FoodsMilesfoodMilestravel

Nikmatnya Menyesap ‘Kopi Walik’ di Bulan Suci

MILESIA.ID, YOGYAKARTA – MALAM selepas sholat Tarawih, kami menyempatkan mampir ke sebuah kedai kopi di sebelah Utara, alun-alun lor (utara) Keraton Yogyakarta.

Setelah memesan secangkir kopi walik dan camilan, kami duduk mengobrol di halaman kedai.

Beberapa orang bergamis dan berbaju koko nampak asyik bercengkerama, sesekali terdengar tawa renyah keluar dari mulut mereka.

Sama seperti kami, mereka baru saja selesai tarawih di masjid Agung Kauman, kebetulan kedai ini hanya berjarak beberapa meter di sebelah Timur masjid lawas itu.

Agus Kristianto, karib yang duduk disebelah berseloroh: “Yogya selalu menjadi tempat ngopi yang nyaman sekaligus syahdu”.

Ia menggambarkan suasana malam di Jogja yang kental aroma nostalgic: angin malam yang menyusup disela-sela kuduk, orang-orang lalu-lalang, serta tengara-tengara klasik yang berkelindan dengan temaram lampu alun-alun di kejauhan sana. Sihir malam yang melenakan.

IST/ Dok. Kopi Walik – Menikmati ‘kopi walik’ sembari mengobrol lena di halaman Kedai Kopi Walik Jogja.

“Kopi waliknya mas,” ujar pelayan tiba-tiba, membuyarkan lamunan kami.

Beberapa cangkir kopi segera tersaji di depan kami. Agus yang baru pertama kali bertandang ke kedai Kopi Walik itu mengernyitkan dahi, ia heran melihat jejeran gelas kopi yang disuguhkan ‘terbalik’ di atas meja.

“Ini yang namanya kopi walik? Lalu gimana cara minumnya?”

Sejarah Kopi Nusantara

Kopi Walik adalah salah satu tradisi ngopi (minum kopi) nenek moyang yang tumbuh sebagai imbas masuknya kopi ke Nusantara.

Dalam catatan Jurnalbumi yang dipublish Cecep Risnandar, kopi dibawa oleh penjajah Belanda pada tahun 1696, mereka membawa kopi dari Malabar, India, ke Pulau Jawa.

Budidaya tanaman kopi yang pertama di daerah Kedawung, sebuah perkebunan yang terletak dekat Batavia. Namun, upaya ini gagal karena tanaman kopi rusak akibat bencana.

IST/ Dok. Youtube – Beberapa pekerja wanita di perkebunan zaman Hindia Belanda,

Upaya kedua dilakukan pada tahun 1699 dengan mendatangkan stek pohon kopi dari Malabar. Pada tahun 1706 sampel kopi yang dihasilkan dari tanaman di Jawa dikirim ke negeri Belanda untuk diteliti di Kebun Raya Amsterdam.

Hasilnya sukses besar, kopi yang dihasilkan memiliki kualitas yang sangat baik. Selanjutnya tanaman kopi ini dijadikan bibit bagi seluruh perkebunan yang dikembangkan di Indonesia.

Belanda pun memperluas areal budidaya kopi ke Sumatera, Sulawesi, Bali, Timor dan pulau-pulau lainnya di Indonesia.

Tradisi Ngopi Walik

Seiring populernya tanaman kopi di Indonesia, tradisi ngopi juga tumbuh subur di tanah air.

Mengutip penuturan Kepala Divisi Public Relation Sobat Budaya, Geaffary Aji dalam diskusi santai bertajuk “Omongan Budayo: Tradisi-Tradisi Ngopi di Nusantara” di laman kompas.com, setidaknya ada 9 tradisi minum kopi yang masyur di Indonesia.

Beberapa tradisi ngopi yang populer seperti Kopi Sanger Aceh, Kopi Tarik Aceh, Kopi Kawa Daun di Sumatera Utara, Kopi Durian di Medan, Kopi Talua di Sumatera Barat, Kopi Joss di Yogyakarta, Kopi Tubruk dan Kopi Walik.

Ada beragam versi mengenai muasal tradisi Kopi Walik, beberapa catatan menyebut kopi walik berasal dari Aceh. Namun ada juga yang menyebut tradisi ngopi walik mula pertama muncul dari daerah Pesisir Utara.

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Kopi Walik menurut kisah, konon berasal dari bubuk kopi yang tidak mau larut dengan air hingga langkah yang diambil dengan meminum melalui gelas yang dibalik.

Menurut kisah, konon berasal dari bubuk kopi yang tidak mau larut dengan air hingga langkah yang diambil dengan meminum melalui gelas yang dibalik.

Lalu bagaimana cara meminumnya? Nah, disinilah letak keunikannya: siapkan satu tangan untuk memegang bibir cawan kemudian satu tangan lagi memegang gelas sembari membukanya perlahan-lahan.

Sekejap biarkan seduhan kopi merembes membasahi tepian cawan, selanjutnya kita tinggal menikmati rembesan kopi itu dengan menyesapinya perlahan-lahan.

Cara minum kopi yang tak lazim memang, tapi tidak terlalu sulit, hanya butuh sedikit ketrampilan agar kopi dalam gelas tidak tumpah saat diminum.

Buat yang tak ingin ribet, kita bisa menggunakan sedotan untuk menyeruput, memang lama habisnya tapi disitulah asyiknya, kita bisa menikmati proses minum kopi sambil bercengkarama bersama keluarga atau sahabat.

