Milesosbud
Trending

Festival Gejog Lesung, “Merawat Tradisi Warisan Petani”

Lesung jumengglung sru imbal-imbalan

Lesung jumengglung maneter mangungkung

Ngumandang ngebaki sakjroning padesan

Thok thok thek… thok thok gung…

MILESIA.ID – Tembang Jawa Lesung Jumlenggung diatas dinyanyikan dengan semangat oleh beberapa ibu yang sudah berumur dari grup seni tradisional gejog lesung Desa Barepan, Cawas, Klaten.  Sementara dibelakangnya, alunan suara gejog lesung begitu rancak mengiringi.

Grup kesenian gejog lesung Desa Barepan, Kec. Cawas, Kab. Klaten/MILESIA/RUSTAMADJI

Teriknya mentari yang menyengat, tak mengurangi semangat grup kesenian gejog lesung ini. Tak pelak, begitu aksinya paripurna, tepuk tangan dan sorak sorai penonton membahana.

Siang ini, Sabtu (21/7/2018), di lapangan Desa Barepan Cawas tengah berlangsung festival gejog lesung tingkat Kabupaten Klaten. Hampir semua kecamatan sekabupaten Klaten mengirimkan wakilnya. Tercatat dari 26 kecamatan di Klaten, 25 Kecamatan ikut berpartisipasi. Total seluruhnya ada 31 peserta.

Sebagai tuan rumah, Kecamatan Cawas mengirimkan beberapa grup gejog lesung.

Menurut M.Natsir, Camat Cawas sekaligus ketua panitia, festival ini adalah bentuk pelestarian budaya bangsa. “Semangatnya adalah menjaga tradisi yang disesuaikan dengan perkembangan zaman,” terang Natsir dalam sambutannya.

Natsir menambahkan, sebagai penghargaan untuk para pemenang, juara 1 mendapatkan piala dan uang pembinaan Rp 2,5 juta, juara 2 Rp 1,5 juta dan juara 3 Rp 1 juta. Bagi juara harapan, juga disediakan piagam dan dana pembinaan.  “Semua pendanaan kita ambilkan dari APBD Kabupaten Klaten,” sambungnya.

Grup kesenian gejog lesung tampil enerjik dan kompak/MILESIA/RUSTAMADJI

Panitia festival gejog lesung secara khusus mendatangkan para pakar kesenian tradisional sebagai dewan juri. “Dewan juri kami datangkan dari ISI Jogja, ISI Surakarta dan Dewan Kesenian Jawa Tengah. Diharapkan, dengan hadirnya juri dari para pakar, penilaian bisa lebih adil dan sportif,” imbuh Natsir.

Meski digelar di lapangan dengan cuaca yang sangat panas, festival ini mampu menyedot animo masyarakat Cawas dan sekitarnya.

Penonton berjubel menyaksikan festival/MILESIA/RUSTAMADJI

Hal ini mendapat apresiasi tersendiri dari Bupati Klaten, Srimulyani. “Kami sangat bangga, acara ini berlangsung sangat meriah, tidak hanya pesertanya, tetapi juga penontonnya,” kata Srimulyani. “Kedepan, acara seperti ini agar semakin digalakkan. Ini adalah bentuk apresiasi Pemkab untuk pengembangan seni tradisional,” imbuhnya.

Warsih, 75 tahun, mengaku senang bisa menyaksikan kembali kesenian gejog lesung ini. “Sudah sangat lama tidak melihat gejog lesung. Dulu waktu masih muda, sering melihat, terutama saat ada orang punya hajat,” kenang warga Trucuk ini. “Setelah selesai menumbuk padi, biasanya dilanjutkan dengan bermain gejog lesung. Hitung-hitung untuk menghibur diri setelah suntuk menumbuk padi,” tambahnya.

Festival gejog lesung sudah menjadi agenda rutin Kecamatan Cawas. Sudah tiga tahun berturut-turut acara ini digelar.

Menurut M. Natsir, sebagai daerah penyangga pangan di Klaten, tentu para petani masih ada yang menyimpan lesung. “Masih adanya petani yang memiliki lesung, memudahkan kita dalam mengembangkan kesenian gejok lesung,” terang Natsir.

Sayangnya, ditengah euforia pemerintah dan masyarakat menjaga dan melestarikan budaya gejog lesung, animo generasi muda terhadap kesenian ini masih sangat rendah. Hal ini bisa dilihat dari penonton maupun peserta gejog lesung yang didominasi oleh generasi tua.

Perlu kreasi yang lebih menarik untuk bisa mengundang generasi muda untuk turut menyumbangkan ide dan kreatifitasnya. Tentu saja tanpa meninggalkan nilai budaya Jawa yang adiluhung.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close