Milestech
Trending

Sekolah Panjat Merah Putih

Cetak Volunteer Kerja Ketinggian nan Handal

Bak laba-laba, lengan dan jemari ramping namun kokok Alain Robert mencengkeram celah sempit dinding Burj Khalifa, gedung tertinggi di dunia yang menjulang 828 meter, di jantung kota Dubai. Tubuhnya bergerak dan mengayun ringan, stabil tanpa menyisakan kecemasan sedikitpun di gurat wajahnya. “Kegilaan” Alain Robert bertebaran di situs-situs panjat tebing dunia, juga youtube.

Doc. Robert Antonius/Milesia.id

Ya, dunia panjat memanjat dalam tataran ekstrem memang susah dilepaskan dari sosok Alain Robert (56), pemanjat dinding dan pendaki kawakan yang sudah memanjat puluhan gedung-gedung tertinggi di dunia, dengan peralatan yang nyaris seadanya.

Bergiat di olahraga panjat tebing tentu tak harus mengekor jejak “Spiderman Perancis” yang eksentrik itu.  Keahlian memanjat bahkan bisa dimanfaatkan untuk beragam kegiatan yang bermanfaat.

Sekolah Panjat Merah Putih/milesia.id

Itulah yang melatari Sekolah Panjat Tebing Merah Putih kembali membuka kelas panjat kategori dasar dan vertical rescue. Akan dihelat di Tebing Citatah 125, pada Jumat – Ahad, 31 Agustus hingga 2 September mendatang, pendaftaran untuk peserta sekolah panjat masih dibuka hingga saat ini.

Didukung oleh Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Vertical Rescue Indonesia (VRI), dan Indonesia Climbing Expedition, merupakan ikhtiar untuk mewujudkan “Gerakan Satu Juta Pemanjat Tebing untuk Indonesia”.

Vertical Rescue Indonesia

Di Indonesia, sekolah panjat yang mumpuni serta terkoneksi dengan kerja-kerja kerelawanan memang masih terbilang langka. Satu dari yang sedikit itu, adalah kiprah Vertical Rescue Indonesia (VRI). Organisasi nirlaba menghimpun individu-individu dengan keterampilan memanjat di ketinggian dengan jiwa sosial yang kental.

Eksis sejak tahun 2000 di Bandung, misinya adalah mencetak vertical rescuer andal di seluruh Indonesia. “Kami punya misi untuk mempersiapkan potensi vertical rescuer di seluruh NKRI” papar Tedi Ixdiana, pegiat VRI, kepada Milesia, melalui pesan singkat beberapa waktu lalu.

Twitt. Andi F Noya dan Tedi Ixdiana/Milesia.id

Tedi, pemanjat tebing senior itu, bukan sosok asing di kalangan panjat tebing Indonesia. Sebagai ketua Komunitas Panjat Tebing Merah Putih, Tedi dan para relawan lainnya aktif mensosialisasikan misinya ke berbagai forum. Diantaranya dalam “Ekspedisi 1.000 Jembatan Gantung”, yang didukung ribuan alumni dari berbagai daerah di tanah air. Ketika tulisan ini dipublikasikan (26/7), Tedi masih di Sulawesi terkait kegiatan VRI. “Tunggu kiriman foto-fotonya, yah,” papar Tedi kepada Milesia yang menghubunginya kemarin (25/7).

Ekspedisi 1.000 Jembatan untuk Indonesia merupakan salah satu kegiatan VRI yang bergiat dengan membangun jembatan gantung darurat di daerah-daerah terpencil. Jembatan dibangun menggunakan teknik-teknik dan peralatan yang lazim dalam vertical rescue. Mengandalkan kabel baja (sling) dan minus material semen. Menariknya, material dan pengerjaan jembatan tanpa menggunakan bantuan dana yang bersumber dari APBD/APBN “Kami bergerak tidak dengan dukungan dana APBN/APBD, melainkan berkat jaringan silaturahmi,” imbuh Tedi.

Kisah Jembatan ke 55

Di tepi sungai yang berair kecoklatan dan berarus cukup deras, lusinan bocah-bocah SD bertelanjang dada itu menghela batang pisang, mendorongya ke tengah, lalu..holaa..! Beramai-ramai menghanyutkan diri menuju seberang. Dari kejauhan, tubuh mungil mereka mengapung, timbul tenggelam. Sementara beberapa orang tua yang mengawasi mereka berdiri di tepi sungai dengan ekspresi wajah antara cemas dan merasa tak punya pilihan.

Main di sungai? Lebih dari itu! Mereka adalah bocah-bocah SDN 193 Jenna, Sinjai, Sulawesi Selatan. Seperti bisa disimak pada video yang viral beberapa waktu lalu, anak-anak Sekolah Dasar ini harus berjibaku melawan maut demi sampai di sekolah mereka.

Ilustrasi. doc. TNI-AD/Milesia.id

Meniti jembatan rusak, menyeberangi arus deras dengan sampan dengan muatan berlebih, sama berbahayanya. Tapi, bocah-bocah SD  menghanyutkan diri di sungai berarus deras demi sampai sekolah? Sungguh sangat berbahaya.

Alih-alih hanya berkomentar atau mencela, Juni lalu, relawan Vertical Rescue Indonesia memilih aksi nyata. Melanjutkan Ekspedisi 1000 Jembatan untuk Indonesia, mereka menginisiasi pembangunan jembatan gantung dengan keahlian dan relasi luas yang mereka punya.

VRI memutuskan membangun jembatan gantung yang ke-55 di Sinjai, Sulawesi Selatan.  Berlokasi di Desa Sukamaju, Kec Tellu Limpoe, Kab Sinjai. Pembuatan pondasi dead-man dilaksanakan awal Juni lalu.

Dibantu secara gotong-royong oleh anggota Kodim 1424 Sinjai dan swadaya masyarakat sekitar, jembatan sepanjang 65 meter yang melintasi sungai, sukses tersambung, Juli ini. Alhamdulillah, semoga bocah-bocah SD pemberani itu, tak perlu lagi menyabung nyawa untuk menuntut ilmu.

 (Milesia.id/Prio Penangsang)

 

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close