Mileslitera
Trending

Catatan Kecil untuk ‘GM’

Refleksi 77 tahun Goenawan Mohamad

Seperti sebuah bel yang riang,

kabar itu datang ke ruang

telah kuketok kawat,

“Bapak, saya agak tiba terlambat.”

 

Maka aku berbisik hati-hati

kepada malaikat yang tiba pagi,

“Hari ini aku

belum ingin mati.”

 

“Sebab anakku

akan terbang kemari

dari rumahnya yang jauh

di sebuah negeri yang teduh.”

 

Lalu kutunjukkan potretmu: 1985

ketika kau senyum

pada stang sepeda

di depan rumpun azalea.

 

Dan malaikat itu tertawa.

Adakah yang lebih sakral, anakku,

pada potret-potret lama

kecuali tempat yang kita kenal

saat-saat yang tak pernah baka?

Milesia.id – Sajak lirih, terasa getir jua haru. Seorang bapak yang meminta jeda kepada Sang Maut, sekejap saja, sebelum kematiannya tiba.

Ia bukannya takut kepada maut, namun hanya ingin bertemu dengan anaknya, yang berada jauh pada sebuah negeri nan teduh.

Ditunjukkannya foto anaknya kepada Sang Maut: Ketika kau senyum / pada stang sepeda / di depan rumpun azalea / Dan malaikat itu tertawa.

Bapak itu memang tak bisa menunda kematiannya, malaikat maut tetap akan mencabut nyawa sesuai waktunya.

Lalu kenapa Sang Maut bisa tertawa? mungkin saja ia takjub, melihat usaha keras si bapak menunda kematiannya.

Nyatanya, justru potret lama sang anaklah yang mampu membuat sesuatu menjadi sakral. Sesuatu yang sakral juga disucikan, akan mampu mengabadikan momen yang telah lalu.

IST – GM memilih model tulisan esai karena ingin mengajak orang berpikir.

Iya, sajak berjudul ‘Buat H.G dan P.J’ itu ditulis GM, sebutan akrab Goenawan Mohamad, tahun 1990 lalu. Sekitar 28 tahun berselang, sajak itu tetap menyimpan impresi nan sama.

Memang benar, sebuah karya- entah potret atau tulisan, akan membekukan sang waktu, menjadi abadi.

Hal itu pun diamini Pramoedya Ananta Toer, melalui sosok Ontosoroh ia berujar: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Kini di tahun 2018, tepat hari Minggu 29 Juli, Goenawan Mohamad (GM) berusia 77 tahun. Umur yang cukup panjang, walau belum sepanjang Pram yang wafat diusia 81 tahun.

Tulisan ini mencoba merefleksi perjalanan setengah abad lebih ‘Sang Maestro’ berkarya, yang dari tangan dinginnya lahirlah TEMPO, lengkap dengan ‘Catatan Pinggir’-nya nan legendaris.

Berfokus pada kisah dan ‘karya-karya’ GM semata, ‘catatan kecil’ ini tidak sedang hendak memaparkan kepada siapa dan apa beliau ‘berafiliasi’.

Jalan Penyair

Nama lengkap pria bermata cekung itu Goenawan Soesatyo Mohamad, orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan Goenawan Mohamad, atau disingkat GM, bisa pula ‘Goen’.

Lahir di sebuah dusun nelayan, di daerah Karangasem, Batang, Jawa Tengah pada 29 Juli 1941.

Kegemaran GM kala muda adalah mendengarkan siaran puisi di RRI, hobinya itu dilakoninya sejak kelas 6 SD. Kemudian kakaknya yang dokter, Kartono Mohamad, sengaja berlangganan majalah Kisah asuhan H.B Jassin.

IST – Dalam Caping, GM sering mengutip sejumlah buku. Pengutipan ini bukan untuk gagah-gagahan. Namun karena waktu Caping awal dibuat pada zaman Soeharto tidak banyak buku bagus masuk ke Indonesia.

Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson.

Pendidikan formal ditempuhnya mulai dari SR (Sekolah Rakyat) di Batang, kemudian SMP sampai SMA dihabiskannya di Pekalongan. GM sempat mampir di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, walaupun tidak selesai.

Goen adalah sosok intelektual muda yang selalu gelisah menjelang keruntuhan Orde Lama. Ia pun turut dalam perumusan Manifes Kebudayaan yang pada zaman kekuasaan Soekarno sering diejek sebagai “Manikebu”.

Manifesto Kebudayaan adalah konsep kebudayaan nasional yang dikeluarkan oleh para penyair dan pengarang pada 17 Agustus 1963.

Pencetusnya Wiratmo Soekito, dan ditandatangani antara lain oleh Arief Budiman, Taufik Ismail dan Goenawan Mohamad.

Manifestasi ini dilakukan guna melawan dominasi dan tekanan dari sayap kiri, dengan ideologi kesenian dan kesusastraan realisme sosial yang dipraktekkan oleh seniman-seniman yang terhimpun dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

Menjelajah Dunia Jurnalistik

Karier Jurnalistik Goen terbilang panjang dan berliku. Mengutip laman Wikipedia.com, GM menjadi redaktur Harian KAMI pada medio 1969-1970, kemudian menjadi redaktur Majalah Horison (1969-1974),

GM juga sempat menjadi pemimpin redaksi Majalah Ekspres (1970-1971) dan pemimpin redaksi Majalah Swasembada (1985).

IST – Majalah Horison tahun 1968.

Saat usianya menginjak 30 tahun, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan majalah Mingguan TEMPO pada tahun 1971, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time. Goen menjadi Pemimpin Redaksi-nya, disana ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di Indonesia.

Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah, sehingga dihentikan penerbitannya pada 1994.

Setelah pembredelan Tempo pada 1994, Goenawan Mohammad mendukung inisiatif para jurnalis muda idealis yang mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), asosiasi  jurnalis independen pertama di Indonesia

Pria dengan tatapan ‘dalam’ ini juga turut mendirikan Institusi Studi Arus Informasi (ISAI) sebuah organisasi yang dibentuk bersama rekan-rekan dari Tempo dan Aliansi Jurnalis Independen, serta sejumlah cendekiawan yang memperjuangkan kebebasan ekspresi.

Secara sembunyi-sembunyi, antara lain di Jalan Utan Kayu 68H, ISAI menerbitkan serangkaian media dan buku perlawanan terhadap Orde Baru. Sebab itu di Utan Kayu 68H bertemu banyak elemen: aktivis pro-demokrasi, seniman, dan cendekiawan, yang bekerja bahu membahu dalam perlawanan itu.

Dari ikatan inilah lahir Teater Utan Kayu, Radio 68H, Galeri Lontar, Kedai Tempo, Jaringan Islam Liberal, dan Sekolah Jurnalisme Penyiaran, yang meskipun tak tergabung dalam satu badan, bersama-sama disebut “Komunitas Utan Kayu”.

Semuanya meneruskan cita-cita yang tumbuh dalam perlawanan terhadap pemberangusan ekspresi. Belakangan GM juga mendirikan Komunitas Salihara di Pasar Minggu.

GM menjadi Pemimpin Redaksi TEMPO selama 2 periode, yaitu periode pertama dari tahun 1971 hingga 1992 dan setelah pembredelan pada tahun 1994, Tempo terbit kembali pada tahun 1998. GM memimpin kembali hanya setahun dan menyerahkannya kepada Bambang Harymurti.

IST – Majalah Tempo, edisi-edisi perdana tahun 1971.

Ketika Majalah Tempo kembali terbit setelah Soeharto diturunkan pada tahun 1998, berbagai perubahan dilakukan seperti jumlah halaman namun tetap mempertahankan mutunya. Tidak lama kemudian, Tempo memperluas usahanya dengan menerbitkan surat kabar harian: Koran Tempo.

