Milebisnis

Laporan dari Korea (2) : “Ciamik! Cara Korea Menggiring Pelancong Indonesia”

Haloo, Selamaaat siang, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu. Apa kabar?” senyum Me Ri mengembang. Dengan bahasa Indonesia yang fasih dan ritme bicara cenderung cepat namun efektif, perempuan cantik berkulit bening kelahiran Seoul itu, begitu atraktif memandu sejumlah turis asal Indonesia.

KOREA HOUSE, Seoul/ Milesia.id/PRIO PENANGSANG

Siang itu, awal Juli lalu, udara panas Kota Seoul mendadak sejuk begitu Me Ri dan sejawatnya, luwes beraksi “menggiring” para wisatawan keliling Korea House. Milesia yang sengaja mengambil jarak beberapa langkah dari rombongan, dibikin takjub dengan interior gedung, etalase, dan dentum musikal tampilan multi media yang rancak memvisualkan aneka produk khas Korea.

Berlokasi di kawasan Toegye-ro, Jung-gu, Seoul, Korea House menjadi destinasi one stop shopping yang berafiliasi dengan organisasi turisme, Korea Tourism Organisation (KTO).

Di salah satu ruangan gedung menjulang di jantung kota Seoul, pengunjung “diedukasi” ihwal ginseng, olahan rumput laut, kimchi, hingga bonus foto dengan mengenakan pakaian tradisional Korea (hanbok) dengan background penggalan diorama bentang alam memikat dan petilasan sejarah sosial Korea tempo doeloe.

Ini negeri memang lihai ‘menggoreng’ rupa-rupa keunggulannya yang dimiliki. Menjadi sajian wisata yang mengucurkan pundi-pundi devisa. Tidak mengherankan, sampai akhir tahun lalu, jumlah wisatawan asal Indonesia, Vietnam, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand yang berkunjung ke Korea Selatan terus melonjak.

Sampai tiga tahun lalu saja, jumlah wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Korea Selatan mencapai 190 ribu orang. Setahun berikutnya melejit naik menembus angka 300 ribu orang. Booming budaya pop Korea atau Korean Wave (Hallyu), khususnya dengan populernya drama dan boyband Korea, memicu wisatawan Indonesia berbondong plesir ke negeri itu.

“Indonesia” di Itaewon/Milesia.id/PRIO PENANGSANG

Khusus Indonesia, KTO  taktis dan bergerak cepat.  Mereka meluncurkan proyek ‘Muslim Friendly Korea’ atau Korea ramah Muslim. Itu setelah melalui serangkaian riset yang menggiring pada sekeping  fakta : sebagai negara dengan penduduk beragama Islam terbanyak di dunia, Muslim Indonesia dikenal sholeh secara ritual, sekaligus “sholeh” dalam membelanjakan rupiah.  Wabil khusus untuk kepentingan shopping dan halan-halan. Tak main-main, KTO memacak target menjaring  1,2 juta turis Muslim ke Korea. Angka itu, hampir enam kali lipat dari jumlah jamaah calon haji yang berangkat ke Saudi pada tahun lalu.

Milesia yang menyusuri kawasan Itaewon, awal Juli, mendapati aneka resto dan rumah makan yang menyajikan aneka kuliner halal yang akrab di lidah orang Indonesia dan Asia Tenggara dan Timur Tengah. Relevan dengan kehadiran “Masjid Raya” Itaewon yang sudah berdiri sejak akhir dekade 1960an.

Masjid Pusat Seoul, Itaewon/Milesia.id/PRIO PENANGSANG

Di seruas jalan Usadan, Itaewon,  plang-plang nama rumah makan halal hingga lusinan biro umroh dan haji, termasuk yang dikelola orang Indonesia, berderet di kiri kanan jalan. Pemukim berparas Timur Tengah terlihat berseliweran, berbaur dengan warga Korea.

Kultur macam apa yang menjadikan Korea terlihat unggul dalam mengemas industri wisatanya? Milesia mencatat setidaknya empat pemantik :

  1. Berawal dari kedisiplinan
Itaewon/Milesia.id/PRIO PENANGSANG

Sekilas, mayoritas pengunjung untuk tujuan wisata di Korea berasal dari negara dengan kultur kedisiplinan relatif kurang. Sebut saja China, yang pada tahun lalu saja, 69 ribu warganya menggelontor puluhan destinasi wisata unggulan Korea.

Selain Jepang, Korea adalah magnet wisata di kawasan Asia dengan penyajian berkelas dunia. Masyarakat kedua negara itu dikenal aware dengan kedisiplinan dan ketertiban.

Termasuk “disiplin” dalam berkeluarga. Alih-alih trend nikah muda seperti jamaknya entitas masyarakat Indonesia, orang muda Korea cenderung menunda menikah dan memiliki anak.

Alhasil, jumlah bayi yang lahir di Korea Selatan mengalami penurunan ke rekor paling rendah pada awal 2018 ini. Tingkat kelahiran yang terus menurun. Mengutip laporan yang dirilis Kantor Statistik Korea, Februari lalu, tercatat 357.700 bayi lahir pada 2017, turun 11% dari tahun sebelumnya.

