MilemancaMilestravelTravel
Trending

Sekelumit Kisah Gunung Fuji Jepang dan ‘Keping’ Doa Minta Jodoh di Air Terjun Otodome

Padahal di Bumi yang sama dan oksigen yang sama tapi saya merasa segarnya udara di Jepang berbeda, seolah lebih segar.

MILESIA.ID – Sesuatu hal baru banyak dijumpai di Jepang seperti tentang suasananya, cuaca yang berbeda, lalu lintas yang penuh kedisiplinan hingga sosial budaya yang memiliki ciri tersendiri.

Jepang menurut saya adalah Negara dengan perpaduan teknologi, kesantunan, ketertiban dan tradisi yang seimbang.

Namun mungkin saya akan paparkan itu di kesempatan lain, saya ingin cerita bagaimana pagi itu menjadi lebih istimewa.

Ya kami melakukan perjalanan menuju Fujiyama atau Gunung Fuji yang ternama.

Perjalanan ke lereng Gunung Fuji Jepang ini dilakukan pada Jumat (27/10/2017) lalu.

MILESIA.ID/RIMAWAN PRASETIYO – Wisatawan lokal didominasi oleh kaum lansia. Terlihat rombongan saat masuk area level satu Gunung Fuji.

Padatnya jadwal dan terbatasnya waktu hingga rombongan tak bisa memiliki kesempatan untuk mendaki sampai ke puncak Gunung Fuji meski demikian saya cukup puas.

Banyak hal dan kisah yang dulunya seolah tersembunyi kini terungkap.

Berikut ulasannya.

Keindahan Gunung Fuji bukan omong kosong, setelah melihat langsung ternyata lebih indah aslinya.

Sepertinya lensa mata manusia belum terkalahkan dengan teknologi apapun, kamera foto tercanggihpun belum bisa menunjukkan pemandangan yang menawan seperti saat dilihat langsung oleh mata.

Dalam perjalanan kami dari penginapan ke Gunung Fuji, Hifumi Takimoto, seorang local guide rombongan banyak berikan penjelasan dan beberapa kisah terkait Gunung Fuji.

Sejak mulai turun dari bus, dingin dan segarnya udara sangat terasa seolah-olah udara tersebut membersihkan rongga pernafasan.

Lokasi ini oleh Hifumi disebut sebagai level satu Gunung Fuji, yakni dari parkir mobil hingga air terjun di lereng gunung.

Kami beruntung, cuaca kali ini pun sangat mendukung. Langit cerah dan puncak Gunung Fuji pun terlihat jelas dari sejak turun bus.

Tampak guratan tipis salju abadi Gunung Fuji yang lambat laun mulai memudar.

Wanita yang fasih Bahasa Indonesia ini menduga tipisnya salju di Gunung Fuji lantaran pemanasan global.

Memasuki area Gunung Fuji pengunjung dimanjakan dengan free pass atau pengunjung dibebaskan dari retribusi masuk hanya parkir kendaraan saja yang berbayar.

Begitu masuk tampak berderet-deret toko-toko penjual souvenir.

“Dahulu kala kemungkinan sekitar 100-200 tahun lalu wanita dilarang keras naik Gunung Fuji,” ujar Hifumi mengawali cerita.

Menurut keterangannya penduduk Jepang saat itu percaya kalau Gunung Fuji dianggap sebagai Tuhan bahkan menurutnya hingga kini leh sebagian orang.

MILESIA.ID/RIMAWAN PRASETIYO – Wisatawan mancanegara juga banyak dijumpai di lereng Fujiyama.

Karena dianggap suci, di zaman itu wanita yang beradai di puncak Gunung Fuji dinilai akan menodai kesucian gunung tersebut maka tak ada wanita yang boleh naik.

Namun ada juga wanita pertama yang nekat dan menyamar seperti pria agar bisa sampai puncak gunung dan berhasil tapi Hifumi tak mengetahui identitas wanita itu.

Ia hanya dapat kabar dari mulut ke mulut.

