Life StyleUncategorized

Pesona Refugia, Hasil Melimpah Pemandangan pun Indah, Ceklik!

“Geser kiri sedikiit..!”

“Senyumnya manaa..? Biar mecing sama bunganyaa..! Oke..!”

Ceklik!

Milesia.id/BUDI SULISTYO

Kini, siapa sih, yang tidak doyan  selfie atau wefie? Memotret diri sendiri atau rombongan memakai kamera pintar dengan background pemandangan menawan. Air terjun, lansekap kota, atau bahkan bunga di pinggir sawah.

Sawah? Ya, ada sesuatu yang berbeda jika kita sedikit cermat mengamati hamparan lahan-lahan pertanian di sejumlah daerah belakangan ini. Yaitu, kemunculan gerumbul perdu tanaman bunga beraneka warna yang menghiasi lahan pertanian milik warga.

Milesia.id/BUDI SULISTYO

“Taman bunga” itu bisa muncul di tepi jalan persawahan, di dekat saluran air, bahkan di pematang sawah. Lansekap sawah, rumpun kacang tanah atau jagung, tidak lagi monoton. Kreasi agrikultur mengawinkan kebermanfaatan dengan keindahan.

Alhasil, setiap ditemukan lokasi baru dengan panorama seperti di atas, lini masa media sosial segera saja hiruk pikuk dengan ratusan pose selfie para netizen di taman bunga kreasi petani. Ceklik!

 ‘Kafe’ Tempat Kongkow Serangga

Lalu apakah maksud  dari “bunganisasi atau tamanisasi ” lahan pertanian itu? Apakah melulu demi trend dan demi  keindahan saja? Atau, olala..! Demi mengundang gadis-gadis kembang desa jaman now yang hobi selfie berlatar belakang bunga?

milesia.id/BUDI SULISTYO

Penelusuran Milesia, rupanya semua itu ada maksud khusus.  Keindahan pemandangan aneka bunga di area persawahan hanyalah bonus tambahan.  Tujuan utama petani menaman aneka bunga di lahan persawahan tersebut adalah untuk meningkatkan produksi dan hasil dari tanaman pokok yang dibudidayakan.

Lantas, bagaimana aneka bunga tersebut bisa meningkatkan hasil dari budidaya pertanian? Begini ceritanya.

Diantara sejumlah faktor yang memengaruhi kemampuan produksi setiap jenis komoditas pertanian, salah satunya adalah sifat internal atau sifat potensial tanaman. Disebut juga sifat genetis, melekat sebagai “bakat turunan” dari induknya yang kecil kemungkinan akan berubah kecuali dilakukan rekayasa genetis.

Lainnya adalah faktor pendukung dan pengurang hasil yang bersifat eksternal (lingkungan). Termasuk di dalamnya adalah faktor ancaman dari  organisme pengganggu tanaman (OPT) yang bisa mengurangi bahkan menghilangkan potensi hasil tanaman, sehebat apapun potensi genetisnya.

Konsep pertanian yang benar dan maju lazimnya mengelaborasi aspek sumber bahan tanaman yang unggul secara genetis, pengelolaan faktor lingkungan yang optimal, minimalisasi OPT, serta  teknik budidaya yang tepat.

Kasus-kasus penurunan hasil atau bahkan gagal panen akibat serangan hama ataupun penyakit di berbagai tempat,  lazim disebabkan oleh ketidakseimbangan ekosistem. Jika jumlah hama penyakit dominan melebihi musuh alaminya, tanaman akan kewalahan tumbuh optimal dan potensial gagal berproduksi. Rugi bandarlah petani!

Lalu di mana peran refugia si cantik rupa? Nah, disinilah aneka tanaman bunga memainkan perannya. Warna-warni dari bunga dengan nektar (cairan manis sumber pakan lebah madu) di area kelopaknya, ternyata banyak mengundang dan menarik aneka serangga.

milesia.id/BUDI SULISTYO

Asal tahu saja, serangga-serangga itu adalah musuh alami dari hama-hama culas yang hobi mengusili tanaman Pak Tani. Tanaman bunga-bunga itu, ibarat kafe untuk menarik geng serangga agar rajin kongkow menyesap legitnya nektar.

Dari sejumlah penelitian, serangga  yang doyan mampir di ‘kafe’ itu mayoritas adalah musuh alami hama tanaman pertanian. Dengan hadirnya musuh alami yang datang ke sawah maka secara alamiah petani terbantu dalam mengendalikan hama yang merugikan tanamannya.

Tanaman bunga aneka warna itu ibarat magnet penarik dan bagian dari tempat hidup, sekaligus sumber makanan lain dari musuh alami hama. Nah, tanaman-tanaman penarik serangga inilah yang disebut dengan refugia.

Suyamto, ketua kelompok tani Mardi Rahayu, Desa Trotok. Kecamatan Wedi, Klaten, mengaku merasakan manfaat  tanaman refugia. “Tanaman padi saya aman dari penggerek batang, sehingga tidak perlu melakukan penyemprotan pestisida berkat tanaman refugia jenis kenikir dan bunga kertas,” ujarnya ketika ditemui Milesia.

Tanaman cabai dan sayuran yang biasanya sangat dipusingkan dengan serangan ulat kini juga tidak terlalu banyak terkendala sejak Suyamto menanam bunga matahari di sekitar lahan. “Ulatnya ternyata lebih suka berkumpul di tanaman bunga matahari, jadi bunganya seperti  pengumpul dan perangkap ulat,” kisahnya dengan bersemangat.

Dia juga bertekad akan mengembangkan tanaman refugia di kelompoknya dan siap berbagi benih dengan petani yang membutuhkan.  Saat ini Suyamto sedang mengembangkan tanaman bunga matahari merah dan beberapa jenis bunga  yang masih belum begitu banyak ditanam petani saat ini.

Suyamto (Milesia.id/BUDI SULISTYO)

Senada Suyamto, Diyono, petani dari  Desa Gununggajah, Bayat, Klaten,  menilai penanaman refugia ini layak untuk digalakkan kepada seluruh petani.  “Selain sebagai upaya pengendalian hama yang ramah lingkungan, pemandangan lahan juga  jadi indah, “ ujar ketua kelompok tani Sri Gunung ini.

Diyono benar, saat bunga sedang mekar, tak sedikit pengguna jalan yang sengaja berhenti untuk sekedar berfoto ria. Ada juga yang berusaha mencari bunga-bunga yang kering sebagai benih dan dibawa pulang.

Pengendalian hama dengan refugia ini jelas sangat aman,  karena tidak meninggalkan residu sehingga baik bagi kesehatan. Dalam pengendalian hama dengan pestisida, serangga musuh alami hama yang merupakan teman petani  seringkali ikut mati.

Lalu tanaman apa saja yang bisa dijadikan sebagai refugia? Pada  prinsipnya semua tanaman yang memiliki bunga dengan warna yang mencolok bagus digunakan sebagai refugia. Lebih bagus lagi jika periode berbunganya cepat atau bunganya tahan lama.

Saat ini, yang banyak ditanam petani sebagai refugia diantaranya bunga matahari, bunga kenikir, bunga kertas, tapak dara, jengger ayam, juga orok orok. Tanaman sayuran pun bisa dijadikan sebagai refugia, loh! Sebut saja kacang panjang, oyong, kecipir dan lainnya.

Benar belaka, sesiapa menanam kebaikan niscaya mengundang kebaikan selanjutnya. Refugia mengajarkan itu kepada kita. Bagaimana dengan kita, sobat hebat?

(Milesia.id/Milesia.id/BUDI SULISTYO)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close
Close