Milestories

Mengenal Ustad H. M. Solihuddin,SQ., MA, Alhafidz

Ma’had Daarul Firdaus, Enjoy Life Enjoy Al Quran..

Pernah mendengar singkatan ODOJ atau ODOA?  Singkatan dari one day one juz dan one day one ayat? Ya, program membaca alquran  satu juz dalam sehari (ODOJ) dan program menghafal satu ayat dalam sehari (ODOA).

Ustad Solih. Milesia.id/Istimewa

Untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, program ODOJ dan ODOA tidak bisa dilepaskan dari kiprah ustad H. M. Solihuddin, SQ., MA, Alhafizh. Cendekiawan muda penuh talenta yang familiar dengan panggilan ustad Solih, itu merupakan jebolan  pondok pesantren Tebuireng, Jombang dan beberapa Ponpes Tahfidz lainnya.

“Ada beberapa pesantren Tahfidz, baik yang di Jatim, Solo, Jakarta dan Jogja yang pernah saya singgahi. Ada yang formal, nonformal dan takhassus.”

“Yang Bidayatul Hidayah, Mojokerto, saya 3 tahun di sana. Sebelum di sana, saya di beberapa pesantren di Mojokerto, Lanjut Tebuireng, Solo 2 tahun, Jakarta 1 tahun, Jogja beberapa tahun sampai sekarang.”

Kesan kharismatik, cerdas, dan murah senyum, itu tertangkap saat ditemui Milesia.id di penghujung Ramadhan (13/6) lalu. Sebagai penggagas program ODOJ di Yogyakarta, Ustad Solih didaulat sebagai dewan pembina ODOJ level provinsi DI Yogyakarta. Meskipun berbasis di Yogyakarta, kiprah Ustad Solih sudah menasional.

Ustad Solih rutin dan intens membimbing sejumlah kajian ilmu dan majlis taklim di DIY dan sejumlah daerah di Indonesia, sembari merampungkan disertasi S3 nya di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, kampus yang sama tempatnya menyelesaikan study S2.

Menjadi seorang hafidz yang ditempuhnya dalam kurun waktu 1,5.th di saat usia sekolah menengah atas, Ustad Solih terus membagi ilmu  yang ditempuh dalam menghafal Quran, melalui metode klasik dengan cara pengulangan secara intens dan ‘menyetorkan’ hafalan ke muhafidz.

Dengan motivasi menghafal yang kuat, “Ingin memakaikan mahkota kepada orangtuanya di surga kelak, serta keinginan  menjaga al Quran, agar lebih dekat dengan Al Quran, untuk mendapat syafaat, mati membawa Al Quran, dan masuk surga bersama Al Quran” menjadi serangkaian motivasi kuat sehingga berhasil menjadi hafidz di usia muda. “Kuncinya, miliki rasa cinta terhadap al Quran,” ujarnya ayah tiga putri ini.

Goresan tangan puteri Ustad Solih/Milesia.id/Istimewa

Terkait Ramadhan, Ustad Solih  mengemukakan, “Ramadhan adalah bulan rahmat. Artinya, kita harus senantiasa menebarkan kasih sayang kepada semua Makhluk Allah. Terutama warga dhuafa di sekitar masjid. Ramadhan juga sebagai bulan maghfirah. Artinya, kita harus menjadi pribadi pemaaf. Mudah memaafkan kesalahan orang lain. Menjalin silaturrahim, merajut ukhuwah dan menjauhi segala bentuk kebencian dan permusuhan. Ramadhan juga sebagai bulan al Quran. Seharunya, interaksi kita dengan al Quran harus lebih ditingkatkan, dengan cara membaca, menghafal, mentaddaburi dan mengimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat”

Ramadhan berlalu dan kini memasuki bulan Syawal. Lebih lanjut, ustad berwajah teduh ini menyampaikan, “Syawal berarti meningkat. Tidak hanya ibadah kita yang meningkat, akan tetapi etos kerja, kehidupan bermasyarakat atau muamallah juga harus meningkat. Karena keduanya merupakan sarana untuk meningkatkan ketaqwaan dan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT”.

Ma’had Daarul Firdaus

Gagasan jenial lainnya dari ustad kelahiran Mojokerto, 33 tahun silam, adalah mendirikan pesantren khusus penghafal al Quran Ma’had Daarul Firdaus (MDF). Penyematan nama Firdaus sinkron dengan dengan pendirian Masjid Al Firdaus (AF) di Ngoto, yang dijadikan sebagai prototipe masjid makmur di wilayah selatan Yogyakarta. Secara kelembagaan, MDF berdiri tahun 2010, dan dua tahun sebelum itu, para santri mengaji al Quran di masjid AF dan belum menetap di ma’had.

