FoodsMilesfoodMilestravelTravel
Trending

Buka Puasa dengan Sega Jamblang Cirebon, Kuliner Masyhur Sejak Hindia Belanda

MILESIA.ID, CIREBON – PETANG larut seiring suara adzan Maghrib di kejauhan sana. Langit berangsur redup, lampu-lampu jalanan satu-persatu menyala.

Jalanan protokol di jantung kota Cirebon nampak masih memadat, sepertinya memang tak pernah lengang: orang-orang lalu-lalang, suara berisik klakson angkot yang menaik-turunkan penumpang, serta kendaraan pribadi yang berseliweran.

Kota Cirebon tak pernah lepas dari titik-titik kepadatannya: Stasiun Kejaksan, Masjid At Taqwa, Alun-alun Kejaksan dan Grage Mall.

Menjelang lebaran, seperti lazim di tahun-tahun sebelumnya kota ini bersiap menyambut arus mudik yang bakal melintas dari jalur Pantura.

Di sudut Jalan Cipto Mangunkusumo, beberapa orang nampak bergegas menuju masjid. Hari ini memang sudah waktunya berbuka puasa, orang-orang menikmati takjil kemudian sholat maghrib berjamaah.

Sebagian lainnya menumpuk di kedai-kedai dan warung makan untuk berbuka puasa.

Di sebuah warung tenda pinggiran Jalan Cipto, saya berjejalan diantara orang-orang yang mengantri untuk berbuka puasa. Antrian yang lumayan panjang dan perut lapar, membuat saya tak sabaran untuk segera mendapat giliran.

IST – Lauk sega jamblang yang beraneka macam, nampak lezat dan menggugah selera.

Sembari mengantri, saya takjub melihat deretan baskom berisi lauk pauk yang disajikan cantik diatas meja kayu.

Aroma semur daging nan legit seolah menggugah selera.

Tak kurang dari ikan tongkol sambal goreng merah, gulai lidah, paru goreng, semur hati, perkedel, sate usus, semur telur, tahu tempe goreng, otak goreng, aneka pepes, blakutak alias cumi-cumi yang dimasak bersama tintanya serta sambal cabe merah telah tersaji di atas meja dan siap untuk disantap.

“Nasinya mau berapa mas?” tanya ibu pemilik warung, begitu giliran saya tiba.

“Tiga bu,” jawab saya.

Ibu itu cekatan mengambil bungkusan daun jati dari dalam wakul (wadah nasi dari bambu) kemudian membukanya. Tiga kepal nasi putih seukuran nasi kucing ia sajikan di atas piring plastik yang dialasi lembaran daun jati. Selanjutnya ia mengambil sesendok sambal lalu dituangkannya disamping nasi.

“Lauknya pilih yang mana, mas?” tanya si ibu lagi.

Saya agak bingung menatap deretan baskom berisi aneka lauk di depan mata, semuanya kok nampak lezat. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya pilihan jatuh pada semur daging, ikan asin dan perkedel tahu.

Setelah semua pilihan nasi dan lauk tersaji, si ibu menyodorkan piring ditangannya, “silakan dinikmati nasi jamblangnya mas,” ujarnya ramah.

Punten bu,” sahut saya dalam bahasa khas Cirebon. Segera setelah mendapat tempat duduk, nasi jamblang itu saya santap dengan lahap.

Nikmatnya Sega Jamblang

Sega Jamblang atau Nasi Jamblang dalam Bahasa Indonesia adalah salah satu kuliner khas dari Cirebon, Jawa Barat.

Nama Jamblang sendiri tak ada hubungannya dengan ‘buah jamblang’ atau duwet. Jamblang adalah sebutan untuk nama daerah di Cirebon tempat asal mula kuliner tersebut diciptakan.

IST – Nasi jamblang memiliki ciri khas yakni bungkusnya yang menggunakan daun jati, tujuannya agar nasi bisa lebih tahan lama dan tetap pulen.

Nasi jamblang memiliki ciri khas yakni bungkusnya yang menggunakan daun jati, tujuannya agar nasi bisa lebih tahan lama dan tetap pulen.

Hal ini karena daun jati memiliki pori-pori yang membantu nasi tetap terjaga kualitasnya meskipun disimpan dalam waktu yang lama.

Selain itu, daun jati juga memiliki aroma yang khas.

Penyajian Nasi Jamblang kebanyakan bersifat prasmanan yaitu menggunakan meja rendah yang dikelilingi bangku panjang untuk duduk pembeli. Makanan digelar dengan menggunakan wadah-wadah yang masih tradisional, biasanya berupa baskom.