Namun setelah terbit beberapa tahun, Koran Tempo menuai masalah. Pertengahan Mei 2004, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum Goenawan Mohammad dan Koran Tempo untuk meminta maaf kepada Tommy Winata.

Pernyataan GM pada tanggal 12-13 Maret 2003 dinilai telah melakukan pencemaran nama baik bos Artha Graha itu.

Karya-karya GM

Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan berbagai karya yang sudah diterbitkan, diantaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang juga diterjemahkan dalam bahasa Belanda, Inggris, Jepang dan Prancis.

Ia juga menulis kumpulan sajak: Misalkan Kita di Sarajevo (1998), dan Sajak-Sajak Lengkap 1961-2001 (2001). Terjemahan sajak-sajak pilihannya ke dalam bahasa Inggris, oleh Laksmi Pamuntjak, terbit dengan judul Goenawan Mohamad: Selected Poems (2004).

Sebagian esainya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980). Tetapi lebih dari itu, tulisannya yang paling terkenal dan populer adalah Catatan Pinggir (Caping), sebuah artikel pendek yang dimuat secara mingguan di halaman paling belakang Majalah Tempo.

Konsep dari ‘Caping’ adalah sekadar sebuah komentar ataupun kritik terhadap batang tubuh yang utama. Artinya, Caping mengambil posisi di tepi, bukan posisi sentral.

Sejak kemunculannya pada akhir tahun 1970-an, Catatan Pinggir telah menjadi ekspresi oposisi terhadap pemikiran yang picik, fanatik, dan kolot.

Kisah ‘Catatan Pinggir’

Berlin, sedang musim dingin kala itu. Orang-orang jarang ada yang keluar. Mereka lebih memilih berdiam di hotel atau di rumah yang nyaman.

Goenawan Mohamad menghadapi dilema. Hotel tempatnya menginap di Jerman itu tidak dilengkapi fasilitas internet. Padahal ‘Catatan Pinggir’ harus segera disetor untuk diterbitkan.

IST – Catatan Pinggir terjemahan dari kata marginalia, yaitu catatan, coretan, dan komentar yang dibuat oleh pembaca di margin buku. GM mengaku bukunya selalu jorok, begitu penuh coretan dan komentar.

“Jika nekat ingin mengirim Caping (Catatan Pinggir) lewat email, saya harus menempuh jarak 3 km dan melawan dingin. Akhirnya saya tulis Caping dengan SMS. Capek sekali saya.”

Begitu curhat GM dalam acara ‘Menulis Opini Bersama Goenawan Mohamad’ di Universitas Paramadina, tahun 2010 lalu (mengutip laman detiknews).

Mengapa ia menulis Caping? Dengan rendah hati, GM mengaku, awalnya ia menulis sekadar untuk mengisi halaman kosong majalah Tempo.

Namun ternyata, tulisan itu mendapat respon positif dari pembaca. Selanjutnya esai khas GM itu pun diberi nama Caping.

Catatan Pinggir, menurut GM, adalah terjemahan dari kata marginalia, yaitu catatan, coretan, dan komentar yang dibuat oleh pembaca di margin buku. GM mengaku bukunya selalu jorok, begitu penuh coretan dan komentar.

“Saya suka mengomentari apa yang saya baca. Sebenarnya saya ambil Caping dari situ,” cerita GM.

Menurut GM, ia sengaja memilih model tulisan esai karena ingin mengajak orang untuk berpikir.

Tulisan esai sendiri diperkenalkan oleh Michel de Montagne pada abad 15. Montagne berpendapat bahwa sebenarnya yang ‘kita ketahui’ tidaklah banyak bahkan ‘tidak ada’. Sehingga ia mempergunakan esai sebagai percobaan untuk mengajak orang berpikir serta mendapatkan ‘kejernihan’ dari kekalutan masalah.

