Mileslitera
Trending

Achmad Munjid: Menulis adalah Pergumulan Mencari Jawaban dari Pertanyaan

#Review Bincang-Bincang Sastra Edisi 153

MILESIA.ID, YOGYAKARTA – Sabtu malam, hawa kota Jogja serasa sembab, langit berwarna pekat ketika kerumunan anak muda menyusur jalanan Sriwedani, sebelah Timur Taman Budaya Yogyakarta.

Setelah memarkir kendaraan  di Taman Parkir Sriwedani, mereka beringsut masuk ke dalam kompleks Taman Budaya Yogyakarta (TBY), menuju Ruang Seminar di sisi Barat gedung.

Malam itu, Sabtu 30 Juni 2018 adalah gawe yang ke 153 Bincang- Bincang Sastra dengan tajuk “Peluncuran Novel Para Penjahat dan Kesunyiannya Masing-masing karya Eko Triono.

Event bulanan yang diprakarsai Studio Pertunjukan Sastra (SPS) ini adalah hasil kerja sama dengan Gramedia Pustaka Utama dan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) serta didukung oleh Milesia.Id.

Pukul 20:00 WIB, ruang Seminar TBY telah dipadati pengunjung. Di ruangan seluas 18 x 16 meter itu hadirin duduk lesehan diatas tikar, berjajar dimuka panggung sederhana yang dilapisi karpet merah.

Acara dibuka dengan live perform dari NgopiNyastro, komunitas teater dan sastra yang mencoba mengilustrasikan novel karya Eko Triono itu.

Pada satu adegan, komunitas yang sering menggelar pentas di kedai kopi itu membagikan beberapa gelas jus limun kepada hadirin. Audience dipersilakan menikmati gelas-gelas limun sembari diikuti sebuah pengakuan: jus limun itu berasal dari buah yang didapat dengan cara mencuri.

Adegan membagikan jus limun mewakili symbol ‘kebaikan’ sedangkan mencuri buah mewakili symbol ‘kejahatan’.

Siapa Parta Gamin?

Acara inti dimulai sekitar pukul 20:45 WIB, menghadirkan Achmad Munjid, Ph.D dan Eko Triono serta dipandu oleh Rony K. Pratama.

MILESIA.ID/ KELIK NOVIDWYANTO – Live perform dari NgopiNyastro, komunitas teater dan sastra yang mencoba mengilustrasikan novel karya Eko Triono.

Achmad Munjid yang malam itu tampil casual dengan kaos bergaris, membuka obrolan dengan mempertanyakan sosok Parta Gamin, tokoh rekaan dalam novel itu.

“Siapa itu Parta Gamin?” telisik Munjid.

Dia itu siapa? Apakah ia jahat? lalu jahat menurut siapa?

Senyampang dengan pertanyaan dimuka, dosen Ilmu Budaya UGM itu mencoba mendedah esensi judul novel karya Eko Triono itu: ‘Para Penjahat dan Kesunyiannya Masing-Masing’.

“Judul ini, secara tekstual mewakili konteks moral dan psikologis,” ujar lelaki berkumis dan berjenggot lebat itu.

Kata ‘penjahat’ mewakili konteks moral sedangkan ‘kesunyian’ mewakili konteks psikologis.

Sebuah kritik juga dilontarkan Munjid, menurutnya ada rasa kurang Percaya Diri (PD) dari penulis dalam menentukan pilihan kata di novel ini.

“Ada pilihan kata yang kurang lugas, seolah mewakili rasa kurang percaya diri penulis,” ujarnya, “kalau Anda pintar, tak perlu menggunakan kata-kata yang seolah-olah hebat atau terlalu teknis,” imbuhnya.

Doctor lulusan Temple University itu mencontohkan, penggambaran dunia pertanian di salah satu bagian novel ini terasa kering dan tidak mewakili suasana yang seharusnya.

Pilihan kata dan istilah-istilah yang terlalu teknis malah mengaburkan makna yang semestinya.

Penggunaan diksi-diksi tertentu, idiom, frasa atau cara berpikir seorang penulis harus disesuaikan dengan siapa ia hendak bercerita.

“Cara orang bercerita lebih menarik dari cerita itu sendiri. Karena menunjukkan siapa yang bercerita, apa yang diceritakan,” tegasnya.

Dus, yang dikehendaki oleh seorang penulis adalah karyanya dibaca dan diperbincangkan, entah itu diapresiasi maupun dikritik negatif.

Proses Kreatif

Menanggapi pertanyaan-pertanyaan filosofis dari Munjid, Eko Triono mencoba memaparkan proses kreatif penyusunan novelnya.

“Parta Gamin adalah gambaran sosok nyata dari seorang yang saya kenal semasa kanak-kanak di Cilacap,” ujarnya.

MILESIA.ID/ KELIK NOVIDWYANTO – Melalui novel ini, Eko Triono mencoba merekonstruksi ulang ‘apa’ yang dianggap jahat dan baik serta ‘siapa’ yang dikategorikan jahat dan baik.

Sosok itu kemudian ia ramu berdasar pengalamannya selama berkelana di Aceh dan Papua, sehingga membentuk sosok imajiner bernama Parta Gamin Gesit.

Ia berkisah, novel ini pada awalnya merupakan tugas akhir kelas Akademi Penulisan Novel yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2014.

