DINAMIKAMilesiana
Trending

Euforia Kelulusan dan Kisah ‘Persahabatan’ Tak Lekang Waktu

“Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah saat ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri.” ( Pramoedya Ananta Toer )

LAYAR KACA 14 inch di sudut kamar tiba-tiba menggema, terdengar riuh rendah anak-anak berseragam putih abu-abu bersorak sorai, mereka diliputi kegembiraan. Berita tentang kelulusan pelajar SMA menjadi headline beberapa stasiun televisi swasta awal Mei ini, sejenak euforia ini menyita perhatian.

Pada suatu adegan yang mungkin tak sadar tersorot kamera, saya tertegun. Di sela pikuk euforia kelulusan itu nampak tiga remaja pria bersalaman, mereka berpelukan, saling menepuk bahu. Seolah tak menghiraukan bising knalpot dan teriakan orang-orang sekitar. Rona persahabatan memancar kuat di wajah mereka.

Setiap pendar persahabatan selalu menggetarkan jiwa, saya memafhumi benar perasaan itu. Nyaris sama dengan tiga remaja itu, saya pun memiliki dua orang karib yang saya kenal semasa SMA.

Satu orang bernama Dono Windarto, seorang ASN (Aparatur Sipil Negara) di Pemerintah Kota Wonogiri, ia asli Sentolo Kulon Progo dan sudah menikah. Seorang lagi bernama Rachmat Hidayat Sofyan, pegawai BAWASLU (Badan Pengawas Pemilu) Pusat di Jakarta yang baru saja dikaruniai seorang putri kecil yang lucu.

Mula Bersua

Rasanya baru kemarin saya menginjakkan kaki di halaman SMA Negeri 7, di seberang Jalan MT. Haryono No. 47 Yogyakarta, dengan perasaan asing dan gugup. Diantara ratusan murid tahun ajaran baru, tak banyak yang saya kenal. Hanya satu-dua bekas teman SMP yang kebetulan tidak terlalu akrab.

Dengan perasaan sungkan saya mulai memasuki kelas, di kelas 1A (di masa itu kelas X disebut kelas 1 SMA) tak satupun yang saya kenal, semua nampak asing dan tak bersahabat. Hingga seorang anak lelaki menegur saya dari belakang, ia tersenyum hangat sambil mengulurkan tangan, mengajak berkenalan.

IST – SMA Negeri 7 Yogyakarta, tempat masing-masing dari kami menemukan sahabat.

“Aku Dono, kita sekelas,” ujarnya bersahabat. Sejak saat itulah kita saling mengenal dan menjadi akrab.

Walaupun saya dan Dono satu kelas, kita memiliki hobi yang berbeda. Kegemaran saya membaca buku-buku sastra tak diimbangi olehnya yang pecinta komik.

Jika sejak kelas satu SMA saya sudah akrab dengan karya-karya Pramoedya Ananta Toer dan Kuntowijoyo, Dono malah asyik masyuk dengan kisah-kisah kepahlawanan jagoan silat bernama Tiger Wong, nama tokoh yang terpampang dalam sampul komik dengan judul yang sama: ‘Tiger Wong’.

Sesuatu yang membuat kita berdua nyambung (terkoneksi) adalah kesukaan pada sepakbola, itu pula yang kelak menjadi jembatan persahabatan kami dengan Rachmat. Kebetulan saya dan Dono sama-sama penggemar klub liga Italy AC Milan, “Forza Milan !” begitu jargon yang kerap diserukan Dono.

El Capitano Paolo Maldini adalah pemain favorit kami, bek sentral AC Milan itu adalah sosok yang berdedikasi pada klub karena sepanjang karirnya hanya bersetia pada AC Milan. Selain itu, pemilik nomor punggung 3 itu adalah pemimpin dengan temperamennya yang tenang dan pertahanannya yang tanpa cela.

Selain bola, saya dan Dono juga penyuka cerita mistis, boleh jadi itu berimbas dari latar belakang SMA Negeri 7 yang merupakan eks Rumah Sakit Mangkulayan.

Banyaknya urban legend, cerita-cerita horor tentang keangkeran sekolah ini membuat kami bergidik, salah satu stasiun televisi swasta pernah meliput tentang legenda suster ngesot di sekolah kami. Kontan saja cerita itu membuat kami penasaran, “memang benar ada suster ngesot di sekolah kita?” tanya Dono penasaran.

IST – El Capitano AC Milan-Paolo Maldini, sosok tenang sekaligus tangguh yang menginspirasi kami.

“Itu harus dibuktikan,” jawab saya sekenanya.

