Milestravel
Trending

Laporan dari Korea (4) : (Kapan) Hallyu akan Berlalu?

Kabut dermaga Nami/Milesia.id/PRIO PENANGSANG

Kapal bermotor dengan kapasitas angkut 50an orang itu melaju pelan membelah sungai berwarna hijau kebiruan. Mesinnya menderu kencang. Menuju dermaga sebuah pulau kecil, yang pada sore, 5 Juli lalu, didera gerimis dan berselimut kabut.

Milesia ada bersama puluhan orang yang berharap segera tiba di pulau berbentuk setengah bulatan bulan itu. Mayoritas mengenakan jas hujan atau berpayung.

Tiga laki-laki muda berbadan atletis berjas hujan dan sepatu boot kuning, mengawasi area keluar masuk kapal yang dominan dengan warna putih dengan kelir merah itu. Bercakap pendek, lanjut mengawasi sekeliling.

Naminara Republic/Milesia.id/PRIO PENANGSANG

Para penumpang berasal dari beragam latar belakang. Berkulit kuning, coklat, berwajah Kaukasia, juga sekelompok abege berwajah Melayu mengenakan jilbab yang tak henti memotret dan saling potret menggunakan telepon genggam.

Sepuluh menit melaju, semua mata menatap takjub pada dermaga kecil dengan sebongkah batu granit sekira dua meter kubik, persis di sudut kiri. Dari sisi muka batu berwarna abu-abu yang menghadap danau, menyembul sebuah kaligrafi Korea :  Nami Seom. Pulau Nami. Pulau seluas 430 ribu meter persegi di kawasan Chuncheon, 1,5 jam berkendara dari Seoul.

Winter Sonata Pemantik Hallyu

Redwood yang terawat/Milesia.id/PRIO PENANGSANG

Pulau kecil yang betul-betul cantik. Dengan jajaran batang redwood, tusam,  cemara, poplar, dan ratusan perdu berbunga menawan.

Nami, berasal dari Nama Jenderal Nami, jenderal muda era raja ketujuh dinasti Joseon, yang wafat ketika umurnya belum genap 30 tahun. Kisah jenderal cemerlang namun tragis oleh intrik politik dinasti kerajaan. Ia dibunuh. Tubuhnya dimutilasi, lantas dibuang ke sejumlah penjuru. Setelah nama baiknya dipulihkan, dibangunlah semacam petilasan menyerupai makam di tempat  itu.

Sekian abad kemudian, pada 1965, Pulau Nami dibeli oleh pejabat dan pebisnis sukses Minn Byeong-do (1916-2006), yang sangat memuja keindahan alam dan budaya Korea.  Minn mendesain konsep wisata rekreasi berbasis alam. “Pohon hijau dan sungai yang bersih adalah milik kita dan generasi mendatang” semboyan Minn, yang juga pecinta sastra itu. Menginspirasi Korea dalam mengembangkan turisme berbasis alam.

Mengunjungi tempat itu di pekan pertama Juli yang masuk summer, Milesia tak melihat sebongkah salju pun. Sebagai gantinya, rerimbun hijau pepohonan di Metasequoia Lane, menghadirkan suasana segar. Batang-batang redwood dengan epidermis kulit yang kemerahan,  besar dan kokoh, mengingatkan akan negeri jauh.

Sudut snow men/Milesia.id/PRIO PENANGSANG

Pohon-pohon yang dirawat dengan suka-cita layaknya anggota keluarga itu, sepertinya paham. Mereka tak enggan tumbuh menjulang, berakar dalam, menawarkan kesejukan, begitu sedap ditatap.

Kawasan penuh pepohonan menjulang yang ditanam lebih dari empat dekade silam itu, adalah area terpopuler tempat para pengunjung selfie maupun foto keroyokan.

Ada resto kecil sekiranya perut lapar usai berkeliling pulau. Semula, resto dengan dinding kombinasi kayu redwood dan kaca itu, adalah tempat ngaso kru produksi Winter Sonata. Mengudap nasi kotak terkenal itu. Sekotak nasi kimchi yang lezat bisa dikudap dengan menarik selembar uang  5000 won, setara Rp 65 ribu dengan kurs Rp 13 untuk satu won.

Ya, di sinilah, 16 tahun silam, drama Korea Winter Sonata, mengambil lokasi shooting. Lantas memicu gelombaang Hallyu (Korean Wave) ke penjuru dunia.

Clay art/Milesia.id/PRIO PENANGSANG

Diwarnai dengan maraknya drama Korea (drakor), boyband dan girlband, termasuk musik dan ribuan item merchandise yang menyebar kemana-mana. Termasuk Indonesia.

Gelombang turis yang datang ke Korea, niscaya akan mlipir ke Pulau Nami, yang berjarak 54 kilometer dari Seoul.

Patung logam dua sejoli aktor utama drama Winter Sonata, si cantik Bae Yong Joon dan Choi Jin Woo, jadi rebutan untuk jadi latar foto. Ketika Milesia mengunjungi tempat itu, lusinan orang tengah antri menunggu giliran untuk berfoto.

Patung setinggi orang dewasa itu, laiknya patung anjing Hachiko di depan Stasiun Shibuya, Jepang, yang terkenal.

Sore itu, diantara kerumunan orang yang antre berfoto, seorang laki-laki bertubuh tinggi berbalut jas hujan biru tampak menjaga jarak. Ia bercakap dengan seorang rekannya, perempuan muda menggandeng bocah laki-laki yang mengenakan topi bergambar figur kartun Disney. Yakin mereka orang Indonesia, Milesia mendekat dan mengajak bercakap.

“Bagus sekali tempatnya, padahal Cuma pohonan saja, ya? Di kampung kita banyak sekali..haha,” tawa Frans Ndate pecah. Paruh baya asal Ruteng, Flores itu, datang berombongan bersama enam koleganya.

“Di sini bagus sekali. Semuanya serba terawat, tak ada sampah dan suara bising kendaraan,” sergah Ibeth, kolega Frans.

Tidak ada yang tahu, sampai kapan demam Hallyu akan berakhir.  Artis baru, idola baru, yang juga digandrungi anak muda dan remaja, seperti terus bermunculan.Jumlah turis yang mengunjungi Korea, termasuk ke Pulau Nami, selalu meningkat saban tahun. Mengacu rilis Korea Tourist Organisations, pada 2015 turis Indonesia yang mengunjungi Korea tercatat 190 ribu orang. Setahun kemudian naik menjadi 300 ribu orang.

Milesia.id/PRIO PENANGSANG

Yang pasti, Nami akan dilupakan jika batang-batang redwood dan poplar meranggas. Sungai keruh dan tak ada angin yang meluruhkan daun-daun red pine. Di Naminara, pohonan dirawat layaknya keluarga.

 

(Milesia.id/PRIO PENANGSANG)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close