Berbeda dengan kuliner lainnya, Nasi Jamblang disuguhkan dalam kondisi dingin. Lauknya bisa pilih mau tempe goreng, ikan asin, ayam goreng, tumis udang, sate usus, sate telur puyuh, semur telur, gulai lidah, limpa sapi, paru goreng dan masih banyak lagi.

Dan yang tak ketinggalan adalah sambal. Sambal Nasi Jamblang ini unik karena rasanya yang tidak terlalu pedas. Beberapa kedai ada juga yang menambahkan lauk tambahan seperti pepes ikan tongkol, cumi saus hitam dan otak sapi goreng.

Semuanya akan terasa nikmat saat disantap sembari bercengkerama bersama sahabat atau keluarga.

Kisah Pilu dibalik Muasal Sega Jamblang 

Siapa sangka jika kuliner sederhana yang lezat ini ternyata menyimpan satu kisah yang mengharukan sekaligus pilu.

Kisah ini bermula di masa Hindia Belanda, di zaman pendudukan Belanda di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels antara tahun 1808 dan 1811.

Daendels menerima dua tugas yang diberikan oleh Louis Napoleon, yang menjadi raja di negeri Belanda pada saat itu. Kedua tugas itu adalah: mempertahankan Pulau Jawa agar tidak jatuh ke tangan Inggris dan memperbaiki sistem administrasi negara di Jawa.

Berangkat dari taklimat Napoleon itulah, Daendels memerintahkan pembangunan jalan yang menyatukan seluruh pulau Jawa.

IST – Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels memerintahkan pembangunan jalan Anyer-Panarukan sejauh 1000 KM, yang menyatukan seluruh pulau Jawa.

Kala itu ribuan warga pribumi dikerahkan untuk melakukan kerja rodi (kerja paksa) membangun jalan raya Anyer – Panarukan yang melintasi wilayah Cirebon.

Pembangunan jalan Daendels dari Anyer (Banten) sampai Panarukan (Jawa Timur) sejauh 1000 km pada tahun 1809 – 1810 yang bertujuan untuk mempercepat tibanya surat-surat yang dikirim antar Anyer hingga Panarukan.

Saat itu, Nasi Jamblang disediakan sebagai konsumsi para pekerja, nyaris tanpa lauk seperti Nasi Jamblang yang dijual di warung-warung saat ini.

Nasi yang sudah matang dibungkus dengan daun jati agar lebih awet dan mengandung cita rasa khas sehingga tetap nikmat meski tak ada lauk di dalamnya.

Lantaran bekerja terus menerus, kurang istirahat dan makanan yang kurang bergizi, banyak pekerja asal Cirebon yang tewas. Jasad mereka tidak dikuburkan dengan layak, melainkan hanya ditimbun disekitar area pembangunan jalan.

Kepedihan merundung hati masyarakat Cirebon kala itu. Oleh karena itu, Nasi Jamblang dilestarikan agar generasi kiwari selalu mengingat kisah tragis dan pengorbanan para pekerja-nenek moyang mereka saat membangun jalan Anyer – Panarukan.

Pada perkembangan selanjutnya, Nasi Jamblang terus dilestarikan oleh para pecinta kuliner itu dari masa ke masa.

IST – Pencipta nasi jamblang yaitu Mbah Pulung, dulu membagikannya secara gratis pada buruh Pabrik Gula Gempol, Pabrik Spiritus di Palimanan dan stasiun kereta api pada kurun waktu 1847 dan 1883.

Mengutip dari laman BBC INDONESIA, sebutan Jamblang sebenarnya merujuk pada nama sebuah desa yang berada di wilayah kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, yang merupakan daerah asal kuliner ini.

Adalah Kusdiman dan Tien Rustini yang merupakan keturunan Tan Piaw Lung atau yang dikenal dengan Mbah Pulung, yang pertama kali disebut menciptakan nasi Jamblang.

Tien yang merupakan generasi kelima menjelaskan asal-usul Nasi Jamblang yang dibuat oleh moyangnya Abdul Latief dan istrinya Mbah Pulung, dulu dibagikan secara gratis pada buruh Pabrik Gula Gempol, Pabrik Spiritus di Palimanan dan stasiun kereta api pada kurun waktu 1847 dan 1883.

Penjualan nasi Jamblang keluarga mbah Pulung mencapai puncaknya pada tahun 1960-1970an, tetapi kemudian semakin merosot karena keturunannya memilih untuk bekerja di sektor lain dan meninggalkan bisnis Nasi Jamblang.

