Milesfoto

Berkah Kopi Lereng Merapi Pasca Erupsi

Selain menurunkan erupsi yang sering memakan banyak korban, Merapi tak lupa menganugerahkan bulir-bulir kopi dengan tektur rasa dan aroma yang khas. Berkah bumi dataran tinggi yang kaya hara dari salah satu gunung berapi paling aktif di dunia.

Milesia.id/RATIH PUSPITA

Kopi lereng Merapi naik daun beberapa tahun belakangan. Mulai ditanam pasca erupsi tahun 2010, buahnya sudah bisa dipanen selama beberapa musim.

Letusan freatik gunung Merapi pada 21 Mei lalu, menjadikan statusnya dinaikkan dari level I (normal) menjadi level II (waspada). Kawasan gunung bertipe puncak strattovulcano itu, juga berstatus tertutup bagi wisatawan yang berniat menyambangi puncaknya.

Beberapa hari jeda erupsi freatik, gunung Merapi  tidak lagi mengeluarkan abu tambahan, meskipun jejak-jejaknya masih tersisa pada daun-daun dan atap rumah. Tak terkecuali di hampar kebun kopi. Hujan yang sempat mengguyur Kota Yogya dalam beberapa hari lalu, tak benar-benar mampu menghapus jejak abu vulkanis di sekujur vegetasi lereng merapi. Juga di kebun-kebun kopi itu.

Milesia.id/RATIH PUSPITA

Lahan kopi Pak Kasno di lereng selatan Merapi, Dusun Pangukrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, misalnya, tak steril dari abu merapi. Debu vulkanis menjejak di helai daun dan ranting kopi milik petani berusia 64 tahun itu.

Bagi sebagian petani, kopi adalah nadi ekonomi. Erupsi kali ini belum sanggup mencegah petani-petani tangguh itu untuk absen merawat pokok-pokok kopi. Mencegah debu, beberapa petani membebatkan kaos sebagai ganti masker saat menyambangi kebun kopi​. Lainnya memilih tanpa penutup wajah sama sekali.

Milesia.id/RATIH PUSPITA

Bu Hadi, seorang warga Umbulharjo,  membantu memetik biji kopi yang telah merah di  lahan  kebun samping rumah Pak Kasno. Sebagian biji dari varietas kartika yang merupakan salah satu  varian kopi arabika itu, membusuk karena telat dipanen. Untuk setiap kilo biji kopi merah yang dipetiknya, Ia mendapat upah tiga ribu rupiah.

Milesia.id/RATIH PUSPITA

Buah kopi matang yang telah dikupas dikeringkan di dalam dome berbahan plastik UV yang mampu melindunginya dari paparan debu. Proses pengeringan melepas sebagian besar kadar air dalam biji kopi dan menurunkan bobotnya.  Dari setiap 7  kilogram biji kopi basah akan dihasilkan 1kg biji kopi kering (green beans). Beratnya semakin susut lagi setelah pemanggangan (roasting) hingga tersisa 800 gram saja. (Milesia.id/ Penulis: Ratih Puspita/Editor: Prio Penangsang)

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close