Milestravel

Agrowisata Petik Apel

Mengganyang Renyahnya Apel Malang

Ahad pagi, akhir April lalu, hawa udara Kota Malang sejuk. Limabelas kilometer ke arah barat Kota Batu, Milesia.id meluncur menuju kawasan wisata petik apel yang jadi salah satu destinasi wisata andalan Malang. Memetik sensasi hawa sejuk dan menggigit keping apel segar yang mak kriuk..

Menggairahkan. Buah apel segar siap petik langsung dari pohonnya. MILESIA.ID/PRIO PENANGSANG

Dari tepi jalan beraspal yang tak begitu lebar, ranting-ranting pohon apel menjulur keluar tembok rendah pembatas kebun apel itu. Hampir semuanya berbuah. Ada yang polos hijau muda segar, ada yang semu merah.”Yang hijau ini namanya apel manalagi. Wangi dan manis dengan sedikit saja rasa asam. Kalau yang ada warna semu merahnya itu jenis Rome Beauty, ada rasa asam dan segar,” papar Wiwin, perempuan muda pengelola wisata petik apel “Mitra Apel” kepada Milesia.id.

Apel ini sering dijumpai di kios buah di manapun berada. Apel jenis manalagi, merupakan apel yang paling banyak ditanam di kebun milik petani. Buahnya berasa manis, agak keras dan jika sudah benar-benar matang tekstur buahnya renyah. Apel manalagi juga lebih tahan lama dibandingkan apel jenis lain. Jika sudah sangat tua buah ini berwarna lebih kuning dengan aroma harum. Apel manalagi cocok untuk oleh-oleh, karena bisa tahan hingga 1 bulan.

Ada lagi apel rome beauty, apel dengan buah berwarna kemerahan. Walaupun kadang dominan hijau  dengan semburat warna merah. Bentuk buahnya seperti manalagi, cenderung membulat. Buah ini agak keras cenderung renyah jika sudah matang. Ada sedikit citarasa asam. Rome beauty lazim digunakan sebagai bahan dasar sari apel yang sering ditemui di toko oleh-oleh.

Kebun seluas tiga ribuan meter persegi itu hanyalah satu dari puluhan petak kebun lain yang menjajakan wisata petik apel di kawasan itu. Kota Batu, yang memang terkenal dengan buah apel dan segala produk olahannya.

Buah apel dapat diproses menjadi saus, slices jus, produk pastry, cake, tart, dan pie. Pulp apel dapat diolah menjadi permen (kulit buah) dan digunakan sebagai sumber pektin. Sari buah apel dapat dikonsumsi segar, secara alami maupun filtrasi, difermentasi menjadi minuman beralkohol seperti wine, atau dibuat menjadi cuka.

Dua dekade terakhir, produk terkait buah apel berdiversifikasi dalam format wisata petik apel. Pengunjung ditawari sensasi memetik dan mengganyang ranum buah apel langsung dari kebunnya.

Di area wisata ini pengunjung dapat langsung memetik sendiri buah apel dari pohon. Selain, kegiatan petik apel para wisatawan juga dapat menikmati kesejukan dan keindahan panorama Kota Batu, kota kecil yang terletak 1000 meter diatas permukaan laut. Kawasan yang nyaman untuk melepas penat.

Tata kebun yang rapi memudahkan pengunjung menjelajah kebun dan mencicipi apel segar. MILESIA.ID/PRIO PENANGSANG

Lansekap kebun apel yang hijau rimbun dengan buah apel yang bergelantungan, sungguh memanjakan mata dan memercikkan liur. Di kebun apel yang dijaga Wiwin dan lima pekerja lainnya, cukup dengan merogoh selembar uang duapuluhribuan, pengunjung bisa menenteng sekilo apel segar. Itu belum termasuk beberapa butir yang sudah masuk perut selama “aple tour” di area kebun.

Ooh, ndak apa, Mas.. Kalo kuat makan sepuluh buah saat metik di kebun, monggo saja,” papar Wiwin seakan menetralisir rasa bersalah Milesia.id, yang sudah mengganyang enam buah apel sebelum ambil jatah sekilo apel yang bisa dibawa pulang. Habis enak, sih..

“Jika sedang ramai, dalam sehari bisa sampai 10 kali didatangi kelompok pengunjung dengan jumlah peserta antara 5 – 20 orang per kelompok,” imbuh Wiwin. Jika setiap kelompok membawa pulang sekilo apel, kebun Wiwin beroleh pemasukan Rp 100 ribu – Rp 1 juta untuk sekali kunjungan.

Warisan Kolonial

Di Kota Batu dan Kota Malang, sentra perkebunan apel menyebar di daerah Poncokusumo dan Nongkojajar. Kota Batu terletak 15 km sebelah barat kota Malang, berada pada ketinggian + 680-1.900 mdpl. Masyarakat pada umumnya mengoptimalkan tanaman semusim dengan berbagai macam komoditi buah-buahan dan juga sayuran. Disamping itu, Kota Batu sangat sesuai untuk pengembangan berbagai komoditas tanaman sub-tropis, seperti apel.

Budidaya apel di Kota Batu dimulai sejak tahun 1930an di masa penajajahan Belanda. Batu dinilai memiliki iklim yang sejuk dan tanah yang subur yang cocok untuk budidaya tanaman tersebut. Sudah lebih dari delapan dekade apel menjadi bagian penting perekonomian di Kota Batu yang juga menjadikan apel sebagai salah satu komoditi buah unggulan yang dikenal di kalangan masyarakat Indonesia. Satu-satunya apel yang tumbuh di iklim tropis dunia.

Hanya Rp 20 ribu per kilo dan siap dibawa pulang. MILESIA.ID/PRIO PENANGSANG

Di kebun ini ada dua jenis apel yang ditawarkan. Penyuka apel dengan tekstur rasa agak masam bisa petik yang berkulit kemerahan, sedangkan buah yang hijau itu lebih manis. Pohon-pohon apelnya berbuah lebat tetapi ukuran buahnya kecil, sedikit lebih besar daripada kepalan  tangan.

Lazimnya petani menjarangkan  jumlah buah agar didapat buah berukuran maksimal. Mengingat buah-buah itu ditujukan untuk wisata petik buah, penjarangan buah jarang diolakukan. Pohon apel tak terlalu tinggi, jadi gampang saja menjangkaunya. Rasa buah apel hasil petik pohon sungguh berbeda dibandingkan dengan hasil beli di supermarket. Jauh lebih segar dan renyah.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close