Topan seolah menjadi pengantar nasib tragis makhluk cerdas lain di muka bumi yang makin terancam.

Terancam oleh ‘kerakusan’ manusia, yang seolah tak pernah puas untuk mengambil lebih dan lebih untuk dirinya hingga makhluk lain menderita.

Padahal orangutan mungkin gambaran ‘manusia lain’ atau sosok ‘manusia yang berbeda’.

Orangutan memiliki keistimewaan yang mendekati kondisi manusia bahkan 97 persen DNA sangat mirip dengan manusia.

Orangutan tercatat sebagai hewan paling cerdas di muka bumi.

Michelle Desilets seorang aktivis senior perlindungan orangutan melalui wawancaranya dengan Dr Laurel A Neme di Mongabay mempermudah mengidentifikasi orangutan dengan membedakannya dengan simpanse dan gorila.

“Seekor simpanse tidak memiliki kesabaran, ”kata Desilets dalam wawancara yang dirilis pada 13 December 2010 tersebut.

Sementara gorila tidak memiliki motivasi untuk memecahkan masalah, tapi menurut Desilets orangutan mirip dengan manusia.

Orangutan memiliki dorongan untuk menentukan masalah dan bekerja hingga masalah terpecahkan.

Desilets kemudian mencontohkan ketika simpanse, gorila dan orangutan sama-sama diberi obeng.

Simpanse cenderung akan merusak obeng, gorila akan melempar, sedangkan orangutan akan menggunakan obeng tersebut untuk membuka sangkar dan kabur.

Hal ini bisa menunjukkan bagaimana orangutan memiliki kemampuan yang lebih dibanding jenis lainnya.

Dan bila orangutan terancam bukankah hal ini akan menjadi warning bagi kehidupan lainnya mengingat jasanya selama ini.

Orangutan membantu penyebaran benih dan menjaga keseimbangan ekosistem hutan karena merupakan tempat mereka untuk hidup.

Sementara hutan merupakan sumber kehidupan bagi manusia penyuplai mata air dan sumber daya alam di dalamnya semua terkait dengan kehidupan manusia.

TOPAN YANG LEMAH

Penebangan liar, penambangan hingga pembukaan lahan untuk pertanian merupakan ancaman nyata bagi orangutan.

Topan bayi betina orangutan awalnya ditemukan warga saat berumur 8 bulan dalam kondisi lemah, dehidrasi dan kurang gizi berat.

Seperti dikutip dari orangutan.or.id situs resmi Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Topan ditemukan dengan bobot 1,5 kg.

Sangat kecil dan lemah bila dibandingkan dengan bayi orangutan seharusnya di usia tersebut.

Topan diserahkan pada BOSF oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah pada 13 Otober 2017.

Topan ditemukan sendirian dalam kondisi lemah di pinggir sungai Desa Sigi, Kabupaten Pulang Pisau Kalimantan Tengah.

Melalui situ tersebut disampaikan kalau tak banyak yang mengetahui tentang masa lalu Topan, yang jelas ia telah kehilangan orangtuanya saat masih bayi dan memiliki kemungkinan hidup kecil bila bertahan hidup di alam liar.

Bayi orangutan akan belajar dari orangtuanya bagaimana mencari makan, bagaimana memanjat bagaimana bertahan hidup hingga berkembangbiak.

Ketika sendirian dan lemah saat bayi tentu ajaib bila bisa bertahan hidup tanpa campur tangan manusia.

Topan lalu dibawa ke pusat rehabilitasu BOSF di Nyaru Menteng, dia dikarantina dan dipulihkan.

ISTIMEWA/BOSF/INDRAYANA – Topan yang kini makin menunjukkan kemajuan dan ketrampilan dalam memanjat.

TOPAN YANG BERANI

Topan kini telah berumur 17 bulan dia merupakan siswa sekolah hutan dan belajar bagaimana mengembangkan ketrampilan bertahan hidup bersama rekan-rekannya.

