Milestravel
Trending

Perjalanan Ekstrem Merengkuh ‘Negeri di Atas Awan’ Puncak Widosari

MILESIA.ID – Apa yang diharapkan dari sebuah perjalanan wisata?

Petualangan, keindahan, rasakan udara segar, memacu adrenalin atau gabungan dari semuanya?

Sepertinya semua hal itu bisa didapatkan saat mengunjungi sebuah tempat wisata di Kabupaten Kulon Progo yakni Puncak Widosari.

Melakukan perjalanan wisata ke Puncak Widosari tak ubahnya seperti berpetualang, kita akan menemui perjalanan ekstrem mendebarkan hingga lunas terobati dengan indahnya panorama.

Perpaduan antara pemandangan alam yang eksotik tapi harus ditempuh melalui perjalanan yang mendebarkan.

Ikuti catatan perjalanan Milesia.id berikut ini.

Puncak Widosari berada di Tritis, Ngargosari, Samigaluh, merupakan gunung batu yang menjulang berada di ketinggian 900 meter dari atas permukaan laut.

MILESIA.ID/ANNY WIDI ASTUTI – Gerbang masuk tempat wisata Nglinggo Tritis.

Menyuguhkan panorama alam indah di bawahnya bak negeri di atas awan.

Tidaklah sulit mencari petunjuk arah ke Puncak Widosari, dari Kota Yogyakarta lebih kurang 38 km ke arah Barat.

Dari perempatan Kenteng lurus ke barat menuju Pegunungan Menoreh.

Jalanan mulai menanjak manakala masuk wilayah Samigaluh.

Sampai di Pasar Plono tujuan kita nyaris sampai.

Tampak gerbang besar bertuliskan wisata alam Nglinggo Tritis.

MILESIA.ID/ANNY WIDI ASTUTI – Pemandangan yang cantik nan eksotik bikin Anda betah.

Bagi wisatawan yang mengendarai motor seyogyanya menitipkan kendaraan di sini dan naik ke kawasan wisata dengan carter mobil wisata.

Kenapa?

Medan menuju lokasi jalannya naik terjal butuh keahlian khusus berkendara agar sampai tujuan dengan selamat.

Sepanjang jalan mata kita dimanjakan pemandangan alam nan indah dan ekstrem.

Cocok bagi pecinta alam yang suka petualangan.

Di sisi kiri jalan tersisih aliran sungai dengan bebatuan besar yang memenuhi dasar sungai.

Selain itu lembah dan jurang tampak jelas sepanjang jalan yang bikin berdebar tapi mata dimanjakan dengan pemandangan yang memesona.

Kontur jalan yang menanjak memerlukan teknik tersendiri bagi pengendara agar dapat menaklukkan medan.

Namun kita diuntungkan dengan kondisi jalan yang sudah dicor semen jadi ban tidak mudah selip.

TIKET MASUK RP 5 RIBU

Setelah lebih kurang dua puluh menit perjalanan yang menguras adrenalin kita, tibalah di depan loket masuk, cukup lima ribu per orang kita sudah bisa masuk ke lokasi.

Tempat pertama yang kita jumpai adalah parkir kendaraan menyatu dengan lokasi rumah satu-satunya yang terdapat di lokasi itu, yaitu rumah Sugiono.

MILESIA.ID/ANNY WIDI ASTUTI – Tarif parkir yang terjangkau.

Di rumah inilah disediakan fasilitas kamar mandi karena di puncak belum tersedia kamar mandi, mushola serta warung sederhana yang menjajakan aneka minuman dan makanan untuk sekedar mengganjal perut kita dari haus dan lapar.

Bekal menyusun tenaga untuk mendaki ke Puncak Widosari.

Hari itu Sabtu, 7 Juli 2018, suasana tidak begitu lengang, pun tidak terlalu ramai.

Mungkin karena Milesia.id tiba di sana sudah sore hari tepatnya pukul 16.00 WIB.

Namun beberapa pasang muda-mudi, keluarga, juga rombongan terlihat siap-siap menyusuri jalan setapak bercor semen.

Terlihat jalan masih baru.

