DINAMIKAMilesiana
Trending

KASIMIN: Kisah Buruh Tani yang ‘Bergeming’ Digilas Modernisasi Mesin-Mesin Pertanian

Persembahan untuk 'elan' yang dipendarkan Kasimin dan para buruh tani lainnya: jangan pernah menyerah!

MILESIA.ID – Gerah, angin musim kemarau terasa panas memanggang kulit, terik mentari seakan membakar ubun-ubun.

Panen raya kali ini memasuki musim kemarau, padi yang menua berbarengan dengan tanah sawah yang mulai retak.

Siang itu, Kasimin (55) beserta rombongan buruh panennya yang berjumlah 12 orang, bersiap memulai aksinya.

Panasnya cuaca memaksa mereka berlindung pada pakaian yang rapat. Kaos dan celana lengan panjang, ikat kepala, dan tak lupa sepatu untuk melindungi kaki dari tanah yang mengeras dan mulai retak.

“Ayo mulai..!” Komando Kasimin. Bergegas rombongan buruh panen asal Dusun Sanggrahan, Cawas ini mulai terjun ke lahan persawahan yang menjadi target mereka.

‘Awan Kelabu’ Panen Raya Kali Ini

Musim panen di Cawas dan sekitarnya jatuh pada awal sampai pertengahan Juli 2018.

Cawas, adalah salah satu wilayah di ujung tenggara Kabupaten Klaten. Di wilayah ini kurang lebih 1200 ha areal persawahan bersamaan memasuki panen raya.

MILESIA.ID/RUSTAMAJI – Geliat Panen Raya di Cawas, Klaten tahun ini: selalu disambut hangat para buruh tani walau banyak yang berubah akibat modernisasi mesin-mesin pertanian.

Sabit-sabit mulai bersliweran membabat rumpun demi rumpun batang padi. Segenggam demi segenggam jerami itu dikumpul, setelah genap sebongkok kemudian diikat, begitu seterusnya.

Sesekali terdengar canda tawa dari rombongan itu. Ya, senda gurau atau obrolan apa saja memang terkadang bisa menjadi pengusir gerah dari cuaca yang sangat terik siang itu.

Tak jarang terdengar komando dari Kasimin, “minum dulu..!” jika melihat anak buahnya mulai kelelahan.

Spontan mereka mengambil botol air minum yang diikatkan dipinggang. Beberapa tegukan saja, kemudian mereka beraksi lagi, membabat batang padi dan obrolan santai pun berlanjut. Asap rokok mengiringi derap tangan yang menebas batang-batang jerami.

Obrolan terhangat saat ini tentu saja tentang kelanjutan nasib mereka sebagai buruh pemanen padi.

“Apa mungkin panen di musim-musim besok sudah tidak ada yang menggunakan jasa kita lagi..?“ tanya salah satu diantara rombongan itu.

Pertanyaan ini tentu saja sangat beralasan. Iya, kehadiran alat pemanen yang lebih modern, praktis dan efisien sejak beberapa musim panen terakhir ini memang dirasakan dampaknya oleh para buruh panen padi.

Kasimin dan rombongannya terancam kehilangan tambahan penghasilan dari buruh memanen padi. Biasanya dalam sehari mereka bisa membawa pulang uang sekitar Rp 100.000 hingga Rp 120.000, per orang. Tergantung berapa petak sawah yang bisa mereka panen.

Upah dari memanen padi perpetak berkisar antara Rp 450.000 hingga Rp 500.000. “Sekarang mulai sepi mas, tidak seramai dulu sebelum ada mesin combain,” keluh Sastro, anak buah Kasimin.

“Biasannya hampir satu bulan selalu ada lahan yang kami panen, lebih-lebih jika dikontrak oleh penebas padi, bisa lebih lama lagi,” imbuh warga Tawangsari, Sukoharjo itu.

Saat ini mereka hanya menjadi buruh panen sekitar 2 mingguan. Itu pun harus berpindah lokasi dengan jarak yang cukup jauh.

Mesin-mesin yang ‘Menggilas’ Pekerja

Mesin pemanen padi atau yang populer disebut combine ini mulai memasuki areal  persawahan di daerah Cawas dan sekitarnya sekitar 3 tahun yang lalu. Awalnya mesin combine ini dibawa oleh para penebas padi.