Tapi pembuktian itu urung kami lakukan karena saat acara jerit malam (acara malam pentahbisan siswa baru), jumlah pocong yang dipasang panitia ternyata bertambah secara misterius. Sejak saat itu kami tak lagi mencoba mencari tahu tentang kebenaran kisah-kisah hantu di SMA 7.

Sedangkan Rachmat Hidayat Sofyan, saya mengenalnya belakangan setelah Dono. Awalnya ia adalah rival dalam pertandingan sepakbola antar kelas, Rachmat mewakili kelas 1C sedangkan saya dan Dono 1A. Teman-teman menjulukinya ‘Cacing’ karena badannya yang kurus kering, tapi jangan salah ia adalah striker andalan kelas 1C yang cekatan dan trengginas.

Dalam laga perdana antara kelas 1A dan 1C, kelas kami dibabat habis oleh kelas 1C. Rachmat alias Cacing adalah eksekutor yang membobol gawang kelas 1A lebih dari 8 gol. Sebuah pertandingan yang mengenaskan bagi kelas kami.

Saya mengenal Rachmat sungguh-sungguh saat menjelang ‘kejatuhan’ rezim Orde Baru di awal 1998. Era itu adalah transisi menuju masa yang baru, era Reformasi. Rachmat bertugas mengumpulkan Kartu Identitas Pelajar untuk sebuah rencana aksi massa yang akan digelar hari Rabu, 20 Mei waktu itu.

“Kita akan melakukan aksi besar-besaran, aksi ini akan dikenang dan tercatat dalam sejarah,” ujar Rachmat berapi-api.

Aksi Reformasi 1998

Pagi itu, 20 Mei 1998, saya dan beberapa teman SMA 7, termasuk Rachmat berkumpul di halaman SMA 7. Kami yang tergabung dalam GAPCI (Gabungan Aksi Pelajar Cinta Indonesia) hendak berpartisipasi dalam gerakan aksi menuntut Presiden Soeharto turun.

Setelah mencegat bus kota di Utara Pojok Beteng Wetan (Timur), kami melaju menuju Fakultas Filsafat UGM. Saya ingat, sepanjang jalan nampak tulisan “Saya Pribumi, Saya Pro Reformasi!” terpampang di depan toko yang tutup pagi itu. Mungkin isu rasial yang menimpa suku Tionghoa di Jakarta telah merembet sampai ke Jogja.

Sesampai di Fakultas Filsafat UGM, kami bergabung dengan seluruh gabungan pelajar se Yogyakarta untuk melakukan long march menuju Alun-Alun Utara. GAPCI adalah bagian dari gerakan aksi 1 Juta orang yang menuntut Soeharto lengser.

Yel yel: “Allahu Akbar, Allahu Akbar…!!!, Turunkan Soeharto, selamatkan bangsa ini!” sampai hymne sarkastik yang tak pantas saya ceritakan terus kami gemakan. Saya berjalan berjajar dengan Rachmat waktu itu, kita mengobrol panjang lebar tentang gerakan aksi ini serta mimpi-mimpi Indonesia di masa datang.

“Kita akan menjadi negara yang lebih demokratis, kran informasi akan mengalir deras. Tidak akan ada kasus pembredelan media massa seperti TEMPO, kita akan menjadi manusia yang bebas dan merdeka dalam beraspirasi!” tegas Rachmat sambil sesekali menyeruput air mineral di tangannya.

Saya mengangguk-angguk, tema obrolan perdana ini kelak menjadi obrolan rutin kami entah di media sosial maupun secara langsung, mungkin obrolan ini pula yang mengantarkan Rachmat memilih Fisipol UGM sebagai labuhan asa-nya.

IST – Gubernur DIY Sri Sultan HB X saat memberi orasi dukungan terhadap aksi damai 20 Mei 1998.

Tepat di seputaran Jalan Malioboro, beberapa Ibu-ibu Tionghoa membagikan roti dan air mineral kepada kami, bisa jadi ini pertanda isu rasis tidak sampai ke Kota Pelajar.

Kami terus berjalan ke selatan hingga sampai di panggung utama di Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta, disana Gubernur DIY Sri Sultan HB X menyatakan dukungan aksi reformasi ini, diikuti orasi Butet Kartaradjasa.

Kamis, 21 Mei 1998 pukul 09.05 WIB, Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya secara resmi setelah 32 tahun berkuasa.

Jatuhnya rezim Orde Baru berganti dengan Era Reformasi merubah peta perpolitikan di Indonesia, setelah posisi Soeharto digantikan BJ. Habibie pemilihan Presiden paling demokratis dimulai di tahun 1999.

