Milestories

Mbok Slamet, Sang Motivator Renta, Papa, dan Sebatangkara

Sobat milenial, jikalau hidupmu sedang gundah gulana karena gebetanmu disaut karibmu. Atau skripsimu mawut ndak kelar-kelar, sementara kuliahmu sudah lewat sewindu.  Atau, uang jajanmu selalu ludes dan tak pernah cukup untuk sekedar menebus sepatu Converse yang maharnya setara dengan 60 Kg beras.

Atau tidurmu klisikan karena postinganmu di media sosial tak pernah kondang kaloka. Atau, hari ini kamu mlongoh ndak kebagian es Kepal Milo, padahal sudah berjejal ngantri berjam-jam di jalanan. Atau kamu yang klenger, dikejar-kejar tukang tagih  karena cicilan Tupperwaremu telat 3 purnama.

Pedih memang. Tapi, tak usah sedih, putus asa, getun. Apalagi sampai kendat, gantung diri di bawah pohon ciplukan. Muspro prend. Muspro, alias ndak ada gunanya.

Karena ada seorang perempuan, renta, keriput, papa dan sebatangkara, yang gurat nasibnya bisa dijadikan kaca benggala. Cerita hidupnya bisa dijadikan bahan renungan, bahwa masalah yang menimpamu hanyalah sak kuku ireng, sak kuku Ponconokone Werkudoro saat jejer di layar pewayangan.

Tak perlu sedu sedan itu, karena cerita perempuan ini lebih berat daripada rindu, lebih akut daripada cintamu.

Pada sehampar makam Dusun Kendenglembu, Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi,temuilah mbok Slamet. Lahir saat Indonesia merdeka, 1945,  kini Ia 73  tahun.

Meski sudah kepala 7, tubuhnya masih sehat, penglihatannya cetho welo-welo, bicaranya cas cis cus, lancar macam makelar ketemu calon pembeli. Langkah kakinya teguh. Biarpun tubuhnya mulai membungkuk.

Pertama bertemu mbok Slamet, saya langsung jatuh cinta. Jatuh cinta pada semangat hidupnya. Jatuh cinta pada kesederhanaannya. Jatuh cinta pada prinsip hidupnya. Jatuh cinta pada kepasrahan batinnya. Dan jatuh cinta pada perjuangan hidupnya.

Saat itu juga, saya mendapuk mbok Slamet sebagai motivator sekaligus penasihat spiritual yang digdaya, mengalahkan motivator di tipi-tipi dan ustadz-ustadz di layar kaca yang suka berbuih-buih kalo lagi manggung itu.

Mbok Slamet adalah pribadi yang “Tinatah mendat jinara menter. Ora tedhas tapak paluning PAN-nde sisaning GERINDRA.”

Mbok Slamet berprofesi sebagai juru kunci makam. Kegiatannya sehari-hari adalah membersihkan kuburan, menyapu dedaunan kering yang berguguran, membabat habis rerumputan yang tumbuh, mengembalikan maesan yang berserak karena tanah galian ambles, menanam bunga-bunga di pusara kuburan sebagai penanda bagi ahli waris agar tidak kehilangan jejak.

Memberi petunjuk kepada pengunjung yang lupa dimana kerabatnya di semayamkan, menjaga keranda mayat agar tidak terkena limpasan air hujan, dan tentunya menunjukkan kaplingan kosong bagi jenazah baru yang akan dikebumikan.

Setiap bulan, mbok Slamet menerima Rp 175 ribu dari iuran warga. Bagi kita, uang segitu adalah slilit, sekedar beli pulsa bulanan pun bakalan kurang. Tapi, bagi mbok Slamet, uang segitu adalah berkah.

“Alhamdulillah, saged damel mbayar listrik (pajak PLN),” begitu katanya. Meski sedikit, mbok Slamet tak pernah mengeluh, apalagi mengumpat. “Kulo mboten nate ngarep-arep bayaran. Kulo namung ngarep-arep, mbok menowo mbesuk ditimbali Gusti Allah, mugi-mugi amal ibadah kulo wekdal wonten ndonyo saged ditampi kalih Gusti Pengeran. Lan kulo saged kepanggih kalian almarkhum bojo kulo ingkang sampun ditimbali langkung rumiyin.”

Sebenarnya, uang 175 ribu itu tidak cukup bagi kebutuhan hidup mbok Slamet. Kebetulan, setiap bulan, Ia mendapat bantuan 20 kg beras dari program Raskin. Sehingga, beras tidaklah menjadi kendala. Soal sayur, mbok Slamet biasanya ramban di halaman rumah, kadang ramban kelor milik tetangga, kadang memunguti pakis di kebun, sesekali beli tahu tempe jika dirasa uangnya cukup.

Selain itu, kadang-kadang Ia menjual pisang hasil tanamannya di batas-batas makam. Perihal tanaman pisangnya, Ia memang di beri izin oleh warga untuk memanfaatkan lahan kosong di batas- batas makam. Hasil jualannya kadang dibelikan herbisida, untuk menyemprot rumput yang tumbuh di makam.

Sebab, kalau hanya dibabat, Ia kewalahan membersihkan rumput. Sisa hasil jualannya Ia pakai untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Mbok Slamet tinggal di rumahnya yang reyot. Terbuat dari anyaman bambu. Kursinya jauh dari kesan mewah. Ambennya tanpa kasur. Tak ada kitchen set di dapur. Yang ada adalah ember, tempat perkakas dapurnya disimpan. Mbok Slamet biasa memasak di tungku, menggunakan kayu bakar untuk menjerang air, menanak nasi.

Ia sebatangkara. Suaminya telah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Tidak punya anak. Juga nir saudara. Ia adalah anak tunggal dari kedua orang tuanya.

Satu-satunya cara mengusir sepi adalah rajin ke masjid. Beribadah, dan bertemu dengan tetangga di kampungnya. Hal yang paling membuatnya sedih adalah bila tiba waktunya Hari Raya, sepi, tak ada anak, tak ada cucu, tak ada saudara.  Paling-paling hanya tetangga yang bersilaturahim.

Satu-satunya orang yang dianggapnya bisa mengusir sepi adalah anak angkatnya. Hanya saja, anak angkatnya kalau datang saat Hari Raya paling banter sehari. Sekedar absen wajah, setelah itu sepi kembali. Ramene sak klentheng, sepine sak rendheng. Begitu gambarannya.

Mbok Slamet hanya bisa mbrebes mili, mengenang perjalanan hidupnya yang cukup terjal dan berliku. Menikmati kesendirian hidupnya dalam balutan kesederhanaan dan kepasrahan. Tetap teguh merawat daya hidupnya.

Seperti kata Rendra dalam Sajak Seorang Tua Untuk Istrinya.

 

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh

Hidup adalah untuk mengolah hidup

Bekerja membalik tanah,

Memasuki rahasia langit dan samodra

Serta mencipta dan mengukir dunia

Kita menyandang tugas,

Karna tugas adalah tugas

Bukannya demi sorga atau neraka

Tetapi demi kehormatan seorang manusia

 

Mbok Slamet meyakini, hidup ini hanyalah sebentar, mung mampir ngombe. Kalau sudah tiba

waktunya dipanggil yang Maha Pemberi Hidup, Ia ingin di semayamkan di sebelah pusara suaminya.

Ia ingin bertemu suaminya, memeluknya erat, bersama-sama mengharap ridho Illahi robbi. Semoga.

(Milesia.id/Fauzi Ismail)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close