Menaiki tangga demi tangga untuk menuju ke atas, serasa lebih aman dengan kanan kiri tangga terdapat pagar cor dengan pengaman kawat besar.

Udara gunung menyapa, vegetasi disekitar begitu rindang.

Tanaman cengkih yang merupakan tanaman dataran tinggi mendominasi di samping tanaman lainnya semacam sono keling, lamtoro, pisang, kelapa, pepaya, maupun nangka.

Semua tumbuh menghijau menambah adem suasana pemasok oksigen untuk lingkungan sekitar.

Ada tiga gazebo dapat dimanfaatkan untuk istirahat kala capek datang.

Gazebo nampak masih baru dilihat dari material bahannya, tampak representatif.

Dari ke 3 gazebo kita dapat menikmati pemandangan alam dibawah bukit.

Tepat untuk berswafoto dengan latar belakang pemandangan, sembari melepas penat setelah menaiki tangga.

Pemandangan nan elok siap memanjakan mata kita.

Jalanan berkelok dibawah juga nampak terlihat jelas, pabrik ptpn, juga rumah-rumah penduduk kampung di bawah bukitpun dapat kita saksikan.

MILESIA.ID/ANNY WIDI ASTUTI – Tempat duduk yang nyaman untuk pengunjung.

Di gazebo juga disediakan kursi untuk duduk sambil foto-foto.

Setelah cukup istirahat di gazebo, perjalanan dilanjutkan sampai di Puncak Widosari.

Terdapat gardu pandang yang cukup luas dilengkapi kursi panjang.

Sekeliling gardu pandang terdapat pagar besi demi keselamatan pengunjung.

Ahhhh terbayar sudah letih yang menggelayut di wajah setelah melihat keelokan pemandangan dari puncak.

Pandangan mata lebih leluasa menikmati sudut daerah di bawahnya.

Kalau tidak ada kabut turun, kita beruntung bisa menyaksikan sunset, juga dapat melihat gunung-gunung di sekitarnya.

Bahkan batas pantai yang mengelilingi wilayah Bantul Selatan juga nampak indah.

Purwantoro (41) warga Dangsambuh, RT 22 RW 9, Kebonharjo, Kepuharjo, Samigaluh saat ditemui Milesia.id menuturkan meskipun wisatawan lokal dan rumahnya dekat dengan lokasi, tapi ayah dua anak ini sering ke sini dengan alasan melepas penat sambil menikmati pemandangan negeri di atas awan, bersama dengan keluarga maupun sahabatnya.

“Di sini cukup murah bayarnya jika dibanding dengan keindahannya,” jelas Purwantoro.

MILESIA.ID/ANNY WIDI ASTUTI – Purwantoro, warga Samigaluh seorang pengunjung lokal yang hobi sambangi tempat wisata ini untuk lepaskan penat.

Sementara itu seorang warga Dowangan, Gamping, Sleman, Nuryani saat ditemui Milesia.id mengaku baru kali pertama menyambangi Puncak Widosari.

Nuryani terkagum-kagumdan seolah enggan beranjak dari gardu pandang meski waktu sudah menunjuk pukul 17.15 WIB.

“Mumpung sampai Puncak Widosari yang penuh perjuangan, pengin menikmati view yang indah sambil berselfie ria untuk mengabadikan moment indah ini,” kata wanita yang berprofesi sebagai Guru PAUD.

Ia mengaku, suatu saat nanti ingin kembali ke Puncak Widosari tak lupa mengajak para sahabat maupun keluarganya.

MILESIA.ID/ANNY WIDI ASTUTI – pemandangan indah bak negeri di atas awan.

Dan selain Widosari, disini juga ada destinasi wisata kebun teh Nglinggo yang menawarkan teh putih.

Selain kebun teh kita dapat melanjutkan ke Puncak Suroloyo yang merupakan puncak tertinggi di Perbukitan Menoreh.

Jadi apakah sebanding antara upaya yang mendebarkan dengan suguhan Puncak Widosari?

Lunas terbayarkan! (Milesia.id/Penulis: Anny Widi Astuti/Editor: Rimawan Prasetiyo)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close