MileshistoryTravel
Trending

Menengok Klaten di Masa ‘Keemasan’, Ibukota Kerajaan dengan Julukan Kota Seribu Candi

MILESIA.ID, KLATEN – Ada masa sebuah wilayah menjadi pusat pemerintahan tapi di era berikutnya mungkin berubah drastis.

Berubah menjadi tempat yang tenang, dengan hamparan tanah bercocok tanam yang menawan, hijau meneduhkan  tapi juga penuh catatan sejarah kebudayaan tinggi.

Hal ini terjadi pada Klaten, sebuah kabupaten dari Provinsi Jawa Tengah dengan luas wilayah mencapai 655,56 km2.

Sabtu, 28 Juli 2018 nanti Klaten akan memasuki usianya yang ke 213.

Ternyata Klaten meninggalkan banyak jejak kejayaan, wilayah ini pernah mengalami masa keemasan, simak catatan Milesia.id berikut ini.

Di masanya Klaten adalah kota metropolis, ibukota dari kerajaan Medhang Matriam (Mataram Kuno) yang didirikan oleh Sanjaya dari wangsa Badra, setelah memindahkan kekuasaan dari Temanggung usai ditaklukkan Dinasti Syailendra pada tahun 732 Masehi atau tahun saka 654.

Rakai Kayu Wangi atau Lokapala atau Gupala adalah orang yang mengumumkan daerah yang sekarang bernama Ngawen sebagai wilayah perdikan ( desa yang diberi otonomi untuk mengatur daerahnya sendiri dan dibebaskan dari pajak kerajaan) pada 11 November 866.

Rakai Kayu Wangi adalah putra Pikatan cucu Sanjaya yang menikah dengan Pramodhawardhani putri Samaratungga dari Wangsa Syailendra.

Kayu Wangi adalah simbol penyatuan dua dinasti yang bersaing yakni Wangsa Badra dan Wangsa Syailendra.

Kronik Dinasti Tang menyebut Klaten dalam aksara tradisional China berhubungan dengan aksara “klatian”.

Catatan kuno dari Dinasti Tang menyebut Klaten yang berdasar asal-usul: Kela yang bermakna, Gundukan dari Bumi dan Tian yang berarti langit.

Makna kronik berdasarkan aksara tradisional China ini berarti “gundukan-gundukan tanah yang digunakan oleh orang-orang di zaman itu untuk melakukan persembahan atau penghormatan kepada langit”

Gundukan adalah candi yang digunakan untuk beribadah orang-orang di zaman itu.

Bahkan karena banyaknya candi yang dibangun, kronik China menyebut gundukan-gundukan candi itu sebagai “Pegunungan seribu”.

Di masanya Klaten adalah kota dengan sebutan “kota seribu candi”, Candi peninggalan era Sanjaya hingga Lokapala yang masih tersisa diantaranya :

Candi Plaosan, yang berlokasi di di Jl. Candi Plaosan, Bugisan, Kecamatan Prambanan.

Candi Lumbung, berlokasikan di Tlogo, kecamatan Prambanan

Candi Sojiwan , berlokasi di Jl. Jogja-Solo, Kebon Dalem Kidul, Kecamatan Prambanan.

Candi Bubrah, berlokasi di Tlogo, Kecamatan Prambanan

Candi Sewu, berlokasi di Tlogo, Kecamatan Prambanan.

Candi Merak, berlokasi di di Karangnongko, kecamatan Karangnongko

Candi Gana, berlokasi di Sanggrahan, Kecamatan Prambanan.

Candi Prambanan,ini secara administrasi berada di dua kabupaten. Candi Prambanan berlokasi di wilayah desa Bokoharjo, Prambanan, Kabupaten Sleman, sedangkan pintu masuk kompleks candi berada di wilayah desa Tlogo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten.

Candi Prambanan adalah simbol kemegahan peradaban kerajaan Medhang Matriam Prambwana Mamtripura yang dibangun oleh Pikatan atau yang dikenal sebagai Rakai Mamtri atau Mpu Manuku.

MILESIA.ID/ARIS BUDI PRASETYO – Kabupaten Klaten.