Para santri pecinta al Qur’an/milesia.id/Istimewa

Banyak santri datang dari Sabang sampai Merauke untuk menimba ilmu di MDF. Diberlakukan seleksi masuk bagi seluruh calon santri. Calon santri dari kalangan dhuafa mendapat prioritas. Selain melalui serangkaian tes ujian masuk, calon santri diharapkan memiliki wawasan keagamaan yang cukup. Calon santri dari Luar Jawa, lebih khusus lagi dari daerah pedalaman yang berprestasi, diprioritaskan untuk diterima. Seiring mutu pembelajaran yang terus meningkat, calon-calon santri yang mengikuti seleksi terus bertambah. Bukan pula hal mudah untuk menembus MDF. Gambarannya, dari 100 calon santri yang mengikuti seleksi, yang lolos hanya 25 santri. MDF mempunyai komposisi pembelajaran 60% tahfidz, 20% keilmuan, dan 20% kemasyarakatan. Diharapkan, setelah menyelesaikan program studi para santri siap terjun mengabdi di masyarakat.

Hingga saat ini, MDF mempunyai empat cabang untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya dengan pusatnya masjid AF.  Empat cabang itu tersebar di lereng Gunung Merbabu (Jawa Tengah), di Jalan Wates, dan yang terakhir di Jalan Magelang.  Harapan Ustadz Solih, pada 2020 nanti MDF memiliki lima cabang di Yogyakarta. Serta pada 2025 dapat membuka cabang di seluruh wilayah Indonesia. Diharapkan, satu masjid memiliki seorang tahfidz di dalamnya.

MDF sangat mengedepankan kualitas. Karenanya, proses belajar didukung oleh guru-guru baik dari Indonesia maupun luar negeri. Diantaranya dari LIPIA dan Mesir. Ustad Azmi, Ustad Habib, Ustad Ghofur dan Ustad Fahrian, adalah sejumlah guru yang selalu siap membantu Ustad Solih mendidik para santri.

Milesia.id/Istimewa

Kurikulum tahfidz diterapkan. Termasuk pembelajaran kitab tafsir, bahasa arab, fiqih, dan hadits. Bagi siswa berprestasi disediakan beasiswa belajar ke luar negeri. Santri memiliki target waktu  belajar di MDF. Untuk menjadi hafidz perlu ditempuh dalam kurun waktu satu tahun dengan tenggang waktu maksimal tiga bulan. Para santri yang belajar disediakan tempat tinggal dengan sarana belajar, konsumsi, dan lain-lain secara gratis. Semua dana diperoleh dari orang tua asuh sebagai donatur tetap.

Awal bulan Syawal tahun ini, akan dibangun asrama untuk program takhosus atau percepatan.  Asrama dibangun di atas lahan waqaf dari jamaah masjid AF. Bagi santri yang telah lulus menjadi tahfidz akan memperoleh sertifikat  (syahadah).

Enjoy Life Enjoy Al Quran`

Ustadz kelahiran Mojokerto, 18 Januari 1985, yang memiliki motto hidup “enjoy life enjoy alquran” yang berarti hidup dengan aturan al Quran, di sela-sela kesibukan sebagai da’i, motivator al Quran, bimbingan haji dan umroh, masih berkesempatan menulis buku-buku motivasi berbasis al Quran.

Ditanya tentang maraknya ustad-ustad yang bermunculan di layar kaca maupun di media sosial, dengan arif beliau menjawab, “Dari sisi positifnya, dengan banyaknya da’i atau ustadz di TV, Youtube dan media sosial lainnya, akan semakin mewarnai dunia dakwah. Media sebagai sarana syiar Islam. Media menjadi salah satu sumber informasi yang bisa diakses siapapun yang ingin mengenal Islam lebih dekat dan luas. Namun sisi negatifnya, banyak ustad yang tidak berhati-hati dalam mengeluarkan fatwa atau statement yang justru akan menimbulkan perpecahan dan keresahan. Ilmunya masih minim tapi sudah dianggap sebagai ustad media,” pungkas Ustad Solih. Senyumnya mengembang, sebungah cintanya pada al Quran. (Milesia.id/Penulis: Anny Widi Astuti/Editor: Prio Penangsang)

 

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close