BJ Habibie menolak dicalonkan sebagai Presiden setelah pidato pertanggungjawabannya ditolak parlemen. Dari tiga calon yang maju, yaitu Yusril Ihza Mahendra, Megawati dan Gus Dur, akhirnya Gus Dur terpilih secara aklamasi.

Pun era baru tidaklah merubah arah persahabatan saya, Dono dan Rachmat. Kedekatan kami sebagai sahabat juga mendekatkan ikatan keluarga kami, saya sering bertandang ke rumah Dono di Sentolo, mengobrol dengan Ibu dan keluarganya.

Begitu juga dengan Rachmat yang kebetulan sejak kelas 2 SMA menjadi tetangga saya. Intensitas pertemuan kami menjadi semakin sering, jalinan persahabatan kami pun semakin menguat.

Yang saya ingat, tema obrolan kami tak jauh dari seputar album Dewa 19, grup musik Shaggy Dog, Sepakbola, sampai perempuan paling populer di SMA bernama Wantini.

Objek bully yang biasa kami panggil dengan julukan ‘Kobis’ itu pernah sampai menangis tersedu-sedu saking tak kuatnya menerima ejekan dari teman-teman. Sesuatu yang belakangan kami sesali.

Refleksi 20 tahun

Beberapa saat lalu sebelum Rachmat resmi menetap di Jakarta, kami bertiga menyempatkan waktu untuk bertemu. Ditemani seorang teman lagi, Nanik Kinarni, kami hendak menjenguk putra pasangan suami istri yang juga teman SMA, Nur Ikhwan dan Meutia Inayati.

Rachmat bertanya apakah kelak kami masih akan sering bertemu. Saya jawab: tidak tahu. Tapi, kata saya lagi, saya berharap jarak bukanlah penghalang, tidak harus bertemu muka, cukup dengan pikiran dan semangat.

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Saya diapit Dono (berkaos merah) dan Rachmat (berbaju hitam).

“Apa yang kalian cari? Karir yang cemerlang, status, ataukah rasa nyaman? ” tanyanya lagi kepada saya dan Dono. Dono terdiam, saya juga tak menjawab, sesungguhnya dalam hati ingin mengatakan bahwa puncak dari pencarian pastilah ‘rasa nyaman’.

Tapi bukankah pencapaian menuju rasa nyaman itu membutuhkan proses? Kita hanya bisa menghayati rasa nyaman setelah melewati proses kericuhan, kegelisahan bahkan stagnasi. Saya kira, harga rasa nyaman tidaklah murah.

Sewaktu acara menjenguk bayi selesai, Dono dan Rachmat pun bergegas pulang ke rumah masing-masing, saya memilih untuk mampir ke sebuah kedai kopi di pinggiran kota. Saya duduk di pojok hingga menjelang senja. Sendirian.

Kisah-kisah tentang persahabatan bisa jadi mudah terlupakan atau sama sekali tidak, seperti ditulis Haruki Murakami dalam novel ‘The Wind-Up Bird Chronicle’ (Novel yang memenangkan Piala Yomiuri, dan diberikan oleh salah satu kritikusnya yang paling keras, Kenzaburo Oe, pemenang Hadiah Nobel di bidang kesusastraan pada tahun 1994) : “Kenangan dan pikiran memiliki rentang usia, pada orang kebanyakan. Akan tetapi pikiran tertentu tidak pernah menua, dan kenangan tertentu tidak pernah hilang.”

Teman masa muda ibarat cermin ‘mimpi-mimpi’ kita di masa lampau, sebagian mimpi itu bisa kita kenang tapi sebagian lainnya bisa juga raib.

Kisah yang selalu kita kenang biasanya Kisah-kisah dengan emosi yang dalam, entah sedih pun sukacita, seperti diorama yang disuguhkan tiga remaja disela pikuknya pesta kelulusan di layar kaca.

Seiring pembelajaran-pembelajaran hidup yang kita terima, kenangan serta mimpi masa muda terkadang kita enyahkan. Logika kita tidak lagi menerima ‘kenaifan’ masa muda.

Karenanya kita memerlukan ‘penanda’ bagi kenangan-kenangan lama, dan sahabat adalah penanda itu, sebab merekalah saksi mata dari masa silam.

Saya tidak berharap apa-apa kepada mereka, selain bahwa ‘tanda’ itu akan selalu ada di dalam jiwa. Entah mereka menyadari atau tidak, tanda itu akan terus menetap.

Kalian berdua adalah ‘penanda’ bagi saya, untuk kisah masa lalu dan mimpi masa yang akan datang… (Milesia.Id/Kelik Novidwyanto)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close