DINAMIKAMilesianaMilesosbud
Trending

MOZAIK RAMADHAN: Memaknai Ulang Ibadah Puasa

“Alangkah sedih menyaksikan betapa dunia ini diisi oleh banyak manusia yang tak henti-hentinya makan, padahal ia tak lapar, serta oleh banyak manusia yang tidak habis-habisnya makan padahal ia sudah amat kekenyangan.” ( Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai – Emha Ainun Nadjib )

MILESIA.ID — Angin di bulan baru tiba membawa aroma Ramadhan, pucuk kerinduan setiap muslim terbasuh oleh citra magis yang disuguhkan Ramadhan.

Kelak, sebulan penuh kita disuguhkan dengan berbagai aktivitas regilius yang berkelindan dengan aktivitas sosial: puasa ramadhan, taraweh, tadarus dan i’tikaf.

Dalam tulisannya bertajuk “Pernik Ramadhan”, Zen rs memaknai ramadhan khususnya “ibadah puasa” sebagai ekspresi kebebasan manusia muslim. Ia mengisahkan keheranan seorang Amrikiya berdarah Yahudi tentang bagaimana muslim di Indonesia sungguh-sungguh menikmati dan bahkan menunggu-nunggu Ramadhan.

Amrikiya itu sukar mengerti mengapa “ibadah puasa” yang berkonotasi dengan “penindasan dan pengekangan” terhadap perut, mata, telinga, kelamin dan hasrat-hasrat duniawi lainnya, yang berlangsung rutin setiap tahun, bisa disambut dengan gegap gempita oleh muslim di Indonesia.

Keheranan Amrikiya itu karena ia tidak mengerti betapa Ramadan sesungguhnya bukan sekadar “penindasan dan pengekangan” terhadap makan, minum dan seks sepanjang pagi hingga sore, melainkan juga pembebasan yang menyenangkan dari rutinitas yang membosankan dalam 11 bulan lainnya.

Setali dengan Zen, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dalam bukunya “Tuhanpun Berpuasa” memaknai puasa sebagai sebuah pilihan. Menurut Cak Nun, puasa adalah pilihan atau keharusan untuk ‘tidak’ atas sesuatu yang sewajarnya ‘ya’. Atau sebaliknya: keputusan untuk ‘ya’ terhadap sesuatu yang halal untuk ‘tidak’.

Sejarah Puasa Ramadhan

Menurut sejarah, puasa Ramadhan diwajibkan sejak tahun kedua Hijriyah atau sekitar 18 bulan setelah Rasulullah SAW tinggal di Madinah.

IST – Rasulullah saw mulai melaksanakan puasa ramadhan sejak 2 Hijriyah atau sekitar 18 bulan semenjak tinggal di Madinah (ilustrasi masjid Nabawi di zaman rasulullah).

Mengutip dari republika.co.id, sepanjang hayatnya Rasulullah SAW berpuasa sebanyak 9 (sembilan) kali Ramadhan. Sesuai dengan sistem kalender Qomariyah, Rasulullah telah berpuasa sebanyak delapan kali selama 29 hari dan satu kali berpuasa selama 30 hari.

Dalam sebuah hadist riwayat Ahmad, Rasulullah berpesan kepada umatnya, “Telah datang kepadamu Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah SWT mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya. Pada bulan ini, pintu-pintu surga dibuka. Pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat. Juga terdapat dalam bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barang siapa yang tidak memperoleh kebaikannya maka ia tidak memperoleh apa-apa.”

Kewajiban puasa Ramadhan sendiri berlaku bagi setiap Muslim yang sudah dewasa (baligh). Puasa Ramadhan tidak diwajibkan kepada anak-anak, orang sakit, orang tua dan lemah, serta orang-orang yang sedang dalam perjalanan (musafir).

Tingkatan Puasa

Rasulullah SAW menegaskan bahwa puasa itu memiliki 3 (tiga) tingkatan. Mulai dari yang tertinggi hingga yang terendah, yakni puasanya orang awam, puasanya khawas, dan puasanya khawasulkhawas.

Puasanya orang awam sekadar menahan haus dan lapar semenjak terbitnya hingga terbenamnya matahari.

Puasa khawas bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, melainkan juga ucapan-ucapan yang percuma dan menyakitkan hati. Dalam kalimat lain, puasa tingkatan kedua ini menjaga pelakunya dari perbuatan yang tercela.

Adapun puasanya khawasulkhawas bukan sekadar menahan makan dan minum serta perbuatan yang tercela, melainkan juga terkait dengan hatinya.

Menurut para ulama, puasa khawasulkhawas merupakan milik para nabi dan rasul Allah. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah SWT berkata, “Sesungguhnya seluruh amal anak Adam itu untuk diri mereka sendiri kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya.”

Hakikat Puasa

Sebuah konklusi, mengutip kembali tulisan Cak Nun dalam buku “Tuhanpun Berpuasa”, beliau mewedar makna puasa sebagai wujud selfreminder, sebuah refleksi agar manusia bersedia menengok kembali ke dalam dirinya.

IST – Bagi Cak Nun, puasa adalah pilihan untuk ‘tidak’ atas sesuatu yang sewajarnya ‘ya’, atau keputusan untuk ‘ya’ terhadap sesuatu yang halal untuk ‘tidak’.

Menurut Cak Nun, puasa adalah sebuah metode dan disiplin agar engkau melatih diri untuk ‘melakukan’ apa yang pada dasarnya tidak engkau senangi serta ‘tidak melakukan’ apa yang pada dasarnya engkau senangi.

Lalu bagaimana dengan orang yang berpuasa tapi hatinya tidak ikhlas? Lebih bagus dong! Kalau masuk Ramadhan kemudian kamu gembira, apa hebatnya? Yang hebat adalah orang yang tidak senang tapi tetap menjalankannya.

“Kalau kamu suka rujak lalu memakan hidangan rujak, apa istimewanya? Tapi kalau kamu memakan rujak yang tak kamu sukai itu semata-mata karena Allah yang menyuruh, akan menjadi lebih tinggi nilainya,” begitu alegori Cak Nun.

Bagi Cak Nun, laku puasa bukan serta merta menjadi tanda seseorang disebut shaleh, karena puasa bukanlah output melainkan sebuah input. Yang utama adalah bagaimana puasa itu mampu melembutkan hati seseorang agar dapat merasakan, bersimpati dan berempati  dengan penderitaan dan kekurangan oranglain, sehingga kita diberi keikhlasan untuk berbagi.

Maka itulah kenapa kesempurnaan ibadah Ramadhan bukan ditunjukkan dari seberapa banyak kita sholat dan berpuasa melainkan dalam bentuk relasi sosial; yaitu keikhlasan untuk menunaikan zakat fitrah. (Milesia.Id/Kelik Novidwyanto)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close