ANALISA
Trending

Laporan Dari Korea (3) : Kakak Hyeon dan Kimchinya

Cara "Nonghyup" Menjadikan Petani Korea Begitu Berdaya

Hyeon-ill/Milesia.id/PRIO PENANGSANG

Hyeon- ill Cheon dengan cekatan mengoles pasta bumbu ke permukaan sawi yang sudah diasinkan. Melipatnya helai demi helai layaknya melipat baju bayi. Cermat dan teliti.  Jemarinya yang berlapis sarung tangan plastik transparan, cemongan dengan warna merah pasta cabai berbumbu aneka rempah.

“Begini, ini mudah, ayo dicoba..!”  Papar kakak Hyeon antusias. Perempuan 49 tahun yang senang tertawa itu, mengajari Milesia yang kagok membalik lembar demi lembar sawi putih dan mengolesinya dengan pasta bumbu cabai. “Yaa, digulung..! Digulung..! Begini. Selesai! Mudah!”, papar Hyeon yang diulang lagi oleh David Kim, penerjemah yang mendampingi Milesia, medio Juli lalu. Kim, anak muda asli Daegu, mengakui jika tak semua orang Korea bisa berbahasa Inggris, bahkan di level dasar.

Kakak Hyeon adalah satu dari lebih dari seribu anggota Nonghyup, koperasi pertanian Korea Selatan. Di kediamannya yang berlatar bukit kecil di kawasan pusat bisnis Nonghyup di Cheorwon.

Jika ukurannya adalah luas lahan seperti lazimnya petani di Indonesia, Kakak Hyeon bisa dikata masuk kategori petani gurem. Paruh baya berambut pendek  dengan dua putri itu, bahkan nyaris tak memiliki lahan. Keterampilan membuat kimchi dan aneka olahan sayur lah yang membuat Hyeon sejahtera.

“Ini sudah duapuluh tahun kami membuat kimchi dan buncis yang dibotolkan. Kami pasok ke toko-toko jaringan Nonghyup,” papar Hyeon semringah. Saban pekan Ia sanggup mengolah tak kurang dari 600 kg sawi.

Hyeon mendapat sawi-sawi segar yang dipasok oleh anggota koperasi yang berproduksi di lahan-lahan sekitar area lokasi proses pengolahan produk pertanian milik komunitas petani setempat (Nonghyup), yang tersebar di kawasan segitiga Yeongcheon, Cheorwon, dan Gapyeong.

Di Korea, eksis lebih dari 1.100 Nonghyup yang menjadi tulang punggung agribisnis negeri ginseng itu. Sejauh mata memandang, luasan lahan pertanian itu tampak tersekat-sekat, dan jauh dari kesan luas seperti hampar sawah di Indonesia.

“Luas lahan milik petani seringkali tidak sampai berhektar-hektar, tapi terawat baik dan terorganisir,” terang David Kim.

Seribu lebih Nonghyup bergabung dalam organisasi sekunder, National Agribusiness Cooperatives Federation (NACF). Masing-masing Nonghyup beranggotakan antara 150 sampai 300 petani. Ya, petani pemilik lahan, pemilik gudang dan pengemasan, juga sosok tanpa lahan yang lihai mengolah kimchi macam Kakak Hyeon.

Petani muda di pabrik pengolahan nonghyup/Milesia.id/PRIO PEANANGSANG
Olahan rumput laut naik kelas/Milesia.id/PRIO PENANGSANG

Bagaimana jika tidak punya modal? Di sinilah peran sekundernya. NACF mengelola unit usaha perbankan dan asuransi. Ada tak kurang dari 20 unit perbankan yang tersebar di tingkat provinsi dan 160 an unit kantor bank di tingkat kabupaten. Setiap bank di level kabupaten melayani permodalan 7 sampai 10 nonghyup.  Besarnya jaringan dan anggota koperasi yang dilayani, menjadikan bank pertanian milik koperasi ini selalu masuk tiga besar bank terbesar di Korea.

Pengolah produk pertanian minus lahan macam Kakak Hyeon, terhubung dengan usaha pengolahan hasil pertanian yang jumlahnya mencapai 72 pabrik besar. Menghasilkan kimchi, aneka sayur botolan, jus buah, rumput laut, kacang-kacangan, kecap, minyak goreng, dan banyak lagi. Sebagian produk mereka bahkan bertengger di rak-rak supermarket di Indonesia.

Olahan petani Nonghyup/Milesia.id/PRIO PENANGSANG

Salah satu prinsip koperasi adalah pendidikan anggota dan penyebaran informasi. NACF mewadahi aspirasi petani dengan menerbitkan Koran Petani (Farmer Newspaper) sejak 1964. Sebelum menerbitkan juga media versi online, Farmer Newspaper besutan Nonghyup sempat menyentuh oplah hingga 300 ribu eksemplar.

Integrasi dan Dukungan

Ditemani David Kim, nyaris dua jam Milesia berkendara mendekati Kota Seoul sebelum menjumpai Maa Jeon. Perempuan sepuh pemilik kios buah di trotoar seruas jalan Kota Seoul. Kiosnya yang mungil namun cantik dan modern, menawarkan aneka buah, juga tomat merah produk petani anggota Nonghyup.

Maa Jeon di depan kiosnya/Milesia.id/PRIO PENANGSANG

Kelihatan sekali jika Nenek Maa sudah sepuh. Meskipun terlihat bersemangat, jalannya agak membungkuk. Melalui penerjemahan David Kim, Maa mengaku sudah menjadi anggota Nonghyup sejak tahun 1980an.

