Mileseducation

Riza Marlon, Nature and Wildlife Photographer

Caca dan Satwa-Satwa Liarnya

Begitu pintu pagar kecil itu dibuka, seekor anjing berbulu coklat muda segera saja mendekat. Matanya berbinar, ekornya bergoyang-goyang. “Ee..Mas, apa kabar? Hayuk masuk,” papar perempuan langsing berkacamata itu menyambut dengan senyum lebar.

Riza “caca” Marlon. MILESIA.ID/PRIO PENANGSANG

Wita, perempuan berkacamata dengan rambut berpotongan pendek sebatas leher itu, lantas menyilakan Saya duduk di bangku kayu. Di ‘pendopo’ berfondasi kombinasi kayu dan bata telanjang dengan set meja dan kursi kayu tebal tanpa ukiran.

“Mas, ini ada teh, kopi dan gulanya. Air panas di termos. Silakan pilih sendiri,” imbuh Wita sembari menunjuk nampan kecil di sudut meja. Di sini, semua tamu bisa menyeduh sendiri aneka kopi giling dan teh sesuai selera. Kopi pahit atau berikut gula. Lalu Wita pamit masuk rumah barang sejenak.

Tanpa dinding pembatas, gerumbul tanaman peneduh dan aneka tanaman hias cukup sanggup menghela desau angin. Membelokkan sepoinya pada siapapun yang bercengkerama di sana. Sore itu, saya memilih menyeduh teh, untuk menemani pisang goreng legit yang disajikan belakangan.

MIlESIA.ID/PRIO PENANGSANG

Tak sampai lima menit, sosok murah senyum itu muncul juga. Riza Marlon,  fotografer alam liar kawakan itu, muncul dengan celana pendek dan kaus tanpa kerah. Caca, demikian Ia akrab disapa, seperti biasa menguncir rambutnya ke belakang. “Hee..,apa kabar..?,” sapanya diikuti senyum jembar.

Wita, istri Caca, akhirnya bergabung dan menemani ngobrol. Saya menyerahkan “REPTILE UNDERCOVER : Sa(le)ve Our Reptiles!”, buku yang saya tulis dan terbit Oktober dua tahun silam. Riza yang menulis prolognya.

200 foto dari beragam satwa. MILESIA.ID/PRIO PENANGSANG

“Hutan yang merupakan “rumah” reptil sekarang sudah mulai berkurang karena sudah banyak yang berubah fungsi, rusak atau hilang. Mayoritas disebabkan oleh alih fungsi lahan untuk industri perkebunan dan perkayuan. Bukan hanya reptil yang jadi korban, satwa-satwa liar lainnya juga merasakan dampak yang hampir sama akibat rusaknya habitat mereka. Sebagai seorang fotografer alam dan kehidupan alam liar saya sangat merasakan akibat hal itu. Sungguh memprihatinkan.,” papar Riza dalam pengantarnya. “Mencintai satwa itu tidak harus dengan memelihara,” imbuh Riza.

Keprihatinan itu juga yang menggiring Riza Marlon untuk tak berhenti memotret kehidupan alam liar. Maret silam, ketekunan blusukan bertahun-tahun di belantara pelosok negeri membuahkan hasil. Meluncurkan buku ketiganya berjudul Wallace’s Living Legacy, mengabadikan potret satwa liar yang berada di garis Wallacea, kawasan istimewa yang kaya kekayaan alam endemik. Meliputi Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara.

AVES, mamalia, primata, reptile MILESIA.ID/PRIO PENANGSANG

“Binatang-binatang yang ada di sana tidak dapat ditemukan di tempat lain di dunia. Satwa langka di kawasan Wallace itu ‘Indonesia banget’. Kekayaan ini harus kita jaga,” paparnya.

Wallace’s Living Legacy merangkum lebih dari 200 foto satwa dari beragam spesies. Di bab awal, sedikit diulas ihwal Alfred Russel Wallace, penjelajah asal Inggris yang terkenal dengan garis Wallacea yang membagi persebaran flora dan fauna di Indonesia.