Kini zaman berubah sekitar 200 tahun kemudian wanita sudah boleh untuk naik ke puncak gunung sampai sekarang.

Gunung yang memiliki ketinggian 3.776 di atas permukaan laut bisa dilalui kendaraan bermesin hingga di ketinggian level 5.

Setelah level 5 para pengunjung yang ingin naik sampai puncak tertinggi harus berjalan kaki.

Butuh waktu beberapa jam untuk sampai puncak.

Bila di level 1 yakni usai keluar dari parkir mobil hawa dingin tak terlalu terasa tapi akan berbeda setelah di ketinggian level 5 atau level selanjutnya hingga sampai puncak.

“Kalau tadi suhu 20 derajat (celcius) di level satu tidak terlalu dingin di level 5 mungkin bisa 10 derajat dan di puncak bisa minus,” ujar Hifumi.

Makanya ada wisatawan asing yang awalnya merasa tak dingin hingga tidak gunakan jaket di puncak gunung kata Hifumi akhirnya kedinginan dan sakit.

Ia menyarankan ketika mau naik Gunung Fuji harus menyiapkan fisik dan siap sedia dengan baju tebal.

Meski saat ini cuaca bagus karena masih pergantian musim gugur ke musim dingin tapi di puncak Gunung Fuji udara tetap sangatlah dingin.

Gunung Fuji adalah gunung tertinggi di Jepang.

Secara geografis gunung yang dianggap suci oleh sebagian orang Jepang terletak di perbatasan Prefektur Shizuoka dan Yamanashi.

Gunung ini juga berada di sebelah barat Tokyo. Lebih tepatnya Gunung Fuji terletak dekat pesisir Pasifik di pusat Honshu dan dikelilingi oleh tiga kota yaitu Gotemba (timur), Fuji- Yoshida (utara) dan Fujinomiya (barat daya).

Selain di level 1 berderet toko-toko maupun restoran, di level 5 pun demikian.

Di level 5 ada juga toko-toko souvenir untuk pelancong juga rumah makan.

Uniknya toilet di level 5 menuju puncak Gunung Fuji menurut Hifumi harus bayar.

Selama ini toilet umum di Jepang rata-rata tak berbayar atau hampir tak ada yang berbayar tapi berbeda untuk area level 5 menuju puncak Gunung Fuji.

Masalahnya terletak pada air, air tidak ada di area level 5 maka harus diambil dari level 1.

Inilah yang membuat toilet di situ harus bayar yakni mengganti ongkos pengambilan air.

Pemilik restoran pun harus membawa air dari bawah untuk memasak dan minun para pelancong atau pengunjung restorannya.

“Bahkan untuk air cuci tangan yang keluar itu air sabun lantaran di sana air sangat sedikit,” jelasnya.

Keunikan lain di sekitar Gunung Fuji yakni pepohonan yang tumbuh kebanyakan akarnya keluar dari tanah.

Menurut Hifumi hal ini terkait dampak letusan gunung beberapa ratus tahun lalu.

Dampak letusan membuat akar-akar pohon yang seharusnya berada di dalam tanah tercerabut dan akhirnya tumbuh seolah keluar dari tanah.

Keunikan lainnya adalah di puncak Gunung Fuji air mendidih di angka 70 derajat celcius padahal normalnya di angka 100 derajat.

KEPING DOA MINTA JODOH DI AIR TERJUN OTODOME

Area masuk di Gunung Fuji juga memiliki pesona yang tak boleh dilewatkan.

Sekitar beberapa ratus meter dari parkir kendaraan ada sebuah kuil Shinto kecil yang lokasinya di atas Air Terjun Otodome.

Ada dua air terjun di area level 1 Gunung Fuji, yakni Air Terjun Otodome dan Shiro Ito.

Di atas Air Terjun Otodome inilah ada sebuah kuil pemujaan kecil.

Di sekeliling kuil tersebut diberikan pagar untuk keselamatan pelancong.

Batas antara area kuil dan tepi jurang air terjun.

MILESIA.ID/RIMAWAN PRASETIYO – Papan kayu atau keping untuk menulis doa/harapan dipasang di pagar air terjun.