Penebas padi ini adalah orang yang membeli padi yang masih di sawah dan belum berwujud gabah. Sehingga urusan memanen menjadi tanggungan penebas.

MILESIA.ID/RUSTAMAJI – Combine, mesin pemanen padi modern yang banyak menggantikan tenaga para buruh tani.

Bagi para penebas tentu saja alat yang efektif dan efisien sangat dibutuhkan. Dan combine ini menjawab keinginan mereka.

Sriyono (40) seorang penebas padi dari Balak, Cawas menuturkan bahwa faktanya mesin combine ini bisa menghemat waktu. Proses pemetikan padi menjadi lebih cepat dan singkat. Hanya butuh waktu kurang lebih setengah hingga satu jam untuk memanen satu petak sawah.

Satu petak di daerah cawas sekitar 1500 meter persegi, walaupun juga tergantung kondisi lahan persawahanya. “Bila tanahnya sudah kering seperti saat ini proses panennya akan lebih cepat,” terang Sriyono.

Sehingga dalam satu hari mesin ini sanggup memanen berkisar 10-15 petak sawah. Bahkan terkadang untuk mengejar waktu, biasa lembur sampai malam hari.

“Kalau cuaca baik seperti saat ini bisa sampai jam 10 malam dan bisa memanen hingga 30 an petak sawah ” imbuh Sriyono.

Memang bila dibandingkan dengan menggunakan tenaga buruh panen seperti Kasimin dan rombongannya yang rata-rata berjumlah 15 orang satu rombongan, sangat jauh beda hasilnya. Dalam satu hari rombongan buruh panen hanya sanggup memanen rata–rata 3 sampai 4 petak sawah saja.

Disamping, itu mesin combine juga menghemat biaya bila dibandingkan dengan menggunakan buruh pemanen dengan perontok padi tleser (mesin perontok padi). Biaya yang harus dibayar untuk menggunakan jasa para buruh ini berkisar Rp 450.000 hingga Rp 500.000 plus air minum, rokok dan makanan ringan.

Sementara sewa mesin combine hanya Rp 400.000 sampai Rp 450.000, tanpa tambahan biaya apapun. Dari segi tenagapun mesin combine hanya dioperasikan oleh 2 orang saja, sedangkan buruh pemanen mencapai belasan orang.

Pun dari segi hasil rontokan gabah, dengan daya blower yang lebih besar hasil rontokan gabah dengan menggunakan mesin combine relatif lebih bersih. Sehingga mempermudah ketika menjemur tanpa perlu lagi membersihkan sisa jerami yang terbawa saat perontokan gabah.

“Kalau dengan perontok padi model tleser ketika menjemur masih harus membersihkan sisa-sisa awul jerami yang terbawa saat perontokan” tambah Sriyono.

MILESIA.ID/RUSTAMAJI – Bagi para penebas tentu saja alat yang efektif dan efisien sangat dibutuhkan, dan combine ini menjawab keinginan mereka.

Dari informasi dan melihat para penebas menggunakan mesin panen combine yang secara instan mempu memanen secara cepat dan efisien inilah membuat sebagian besar petani tergiur.

Alhasil pada musim-musim berikutnya hingga saat ini banyak petani yang menyewa mesin combine untuk memanen lahan sawahnya.

Kini pemilik alat panen modern inipun tak hanya melayani para penebas tetapi juga melayani permintaan para petani. Dengan waktu dan biaya yang lebih sedikit, mesin combine ini relatif laris manis.

Terkadang petani rela mengantri untuk memanen padinya. Untuk musim panen ini saja ada sekitar 4 mesin combine yang bersliweran di daerah Cawas. Tak sampai dua minggu panen raya di daerah Cawas pun kelar.

Kondisi ini membuat para pemilik mesin tleser dan para buruh panen terpaksa menepi. Kini hanya tinggal 3 saja yang beroperasi di persawahan desa Cawas. Padahal beberapa tahun yang lalu mencapai puluhan tleser dan ratusan buruh tani yang turut memeriahkan musim panen raya.

