DINAMIKAMileslitera
Trending

Mimpi Membumikan ‘Bumi Manusia’, Sanggupkah?

Menafsirkan Karya ‘Pramoedya Ananta Toer’ dalam Sebuah Film

“Kita kalah, Ma,” bisikku. 

“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Milesia.id – Menyayat dan lirih. Dialog Minke dengan Nyai Ontosoroh itu adalah penutup novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer.

Terbayang wajah masai Minke meratapi kepergian kekasihnya, Annelies. Hatinya terkoyak, kepedihannya berlarat-larat.

Cinta itu indah, Minke, juga kebinasaan yang mungkin membuntutinya. Orang harus berani menghadapi akibatnya,” terngiang nasehat Jean Marais.

Sungguh kehilangan yang menyakitkan sekaligus membanggakan: menyakitkan karena harus kehilangan istri yang sangat dicintainya, membanggakan karena toh ia telah berjuang sekuat tenaga mempertahankan Annelies.

Bumi Manusia, novel yang sempat dicekal medio 80-an, bergerilya di ruang-ruang bawah tanah para aktivis: tiarap, lalu ‘bangkit’ pasca reformasi 1998.

Belakangan novel ini kembali ramai diperbincangkan, entah di warung-warung kopi, angkringan atawa media sosial: menjadi viral. Anak-anak muda yang penasaran rela menyambangi kios-kios buku untuk mengetahui seperti apa sih Bumi Manusia?

Pro Kontra Pelakon ‘Minke’

Riuhnya perbincangan tentang Bumi Manusia tak lepas dari hasrat Hanung Bramantyo untuk memfilmkan novel fenomenal itu.

Pada konferensi pers 24 Mei 2018 yang lalu, diumumkan bahwa Bumi Manusia akan difilmkan Falcon Pictures dengan Hanung Bramantyo sebagai sutradaranya.

IST/Dok.Instagram – Hanung Bramantyo diapit Minke, Annelies dan Nyai Ontosoroh versinya.

Sosok Minke akan diperankan oleh Iqbaal Ramadhan; istri Minke, Annelies Mellema diperankan Mawar De Jongh; sedang guru sekaligus Ibu mertua Minke, Nyai Ontosoroh akan dimainkan oleh Ine Febriyanti.

Pilihan Iqbaal Ramadhan untuk memerankan sosok Minke-lah yang membuat frasa “Bumi Manusia” menjadi trending di Twitter.

Mayoritas komentar yang mengemuka bernada nyinyir dan menyangsikan kemampuan pelakon Dilan 1990 itu. Belakangan, untuk menyindir kualitas akting Iqbaal, muncul meme bertuliskan, “Dia Adalah Minkeku, 1920”.

“Lucu, kenapa peran Minke diserahkan ke Iqbal, anak kemarin sore itu?” gerutu Agus (37), penggemar berat karya-karya Pram. “Sosok pejuang pers legendaris sehebat itu cuma diperankan abege bau kencur? Sungguh tak rela!” imbuhnya menggebu.

Di laman twitter, tak kurang sosiolog Prof. Ariel Heryanto dari Monash University, Australia turut berkomentar. “Karena ini film komersial, pemilihan (Iqbaal) itu tidak lepas dari pertimbangan komersial. Beda/berlawanan dari penulisan novelnya. Saya harus belajar bersiap kecewa.”

Bahkan muncul pula petisi ‘Tolak Iqbal Ramadhan (Dilan) Memerankan Minke dalam Film Bumi Manusia’. Petisi itu digawangi oleh akun Ady Gilang yang menargetkan 500 tanda tangan.

Bersamaan dengan ungkapan-ungkapan ketidaksukaan, nyatanya ada juga suara dukungan. Mengutip dari laman hotdetik.com, petisi dukungan untuk pemuda 18 tahun itu muncul atas inisiasi Surya Surya.

IST – Iqbaal dianggap terlalu ‘ngepop’ untuk memerankan sosok Minke alias Tirto Adhi Suryo, pahlawan pers kebanggaan Indonesia yang disegani Belanda.

Petisi yang dibuat pada 30 Mei 2018 itu menargetkan 5.000 tanda tangan untuk mendukung Iqbaal.

