MilesianaMilestories
Trending

Potret Buram Anak-anak ‘Terbuang’ di Panti Asuhan Bhakti Lukhur Salatiga

Ingin Membantu Kontak Nomor Telepon Panti Asuhan

Awalnya hanya ingin mendidik dua anak saya untuk belajar empati, berkenalan dengan anak-anak panti asuhan berkebutuhan khusus, sambil membawa bantuan alakadarnya. Ternyata banyak sekali kisah memprihatinkan yang bikin saya terhenyak. Jadinya bukan hanya anak saya yang belajar justru saya sendiri yang harus banyak belajar.

PAGI itu Minggu (6/5/2018) merupakan hari yang telah direncanakan untuk membawa anak-anak berkenalan dengan anak-anak yang kurang beruntung.

Yakni anak-anak dengan kebutuhan khusus di Panti Asuhan Bhakti Lukhur Salatiga, Jl Saparua nomor 16, Tegalrejo, Argomulyo, Kota Salatiga, Jawa Tengah 50733.

Kedatangan kami disambut ramah oleh Suster Ida ALMA.

Begitu masuk ada beberapa anak yang berada di kursi roda, kondisi mereka berbeda dengan anak kebanyakan.

Mereka hanya bisa berada di kursi roda, pandangan mata menerawang tapi terlihat ekspresi kegembiraan karena bertemu dengan orang baru.

“Ini anak-anak kami, total berjumlah 19 anak tapi masih ada yang mengikuti kegiatan di luar dan anak-anak ini yang hanya bisa berada di dalam ruangan,” jelas Suster Ida.

Dalam papan kepengurusan Suster Ida adalah Bendahara Komunitas yang mengurusi Panti Asuhan Bhakti Lukhur Salatiga.

Ia sosok yang juga mengoordinir operasional panti mengurus konsumsi anak-anak, pakaian untuk mereka hingga tentang pendidikan.

Baru beberapa saat berbincang seorang anak (nama anak sengaja dirahasiakan) mengerang dan menegangkan tubuhnya.

Suster lalu minta tolong pada penghuni panti lainnya untuk berganti kursi roda, ia mengira anak itu kepanasan sehingga perlu ganti kursi yang lebih nyaman.

Namun ternyata anak tersebut sebut saja dengan inisial E, ngompol dan perlu ganti celana.

E merupakan anak yang malang, ia dilahirkan cacat dengan kondisi tubuh yang lumpuh.

E merupakan anak yang tak diinginkan orangtuanya.

Anak ini menurut Suster Ida merupakan hasil hubungan gelap. Ibunya merupakan seorang pembantu rumah tangga yang hamil di luar nikah.

Menurut dokter yang menangani anak ini, E lahir cacat lantaran ibunya berupaya menggugurkan kandungannya, tapi si ibu tak menyadari kalau janin sudah kuat, dan usahanya justru membuat E lahir dengan kondisi memprihatinkan.

E sudah berumur 7 tahun, dan ia hanya bisa di kursi roda, makan harus dengan makanan yang dilembutkan disuapi pelan-pelan gunakan sendok agar tak tersedak.

MILESIA.ID/RIMAWAN PRASETIYO – Anak-anak yang lahir dalam kondisi hidup yang penuh kepahitan. Mereka butuh uluran tangan kita.

Minum masih menggunakan dot dengan lubang yang agak besar agar susu bisa berada di mulut dan ditelan pelan.

“Anak ini tak bisa menyedot seperti anak-anak kebanyakan,” jelas Suster Ida.

Beberapa kali Suster Ida melap keringat yang ada di dahi E.

Malangnya E, sang ibu yang sudah diketahui keberadaannya dan diundang untuk datang menjenguk hingga sekarang tak bersedia menjenguk.

“Padahal kami tak meminta apa-apa hanya persilakan menjenguk, kami memang melacak untuk urusan kependudukan, bikin akta kelahiran harus ada nama ibunya. Namun kalau keluarga tersebut mampu untuk urus sang anak tentu akan kami kembalikan pada keluarga,” jelasnya.

Hingga saat ini jarang ada keluarga yang mau menerima anaknya yang cacat, sebagian besar tak bersedia menerima karena kecacatan anaknya.

