Milescoop
Trending

Istimewa! Lembar Batik yang Menerbangkan Perajinnya ke Amerika dan Eropa

Dari Kain Selembar, Omset Meroket Hingga Empat Miliar

Milesia.id/BUDI SULISTYO

Sruiit..,sruiiit..,sruiiit..

Bunyi khas itu mendesis seiring tiupan angin yang dihembus lewat bibir manyun sejumlah perempuan muda dan paruh baya. Bukan peluit, bukan pula seruling untuk persiapan karnaval peringatan hari kemerdekaan. Suara berirama konstan itu muncul manakala aliran udara dan larutan malam (lilin batik) dalam rongga dan ujung canting, saling bertumbukan. Intensitas udara yang keluar dan gaya meniup ujung canting, menghadirkan musik klasik khas sekawanan ibu-ibu pembatik, dengan canting berbagai ukuran sebagai instrumen musiknya.

Budaya membatik memang sudah turun temurun dilakoni oleh sekelompok masyarakat di Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah. Tak terkecuali Ibu-Ibu dari Desa Kebon, Bayat, itu.

Siapa sangka, sekian dekade silam, mereka  hanyalah murni seorang pembatik yang hanya menerima upah alakadarnya atas jerih payah sebagai membatik saja. Adapun bahan baku (kain, malam, dll) hingga pemasaran, menjadi ‘kekuasaan’ pengusaha. Alhasil, para pembatik itu, tidak mengetahui secara pasti proses perjalanan selembar kain dari bahan baku hingga sampai ke tangan pembeli.

Asyik membatik. Milesia.id/BUDI SULISTYO

Sadar posisi mereka rentan, komunitas pembatik yang didominasi ibu-ibu rumah tangga itu lantas berbenah. Antara tahun 2009-2010, mereka berkelompok membentuk satu kelompok paguyuban usaha batik dan diberi nama “Kelompok Batik Tulis Kebon Indah”.  Mereka juga membentuk koperasi sebagai lembaga yang memayungi kiprah mereka sebagai anggota sekaligus pemilik usaha batik.

Awal berdiri, kelompok ini beranggotakan 169 orang.  Oleh salah satu lembaga pendonor, mereka dibekali dan didampingi ihwal teknis manajerial, pembukuan dan administrasi keuangan.

Proses produksinya, diawali dengan masing-masing pembatik mendapat bahan baku kain mori untuk dibuat menjadi kain batik. Semua proses dari pembelian kain, memotong, membuat pola atau gambar, membatik, mewarnai, mencuci (nglorod) dilakukan secara kolektif. Setelah kain batik jadi, mereka berlatih memasarkan hasil karyanya.

Dalmini. Milesia.id/BUDI SULISTYO

Kepada Milesia yang mengunjunginya pekan lalu, Bu Dalmini, Ketua Koperasi Batik Tulis Kebon Indah berkisah, sukses kelompoknya didapat melalui jalan berliku. “Awalnya tidak mudah, kami belajar sebagai sales menawarkan  produk kami ke took-toko batik. Banyak penolakan , tapi akhirnya ada juga yang mau menerima produk kami, meskipun dengan sistem titip dan bayar jika sudah laku. Sudah gitu, kadang masih gak lancar pembayarannya. Mereka kadang masih minta tambahan barang lagi padahal barang yang sudah laku belum dibayar. Itu masa-masa yang berat dan masa prihatin bagi kami,” ujar ibu yang rajin puasa Senin dan Kamis ini.

Itu kisah lampau. Kini semua berbuah manis. Batik Kebon Indah sudah dikenal luas dan banyak peminat. Pedagang-pedagang batik dari berbagai kota berdatangan membeli batik Kebon Indah. Outlet batik besar seperti Mirota Batik dan Terang Bulan di Jogja, misalnya, juga memasarkan produk Kebon Indah.

Per Juni lalu, omset total dari kelompok koperasi batik ini bahkan menembus angka Rp 4 miliar. “Jumlah anggota koperasi pun bertambah menjadi 180 orang. Semua pembatik memiliki saham koperasi, “terang Bu Dalmini. Ya, dengan berkoperasi, pembatik yang dulunya adalah seorang buruh atau karyawan, naik kelas menjadi pemilik usaha batik.

Dikenal di Mancanegara

Lembar-demi lembar. Milesia.id/BUDI SULISTYO

Tidak hanya di dalam negeri, batik tulis Kebon Indah sudah mulai dikenal di luar negeri. Diantaranya Jepang, Amerika Serikat, Belanda serta Italia.  Bahkan, pada tahun 2015 Bu Dalmini yang mengibarkan bendera Batik Kebon Indah, berkesempatan mewakili Indonesia mengikuti pameran batik di salah satu kiblat mode dunia di Milan, Italia.

Tak berhenti di situ, tahun lalu, Dalmini mendapat kehormatan terbang ke California dan San Fransisco, Amerika Serikat. Diundang oleh Kedutaan Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Dalmini memamerkan dan mempresentasikan batik karya kelompoknya. Juga berbagi pengalaman kepada berbagai kalangan, termasuk di kampus Berkeley yang prestisius itu. Oktober mendatang, Dalmini  akan kembali ke Amerika  untuk acara yang sama.

Istimewanya Kebon Indah

Pewarnaan dengan bahan natural. Milesia.id/BUDI SULISTYO

Apa keistimewaan batik tulis Kebon Indah sehingga bisa moncer ke seantero negeri dan mancanegara? Ternyata, memang ada yang spesifik  dari batik kebanggaan Desa Kebon ini.  Ibu Tri, salah satu anggota menyebutkan, seluruh kegiatan dan proses produksi batik Kebon Indah dilakukan secara berkelompok atau kolektif. Ini khas usaha koperasi, di mana, semua anggota adalah sekaligus sebagai pemilik usaha. Usaha dihidupi dan dikendalikan bersama melalui cara-cara demokratis khas koperasi.

Pembelian semua bahan melalui koperasi dan hasil produksi juga dipasarkan bersama sama melalui koperasi. Semua anggota yang terlibat di dalamnya diberi honor oleh koperasi sesuai dengan kontribusinya dan semua dibahas secara terbuka dalam rapat anggota.

Pewarna alami, ramah lingkungan. Milesia.id/BUDI SULISTYO

“Semua yang terlibat dalam pembuatan pola kain batik, pembatik, pewarna, pencuci maupun pemasaran, akan mendapatkan imbalan sesuai dengan proporsi dan kontribusinya. Jadi, ada rasa memiliki dan ada kebersamaan karena njualnya satu pintu ,”tambah wanita berkerudung ini saat ditemui milesia di show room batik Kebon Indah.

Keistimewaan lain,  batik tulis  Kebon Indah ini menggunakan pewarna dari bahan alam, bukan bahan kimia sintetis. Karenanya, proses produksi batik Kebon Indah lebih ramah lingkungan.

Bahan-bahan alami yang bisa dipakai sebagai bahan pewarna alam diantaranya daun jati, daun talok, daun krangkong, kulit pohon mahoni, gedebong (batang) pohon pisang, kulit buah jolawe, kayu jambal, kayu teger dll.

Milesia.id/BUDI SULISTYO

Selain proses produksi yang lebih ramah lingkungan, produk batik  dengan pewarna alam ini juga akan menghasilkan warna yang lebih kalem, natural dan lebih eksklusif. Tak mengherankan jika batik Kebon Indah mendapat apresiasi tinggi di pasaran dibandingkan batik cetak atau batik tulis yang menggunakan  pewarna sintetis.

(Milesia.id/BUDi SULISTYO/Editor : PRIO.P)

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close