“Saya mendukung penuh iqbaal dan percaya iqbaal mampu memberikan yang terbaik untuk perannya sebagai minke,” tulis Dita Dwi Lestari.

Bumi Manusia dan Krisis Literasi

Disela perdebatan pantas tidaknya Iqbaal memerankan sosok Minke, ternyata ada hal yang lebih penting: banyak generasi kiwari yang tidak tahu novel Bumi Manusia, apalagi pengarangnya, Pramoedya Ananta Toer.

Sebuah akun di media sosial menulis dengan lugu sekaligus ‘percaya diri’: “Lagian Pramoedya itu siapa sih? Cuman penulis baru terkenal kayaknya.. masih untung dijadiin film, dan si Iqbal mau meranin karakternya.. biar laku bukunya.” 

Entah lugu atau berpura-pura, ‘drama’ ketidaktahuan remaja ihwal Pram dan Bumi Manusia, sesungguhnya bukanlah hal yang mengherankan. Merujuk hasil studi Most Littered Nation In The World 2016, Indonesia menempati urutan 60 dari 61 negara dengan minat membaca.

Posisi Indonesia persis dibawah Thailand (59) dan diatas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.

Artinya, indikator sukses tumbuhnya minat membaca tak selalu dilihat dari seberapa banyak perpustakaan, buku dan ketersediaan mobil perpustakaan keliling tapi dari ‘pembiasaan’ sejak dini. Anak-anak perlu dikondisikan untuk gemar membaca serta mencintai buku.

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Anak-anak perlu diajak mencintai buku sejak dini jua menghargai karya-karya penulis besar Indonesia semacam Pram.

Lalu, seperti apa sih sebenarnya novel Bumi Manusia ?

Asing ditelinga generasi ‘milenial’, Bumi Manusia adalah buku pertama dari Tetralogi Buru (selain: Anak Semua Bangsa, Jejak langkah dan Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer.

Buku ini ditulis Pram kala mendekam di Pulau Buru sebagai tahanan politik. Sebelum ditulis pada tahun 1975, ia ‘mendongengkan’ kisah Minke itu sejak tahun 1973 kepada teman-temannya sesama tapol.

Bumi Manusia mengambil latar belakang Hindia Belanda di awal abad 20. Dikisahkan, seorang priyayi bernama Minke (lahir: 31 Agustus 1880), menyemai kegelisahannya untuk keluar dari jerat tradisi yang menurutnya membelenggu.

Minke juga ‘hadir’ sebagai sosok pribumi yang berani melawan dominasi budaya Eropa kala itu. Geliat perjuangan Minke, yang sejatinya adalah Tirto Adhi Suryo (perintis sekaligus tokoh pers Indonesia) dilakukannya melalui tulisan.

Di novelnya, Minke dikisahkan sebagai siswa Hogare Burgerlijke School atau HBS, sekolah setingkat SMP dan SMA dengan masa pendidikan lima tahun. Sebelum menempuh HBS, golongan ningrat Hindia Belanda mendapat pendidikan dasar selama tujuh tahun di ELS (Europesche Lager School).

Minke (aslinya sebutan ‘monkey’ dari gurunya yang Belanda) mengawali ‘jejak langkahnya’ saat berkenalan dengan Sanikem, wanita pribumi gundik seorang Belanda.

Setelah menikah dengan Herman Mellema (pemilik Perusahaan Boerderij Buitenzorg di Wonokromo), Sanikem kemudian lebih dikenal sebagai Nyai Ontoroh. Ia dikarunia dua orang anak, Robert Mellema dan Annelies Mellema.

Keluarga ini memiliki lahan pertanian seluas 180 hektar, yang dikelola Nyai Ontosoroh dan anak perempuannya Annelies. Nyai Ontosoroh inilah yang kemudian banyak mempengaruhi pemikiran-pemikiran intelektual Minke.

Di masa itu, sebutan ‘Nyai’ semacam Sanikem identik dengan ‘gundik’ atau wanita tak bermoral. Namun Nyai Ontosoroh membalik stigma yang melekat itu dengan kecerdasan sekaligus kebijaksanaannya.

IST – Pramoedya Ananta Toer, penulis besar yang asing ditelinga generasi milenial.

