Milesosbud
Trending

KUPAT: Melawan Lupa yang Berlarat-larat

Menyuntuki ‘dua belas’ selongsong ketupat yang nyaris punah

MILESIA.ID – Dalam filosofi Jawa, ketupat atau lazim disebut kupat (bahasa jawa) bukanlah sekedar hidangan khas hari raya.

Kupat adalah produk akulturasi Islam-Jawa. Harmonisasi yang mengemuka tak urung adalah buah kewaskitaan sosiologis Wali Songo.

Secara kasat mata, kita mengenal kupat sebagai makanan yang lezat, dibuat dari beras yang dibungkus anyaman janur muda.

Ketupat biasanya disajikan bersama opor ayam atau sambal goreng ati saat Lebaran.

Adalah Raden Mas Said, putera bupati Tuban yang belakangan dikenal sebagai Sunan Kalijaga, beliau inilah yang secara suntuk mendedah makna filosofis dalam ‘seonggok’ kupat.

Dunia simbol

Minimnya tradisi literer Wali Songo, secara radikal disiasati Sunan Kalijaga melalui penggunaan simbol-simbol dalam ritual dakwahnya.

Sunan Kalijaga memerikan sosok ‘kupat’ dalam filologi Jawa-Islam untuk mencukupi kebutuhan spiritual masyarakat Jawa kala itu.

Dalam proses kreatifnya itu, Sunan Kalijaga bersinergi dengan Sunan Bonang sebagai mursyid-nya.

Pola pembelajaran ngangsu kawruh ala kesatriya itu sejatinya jauh lebih membumi dibanding model kurikulum kiwari yang pada awalnya dicetuskan Conrad Theodore van Deventer (1857-1915) melalui politik Etis-nya.

MILESIA.ID/IST – Sunan Kalijaga memaknai ‘kupat’ sebagai akronim dari Ngaku Lepat atawa Laku sing papat. ‘Ngaku lepat’ berarti mengakui kesalahan, sedangkan ‘laku sing papat’ artinya empat tindakan.

Seperti misalnya, Sunan Kalijaga membadar makna Janur, alias bungkus pembentuk selongsong ‘kupat’ sebagai simbol atawa perwujudan sejatining Nur (Cahaya yang sejati) yaitu Nur Ilahi.

Dalam konsep Wali Songo, Nur Ilahiah mewujud lindap ke dalam hati manusia. Semua anugerah yang berpendar dalam sikap ‘syukur’ manusia bisa menjadikannya labur: yaitu bercahaya wajah dan hatinya karena mendapat limpahan cahaya yang sejati.

Nur Ilahiah inilah yang memantik jiwa manusia merasakan kebahagiaan hakiki.

Filosofi Kupat

Seusai mengupas ‘Janur’, Sunan Kalijaga pun mendedah ‘kupat’ sebagai akronim dari Ngaku Lepat atawa Laku sing papat.

‘Ngaku lepat’ berarti mengakui kesalahan, sedangkan ‘laku sing papat’ artinya empat tindakan.

Sunan Bonang, guru kinasih Sunan Kalijaga, menguraikan lebih dalam makna laku sing papat sebagai lebar, lebur, luber, dan labur.

Lebar berarti telah menyelesaikan puasanya dengan melegakan.

Lebur berarti terhapus semua dosa yang dilakukan di masa lalu.

Luber berarti melimpah ruah pahala amal-amalnya.

Dan Labur, yang berarti bersih dirinya dan cerah-bercahaya wajah serta hatinya.

Disebalik simbol-simbol yang mengemuka, kupat adalah bentuk tradisi masa lampau yang semestinya tetap dirunut. Sayangnya, generasi kiwari mulai enggan menyuntuki rupa-rupa kupat lengkap dengan filosofi yang terkandung di dalamnya.

Masa lampau sekurang-kurangnya mewariskan 16 jenis wujud selongsong ketupat, 12 diantaranya sudah sangat jarang ditemukan, bahkan boleh dibilang nyaris punah. Kedua belas wujud kupat yang terlupakan itu diantaranya :

1.) Ketupat Bagea

Bentuk ketupat bagea hampir bundar dan helaian janur menjuntai di bagian atas. Anyaman janur menyilang dan mirip dengan kue bagea, itu sebabnya ketupat ini diberi nama ketupat bagea.