Terlihat satwa dari bangsa burung, serangga, laba-laba, reptile dan amfibi, mamalia, hingga macaca dan tarsius, dibidik langsung dari habitatnya dengan kualitas jepretan yang mewah. Tak mengherankan jika karya-karya Riza terpampang di berbagai publikasi LSM luar negeri, World Wild Fund (WWF), The Nature Conservacy (TNC), hingga Wildlife Conservation Society (WCS).

Dibandingkan dengan dua buku Riza Marlon sebelumnya, yang cukup membuat senang penggemar fotografi terhadap Wallace’s, adalah dimuatnya data kamera untuk setiap jepretan yang dilakukan Riza. Termasuk merk kamera, lensa, dan bukaan lensa. Menjadikan Wallace’s sebagai referensi berbobot sekaligus indah.

Tujuh Tahun, 22 Lokasi, Mengulang Berulang Kali

Tampilan mewah Wallace’s Living Legacy memang memanjakan mata. Di baliknya adalah proses produksi yang bukan kepalang melelahkan. Riza harus mengunjungi 22 lokasi di kawasan Wallacea dalam rentang waktu tujuh tahun.  “Untuk memotret satwa di satu titik, Saya sampai harus mengunjunginya hingga empat kali,” terang Riza dalam acara launching buku di Perpustakaan Nasional, Maret lalu.

Butuh perjuangan berat. MILESIA.ID/PRIO PENANGSANG

Dalam acara launching buku itu, Hadir sebagai panelis, antara lain mantan Menteri Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaatmadja, fotografer senior Arbain Rambe dan fotografer adventurer Don Hasman. Hadir juga di kursi undangan, pakar herpetofauna ITB Profesor Djoko T. Iskandar.

“Saya berharap Wallace’s Living Legacy bisa membuka mata dan hati masyarakat untuk memahami kekayaan alam Indonesia. Menginspirasi peminat fotografi untuk mendokumentasikan satwa liar. Saya ingin mengenalkan satwa Indonesia, setelahnya mereka bisa cinta dan peduli untuk melestarikannya sebagai bagian dari konservasi,” terang Riza, jebolan Biologi Universitas Nasional (Unas), Jakarta.

Kejelian Riza Marlon membidik fauna hidup di habitatnya, sanggup menghadirkan gesture, nuansa, bahkan menghadirkan gerak. Buah tempaan pengalaman 30 tahun menekuni fotografi alam liar.

Di Bab “The Diversity of Herpetofaunas”, Seekor Varanus komodoensis tertangkap kamera tengah ngaso di punggung bukit Pulau Rinca. Kontras antara coklat tanah, rumput kering, dan biru jernih langit kawasan timur Indonesia, sungguh memesona.

Menyelinap di hutan basah, aneka katak bertampang eksotik dibidik Riza dengan angle tak biasa. Seekor Litoria nigropunctulata atau L. Infrafrenata, misalnya, seakan ingin berbagi cerita lewat sorot matanya yang jenaka.     

Book Signing.. MILESIA.ID/PRIO PENANGSANG

Tarsius..! Ah, ini salah satu yang terindah. Tarsius, yang fotonya dijadikan cover Wallace’s merupakan primata dari genus Tarsius, genus monotipe dari famili Tarsiidae, dan satu-satunya famili yang bertahan dari ordo Tarsiiformes. Khas dengan ciri mata besar di bidang wajah yang imut, menjadikan pemangsa serangga ini menghadirkan imaji yang kuat diantara ratusan foto satwa lainnya.

Sebelum Wallace’s, Riza telah menerbitkan dua buku, yaitu “Living Treasures of Indonesia” (2010), dan “Panduan Visual dan Identifikasi Lapangan : 107+ Ular Indonesia” pada 2014. Bravo, Bang Caca..!

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close