Stigma-stigma yang begitu kuat di masa itu serta statusnya sebagai seorang priyayi yang terpelajar, awalnya membuat Minke gamang. Antara kekagumannya akan sosok Ontosoroh yang kharismatik sekaligus ketakutannya akan pandangan masyarakat.

Pada akhirnya satu wejangan dari Jean Marais (pelukis asal Perancis, karib Minke) mampu membukakan matanya;  “Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan” 

Pram dan Karya-karyanya, Dicekal Sampai Difilmkan

Setelah diterbitkan oleh Hasta Mitra pada tahun 1980, novel Bumi Manusia dilarang beredar setahun kemudian. Pada tanggal 29 Mei 1981 jaksa Agung mengeluarkan SK-052/JA/5/1981 tentang pelarangan Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Buku ini dilarang beredar karena dianggap menyebarluaskan paham Marxisme-Leninisme.

Dua buku setelahnya yang menjadi bagian dari Tetralogi Buru juga mendapat label yang sama. Tidak sampai setahun setelah terbit, ‘anak-anak ruhani’ Pram ini dicekal. Walaupun begitu, buku ini sempat sukses dengan 10 kali cetak ulang dalam setahun pada 1980-1981.

Usai Reformasi 1998 karya-karya Pram bisa dengan mudah ditemukan dan dijual bebas di toko buku, meski larangannya tak pernah dicabut.

Pada awal karirnya sebagai penulis, Pram bekerja sebagai penerjemah yang tekun dan produktif. Ia berusaha memperkenalkan karya-karya sastra dunia, terutama sejumlah novel yang mempengaruhinya, kepada pembaca di tanah air.

Karya terjemahan Pram antara lain Tikus dan Manusia (John Steinbeck), Ibunda (Maxim Gorki), dan Manusia Sejati (Boris Polewoi).

Salah seorang sastrawan yang kuat mempengaruhi karya-karya Pram adalah Leo Tolstoy (1828–1910). Pram menerjemahkan dua novel pengarang Rusia itu: Kembali pada Cinta Kasihmu dan Perjalanan Ziarah yang Aneh.

Tulisan-tulisan Pram tidak banyak mengeksplorasi ‘keindahan bahasa’. Baginya, menulis adalah sebuah tugas kemanusiaan. Ia enggan menulis dengan kata-kata yang kelewat puitik.

Sebagai seorang penulis, Pram menganggap keindahan terletak pada ‘pesan tulisan’ sebagai alat perjuangan, entah untuk tujuan kemanusiaan maupun melawan penindasan. Itulah sebabnya, tulisan Pram kerap terkesan kelam dan dingin.

Dus, disela polemik kiwari tentang usaha Hanung Bramantyo untuk memfilmkan novel Bumi Manusia, sejatinya beberapakali karya fenomenal itu diadaptasi dalam bentuk teatrikal.

Bumi Manusia dengan tokoh utamanya Nyai Ontosoroh dipentaskan dalam bentuk teater pada bulan Desember 2006 di 12 kota seluruh Nusantara. Naskah adaptasi ditulis oleh Faiza Marzoeki dan disesuaikan dengan budaya setempat di kota-kota tersebut.

IST/Dok.Instagram – Sosok Minke dan Annelies dalam ‘Bunga Penutup Abad’, dimainkan apik oleh Reza Rahardian dan Chelsea Islan.

Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa juga pernah ‘sekaligus’ diadaptasi dalam bentuk teatrikal dengan judul ‘Bunga Penutup Abad. Digelar pada tanggal 25 dan 26 Agustus 2016, bertempat di Gedung kesenian Jakarta, Reza Rahadian sukses memvisualkan sosok Minke yang idealis sekaligus romantik.

Bunga Penutup Abad juga didukung oleh artis-artis kawakan seperti Lukman Sardi sebagai Jean Marais, Chelsea Islan sebagai Annelies, Happy Salma sebagai Nyai Ontosoroh, dan Sabia Arifin sebagai May.

Selain dipentaskan secara teatrik, Bumi Manusia sebenarnya beberapakali pernah akan difilmkan.

Mengutip dari Wikipedia.com, sejak pertengahan 2004 proses pembuatannya sudah mulai dirintis oleh Hatoek Soebroto, seorang produser film, bersama PT Elang Perkasa. Mereka  telah menandatangani kontrak pembuatan film itu dengan pihak keluarga Pramoedya, pada 3 September 2004.

