DINAMIKA

FESTIVAL COKELAT

Hujan Cokelat di Banyuwangi

MILESIA.ID/FAUZI ISMAIL

(BANYUWANGI-Milesia.id) Sabtu pagi, (12/5), matahari masih sepenggalan. Mendung tipis bergelayut di kaki langit Doesoen Kakao, Glenmore, Banyuwangi, tempat diselenggarakannya Festival Cokelat Banyuwangi.

Perhelatan perdana Festival Cokelat ini diprakarsai oleh Pemda Banyuwangi bersama Doesoen Kakao, Kebun Kendenglembu, PTPN XII, BUMN Perkebunan yang akhir-akhir ini namanya moncer di jagad Agroeduturisme.

Pengunjung Festival Cokelat Banyuwangi disuguhi Tari Petik Kakao yang apik dan enerjik. Lengking gamelan dan gerak ritmis penarinya mampu membius pengunjung yang berjubel di seputaran undhak-undhakan Patung Gandrung, podium yang menjadi episentrum rangkaian Festival Cokelat Banyuwangi.

Mengamati proses penjemuran biji kakao (MILESIA.ID/FAUZI ISMAIL)

Dalam sambutannya, Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengatakan, Festival Cokelat ini merupakan cara pemerintah Banyuwangi untuk bertemu dengan rakyat. “Rakyat bisa melihat bagaimana tertib acara, bagaimana Indonesia Raya, bagaimana acara dihimpun, bagaimana kesenian ditampilkan. Anak-anak bisa merekam jejak kegiatan Festival seperti ini. Karena ini adalah bagian dari edukasi yang kita rancang melalui festival,” papar Anas.

“Festival di Banyuwangi berbeda dengan festival di tempat lain. Di tempat lain, festival sering diborong kawasan perkotaan. Di Banyuwangi, festival tidak boleh didominasi perkotaan. Maka festival ini, kita gelar di cikal bakal tumbuhnya budaya dan tradisi,” imbuh Anas.

Anas menambakan, Doesoen Kakao Banyuwangi  berbeda dengan wisata berbasis cokelat di tempat lain. Doesoen Kakao mempunyai nilai historis, karena berada di tengah-tengah Perkebunan peninggalan Belanda. Pabriknya dibangun sejak abad 19. Bahkan, tempat menikmati Cokelatnya berada di sebuah bangunan Belanda, yang dulu merupakan tempat tinggal orang Belanda.

Dulu, akses ke Doesoen Kakao sangat susah. Jalannya hancur. Sekarang sudah dibangun Jalan Lintas Selatan. Sehingga akses menuju tempat wisata ini menjadi lebih mudah.

Delegasi mancanegara (MILESIA.ID/FAUZI ISMAIL)

Anas berharap, PTPN XII bisa mendorong masyarakat sekitar kebun menjadikan rumah tinggalnya sebagai home stay. Sehingga, wisatawan bisa bermalam di home stay milik mayarakat. PTPN XII bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Banyuwangi agar memberi pelatihan keterampilan pengelolaan home stay, sehingga pengunjung bisa mendapatkan pelayanan berkelas.

Doesoen Kakao adalah tempat wisata yang berada di lembah perbukitan yang sejalur dengan bukit Gunung Gumitir. Mulai sabtu lalu, perbukitan yang mengelilingi Doesoen Kakao itu diberi nama Gunung Cokelat.

“Lembah ini akan menjadi tempat yang sangat indah. Tata ruangnya harus kita jaga, sehingga kita bisa menikmati suasana Eropa di lembah ini. Kanan-kiri jalan dipenuhi oleh pepohonan yang hijau dan rakyatnya sejahtera dengan pariwisata. Oleh karena itu, saya ingin Doesoen Kakao ini tidak hanya memberi keuntungan bagi perkebunan, tetapi rakyatnya juga harus terlibat dalam pengembangan pariwisata,” jelasnya Anas.

Hujan Cokelat

Pasca sambutan, Abdullah Azwar Anas, membuka Festival Cokelat dengan membelah replika buah kakao berukuran jumbo yang telah disiapkan oleh panitia. Begitu dibelah, didalamnya terdapat ribuan permen cokelat.  Dengan antusias, Anas menyebar Permen Cokelat ke arah pengunjung. Hujan Cokelat pun menderas di seputaran podium.