Dalam Caping, GM sering mengutip sejumlah buku. Pengutipan ini bukan untuk gagah-gagahan. Namun karena saat awal dibuat, Caping berada di era Soeharto. Di zaman itu tidak banyak buku bagus masuk ke Indonesia.

Saat itu buku yang dijual di toko-toko buku kebanyakan buku-buku ringan seperti buku rajah tangan. “Saat itu tak banyak buku bermutu. Saya ingin mengajak orang untuk mencari buku yang bagus. Jangan hanya membaca buku soal rajah tangan saja,” kisahnya.

Lalu bagaimana GM bisa rutin menulis Caping yang tergolong esai ‘berat’ itu? GM mengaku ia bisa menulis setiap minggu karena memang sudah kewajibannya untuk mengisi Caping. “Ya karena disuruh Tempo. Selama saya bisa pasti saya lakukan,” terangnya.

Namun Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Toriq Hadad memberi kesaksian lain. Bagi Toriq, pengakuan GM hanyalah wujud kerendah hatiannya. Sebenarnya Caping merupakan bagian hidup GM. Penyair dan esais itu akan selalu gelisah bila tidak membuat tulisan.

IST – ‘Surat Terbuka Goenawan Mohamad untuk Pramoedya Ananta Toer’ yang dimuat pada Majalah Tempo 3-9 April 2000, dan dimuat ulang dalam buku Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (2004)

“Dia itu selalu gelisah. Bahkan setelah nulis sekalipun dia tetap gelisah. Pernah Caping yang sudah diserahkan direvisi hingga 9 kali. Kemana pun dia pergi, pasti akan tetap menulis,” ujar Toriq.

Sejarah (itu) Origami

Dus, kita mungkin masih mengingat ‘Surat Terbuka Goenawan Mohamad untuk Pramoedya Ananta Toer’ yang dimuat pada Majalah Tempo 3-9 April 2000, dan dimuat ulang dalam buku Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (2004).

Surat terbuka GM itu adalah apresiasi dari idea rekonsiliasi yang dicetuskan mendiang Presiden Gus Dur bagi korban peristiwa tahun 1965. Bagi Goen memaafkan adalah sebuah kebijaksanaan. Sama halnya yang dilakukan mendiang Nelson Mandela.

Tapi bagi Pram, meminta maaf dan memaafkan bukanlah sebatas basa-basi atau formalitas belaka. Bagi Pram, penegakan hukum yang adil adalah satu-satunya jawaban.

Sejarah bisa saja kabur, apalagi jika mengandalkan tulisan dari sebatas ingatan. Seperti ujaran GM: Seorang penulis sejarah yang baik tahu bahwa ia seorang penggubah origami.

Ia membangun sesuatu, sebuah struktur, dari bahan-bahan yang gampang melayang. Sebab bahan penyusunan sejarah sesungguhnya bagaikan kertas: ingatan.

Ingatan tak pernah solid dan stabil; ingatan dengan mudah melayang tertiup. Seperti kertas, ketika ia menampakkan diri di depan kita, sebenarnya dalam proses berubah.

Kita yang menemukannya juga berubah: dengan kepala yang tak lagi pusing atau menatapnya dengan mata yang tak lagi lelah; kertas itu sendiri sedang jadi lecek atau sumbing, lembap atau menguning.

Origami, di situ, mengandung dan mengundang perubahan. Berbeda dengan kirigami, ia dilipat tanpa direkat ketat dengan lem atau dijahit mati. Ia bernilai karena ia sebuah transformasi dari bahan tipis dan rata jadi sebuah bentuk yang kita bayangkan sebagai, misalnya, burung undan.

Dan pada saat yang sama, ia mudah diurai kembali. Begitu juga penulisan sejarah: ia bernilai karena ia mengandung pengakuan, masa lalu sebenarnya tak bisa diberi bentuk yang sudah dilipat mati.

“Selamat Ulang Tahun ke-77 GM…”

(Milesia.id/Kelik Novidwyanto)

 

Tags

Related Articles

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close