Maa rutin ikut rapat-rapat kelompok. Termasuk mengenal sesama petani yang akan memasok buah-buah segar yang akan dijual di kiosnya. “Satu pack , isi empat buah, tomat besar merah ranum dijual 6000 won (sekitar Rp 80 ribu ). Saya dapat untung 2000 won setiap pack,” terang Maa.

Tak jauh dari Maa, tepatnya di kawasan Saesomun-ro, Seoul, Eun Jun memilih berjualan jagung seharga 1000 won per buah (13 ribu). Jagung rebus dengan warna biji ungu dan putih itu terasa manis dan segar. Semuanya dipasok langsung dari petani anggota Nonghyup di kawasan Cheorwon. “Setiap pagi pasokan (jagung) datang 50 kilogram yang saya jual malam hari di sini,” Terang Eun Jun, perempuan yang nampak bersemangat berbisnis di usia senjanya.

Eun Jun, pengecer jagung produk petani Nonghyup/Milesia.id/PRIO PENANGSANG

Dengan kata lain, Nonghyup menjalin mitra dengan memperluas keanggotaan. Bukan hanya para pemilik lahan, kalangan pengolah hasil pertanian dan penjual produk langsung (ritel) juga terkoneksi dengan jaringan Nongyup. Alhasi, dari hulu ke hilir, kerjasama antar anggota Nonghyup benar-benar terasa.

Apakah dengan demikian, di luar Nonghyup  Korea menolak produk pertanian dari negara lain. “Korea masih terbuka lebar untuk komoditas pertanian dari negara kita. Ubi, kacang-kacangan, buah mangga, adalah beberapa komoditas pertanian yang terbuka untuk dijual di sini,” papar Deputi Chief of Mission Kedubes Korea Siti Sofia Sudarma kepada Milesia yang menemuinya Kantor Kedubes RI di Seoul, awal Juli. “Tentu, pasti mereka minta pengiriman harus kontinyu,” imbuh Siti.

Harus diakui, rumah tangga petani (RTP) di Korea jauh lebih sejahtera dibandingkan dengan Indonesia. Meskipun rata-rata petani mereka hanya memiliki lahan sepetak dua, tapi benar-benar dikelola intensif dan tersambung langsung dengan lini pengolahan dan pasar. Berproduksi menjadi tenang tanpa takut tidak terserap pasar. Mekanisasi pertanian dan teknologi ramal cuaca berkembang, dan bisa diakses petani dengan gampang.

Rumah tangga petani terkoneksi dengan toko milik kelompok atau bahkan toko milik sendiri yang disupervisi oleh Nonghyup. Melalui Nonghyup pula, petani memperkuat relasi untuk meminta perhatian pemerintah terkait akses infrastruktur, termasuk pasar ekspor.

Siti Sofia Sudarma/Milesia.id/PRIO PENANGSANG

Berkebalikan dengan Korea, Rumah Tangga Petani Indonesia  setiap tahun cenderung turun jumlahnya. “Setiap tahun selalu turun, Saya khawatir satu dekade ke depan petani kita benar-benar habis,” papar Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung (UNILA) Bustanul Arifin yang dimintai tanggapannya, pekan lalu.

Mengacu data BPS, jumlah rumah tangga dengan usaha pertanian terus menurun dari tahun ke tahun. Penyebabnya antara lain, adanya alih profesi dan semakin sempitnya lahan pertanian karena alih fungsi lahan untuk pembangunan infrastruktur, pabrik dan perumahan. Penurunan jumlah rumah tangga  dengan usaha sektor pertanian terbanyak terjadi di Pulau Jawa, disusul Sumatera dan Kalimantan.

Pada 2003, RTP yang menanam padi pada  masih ada 14,2 juta rumah tangga, lantas turun menjadi 14,1 juta. Usaha tanaman kedelai ada satu juta, sepuluh tahun kemudian hanya menyisakan 700 ribu  RTP. Komoditas jagung, terjadi penurunan jumlah rumah tangga petani yang menanamnya. Dari  6,4 juta (2003) rumah tangga anjlok menjadi 5,1 juta rumah tangga  satu dekade kemudian. Penurunan juga terjadi untuk jumlah rumah tangga usaha peternakan dan  perikanan. Pendapatan keluarga petani juga memprihatinkan.

Sepetak greenhouse (kanan bawah) di antara ressort dan padang golf/Milesia.id/PRIO P

Berbeda dengan Nonghyup yang terus mengintensifkan produksi dan melibatkan teknologi, di Indonesia, banyaknya petani beralih profesi jadi kendala tersendiri. Petani seakan harus berusaha sendiri mulai dari pencarian lahan, pupuk, menghadapi kemungkinan  gagal panen hingga penjualan hasil panen.  Ditambah lagi, pemerintah masih rajin impor berbagai kebutuhan pangan sebagai solusi.

Kekurangberpihakan pemerintah memang tidak bisa dijadikan satu-satunya alasan. Gerakan koperasi juga dinilai gagal dalam memberdayakan koperasi pertanian. Tidak ada lagi fokus yang benar-benar menunjukkan adanya kinerja sistematis gerakan koperasi untuk memberdayakan petani dan mengatasi persoalan pertanian.

Dalam sejumlah kasus, koperasi malah ikut-ikutan membangun kultur ketergantungan yang kian akut. Sebut saja aksi impor kedelai oleh Gabungan Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Gakopti) alih-alih ikut merawat produktifitas petani kedelai petani anggotanya, beberapa waktu silam.

Kapan ya, petani gurem kita berdaya dan gembira seperti Kakak Hyeon?

(Milesia.id/PRIO PENANGSANG)

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close