Novel ini diselesaikannya hanya dalam waktu 2 minggu.

Melalui novel ini, ia mencoba merekonstruksi ulang ‘apa’ yang dianggap jahat dan baik serta ‘siapa’ yang dikategorikan jahat dan baik.

Ia mencontohkan sebuah idea unik yang dicetuskannya berdasar ingatan masa kanak-kanak kala melihat deretan foto Pahlawan Nasional di ruang sekolah.

Dalam benak Eko muncul suatu pertanyaan: kenapa ada gelar Pahlawan Nasional? Jika pahlawan adalah gambaran sosok baik, tentu harus ada penggambaran sosok jahat.

Apakah dengan begitu perlu dibuat gelar Penjahat Nasional? Atau bahkan juga perlu diadakan peringatan Hari Anti Jahat Nasional sebagai bentuk keadilan terhadap adanya gelar Pahlawan Nasional dan Hari Pahlawan.

Merawat Ingatan, Memaknai Fiksi

Pada sesi selanjutnya, Rony K. Pratama memberi kesempatan hadirin untuk memberikan tanggapan, entah bertanya atau sekedar memberikan kritik.

IST – Kazuo Ishiguro: ‘Tanggung jawab seorang pengarang (seniman) adalah mampu mengkomunikasikan perasaan’.

Menanggapi beberapa pertanyaan tentang esensi sebuah fiksi, Achmad Munjid mencoba memaknai ulang sebuah novel sebagai bagian dari sebuah karya fiksi.

“Menulis adalah merawat ingatan,” ujarnya.

“Dan fiksi yang baik adalah menjaga memori, karena memori mempunyai sejarah, entah itu memori kolektif maupun personal,” imbuhnya.

Munjid mengisahkan bagaimana ingatan (memori) itu sanggup bertahan lama bahkan bisa diwariskan.

Sebagai contoh, generasi milenial yang tidak mengalami era Orde Baru bahkan bisa memiliki gambaran yang negatif tentang masa itu. Artinya, semakin kuat sebuah konsep mempengaruhi khalayak, akan semakin lama ia mengendap di dalam ingatan.

Dalam tugasnya merawat ingatan, sebuah karya fiksi atau novel yang baik haruslah mampu menghadirkan pengalaman universal secara personal.

Karena tidak mungkin semua pengalaman mampu kita serap, kita membutuhkan referensi atau bahan bacaan sebagai bentuk exercise terhadap pengalaman oranglain.

“Membaca sebuah novel yang baik selama dua hari, misalnya karya-karya Patrick Modiano, kita akan mendapat pengalaman berharga yang diserapnya selama dua tahun,” tutur Munjid.

Menurut Munjid, sedalam apapun sebuah reportase, tidak akan mampu memberi nuansa atau sudut pandang yang lebih mendalam.

Tugas itu hanya mampu diemban oleh fiksi: bagaimana kenyataan dapat dilihat dengan cara yang berbeda, ibaratnya membuat yang normal menjadi aneh.

Ia memisalkan; binatang yang selama ini kita anggap biasa saja, kemudian melalui kisah fiksi, kita memaknai binatang sebagai sosok yang berkharakter.

Maka sejak saat itulah, cara pandang kita kepada binatang tak akan pernah lagi sama.

Sebuah Konklusi

Malam semakin larut, menjelang pukul 23:00 WIB, Rony K. Pratama menggiring diskusi menuju sebuah konklusi.

“Menulis adalah pergumulan mencari jawaban dari pertanyaan,” simpul Munjid, “entah pada akhirnya pertanyaan itu mampu terjawab ataupun tidak.”

Menyitir ungkapan Kazuo Ishiguro:  ‘Tanggung jawab seorang pengarang (seniman) adalah mampu mengkomunikasikan perasaan’.

MILESIA.ID/ KELIK NOVIDWYANTO – Acara Bincang-bincang Sastra Edisi 153 di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta.

Eko Triono mencoba mengkomunikasikan perasaannya melalui pertanyaan-pertanyaannya, tentang kejahatan dan kesunyian.

“Penulis mencoba membaca ulang alias mendekonstruksi apa itu makna kejahatan dan kesunyian. Apakah kesunyian itu adalah sebuah kejahatan atau malah suatu jalan menuju pencerahan?” telisik Munjid.

Itulah kelebihan novel ini: tidak menawarkan kategori moral secara hitam putih.

Sosok iblis yang selama ini dianggap jahat, bisa dipandang sebagai sosok yang taat (benar) kepada perintah Tuhan untuk menggoda iman manusia.

“Boleh jadi, apa yang selama ini kita sembah sebagai Tuhan, sejatinya adalah pikiran atau konsep kita tentang sosok Tuhan,” tutur Munjid.

Pikiran dan perasaan tidak selalu sesuai dengan kenyataan, karena sesungguhnya kenyataan itu berlapis-lapis dan setiap lapis mempunyai nuansanya sendiri-sendiri.

“Ada sesuatu yang hendak diingat sekaligus dilupakan oleh penulis,” ujar Munjid, “dan sejatinya kita selalu ingin melupakan segala hal yang menurut kita menyakitkan,” pungkasnya. (Milesia.Id/Kelik Novidwyanto)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close