Kuliner Nusantara Favorit SBY

Kepopuleran sega jamblang belakangan telah bergeser dari muasalnya di desa Jamblang beralih menuju Kota Cirebon. Hal ini tak lepas dari geliat bisnis kuliner di kota Cirebon yang semakin menggairahkan.

Nasi jamblang adalah salah satu dari 5 kuliner khas Cirebon yang sangat populer; selain empal gentong, tahu gejrot, nasi lengko dan docang.

Banyak penjual nasi jamblang menjamur di kota Cirebon, dari yang hanya di pinggiran jalan dengan tenda seadanya sampai di restoran berkelas.

IST -Nasi Jamblang Mang Dul, warung jamblang kegemaran Presiden SBY yang berdiri sejak 1968 dan disebut sebagai warung nasi jamblang tertua di Cirebon

Tetapi khusus di kota Cirebon, ada beberapa warung nasi jamblang yang sudah cukup punya nama, baik karena pengalaman ataupun kualitas rasanya. Berikut ini beberapa warung nasi jamblang yang terkenal di kota Cirebon :

1.) Warung Ibu Nur awalnya dari warung tenda pinggiran, berkembang pesat sampai akhirnya pindah ke bangunan permanen. Konon nasi jamblang Ibu Nur sudah terkenal hingga ke kalangan pejabat di Kota Cirebon. Lokasinya berada di Jalan Cangkring II, Cirebon atau tidak jauh dari Jalan dr. Cipto Mangunkusumo.

2.) Nasi jamblang Pitri (Mami Pitri) mengincar pasar kuliner malam. Jadwal buka warung hanya malam hari. Tempatnya masih berupa warung tenda, terletak di Jalan Cipto Mangunkusumo, tak jauh dari Gunung Sahari Trade Center. Walaupun tenda, pengunjungnya membludak tiap malam.

3.) Nasi Jamblang Ibad Otoy, berlokasi di Jalan Cipto Mangunkusumo, Pekiringan, Kesambi, Kota Cirebon. Warung Jamblang Ibad Otoy buka setiap hari Senin-Sabtu mulai pukul 07.00-22.00 WIB, sementara hari Minggu libur. Selain menu nasi jamblang, juga ada menu pedesan entog.

4.) Nasi Jamblang Pelabuhan Pelabuhan, berlokasi di Jl Yos Sudarso (pintu pos 1 Pelabuhan Cirebon). Buka setiap hari, mulai dari pukul 06.00 hingga 00 WIB.

5.) Warung Mang Dul sudah berdiri sejak 1968 & disebut sebagai warung nasi jamblang tertua di Cirebon. Tempat makan ini terletak di Jalan dr. Cipto Mangunkusumo, Gunung Sari, Cirebon. Warung sederhana namun bersih & nyaman. Warung Mang Dul buka mulai pukul 09.00 sampai 20.00 WIB.

Warung Nasi Jamblang Mang Dul yang terletak di Jl. Cipto Mangunkusumo No.4, Cirebon ini kabarnya merupakan langganan Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Beliau selalu menyempatkan mampir ke warung ini untuk menyantap sega jamblang setiapkali melakukan kunjungan ke Cirebon.

Mengenai harga, rata-rata satu porsi nasi jamblang dihargai murah, yaitu Rp 2.000 ( tanpa lauk). Karena harganya yang sangat terjangkau inilah yang membuat Nasi Jamblang menjadi santapan para pekerja di Pelabuhan dan Jalan Pekalipan, dua wilayah tersibuk di Kota Cirebon saat ini.

IST – Diantara serbuan produk fast food dan junk food yang menjungkir-balikkan nalar generasi kiwari, selayaknya kita melestarikan khazanah kuliner Nusantara.

Dus, berangkat dari kisah tak mengenakkan di zaman Hindia Belanda, sega jamblang adalah sebuah penanda bahwa kita pernah mengalami duka akibat ‘penjajahan fisik’ di masa lampau.

Walau sesungguhnya, saat ini pun kita masih terus dijajah dalam ‘rupa’ yang lain.

Diantara serbuan produk fast food dan junk food dari negeri seberang yang menjungkir-balikkan nalar generasi kiwari, sudah selayaknya kita bergerak untuk bersama-sama melestarikan khazanah kuliner Nusantara.

Menikmati Sega Jamblang entah di restoran mewah atawa di warung-warung kecil pinggiran jalan adalah sebuah tengara yang akan memantik semangat memberdayakan ekonomi rakyat.

Selain asa bahwa anak cucu kita kelak akan selalu mengenal, menghargai dan mencintai karya adiluhung nenek moyang di masa lampau. (Milesia.Id/Kelik Novidwyanto)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close