Topan belajar bersama anggota kelompok kecil di sekolah hutan antara lain Mema, Ucup, Zahri, Bumi dan Jacqui.

Topan awalnya penyendiri dan seolah menghindari sosialisasi dengan orang lin, tapi ia pelan-pelan tumbuh menjadi pemanjat yang berani.

Dokter dan perawat di sekolah tersebut awalnya ragu apakah Topan mampu bergelantungan di cabang-cabang pohon yang tinggi, tapi ternyata yang dikhawatirkan tak terjadi.

“Meskipun Topan relatif lebih kecil dari yang lain, dia jauh lebih berani. Dia pernah mengejutkan kami dengan memanjat sepanjang jalan setinggi pohon setinggi 15 meter!”

“Kami khawatir dia akan terlalu takut untuk turun, tetapi dia turun tanpa banyak masalah sama sekali. Dia hanya pergi ke depan dan melakukannya! ” Kata Arga Sawung Kusuma dokter hewan BOSF di Nyaru Menteng.

Perawat lainnya juga me gaku bangga dengan kemajuan Topan yang kini telah menampilkan perilaku liar, perilaku ini dibutuhkan saat nanti ia dilepas di hutan bisa beradaptasi dengan baik di lingkungan hutan yang liar.

Harapan para kru di tim BOSF, Topan nantinya akan menjadi orangutan betina yang hebat dan bisa bertahan hidup bahkan berkembang biak dengan baik di hutan.

BOSF

BOSF atau Yayasan BOS telah menyelamatkan lebih dari 1200 orangutan di Kalimantan Tengah dan saat ini merawat hampir 450 orangutan di Nyaru Menteng.

Orangutan mengungsi dari habitat alami akibat prambahan hutan yang dilakukan manusia.

Sering mereka ‘dipaksa’ keadaan lantaran habitat yang rusak mereka harus mencari makan dengan menempuh dengan jarak yang jauh.

Tak jarang mereka masuk ke kebun kelapa sawit atau perkebunan masyarakat karena tak memiliki pilihan lain.

Inilah menjadi awal bencana persinggungan dengan manusia dan menciptakan konflik dan mengancam kehidupan orangutan.

BOSF bersama BKSDA menyelamatkan orangutan dari situasi ini, bila sehat langsung segera dibebaskan dan dilakukan translokasi yakni dengan membawa mereka ke daerah-daerah aman, habitat alami yang memungkinkan mereka untuk berkembang biak.

Sedangkan saat orangutan ditemukan dalam kondisi cedera atau sakit maka akan dilakukan layanan kesehatan hingga pulih agar bisa dilakukan translokasi.

Yayasan BOS mengelola dua program reintroduksi yakni Nyaru Menteng di Kalimantan Tengah dan Samboja Lestari di Kalimantan Timur.

Kedua program ini fokus pada kegiatan rehabilitasi dan reintroduksi sesuai dengan pedoman dan kriteria nasional dan internasional (IUCN).

Ketika bayi orangutan diambil dari induknya, ia kehilangan waktu seumur hidup untuk belajar sejak dini.

Oleh karena itu, tujuan rehabilitasi adalah untuk melengkapi orangutan yatim dengan keterampilan yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup setelah mereka cukup umur untuk diperkenalkan kembali ke hutan.

Setiap orangutan yang tiba di salah satu program reintroduksi kami menjalani prosedur karantina rutin dan pemeriksaan kesehatan (fisik dan psikologis). Ini sangat penting karena banyak orangutan yang diselamatkan telah terpapar penyakit manusia yang biasanya tidak mereka temui di alam liar.

Beruntunglah ada manusia lain yang bersedia memperbaiki ulah manusia-manusia ‘rakus’ yang tega mengambil lebih sumber daya alam bahkan merusaknya.

Semoga orangutan makin lestari, ini kiprah mereka manusia-manusia sejati yang membantu makhluk lain yang membutuhkan, kapan kiprahmu?  (Milesia.id/Rimawan Prasetiyo)

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close