DINAMIKAMilesosbudMilestechUncategorized
Trending

Alat Mensiasati Zaman Itu Bernama ‘QR Code’

Inovasi Pembayaran Retribusi Pasar di Kota Jogja

MILESIA.ID, JOGJA – Rabu pagi (11/07) halaman Pasar Gedongkuning nampak riuh, tak seperti biasanya pasar tradisional di seberang Kebun Raya Gembiraloka itu disesaki kerumunan orang berseragam keki.

Mereka sibuk wara-wiri mengatur meja, pot-pot bunga, serta puluhan kursi lipat yang berjajar rapih dibawah canopy hijau tua yang telah terpasang kokoh di tiang-tiang pancangnya.

Selembar banner kuning bertuliskan: “Launching Pemungutan Retribusi Pelayanan Pasar Berbasis Quick Response Code” terpampang mencolok menghiasi latar belakang panggung seukuran seperempat lapangan voli, lengkap dengan microphone dan sepaket orgen tunggal disebelah kanannya.

Sementara itu di sisi kanan-kiri gerbang pasar, petugas keamanan berseragam hitam-hitam cekatan mengatur parkir kendaraan yang mulai padat. Sekejap saja tamu-tamu berdatangan.

Diiringi alunan musik keroncong serta vokal manja sang biduan, para among tamu (penerima tamu) berseragam batik merah muda, ramah mempersilakan tamu-tamu yang hadir untuk duduk di kursi yang telah tersedia.

“Ini acara launching quick-quick itu ya?” ujar Bowo (52) perwakilan paguyuban pedagang pasar, setengah bercanda kepada milesia.id.

Iya, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Yogyakarta punya gawe meluncurkan program pembayaran retribusi berbasis Quick Response Code atau disingkat QR Code.

Selain mengundang pengurus paguyuban pasar se Kota Yogyakarta, acara kali ini juga dihadiri perwakilan Setda Kota Yogyakarta, Dinas Kominfo serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FORKOPIMDA).

Sekitar pukul 11:00 WIB, Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi (HP) tiba di Pasar Gedongkuning.

Lelaki nomor dua di lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta itu tampil elegant dengan batik warna coklat tua, senyum ramahnya mengembang setiap menyalami satu persatu tamu undangan yang hadir.

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Wakil Walikota Yogyakarta mencoba alat QR Code didampingi Petugas Pungut Pasar Gedongkuning.

Pada kesempatan itu, Heroe menjelaskan bahwa pemungutan retribusi berbasis QR Code adalah inovasi yang dikembangkan Pemerintah Kota Yogyakarta untuk mempermudah proses pemungutan retribusi di pasar tradisional.

Terobosan ini dilakukan untuk mengimbangi perubahan pola perdagangan kiwari yang semakin canggih.

“Dengan QR Code, pedagang bisa memanfaatkan kemudahan dalam proses pembayaran. Saya yakin sistem ini bisa dipertanggung jawabkan karena terekam serta transparan,” ujar pria berkacamata itu.

Heroe menambahkan, perubahan mekanisme pembayaran retribusi di pasar tradisional ini adalah bentuk pengenalan kepada pedagang ihwal jual-beli kiwari.

“Sekarang era-nya menggunakan kartu-kartu, entah kartu debit, kredit, atau e-money untuk proses transaksi. Kita tinggal menunggu, apakah pedagang bisa mengimbanginya atau tidak,” imbuhnya.

Terkait perilaku transaksi modern tersebut, Heroe menyampaikan bahwa pihaknya tengah mengajukan usul ke pihak otoritas pusat terkait integrasi kartu.

Ia berharap semua pembayaran bisa terfasilitasi dalam satu kartu.

“Kalau sekarang transaksi harus menggunakan bermacam-macam kartu, mulai dari bayar tol sampai beli buku. Memang lebih simple karena tidak bawa uang cash, tapi kartunya jadi kebanyakan.

Harapannya kelak pedagang juga hanya butuh satu kode digital yang terintegrasi untuk bermacam keperluan, sehingga tidak kebanyakan identitas,” urainya.

Inovasi bernama QR Code

Seusai memberi sambutan, Heroe Poerwadi didampingi Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Maryustion Tonang MM, didaulat menyerahkan secara simbolis seperangkat alat pemungutan retribusi berbasis QR Code kepada perwakilan Petugas Pungut.

Satu set alat pemungutan retribusi itu berupa handphone android, mobile printer, power bank serta tas.

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Proses scan QR Code pada Buku Ketetapan dan Pembayaran Retribusi (BKPR) alias pemindaian pada sistem QR Code.

Heroe Poerwadi ditemani Maryustion Tonang juga berkesempatan mencoba alat QR Code itu pada beberapa pedagang Pasar Gedongkuning.