Berebut “hujan” permen cokelat. (MILESIA.ID/FAUZI ISMAIL)

Riuh pengunjung berebut, berharap mencicip permen cokelat produksi Doesoen kakao Banyuwangi yang lembut dan lumer di mulut.

Setelah hujan cokelat reda, Bupati dan rombongan menyeruput cokelat bersama-sama. Ada 3000 cup minuman cokelat gratis yang disiapkan oleh panitia. Pengunjung berhamburan ke stand minuman cokelat. Menyorongkan kupon, memperoleh cup berisi seduhan cokelat. Menyesapnya ramai-ramai. Banyuwangi benar-benar hujan dan banjir Cokelat.

Festival Cokelat juga diramaikan dengan lomba kreasi makanan berbahan baku cokelat dan umbi-umbian. Peserta lomba kreasi makanan cokelat berasal dari warga dan instansi di seputaran Glenmore, Banyuwangi.

Kuliner lezat berbahan baku cokelat (MILESIA.ID/FAUZI ISMAIL)

Salah satunya adalah kelompok ibu-ibu Persit (Persatuan Istri Tentara) Koramil Kecamatan Glenmore. Mereka menampilkan Bolu Gulung Bambu Runcing dan Bola-bola peluru. Bolu Gulung Bambu Runcingnya menusuk lidah. Paduan cokelat dan ketela pohonnya sedap, lembut di mulut.

Ada juga penganan berjuluk Pohung Monyos Mlewer Icikiwir. Penganan kreasi Perkumpulan Wong Glenmore (PWG) yang terkenal dengan jargonnya, “Persaudaraan Tanpa Sara”. “Penganan ini rasanya pedas, kalau digigit akan meleleh di mulut dan membuat penikmatnya goyang icikiwir,”  papar Hilmi, ketua PWG.

Lomba kreasi makanan berbasis cokelat ini dimenangkan oleh IGTKI (Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia) Kecamatan Glenmore dengan Tar Brownies Coklat Ubi Ungu. Disusul juara II, Ibu-ibu PKK Desa Sepanjang, Glenmore dengan Ikan Renang Cokelatnya dan terakhir IIK (Ikatan Istri Karyawan) PTPN XII dengan Brownies Kukus Casanovanya.

Salah seorang Juri dari PKK Kab. Banyuwangi, Yonas, mengatakan, “Masyarakat sangat kreatif mengolah penganan berbasis cokelat. Hanya saja, cara menghidangkannya masih tradisional. Coklat itu, kan manis, kalau kuenya terlalu besar, bisa eneg. Mestinya, penganan dari cokelat itu dibuat lebih kecil, sekali kunyah, habis.

Juara. (MILESIA.ID/FAUZI ISMAIL)

Lia, peserta Festival dari Desa Sepanjang mengatakan, “Acaranya luar biasa meriah. Warga juga antusias. Tahun depan agar diadakan lagi. Durasi waktunya diperpanjang, agar kurub dengan persiapannya.” Pun dengan Poniasih, juga warga Desa Sepanjang, “Semoga tahun depan pesertanya lebih banyak dan kesenian lokal yang ditampilkan lebih komplit.”

Pihak panitia, yang di wakili oleh Mujiri, seorang staf di Kecamatan Glenmore, mengaku puas dengan Festival Cokelat ini. “Acaranya berjalan tertib dan lancar. Pak Bupati bisa mengikuti acara sampai tuntas. Warga antusias mengikuti Festival. Semoga tahun depan bisa lebih sukses lagi,” pungkas Mujiri.

Dalam acara itu, hadir juga delegasi dari sejumlah negara Asia, Eropa, dan Afrika. Diantaranya dari Brunei Darussalam, Kamboja, Thailand, India, Azerbaijan, Bulgaria, hingga Benin. Mereka menikmati sensasi aneka olahan dan racikan biji kakao yang disulap dalam beragam produk minuman dan makanan.  (Milesia.id/Fauzi Ismail)

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close