Elang Perkasa bekerja sama dengan perusahaan film milik Deddy Mizwar, Citra Sinema dalam proses pembuatannya. Rencananya skenario akan digarap oleh Jujuk Prananto, penulis skenario film Ada Apa Dengan Cinta, serta disutradarai oleh Garin Nugroho.

Sempat tarik-ulur selama 10 tahunan, belakangan diumumkan bahwa Bumi Manusia akan difilmkan oleh Falcon Pictures dengan Hanung Bramantyo sebagai sutradaranya.

Mengutip laman pikiran-rakyat.com, putri ketiga Pramoedya Ananta Toer, Astuti Ananta Toer berharap film ini dapat diserap dunia luar. Menurut Astuti, karya-karya Pram dibuat berdasarkan catatan sejarah, statistik, dan riset mendalam.

“Saya berharap, mungkin juga Pram, setelah menonton film ini penonton akan diberikan kekuatan agar lebih berani, mencintai keadilan dan kebenaran, berpihak kepada yang benar, berpihak kepada yang adil, dan mencintai keindahan,” tutur Astuti.

Sementara itu Hanung Bramantyo mengatakan, dia seperti mendapat beban berat untuk menyutradarai Bumi Manusia. Mengambil lokasi syuting di desa Gamplong, Sleman Yogyakarta, Hanung dipaksa menafsirkan novel fenomenal itu sebaik mungkin.

“Saya harus bisa menyuguhkan film Bumi Manusia ini agar bisa diterima semua kalangan. Bagi saya ini tidak mudah,” ungkap Hanung.

Cinta yang Tak Pernah Surut

Bumi Manusia adalah ‘ilustrasi’ nyata kecintaan Pram kepada Indonesia. Cinta yang tak pernah surut inilah yang membuatnya bertahan. Pria kelahiran Blora, Jawa Tengah 1925 itu tak pernah merasa jerih apalagi berputus-asa. Pram terus menulis, bahkan suatu waktu ketika tak ada kertas Pram tetap menulis diatas kertas bekas kantung semen.

Ia bergeming, tak peduli digilas tiran, diasingkan, bahkan ketika karya-karyanya dibredel dan dihanguskan.

Buah dari dedikasi pria pecinta ‘Djarum Super’ itu adalah 50-an karya fenomenal yang telah diterjemahkan lebih dari 41 bahasa asing. Bahkan di saat-saat terakhirnya, Pram masih terus menulis.

IST/Dok.Instagram – Biarlah ‘Bumi Manusia’ tetap dalam buku, menjadi roman sejarah yang magis. Itu saja cukup.

Ia berhasrat menyelesaikan Ensiklopedi Citra Kawasan Indonesia yang baru tergarap sebagian, kendati ‘sebagian’ di sini artinya bahan-bahan itu telah menumpuk setinggi 3 meter lebih. Susilo Ananta Toer, adik termuda Pramoedya pernah bilang bahwa Pram berjanji untuk bertahan hingga 100 tahun.

Namun akhirnya Pram berpulang jua. Ia meninggal pada usia 81 tahun di Utan Kayu – Jakarta, 30 April 2006. Usianya tak sampai 100 tahun. Pram dimakamkan di Karet, satu pemakaman dengan si binatang jalang Chairil Anwar.

Diantarkan oleh ribuan pelayat dan anak muda yang mengaguminya, Pram dikebumikan secara islami, kepergiannya diiringi oleh Internationale dan Darah Juang.

Serasa ngungun. Lebih satu dasawarsa setelah wafatnya, ‘anak-anak ruhani’-nya hendak dibawa ke layar kaca, dengan penafsiran kiwari tentunya.

Setujukah ia? Atau biarlah Bumi Manusia tetap dalam buku, menjadi roman sejarah yang magis. Itu saja cukup.

(Milesia.id/Kelik Novidwyanto)

 

 

 

 

Tags

Related Articles

2 Comments

  1. Sayang sekali jikalau film bumi manusia hanya mengangkat persoalan cinta Minke dan Annelies, padahal lebih dari itu ia mengangkat persoalan yg lbh substansial, yakni kemanusiaan dan keadilan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close