Maryustion Tonang menjelaskan penerapan QR Code untuk pembayaran retribusi ini bertujuan mempercepat dan mengurangi kesalahan administrasi pencatatan retribusi.

Menurut dia, dibanding dengan sistem pemungutan secara manual, cara seperti itu dinilai lebih efektif dan efesien.

“Metode seperti ini juga untuk mendukung akuntabilitas dan transparansi anggaran,” jelasnya.

Di pasar Gedongkuning, tercatat setidaknya 189 pedagang yang menggunakan QR Code untuk membayar retribusi.

Setiap transaksi yang dilakukan oleh petugas, langsung tercatat di dalam sistem. Petugas akan mendatangi pedagang dan memindai QR Code yang dimiliki pedagang melalui telepon selular.

Setelah dipindai, pedagang mengetahui jumlah retribusi yang harus dibayarkan kemudian petugas mencatatkan hasil pungutan retribusi tersebut. “pedagang diberikan bukti pembayaran berupa nota yang wajib disimpan,” ujar Tion.

Selain Pasar Gedongkuning, penerapan sistem QR Code juga dilakukan di empat pasar lainnya, yaitu Pasar Ngasem yang memiliki 355 pedagang, Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta alias Pasty (408 pedagang), Pasar Talok (135 pedagang) dan Pasar Karangwaru (122 pedagang).

Di lima (5) pasar tradisional yang dipilih sebagai uji petik, dari keseluruhan 30 pasar tradisional kota Yogyakarta tersebut, telah dipasang layar led sebagai alat monitor yang akan menampilkan data pedagang secara kontinew.

Seperti apa sih QR Code?

Sistem QR Code pertama kali diciptakan di negeri Sakura, Jepang.

Kode QR adalah suatu jenis kode matriks atau kode batang dua dimensi yang dikembangkan oleh Denso Wave, sebuah divisi Denso Corporation yang merupakan sebuah perusahaan Jepang dan dipublikasikan pada tahun 1994 dengan fungsionalitas utama yaitu dapat dengan mudah dibaca oleh pemindai.

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Perbedaan sistem Barcode dan Quick Response Code (QR Code).

Kata QR sendiri merupakan singkatan dari Quick Response atau respons cepat, yang sesuai dengan tujuannya adalah untuk menyampaikan informasi dengan cepat dan mendapatkan respons yang cepat pula.

Berbeda dengan kode batang atau biasa disebut dengan barcode, yang hanya menyimpan informasi secara horizontal, kode QR mampu menyimpan informasi secara horizontal dan vertikal, oleh karena itu secara otomatis Kode QR dapat menampung informasi yang lebih banyak daripada kode batang.(soon, 2008)

Di Korea, sistem toko virtual yang sudah lazim dipakai hampir di semua tempat juga menggunakan sistem QR.

Penggunaan kode QR sebagai sistem pembayaran dapat diakses oleh pengguna Android dan iOS yang merupakan sistem umum rata-rata HP masa kini.

Tanpa disadari, pemakaian QR Code semakin lumrah seiring dengan berkembangnya teknologi di Indonesia.

Sistem yang memakai code ini semakin sering dijumpai di banyak tempat-tempat umum seperti mall dan gedung perkantoran.

Menangkap moment perkembangan teknologi yang semakin massif itu, Pemerintah Kota Yogyakarta mencoba menerapkan system QR Code pada pemungutan retribusi di Pasar Tradisional.

Nyatanya pemungutan retribusi berbasis QR Code disambut antusias oleh pedagang maupun petugas pungut di lingkungan Pasar Tradisional di Kota Jogja.

Mawan (48), pedagang di pasar Gedongkuning mengaku dirinya lebih suka dengan mekanisme pembayaran retribusi yang baru ini.

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Layar tempat memonitor transaksi pembayaran retribusi berbasis QR Code di Pasar Gedongkuning.

Menurutnya mekanisme tersebut lebih cepat karena tidak memakan waktu lama sehingga ia bisa sesegera mungkin kembali melayani konsumen.

Sementara itu, Petugas Pungut Retribusi Pasar Gedongkuning, Aga Prastama menganggap system QR Code akan mempermudah pekerjaannya.

Dulu, ia harus mengantongi buku catatan dan pena, serta menuliskan catatan kepada pedagang ketika pedagang selesai membayar retribusi.

“Sekarang cukup menggunakan handphone dan mobile printer,” jelasnya.

“Hasil scan QR Code pada Buku Ketetapan dan Pembayaran Retribusi (BKPR) segera bisa dilihat pada layar monitor yang terpasang di masing-masing pasar,” imbuhnya. (Milesia.Id/ Kelik Novidwyanto)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close