Ada yang karena malu memiliki anak seperti itu, ada juga yang karena ekonomi lemah.

Lain anak E ada anak D, seorang anak yang lahir dengan kondisi hydrochepalus yakni kondisi anak kelebihan cairan cerebrospinal pada otak, ditandai dengan kepala anak yang berukuran besar (tidak normal) dibanding anak-anak seusianya.

D juga bernasib mirip, tapi anak ini juga seorang anak yang ditelantarkan oleh orangtuanya.

Anak ini setelah lahir ditinggalkan begitu saja dan saat dilacak ketemu mereka enggan untuk merawat dan membiarkan anak itu dirawat di panti asuhan.

Ada juga anak lain dengan kondisi tuna grahita yang ditinggalkan ibunya.

Ia adalah anak kedua yang tak diinginkan karena suami pergi dengan wanita lain.

Kondisi ini membuat si wanita yang tak menginginkan janin berupaya untuk menggugurkan tapi anak tersebut tetap lahir.

Si wanita benci dengan suami yang selingkuh dan ia sendiri yang telah memilih untuk berpisah mengaku tak bisa membiayai anak yang akan lahir.

Keputusannya salah akhirnya si anak lahir dengan kondisi cacat.

Masih banyak kisah-kisah menyedihkan dari anak-anak di panti.

Sebagian besar terlahir dengan kondisi berkebutuhan khusus dan tak diharapkan oleh keluarga.

Padahal mungkin mereka tak tahu menahu dengan masalah orangtuanya, mereka hanya hadir di dunia ini, berharap mendapatkan hidup yang layak tapi justru sebaliknya.

Kehadirannya tak diinginkan, dan upaya buruk orangtua justru membuat si anak dalam kondisi memprihatinkan.

Saya lalu mencoba melihat daftar anak-anak di panti dengan daftar kondisinya, daftar panjang terlihat ada autisme, tuna grahita, hydrochepalus, down syndrome, hiperaktif, tuna rungu dan berbagai kondisi berkebutuhan khusus lainnya.

Dan mereka masing-masing memiliki kisah dan potret buram di kehidupan nyata.

MILESIA.ID/RIMAWAN PRASETIYO – Daftar kondisi memprihatinkan anak-anak Panti Asuhan Bahkti Lukhur Salatiga.

DONATUR TIDAK TETAP

Lalu bagaimana untuk memenuhi kebutuhan mereka dari sandang hingga pangan bahkan pendidikan?

“Kami hanya mendapat dari donatur tidak tetap, seperti bapak-bapak yang hadir saat ini,” jelas Suster Ida.

Hal ini yang bikin terhenyak karena donatur tak tetap mungkin bisa diitung dengan jari, bantuannya juga tak pasti sementara tiap hari anak butuh susu, makanan, popok hingga pakaian pantas pakai.

Suster Ida hanya tersenyum ia mengaku tak khawatir karena pasti ada bantuan untuk anak-anak.

Pernah ia mengaku sangat kekurangan bahkan kesulitan untuk makan, ada beberapa orang yang bisa dihubungi dan spontan beri bantuan pada anak-anak.

Panti asuhan ini juga masuk dalam daftar penerima bantuan dari Dinas Sosial Salatiga tapi jumlah panti asuhan di Salatiga juga ada sekitar 20-an dan bantuan tentu dibagi rata.

Kalau hanya mengandalkan bantuan dinas tentu tak mencukupi.

Sementara yayasan yang menaungi panti asuhan tersebut juga mengelola banyak panti asuhan sehingga tak bisa selalu dimintai bantuan, mungkin sesekali bilsa dalam kondisi mendesak.

PANGGILAN HIDUP

Suster Ida ALMA mengaku sebelumnya tak memiliki rencana menjadi rohaniwati yang mengabdikan hidup sepenuhnya merawat anak-anak.

Namun sebuah kejadian besar dalam hidup yang mengubahnya.

“Awalnya ketika saya menumpang bus dan terjadi kecelakaan parah di Malaysia,” jelasnya.