Lokasi tersebut tepat di atas air terjun.

Ada yang unik, tampak puluhan papan kayu kecil yang dipasang di pagar.

Di pinggir kuil tampak papan kayu yang boleh diambil oleh pengunjung dengan membayar 500 yen.

Ternyata papan-papan kayu kecil tersebut bisa ditulis menjadi ‘keping’ doa atau harapan.

Pengunjung kuil percaya kalau doa yang ditulis di papan kayu dan ditempel di pinggir pagar tepat di atas air terjun bisa terkabul.

David Hartanto seorang pengunjung area wisata asal Indonesia dan sebelumnya telah lama di Jepang untuk kuliah membantu untuk menerjemahkan beberapa doa yang ditulis pada papan kayu tersebut.

“Ini doa minta agar lulus ujian,” jelas pria yang fasih Bahasa Jepang ini.

Sementara ada juga doa yang ditujukan untuk teman dan keluarga.

Nah ada satu doa jodoh.

Mungkin ada juga doa jodoh lainnya karena saking banyaknya papan kayu yang dipasang tak bisa semua diterjemahkan.

“Ini doa jodoh, yang menulis di papan kayu ini berdoa agar ia dan pacarnya bisa segera menikah,” jelasnya.

MILESIA.ID/RIMAWAN PRASETIYO – Contoh doa yang dipasang di pagar tebing Air Terjun Otodome.

Siapapun boleh berdoa dan berharap, bagi yang percaya mungkin saja doa akan segera terwujud.

Sementara itu Air Terjun Shiro Ito, air terjun yang letaknya tak terlalu jauh dari Air Terjun Otodome juga memiliki daya tarik tersendiri.

Shiro Ito bila diterjemahkan memiliki makna tali panjang.

Air terjun Shiro Ito memang sekilas sepreti untaian tali panjang yang menjadi tirai.

Banyak pengunjung yang menuju lokasi di dekat air terjun tersebut.

Hifumi local guide rombongan media tour Suzuki menambahkan kalau sesekali ada juga biksu yang berada di bawah air terjun untuk bermeditasi.

MILESIA.ID/RIMAWAN PRASETIYO – Air Terjun Shiro Ito.

Selain itu menurutnya di sekitar air terjun Shiro Ito banyak orang yang percaya lokasi tersebut adalah ‘power spot’.

Sebuah lokasi yang dipercaya secara mistis bisa berikan kekuatan dan semangat bagi pengunjungnya.

SOUVENIR DAN CEMILAN

Pada toko-toko yang berderet juga menjual beberapa souvenir dan cemilan.

Souvenir yang dijual sebagian besar berkaitan dengan Gunung Fuji.

Kaus tersebut bergambar Gunung Fuji, harganya relatif mahal untuk orang Indonesia satunya yakni 1.600 yen kalau dirupiahkan sekitar Rp 190 ribu.

Harga kaus untuk anak-anak di lokasi wisata antara Rp 25 ribu hingga Rp 75 ribu.

Biaya hidup di Jepang memang mahal bila dibandingkan dengan Indonesia apalagi di lokasi wisata.

Di sana ada juga batu alam, kalau di Indonesia dikenal dengan batu akik.

Banyak batu-batu asli warna warni yang dijual di lokasi tersebut, tapi harganya terbilang mahal bila dibandingkan di Indonesia.

MILESIA.ID/RIMAWAN PRASETIYO – Tebing doa dan harapan di Air Terjun Otodome.

Souvenir lain seperti patung-patung kayu wanita Jepang berbaju kimono, ada juga patung ninja serta berbagai gantungan kunci bertema Gunung Fuji.

Beberapa cemilan seperti kacang kude semacam kacang walnut yang direbus satu kantung ukuran setengah kertas folio dihargai 1.000 yen.

Ada juga makanan ringan lainnya sampai es krim.

Berwisata di Jepang memang harus siapkan kocek tebal. (Milesia.id/Rimawan Prasetiyo)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close