Proses pembuatan kopi walik ini sendiri sebenarnya sangat sederhana, seperti biasa kopi diseduh dengan air panas lalu dituangkan ke dalam gelas. Kemudian gelas berisi kopi ditutup dengan cawan (piring kecil atau tatakan) dan dibalik.

IST/ Dok. Kopi Walik – Tradisi Ngopi bisa menjadi sarana untuk merekatkan rasa kekeluargaan dan menjalin silaturahmi antar etnis, suku dan agama di Nusantara.

Bisa dibayangkan bagaimana asyiknya orang-orang di zaman lampau menyeruput kopi walik sembari ngobrol ngalor ngidul (tanpa ujung pangkal). Tak peduli apapun latar belakang suku (etnis), agama atau ras, semua menyatu dalam kenikmatan secangkir kopi.

Kegemaran nenek moyang untuk menikmati kopi sebenarnya memiliki hubungan dengan kebiasaan melek bengi (begadang).

Kafein, yang kandungannya melimpah dalam kopi, merupakan stimulan yang dapat meningkatkan kinerja dan energi tubuh, meningkatkan memori, serta mempertajam konsentrasi dan kewaspadaan dalam jangka pendek.

Walau kafein juga termasuk zat adiktif yang bisa menyebabkan ketergantungan.

Belakangan, Seorang peneliti Harvard, Edward Giovannucci mengatakan bahwa kopi tidak sekedar air hitam pekat, melainkan minuman yang mengandung antioksidan sangat tinggi.

Ia mencatat bahwa kopi memiliki lebih banyak antioksidan daripada kebanyakan sayuran dan buah-buahan.

Kopi Walik Van Jogja

Salah satu kedai kopi yang mencoba melestarikan tradisi minum kopi tempo dulu: Kopi Walik, adalah Kedai Kopi Walik Jogja.

Tempat ngopi yang beroperasi sejak 24 Februari 2018 itu mencoba memadukan keunikan ritual minum kopi generasi lampau dengan trend minum kopi kiwari yang tumbuh subur di kota gudeg.

IST/ Dok. Kopi Walik – Kedai Kopi Walik Jogja, mengusung tradisi kopi walik ke dunia kuliner kekinian untuk mengingatkan kembali kepada pemuda masa kini ihwal cara minum kopi zaman dulu yang unik dan menarik.

Menurut pengelolanya, Fina Permana, ia sengaja mengusung tradisi kopi walik ke dunia kuliner kekinian untuk mengingatkan kembali kepada pemuda masa kini ihwal cara minum kopi zaman dulu yang unik dan menarik.

Ia melihat pesatnya perkembangan kafe kopi di Jogja, yang banyak menawarkan suasana ‘wah’ dengan kesan mahal, oleh karena itu ia ingin menghadirkan suasana yang berbeda.

“Bagaimana sih, nenek-moyang kita zaman dulu menggunakan proses manual brew tanpa mesin untuk menciptakan cita rasa kopi yang khas. Tugas kita untuk melestarikannya,” tuturnya.

Menu Kopi Walik di kedai ini sendiri dibagi menjadi dua, yaitu kopi hitam dan kopi susu. Sedangkan untuk jenis kopi, kedai ini masih bersetia menggunakan kopi lokal, yaitu Kopi Robusta dari Temanggung.

Selain menu kopi walik, kafe ini juga menyajikan aneka minuman hangat seperti jahe, teh susu, dan coklat. Ada juga aneka jus, mocktai dan ice blend serta macam-macam snack seperti singkong goreng, pisang goreng, roti, kentang dan lainnya.

Untuk makan besarnya, tersedia aneka nasi goreng seperti nasi goreng campur, nasi goreng ikan teri, nasi goreng pete serta menu andalannya, nasi goreng daging. Masih ada lagi menu pelengkap seperti bakmi Jawa, steak, pasta, dan ayam bakar.

Mengenai harga, Kedai Kopi Walik mematok kisaran Rp 5000 hingga Rp 20.000 untuk minuman. Sedangkan untuk makanan, dari Rp 4000 hingga Rp 35.000.

Jam operasional kedai yang buka setiap hari ini dimulai pukul 16.00 hingga 24.00, last order pukul 23.00. Untuk Info dan reservasi dipersilakan menghubungi +6282242434229.

Kedai ini juga memberikan fasilitas free Wifi buat mereka yang ingin menikmati kopi sembari berselancar di dunia maya, tempat parkir, mushola dan toilet. Selain itu, khusus di bulan Ramadhan, Kopi Walik menawarkan paket Buka Bersama ber-4 yang dibanderol 150K.

IST/ Dok. Kopi Walik – Kedai Kopi Walik, terletak di sebelah Utara Alun-Alun Utara Kraton Yogyakarta.

Dus, di tempat ini kita bisa ngopi sembari bernostalgia menikmati suasana Jogja khas tempo dulu. Di ruang utama (indoor) tersedia bangunan pendopo tua yang dikemas apik dengan meja kursi berbahan kayu dari peti kemas.

Sedangkan diluar, kita bisa menyeruput kopi walik sembari menikmati semilir angin malam, jua kerlip lampu Alun-Alun Utara keraton Yogya di kejauhan.

Jogja dalam secangkir kopi, sepertinya tak pernah letih menyuguhkan aura magis-nya: tentang nostalgia masa lampau atau kisah tentang kerinduan dari tempat-tempat yang jauh.

(Milesia.Id/ Kelik Novidwyanto)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close