Bus tersebut mengalami kecelakaan dan hanya dia satu-satunya korban yang tak mendapat luka goresan sedikitpun.

“Padahal di sebelah kanan saya tangan putus, sebelah kiri saya kaki patah, depan dan belakang terluka sangat parah, saya sedikitpun tak ada luka,” kata Suster Ida.

Meski tak mendapat luka keluarga tetap memeriksakan Suster Ida untuk memastikan bagaimana kondisinya setelah kecelakaan dan secara medis tak apa-apam hanya saja Suster Ida saat itu tak banyak bicara.

“Mungkin karena saya masih trauma kali ya.”

Nah suatu ketika saat ia diperiksa ia berada di ruangan dengan anak-anak cacat, ia mendadak tergerak dan memiliki empati.

MILESIA.ID/RIMAWAN PRASETIYO – Suster Ida ALMA.

Selama tiga bulan sempat menghilang, ia menghilang berada di panti asuhan anak-anak berkebutuhan khusus dan merawat anak-anak, memandikan, menyuapi, membersihkan bila buang air besar dan lain-lain.

Sanak saudara kebingungan mencari, hingga Suster Ida sendiri yang memberitahu lalu ia dijemput oleh keluarga.

Sempat beberapa saat di rumah, tapi Suster Ida merasa ada yang hilang, ia pun kini mengabdikan diri untuk anak-anak.

Suster Ida kemudian masuk ALMA yakni Asosiasi Lembaga Misionaris Awam, lembaga ini berada di Yurisdikdi Keuskupan Malang.

Fokus dan karya Suster ALMA adalah pelayanan bagi anak-anak cacat di keluarga kurang mampu.

Suster ALMA menolong mereka dengan terapi, perbaikan gizi dan pengobatan agar kondisi anak lebih baik.

Selain itu juga melakukan pendampingan pada keluarga agar lebih siap menerima kondisi anak mereka yang cacat.

Suster ALMA juga mengirarkan kaul kekal meliputi kaul kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan serta penyerahan diri sepenuhnya untuk melayani Allah.

Tentu saja suster tidak menikah, hidup sepenuhnya untuk melayani demi kebaikan.

 

BERAGAM SUKU DAN AGAMA

Panti Asuhan Bhakti Lukhur Salatiga juga membutuhkan bantuan. Anak-anak yang diasuh tak terbatas suku, ras atau agama tertentu meski Suster ALMA merupakan komunitas di bawah naungan Katolik.

“Kami fokus pada anak-anak berkebutuhan khusus dan tak semua panti asuhan bisa menerima. Kami menerima semua tak hanya agama tertentu jadi global. Ini murni menolong anak-anak dengan kondisi seperti ini,” kata Suster Ida.

Ketika ditanya sampai kapan anak-anak bisa dibantu di panti?

Suster Ida pun menjawab kalau anak-anak dibantu sampai mandiri, bahkan mungkin sampai akhir hayat.

MILESIA.ID/RIMAWAN PRASETIYO – Anak-anak ini butuh bantuan kita.

“Panti asuhan ini sudah 16 tahun ada anak yang sudah bisa bekerja, ia hanya tuna rungu sehingga dipersilakan kalau ingin mandiri atau masih berada di panti untuk bantu-bantu anak lain,” katanya.

Namun tak semua seperti kondisi anak itu, bagi-anak-anak yang mengalami kelumpuhan total dan hanya bisa di kursi roda, mungkin bisa seumur hidup.

Maka setiap hari baik makanan, minuman, pakaian pantas pakai sangat dibutuhkan.

Silakan bagi yang memiliki rezeki berlebih untuk menyalurkan bantuan, langsung di alamat tersebut atau kontak nomor Panti Asuhan Bakti Lukhur Salatiga untuk janji kunjungan yakni di nomor 08112702893.

Melihat anak-anak ini saya dan keluarga banyak belajar terutama tentang arti bersyukur.

Anak-anak ini tak beruntung, ia lahir dengan kekurangan secara fisik sekaligus tak diinginkan keluarga.

Bantuan dari kita seberapa pun besarnya sangat membantu anak-anak. (Milesia.id/Rimawan Prasetiyo)

 

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close