Karenanya, jarang terlihat hunian padat dan kumuh di Korea. Jalan-jalan raya tidak “rusuh” seperti ruas jalan utama di Ibu Kota. Sepeda motor yang melintas bisa dihitung dengan jari. Wisatawan merasa nyaman tidak disuguhi kemacetan dan polusi udara yang sumpek tak ketulungan.

Kultur disiplin pula yang memudahkan organisasi pariwisata Korea menata destinasi dan komoditas wisatanya secara elegan.

  1. Kuliner Unik Ramah di Lidah
Milesia.id/PRIO PENANGSANG

Sejumlah masakan tardisional Korea memiliki muasal bahan baku yang relatif familiar bagi lidah Indonesia dan Asia pada umumnya. Sebut saja ikan dan hasil laut macam cumi dan rumput laut.

Lalu olahan sayur dan buah. Teknik olahan dan kombinasi bumbu dan aneka bahan pembantu, menjadikannya unik dengan tekstur rasa yang khas.

Menu berbahan ayam juga populer. Favorit Milesia adalah Samgyetang, masakan berbahan baku utama ayam utuh ukuran sedang minus kepala dan ceker. Dimasak dengan ‘ditenggelamkan’ dalam kuah putih kental panas berbumbu rempah. Ada beragam varian isiannya, dan selalu menggunakan unsur ginseng liar.

Dikombinasi dengan jamur dan kerang abalon, tekstur rasa ayam begitu lembut dengan sensasi gurih berkat racikan aneka bumbu yang meresap. Di sebuah rumah makan tak jauh dari Itaewon yang Milesia kunjungi untuk makan siang, per porsi Samgyetang dibanderol mulai 16 ribu hingga 40 ribu won. (1 won setara Rp 13,-). Tidak murah memang, tapi mak nyuss nya memang sepadan.

Samgyetang dalam gentong mini/Milesia.id/PRIO PENANGSANG

Milesia menyusuri sejumlah resto rumahan di Incheon, lantas menginap beberapa malam di dua hotel berbintang di Seoul.  Di Hotel CS Premier, Seoul, tempat Milesia menginap selama 3 hari, menu berupa kimchi hampir selalu hadir, baik saat breakfast hingga dinner.

Demikian pula ketika menyambangi sejumlah resto mungil di pinggiran Seoul. Dari lusinan menu yang ditawarkan, lidah niscaya membentur makanan berasa gurih, asam, sedikit manis dan pedas. Familiar dengan lidah Indonesia.

Kimchi!/Milesia.id/PRIO PENANGSANG

Kimchi! Hasil fermentasi sawi berbumbu cabai, jahe, bawang putih dan garam, dengan tektur rasa asam, gurih, dan pedas itu selalu jadi penyegar semua hidangan. Ia mirip lalapan yang wajib hadir dalam formasi kuliner meja makan urang Sunda.

  1. Kemasan canggih produk unggulan

Ginseng! Milesia mengunjungi satu produsen ginseng yang terkenal di Korea House, Seoul. Dengan run down presentasi yang rapi, etalase berbasis multimedia yang kekinian, plus guide rupawan yang lihai berbahasa Indonesia, merupakan kombinasi ciamik jualan “akar ajaib” itu.

Ini dia! Tak satupun pengunjung yang diperkenankan memotrat diorama, presentasi maupun produknya! Rahasia! Aspek “misteri” berbungkus riset ditonjolkan melalui papan panel peneliti kelas dunia yang mengupas keunggulan ginseng Korea dibandingkan dengan ginseng Jepang atau Amerika.

Sesi “edukasi” diakhiri dengan menyesap satu sloki kecil larutan ekstrak ginseng asli Korea. Berupa larutan berwarna hitam pekat dengan kombinasi rasa antara teh dan jamu godogan namun dengan body lebih ‘tipis’ nyaris tawar.

Klimaksnya, setelah semua jurus promosi dikeluarkan, dengan enteng pramuniaga menawarkan paket ginseng seharga Rp 40an juta! Annyeong Haseyoo..! Tak ada uang won? Jangan kuatir, uang rupiah juga diterima dengan suka cita plus senyum menawan drama Korea.

  1. Dukungan Total Pemerintah dan Organisasi Pariwisata
Bersama Bu Siti Sofia Sudarma, Deputy Chief of Mission Kedubes Korea, Seoul/Milesia.id/PRIO PENANGSANG

Milesia yang menemui Deputy Chief of Mission Duta Besar Indonesia untuk Korea, Siti Sofia Sudarma, mendapat informasi menarik ihwal bisnis wisata Korea. Betapa pemerintah sangat mendukung, mempermudah, dan menciptakan channel luas antar mitra industri unggulan untuk bergerak secara simultan. Mulai dari rantai produksi, pengolahan, penjualan, dan branding!

“Kelebihan pemerintah di sini terkait pariwisata, kemitraan antar stake holder industri wisata benar-benar dirumuskan matang dan dijalankan. National Policy terkait pengembangan pariwisata sangat terstruktur dan sinkron dari pusat hingga daerah.  Dari hulu, tempat lokasi wisata berbasis agrikultur dan budaya, hingga hilir di industri pengolahan, penjulan dan layanan. Solid luar biasa,” papar Siti tak menutupi kekagumannya. Daebak!

(Milesia.id/PRIO PENANGSANG)

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close