Pikatan adalah orang yang membangun Klaten dengan segala kemegahan candi-candi siwa.

Candi Prambanan dimasa Pikatan disebut sebagai Siwagraha yang artinya rumah untuk siwa.

Orang-orang Klaten waktu itu adalah pengikut agama Hindu Siwa karena mayoritas merupakan pendatang dari Tamil, India Selatan.

Meskipun demikian kehidupan toleransi umat beragama berlangsung dengan baik, karena orang-orang Klaten memeluk berbagai agama yang berbeda.

Agama yang berkembang dimasyarakat Klaten saat itu adalah Hindu Siwa, Budha Whuning dan Budha Mahayana.

Hindu Siwa dianut oleh orang-orang keturunan Chola India selatan, Budha Whuning dianut orang-orang keturunan Kie Seng Dhang dan Sambadra.

Sedangkan Budha Mahayana dianut orang-orang yang berasal dari kerajaan Khusana, India Utara.

Tiga kelompok inilah yang membangun peradaban Klaten.

Di masanya Klaten tak kalah cantiknya dengan kota-kota yang dibangun oleh raja-raja kerajaan Chola di India selatan.

Tak kalah anggun dibandingkan Poompuhar, Urayur, Tanjore ataupun Gangaikonda Cholampuram.

Kota-kota yang menjadi kebanggaan Kerajaan Chola tempat para leluhur warga Klaten. Bahkan Pikatan membangun Candi Prambanan atau Siwagraha yang berada di tepian Kali Opak mendahului Raja Chola Aditya I membangun Candi Siwa di tepi sungai Kaveri, Tamil Nadu, India yang baru selesai pada 1009.

Candi yang memiliki bentuk serupa juga dibangun oleh Rajendra Chola di Gangaikonda Cholapuram pada 1030.

Dengan demikian Candi Prambanan yang dibangun pada 856 lebih dahulu dibandingkan dua candi serupa di India yang hingga saat ini menjadi kebanggaan Peradaban kerajaan Chola.

Candi Prambanan menjadi inspirasi kerajaan Chola membangun Candi Siwa.

Tidak hanya membangin candi-candi dengan arsitektur yang menakjubkan, tetapi juga dibangun petirtaan atau sendang atau sumber atau disebut juga umbul di berbagai wilayah di Klaten untuk memberikan pemandangan yang asri dan menawan.

Air adalah sumber kehidupan, membangun sumber-sumber air berarti menghargai, membangun dan mencintai kehidupan. Membuat sendang atau tuk atau sumber air di dusun-dusun (kampung-kampung) atau desa-desa adalah tradisi yang diwariskan oleh leluhur orang jawa bernama Kie Seng Dhang (200-290 SM).

Ia tiba di jawa pada 230 SM dari Sampit Hilir, Nusa Barunai atau yang sekarang disebut Kalimantan. Ia dan keluarga besarnya berpindah-pindah ke jawa di zamannya. Para keturunannya memiliki tradisi membangun tuk, sumber air atau sendang. Di antara umbul kuno itu adalah :

Umbul Ponggok, Umbulsari, Umbul Sigedang yang terletak di Desa Ponggok. Kecamatan Polanharjo.

Umbul Cakra Tulung di Desa Cokro, Kecamatan Tulung.

Umbul Manten, di Desa Janti , Kalurahan Janti, Kecamatan Polanharjo.

Umbul Nilo, di Dusun Margosuka, Desa Daleman, Kecamatan Tulung.

Umbul Pluneng, berada di Desa Pluneng Kecamamatan Kebonarum

Umbul Gedaren berada di Desa Gedaren kecamatan Jatinom,

Umbul Geneng dan Umbul Brintik di desa Ngrundul, Kecamatan Kebonarum.

Umat Hindu hingga kini memanfaatkan keberadaan Umbul Geneng, Desa Ngrundul, Kecamatan Kebonarum. Klaten untuk kegiatan upacara Melasti.

Upacara yang mengawai peringatan Hari Raya Nyepi yang dirayakan umat Hindu Siwa. (Miesia.id/Aris Budi Prasetyo)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close