2.) Ketupat Bebek

Ketupat ini berukuran kecil, dan bagian bawah ketupat sedikit membulat. Bagian ujung ketupat dibiarkan agak panjang dan miring ke atas, sehingga ketupat memiliki bentuk mirip dengan mulut bebek.

3.) Ketupat Debleng

Dikenal juga sebagai ketupat sintok, dalam tradisi Jawa Ketupat Sintok digunakan sebagai simbol wanita cantik dan berbudi luhur. Dibuat dalam acara ngibor-ibori (kenduren empat bulan kehamilan) atau mitoni (kenduri nujuh bulan masa kehamilan) sebagai pengharapan anak perempuan yang akan lahir kelak cantik dan mulia.

MILESIA.ID/ARIS BUDI P – Disebalik simbol-simbol yang mengemuka, kupat adalah bentuk tradisi masa lampau yang sepatutnya tetap dirunut.

4.) Ketupat Gatep

Ketupat ini memiliki bentuk yang mirip dengan ketupat bebek. Hanya saja ketupat ini memiliki bentuk yang lebih mirip dengan huruf D kecil.

5.) Ketupat Jago

Ketupat Jago biasanya disajikan saat acara ngibor-ngibori (empat bulan masa kehamilan), dengan harapan bila bayi yang dikandung laki-laki akan menjadi seorang yang jago, berwatak ksatria, dan berkedudukan tinggi.

6.) Ketupat Geleng

Ketupat ini memiliki bentuk yang sama seperti ketupat bata, yakni persegi panjang. Hanya saja pada ketupat ini tidak ada satupun helaian janur yang menjuntai.

7.) Ketupat Pendawa

Ketupat pendawa memiliki bentuk segitiga dengan helaian janur berada di bagian ujung, dan dikepang.

8.) Ketupat Sidalungguh

Ketupat ini biasanya digunakan saat acara syukuran empat bulanan, bersama ketupat Jago dan ketupat debleng. Ketupat Sidalungguh dijadikan simbol kandungan yang sudah ditiupkan rohnya, sehingga jabang bayi diberi kedudukan atau dalam bahasa Jawa berarti sidolungguh.

9.) Ketupat Sari

Ketupat sari memiliki bentuk segitiga sama sisi, namun berukuran lebih kecil dibandingkan ketupat jago. Helaian janur pada ketupat sari menjuntai di bagian sudut kiri dan kanan ketupat.

10.) Ketupat Sidapurna

Ketupat ini memiliki bentuk seperti huruf P terbalik, dan terlihat seperti kipas sate. Bagian sudut ketupat dilipat mirip pita, yang berfungsi juga sebagai hiasan.

11.) Ketupat Tumpeng

Bentuk ketupat ini mirip dengan tumpeng yang mengerucut pada bagian atas, dan melebar pada bagian bawah. Helaian janur yang tersisa menjuntai di bagian ketupat yang meruncing.

12.) Ketupat Bata

Disebut juga ketupat luwar, kupat bata sering digunakan dalam acara kenduren atau syukuran, sebagai simbol tercapainya keinginan. Ketupat jenis ini digunakan dalam acara selamatan menjelang kelahiran sebagai pengharapan agar jabang bayi dapat lahir dengan mudah serta selamat.

Dus, kedua belas rupa-rupa kupat itu sejatinya pengejawantahan dari akulturasi damai Islam dan Jawa. Seperti laiknya filosofi kupat: papat-papating atunggil (empat hal yang menjadi satu) dari prosesi lebar, lebur, luber, dan labur.

Kupat adalah wujud laku mesu budi dari perjalanan ‘nyawiji’ menuju Ilahi.

Ya, ada arus yang mengalir lena menuju masa depan, ada pula yang mencoba bersetia merefleksi masa silam, kupat adalah simbol kebijakan masa depan sekaligus refleksi masa silam yang nyaris terlupakan. (Milesia.Id/ Penulis: Aris Budi Prasetyo, Editor: Kelik Novidwyanto)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close