Wardoyo (40) pemilik dan sekaligus ikut sebagai tenaga pemanen adalah salah satu yang harus memarkir mesin tleser dan tenaganya akibat kondisi ini. “Mau gimana lagi, saya tak punya lahan garapan panen, cari tenaga pun susah,” terang Wardoyo.

“Para buruh tidak mau jika hanya menggarap satu-dua petak saja dalam satu musim, tanggung menurut mereka,” imbuhnya.

Bagi Kasimin memang tak mudah menjawab pertanyaan anak buahnya tentang nasib mereka kedepan.

Selalu (Masih Ada) Setitik Harapan

Tetapi masih ada sebersit harapan, ada beberapa petani yang enggan menggunakan jasa mesin combine untuk memanen padinya.

“Daerah Cawas ini tanahnya jenis lempung (tanah liat), mesin combine yang berat itu membekas di tanah, bahkan ketika panen masih ada air di sawah, tanahnya ambles (tanah jatuh ke bawah karena berongga),” terang Jumino.

MILESIA.ID/RUSTAMAJI – Keberadaan Mesin Combine juga banyak mengikis mesin-mesin panen lainnya, salah satunya mesin tleser yang pernah berjaya di masa lalu.

Warga Cawas ini menambahkan bahwa tanah yang ambles tersebut susah ketika pengolahan. “Biaya traktor membengkak untuk tanah yang bekas dipanen dengan mesin combine,” imbuhnya.

Bila dipanen manual biaya mengolah tanah dengan traktor berkisar Rp 150.000, sedangkan biaya olah tanah jika dipanen dengan combine bisa mencapai Rp 200.000 – Rp250.000, disamping itu tanah menjadi lebih cepat padat.

Hampir senada, Kasimin menambahkan bahwa terkadang bulir-bulir padi yang masih berisi juga ikut terbuang di sawah. “Mesin combine daya blowernya kan besar, sehingga masih ada bulir-bulir padi ikut terbawa limbah jerami yang terbuang,” terang Kasimin.

Hal ini bisa dilihat ketika sedang musim tanam, “banyak sekali benih-benih padi yang tumbuh selain yang kita tanam,” imbuhnya.

Benih padi yang tumbuh liar tersebut seringkali malah justru mengganggu ritme tanam petani. Sehingga benih liar tersebut terpaksa harus dianggap sebagai gulma. Cabut dan buang.

Sayangnya pendapat Kasimin ini adalah pendapat minoritas petani di cawas. Efisien dan instan adalah kebutuhan mayoritas petani saat ini. Kemajuan teknologi tampaknya memberi ruang yang sangat luas bagi kebutuhan petani tersebut.

Dampak sosial dan lingkungan adalah keniscayaan dari majunya teknologi pertanian dewasa ini. Alhasil, buruh ala Kasimin yang bermodalkan fisik dan niat yang sehat harus mencari alternatif tambahan rejeki lain. Tentu saja yang tidak berbau teknologi modern.

Tak terasa sudah sekitar 3 jam Kasimin dan rombongannya memanen padi. Ikat demi ikat tumpukan padi pun sudah selesai dikumpulkan. Satu demi satu tumpukan padi itu pun diangkat ketepian sawah.

Sementara dipinggir sawah, deru mesin perontok padi tleser menanti untuk segera merontokan ikat demi ikat padi itu. Gemuruh mesin perontok itu ikut membakar cuaca terik siang itu.

MILESIA.ID/RUSTAMAJI – Bagi parta buruh tani selalu akan ada harapan disebalik kesempitan, teruslah menjaga ‘elan’ itu.

Berselang kemudian, perlahan dan pasti deru mesin perontok padi lambat laun melemah seiring ikatan padi yang mulai menipis.

Kasimin membuka kain penutup kepalanya, menyeka peluh dan membakar rokok yang tinggal setengah.

Gumpalan asap lembut keluar dari mulutnya, selembut senyum sang istri yang setia menantinya di rumah; “jangan menyerah Pakne…,” kata-kata itu mengiang-ngiang ditelinganya.

Kasimin tertegun, ditatapnya bara kecil diujung rokoknya, sekejap senyum kecut tersungging dibibirnya.  “Semangat!” (Milesia.Id/ Penulis: Rustamaji, Editor: Kelik Novidwyanto)

Tags

Related Articles

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close